
Rambut merah panjangnya dan kacamata itu, sudah pasti! Kak Liona!
"Ah! Kalian sudah berkumpul ya!" Hologram Kak Liona memutar, menatap kita satu per satu. Tersenyum lebar sambil melambaikan tangan.
"Aku sangat merindukan kalian! Falisha, Raphael, Jennifer dan Yuda! Haduh... kalian ini sangat menggemaskan!" Suara riang dan cempreng itu memenuhi telingaku, tapi syukurlah dia tidak apa-apa...
"Eh, Komandan Yakza..." Saat tubuh yang berputar itu menghadap Komandan Yakza, dia berhenti. Sekarang menunduk malu.
"Tidak apa-apa, Liona. Aku paham perasaanmu. Kamu boleh menggunakan kesempatan ini untuk bersalam sapa." Dia menyeringai, membentangkan tangan ke Kak Liona.
"Sungguh? Terima kasih!" Setelah Kak Liona berucap begitu, tubuh hologramnya hilang.
"Eh? Ke mana dia?" Aku heran.
Zep! Astaga! Dia berada di belakangku! Memeriksa tubuhku!
"Hmm... hmm? Hmm..." Dia berbicara pada dirinya sendiri, aku tidak mengerti apa pun...
"Umm, Kak Liona?-"
"Bagus sekali, Fal! Rambutmu halus dan wangi, tubuhmu sehat dan kuat seperti biasanya! Aku benar-benar lega melihatmu menjaga kebersihan seperti biasanya." Dia tersenyum lebar, kembali berdiri tegak.
Zep! Tubuhnya menghilang lagi!
"Nah... ini harus lebih dijaga lagi. Raphael kamu jangan tidur terus! Bersihkan rambutmu!" Sekarang Kak Liona memeriksa Raphael, kami semua tertawa mendengarnya. Komandan Yakza menunduk sambil menyengir.
"Ha! Rambutku mah berbeda! Standarmu saja yang berlebihan!" Raphael tergelak, bergaya dengan rambutnya. Kak Liona terkekeh melihatnya...
Zep!
"Yudaaa!!! Apa kabar?! Aku sangat merindukanmu! Kamu ini sangat muda dan keren! Aku sangat kagum setiap kali melihatmu bertempur!" Dia berseru senang. Memegang kedua bahu Yuda, walaupun tidak bisa dirasakan.
"Kabarku... baik, Kak. Bagaimana denganmu?" Yuda membalas jantan, bertanya dengan halus.
"Bosan. Sungguh bosan. Tapi Arzhul ini kota yang sangat keren! Kapan-kapan kamu ke sini ya!"
"Baik, Kak." Dia mengangguk, bahunya ditepuk-tepuk girang.
"JENNIFERRRR!!!" Aduh, seruan kali ini benar-benar dari hatinya, ya... rambut merahnya menggelombang, Kak Liona berlari ke arahnya, tidak menghilang.
"KAK LIONAAA!!!" Dibalas berlari juga, mereka berdua berpelukan. Aku tertawa melihatnya.
"Kamu sama cantiknya! Aku yakin bisa sampai seribu tahun rupamu akan seperti ini!"
"Kak Liona juga sama! Sama berisiknya! Lantas, mereka berdua terbahak secara bersamaan. Sungguh hebat bisa bertemu dua versi perempuan pintar dan riang, hahahaha...
Zep! Dia kembali ke tengah-tengah, kami semua siap menatap dan mendengarkannya.
"Baiklah, kita akan memulai-"
"Tunggu! Apa itu tadi? Bagaimana caranya kau pindah secara instan? Seperti teleportasi sendiri?" Raphael memotong kalimat Kak Liona, bertanya keras.
Tiba-tiba, dia menatap Komandan Yakza.
"Eh. Maaf, Komandan..." Lalu menundukkan kepalanya sambil berkata takut... Apakah Komandan Yakza akan marah...?
__ADS_1
Matanya sangat tegas melihat kami semua... waduh, gawat...
"Liona, silahkan dijawab." Dia tersenyum tipis, berkata dengan halus dan lembut. Kak Liona lamat-lamat mengangguk.
"Raphael, tadi hanyalah suatu trik. Aku mematikan display saat berjalan ke arahmu, jadinya tidak terlihat. Aku tidak punya kekuatan teleportasi, oke?" Dijelaskannya dengan rinci dan pelan. Raphael juga malu-malu mengangguk, takut Komandan Yakza marah...
Tapi sepertinya... tidak ada amarah sekalipun dari wajahnya, Komandan Yakza adalah orang yang baik.
"O... oke..." Raphael masih malu dengan kelakuannya, walaupun yang ditakuti tidak keberatan sama sekali.
"Oke, lanjut. Alasan aku ingin kalian mengikuti misi ini adalah, umm..."
...
Eh?
Kak Liona berhenti sendiri.
"Ada apa?"
"Aku... sedikit keluar batas, Komandan. Aku terlalu paranoid hingga harus membuat sistem yang tidak terduga." Dia menggaruk kepala.
