
BAS!
Kami beradu pedang. Tatapan mata Azriel sangat murka, tapi aku tidak peduli sama sekali. Dia menghajar adiknya sampai babak belur.
WOSH! Dia mengindari seranganku, WOSH! Dihindari lagi! TAS! TAS! SLASH! Aku membidik kedua kakinya namun ditangkis, lantas tangan kiriku berhasil diserang olehnya.
"Hmph." Aku menahan sakit.
"Maju, ******."
"Jangan panggil aku ******!" TAS! TAS! TAS! TAS! Keempat serangan beradu, WOSH! Dia hendak menendang kepala, aku menunduk-
BUK!
Cepat sekali! Perutku dipukul olehnya setelah menendang!
Dia tidak menyerah, terus maju!
BAS!
Belum pernah kulihat, sungguh.
DAS!
Belum pernah ada prajurit sehebat ini!
SLASH! SLASH! SLASH!!! Ketiga serangan mengenai bagian dari perutku, bagaimana dia tidak lelah sama sekali?! Tiga lecet besar di tubuh depanku mulai terlihat.
"Kalau hanya segini, tidak perlu repot-repot menyelamatkan Yuda. Kau akan mati bersamanya karenaku!" DAS! DAS! WOOSH! Kutahan kedua serangannya, lantas melompat mundur. Dia sangat hebat... aku mengusap keringat di dahi, baru sebentar saja sudah seperti ini...
"Fal... tinggalkan aku..." BUK! Suara Yuda yang lelah menimpali, kemudian dia dipukul oleh temannya.
"Kenapa kau berbuat begitu dengan adikmu?! Hah?!" Aku terbatuk sekali dua kali, benar saja, cairan merah muncul menghantam tanah.
"Sudah kubilang, kau tidak akan mengerti!" WOSH! Dia melesat maju.
Aku hendak menyerang-
Krek!
"AK!" Kenapa harus sekarag?! Cedera kaki yang diberikan Komandan Kiara muncul lagi! Aku tidak bisa berjalan!
BUK!!! Azriel memukul perutku dengan gagang pedangnya. Tubuhku jatuh tidak berdaya, aku mati-matian menahan sakit di kaki, dia memukul bagian tubuhku yang lain.
Buk. Dia menjatuhkan pedang cahayanya, lantas menggulung seragam bagian lengannya.
"Aku akan memberimu pelajaran." Tep! Dia duduk di depanku.
__ADS_1
Aku tahu apa yang akan dia lakukan, posisi seperti itu dan keterbatasanku untuk bergerak, pasti dia hendak-
BUK! Pukulan pertama ke wajahku, dia tertawa senang.
BUK! Pukulan kedua, wajahnya seolah-olah menganggap semua ini hanyalah acara hiburan!
BUK! BUK! BUK! BUK! BUK! BUK! BUK! BUK! Tanpa henti, wajahku dihantam dengan keras. Semuanya penuh dengan lebam biru, hidungku mimisan hebat, kepalaku mulai pusing.
Azriel kembali berdiri, meraih dan menyalakan pedang cahayanya.
Ekspresinya itu... bukan lagi seorang manusia... dia... dia adalah pembunuh... psikopat... dia akan membunuhku dan Yuda sekarang juga...
"Selamat tinggal, ******." Dia mengangkat lengannya ke atas, ingin memenggal kepalaku. Yuda di sana sudah pingsan, tubuhnya tertusuk oleh besi-besi kecil bekas kursi taman. Tiga orang yang bersama Azriel menghajarnya tanpa ampun.
Padahal kan... Yuda ingin meminta maaf... kenapa jadi seperti ini...?
Lihat Azriel, tidak lelah, tidak tersengal napasnya. Masih sempurna, dia sangat hebat... namun sangat menyebalkan...
KRAK...!!!
"Eh...?" Aku yang sempurna menutup mata dengan keras, mendengar suara retakan dari belakangku. Bernas, lengan kiriku terasa dingin.
"Cukup." Suara wanita... datang menghampiri. Ini... ini es! Es biru yang lewat, menjulang tinggi membuat lenganku terasa dingin! ini pasti...!
"Halo, Falisha." Komandan Kiara! Dia datang bersama Dzar dan Ava yang masih dibekukan tubuh kecuali kepalanya.
"Azriel, Azriel, Azriel. Hm?" Komandan Kiara terkekeh kecil, lalu melihat tiga temannya yang kabur ketakutan, meninggalkan Yuda sendiri.
"Kalian mau ke mana?" KRAK!!! Dia mengayunkan pedangnya ke arah mereka, es muncul dari tanah, meruncing seraya membekukan mereka sempurna. Semuanya dilapisi es kecuali aku dan Yuda.