"Sistem apa?"
"Heuh..." Kak Liona menghembuskan napas kecewa, menunjuk ke arahku.
"Eh?" Kenapa? Ada apa denganku?
"Em, maaf... bukan kamu, Fal." Dia terkekeh, aku bergeser ke kanan.
"Tunggu-tunggu, apa?! Kenapa rumit sekali, Kak?!" Raphael keberatan mengangkat tangannya.
Aku juga terkejut, kenapa sekompleks itu ya?
"Maaf! Sungguh, sikap paranoidku saat membuat ini di luar nalar! Maaf, Komandan... maaf ya semuanya... seandainya aku tidak ikut evakuasi, semua ini akan menjadi lebih mudah..." Kak Liona cembrut sambil membungkuk.
"Hmm... sebenarnya wajar saja, Liona. Yuvia diserang oleh ribuan monster dan ada banyak korban jiwa seperti delapan tahun yang lalu. Lebih baik berhati-hati daripada tidak sama sekali." Komandan Yakza berdehem, peka terhadap perasaan.
"Oh, oh! Benarkah? Syukurlah..." Kak Liona yang lega merapihkan posisi kacamatanya.
"Tidak apa-apa, Raf... hitung-hitung dia sudah merawat kita setelah penyerangan Arkane. Hehehe..." Jennifer menepuk punggung Raphael, tergelak sedikit.
"Oke, aku ulang, ya. Tujuan kalian hanyalah mengambil kartu kecil. Ada tiga tantangan yang harus diselesaikan di bangunan tabung itu. Yang pertama adalah senjata beruntun, kalian harus bertahan dan menghancurkannya.
"Kedua, ada lima robot yang harus kalian lawan. Lalu yang terakhir, verifikasi identitas. Hingga kartu itu akan keluar dan bisa diambil untuk masuk ke laboratoriumku. Lalu serum itu bisa didapatkan.
"Kalian semua, Falisha, Raphael, Jennifer dan Yuda sangat cocok untuk hal ini. Sangat berbakat, digabung dengan kemampuan Komandan Yakza, pasti akan mudah dilewati.
"Aku membuatnya sulit karena bisa saja ada omni yang sudah tahu akan keberadaan project dan laboratorium ini, lantas mereka melalui semua tantangan dan mengambilnya." Kami semua menyimak penjelasannya dengan sangat teliti...
Wah, hebat juga ya dia. Aku tidak menyangka dia dokter sekaligus ilmuan. Benar-benar luar biasa.
Tapi ada satu hal yang membuatku penasaran.
"Kenapa serum itu baru selesai sekarang dibuatnya, Kak?"
__ADS_1
"Maaf, Fal... itu sudah diproduksi secepat mungkin. Karena kondisiku yang di luar negara, Aku menggunakan laboratorium otomatis, menggabungkan semua ilmu pengetahuan dan teknologi. Tapi lab itu baru mengatakan bahwa selesainya pembuatan serum itu adalah satu jam yang lalu." Dia menjawab amat tegang. Oh begitu...
Astaga... aku merasa kasihan pada Kak Liona, sudah bekerja keras tapi malah meminta maaf... itu tidak lazim...
"Kerja bagus, Liona. Sisanya serahkan kepada kami." Komandan Yakza mengacungkan jempol. Dibalas dengan senyuman yang lebar. "Terima kasih!"
"Sepuluh." Tabung kecil tiba-tiba mengeluarkan suara.
"Eh! Astaga! Sepuluh detik lagi!" Kak Liona panik, kenapa ini?
"Sembilan."
"Emm... Falisha, selamat berjuang menjadi prajurit yang terbaik!"
"Delapan."
"Raphael, jangan nakal! Pertahankan sikap teladanmu!"
"Tujuh."
"Jennifer, lindungi semua temanmu!"
"Enam."
"Yuda, kedamaian keluargamu menanti di masa depan, kamu harus yakin!"
"Lima."
"Komandan Yakza, terima kasih atas perjuanganmu, tolong jaga mereka!"
"Empat."
"Kak Liona!" Giliranku berkata.
"Tiga."
"Ya, Fal?"
"Dua."
"Hati-hati di sana! Jaga dirimu!" Aku melambaikan tanganku, tersenyum lebar. Diikuti dengan yang lainnya.
"Satu."
"Ya! Kalian juga!" Dia mengepalkan tangan, bertekad menyeringai.
P**ip. Tabung kecil di rumput sudah mati, cahayanya hilang. Kak Liona sudah pergi dari sini... suasana sekarang hening. Angin kencang menerpa tubuh dengan jantan.
"Hebat sekali dia, ya... aku jadi kasihan karena sempat bertanya lancang padanya..." Raphael menunduk menatap benda itu.
"Hahahaha... makanya jangan asal marah."
Komandan Yakza membungkuk mengambil tabungnya, memasukkannya kembali ke dalam saku.
"Baiklah, kalian siap?"
__ADS_1