Aku termangu, mulutku terbuka sempurna melihatnya. Tujuh detik dan dia menang melawan semua orang, bahkan masih mengunci gerakan dua omni yang aku mati-matian serang di Hari Pembantaian!
Azriel berteriak, mencoba melepaskan dirinya dari es yang sangat tebal.
"Percuma. Kau sudah kalah. Ini tidak seperti duel kita dulu, Azriel. Kau di luar batas." Komandan Kiara bersedekap menatapnya. Wajahnya sangat santai.
"Diam... diam kau! Diam! Kalian berdua tidak mengerti apa-apa! Kalian ikut campur dalam urusan keluargaku! Kalian-"
BUK!
...
Astaga...
Komandan langsung memukul kepalanya, keras. Bunyinya sampai dua meter di belakangku. Azriel pingsan begitu saja, tidak sadarkan diri. Kepalanya jatuh mengenai es di dekatnya.
Dia menghembuskan napas.
__ADS_1
Aku berdiri perlahan, mengusap keringat di pipi dan leher. Krek! Kakiku mengeluarkan suara itu lagi, aku menahannya agar tidak mengganggu Komandan Kiara.
Azriel tidak sadarkan diri, benar-benar pingsan! Dia sangat kuat... esnya itu, tidak terkalahkan!
Eh, Yuda!
Langsung saja, mengabaikan cedera di kaki, aku dengan wajah yang penuh lebam berlari menghampiri sahabatku yang berbaring lemas. Mata Yuda tertutup, mulutnya terbuka sedikit. Azriel sialan...! Azriel sialan! Dia hanya ingin meminta maaf! Wajahnya tadi riang dan ceria! Sekarang... sekarang...!
"B*jingan... b*jingaaaan!!!" Aku berlari pergi, memukul kepala tiga temannya itu yang tubuhnya terjebak dalam es. Mencoba menjadi Komandan, membuat mereka semua pingsan.
Kuhantam dahinya dengan amarah berkali-kali. Satu selesai, tidak sadarkan diri. Selanjutnya serupa, menutup matanya, kepalanya jatuh.
Krek! Kakiku bersuara lagi, tapi peduli setan... mereka... mereka tidak punya perasaan... sama seperti omni!
Tep!
Komandan Kiara menepuk bahuku. "Sudah."
Aku memutar balikkan kepala. Tatapannya tegas dan sedikit marah. Satu detik, dua detik, tiga detik, aku tidak menghiraukannya. Pikiranku mengingat kejadian tadi. Aku sangat membencinya... Azriel... kau...
...
Sebelas detik, dia masih melihatku sempurna. Wanita berambut pendek dan wajah yang muda, aku belum tahu apa-apa tentangnya, hanya fakta bahwa dia seorang Komandan.
"Habisi mereka, Komandan." Aku membujuk.
"Tidak." Balasnya sinis.
Sunyi tiada suara. Kami berdua menatap satu sama lain, napasku masih berat dan cepat. Dari dulu... kebahagiaanku diambil, tidak akan kubiarkan orang lain mengalami hal yang sama. Harapan palsu, harapan seperti iblis yang mengecewakan itu. Yuda merasakannya sekarang...
"Astaga! Ada apa ini?!" Suara orang datang dari kejauhan, tapi aku tahu persis siapa dia. Tidak ada yang memiliki suara khas sepertinya.
"Ah, cepat sekali kau datang, Leonardo-"
"Dzar?! Ava?! Kenapa kalian di sini?! Hei, Kiara! Kau gila!" Leo datang dengan seragamnya. Dia melihat ke segala arah dengan wajah bingung dan kaget. Menyentuh es yang sangat dingin, akhirnya, dia melihat kami berdua.
"Fal?!" Lebih-lebih, dia terkejut melihatku. Lebih tepatnya melihat mukaku yang dipenuhi lebam.
"Jelaskan cepat! Apa maksudnya semua ini?!" Dia berseru, meraba wajahku perlahan dengan cemas. Aku sedikit menggerung sakit.
"Leonardo, panggil tim medis ke sini cepat. Aku yang akan menjelaskannya." Komandan Kiara memasukan pedang cahayanya kembali, menarik napas lega dan ringan. Tandanya, pertarungan atau kegilaan di sini sudah selesai.
Butuh dua Komandan untuk hadir hanya karena Azriel yang bertingkah keterlaluan...
Yang terakhir, Leo sangat kaget melihat Yuda. Khawatir, dia mencoba memanggilnya berkali-kali, tidak bangun. Menepuk-nepuk wajah Yuda dengan ringan, tidak bangun juga. Serentak aku ingin menangis, dia sedang berada dalam kondisi yang sangat parah.
Singkat waktu, aku dibawa ke rumah sakit markas. Bersebelahan dengan Yuda di kasur yang berbeda. Dokter-dokter panik melihatnya yang babak belur. Sebentar saja, aku memilih untuk tidur...
__ADS_1