
"Yasudah, sebaiknya kita langsung saja masuk ke kantor Leo. Nanti dihajar lagi sama Mordo." Yuda bergegas keluar duluan, diikuti oleh Jennifer.
"Ayo, Raf." Aku memegang tangan Raphael sambil maju, agar tidak tertinggal. Sekilas, rasa tangannya sangat kasar ... dan rapuh ... astaga, apa saja hal yang sudah dilalui olehnya ...? Sepertinya begitu mengerikan ...
...***...
Pintu Leo dibuka seiring masuknya kami berempat ke dalam. Mordo bersedekap di sebelah kiri, Leonardo sedang duduk di belakang mejanya.
"Silahkan masuk." Leo melambai.
Aku ragu-ragu maju duluan, melewati Yuda, Raphael, dan Jennifer.
"Leo ... aku-"
"Jangan banyak bicara! Berdiri di sampingku!" Mordo memotong perkataanku. Tangannya memukul tembok dengan keras.
Suasana tiba-tiba sunyi. Aku sudah berdiri di sampingnya, masih menatap Leo.
"A ... ada apa kau memanggil kita ke sini, Leo?" Jennifer bertanya.
Leo menyalakan proyektor kecil di depan mejanya, membuat cahaya yang menyinari tembok di belakang kita. Semuanya menghadap ke sana, menunggu sesuatu untuk disaksikan.
"Aku rela datang ke Daerah Barat agar kaset ini bisa kuberikan kepada orang yang tepat, Leo, lalu dia memintaku menetap untuk menyaksikannya bersama. Kaset ini kutemukan di bawah tanah. Tepatnya di dekat tempat pemakaman Daerah Timur. Tiba-tiba saja ada laporan dari bawahanku yang menemukan ini. Belum pernah ada yang membukanya sama sekali, jadi kita adalah enam orang pertama yang akan menonton isi dari kaset ini, semoga saja ada informasi yang menarik." Mordo berkata tegas.
Jennifer mengangkat tangan. "Tapi ... bagaimana dengan hasil rapat tadi, Mordo? Bahwa ada salah satu komandan yang berkhianat diam-diam mendukung pihak monster?"
Dia lurus menatap Jennifer. "Itu bisa diurus nanti. Firasatku benar-benar curiga kepada kaset ini, lebih dari hasil rapat itu."
"Baik. Akan kuputar. Kalian waspadalah terhadap isi videonya, tetaplah menatap apa yang proyektor tunjukkan, jangan lengah." Leo menekan tombol tertentu, lantas, video diputarkan.
Cahaya proyektor menunjukkan tempat yang ... terlihat seperti laboratorium. Ada alat-alat penting yang tidak kuketahui namanya, yang menampung cairan-cairan berwarna. Lalu semuanya terhubung ke satu tabung, berisi manusia yang terlihat tidak bergerak ...
'Percobaan ke-34, Project Human Conjointly Amelioration. Subjek, anda sudah siap?' Ucap satu pria menggunakan jas putih. Di sampingnya ada seorang wanita yang terlihat ragu-ragu.
"Subjek" Mengangkat jempolnya.
'Sayang, kamu yakin ini akan bekerja?' Wanita di sampingnya bertanya.
'Tentu saja. Ini akan menjadi hadiah yang sangat pas untuknya jika semuanya berhasil.'" Pria itu mengelus-elus rambut wanitanya. Sepertinya mereka adalah keluarga, suami istri.
"Menarik ..." Mordo mengusap dagu.
'Oke, dalam hitungan ketiga, aku akan menarik tuasnya. Sayang, kamu boleh menunggu di luar.' Pria berkata.
Istrinya mengangguk. Dia bergegas melangkahkan kaki pergi dari laboratorium.
__ADS_1
'Hei, Pak.' Subjek tiba-tiba memanggilnya.
'Ya?'
'Kenapa Bapak bersikeras melakukan semua ini hanya untuk dia? Maksudku, anak-anak tidak ada yang menginginkan semua ini. Mungkin termasuk anak Bapak.'
Sang Suami tertawa. "'Itu dia, Alfred. 'Mungkin'. Bagaimana jika dia menginginkannya? Itu bisa menjadi penebusan dosa-dosaku kepadanya.'
Subjek terkekeh. 'Baiklah, ayo kita selesaikan semuanya.'
"Astaga! Aku tidak mengerti apa pun!" Jennifer berseru keras, nadanya terdengar sebal.
Mordo memukul tembok, lagi. "Tutup mulutmu! Kita tidak mau tertinggal informasi penting!"
"Hei, lihat." Raphael menunjuk arah video.
Astaga, terjadi gempa di sana. Sang Suami dan Subjek terlihat panik dan ketakutan. Semua cairan kimia dan tabung-tabungnya hancur dan pecah, berhamburan. Yang paling mengerikan adalah wajah Alfred, yaitu wajah subjeknya yang terlihat sangat kesakitan.
'Fred?! Fred! Kau tidak apa-apa?!' Sang Suami bertanya panik.'
'AAAAAAAAAHHHGH!' Alfred menjerit tanpa henti. Laboratorium hendak runtuh dengan banyak tembok yang terlihat retak, hampir hancur.
Sang Suami mencoba untuk pergi ke suatu tempat, namun terhalang sesuatu. Dia terus menerus terlempar kembali oleh suatu hal yang tidak terlihat.
Dia ketakutan. 'Sial! Aku tidak bisa mematikan mesinnya! ALFRED!!!'
'Astaga ... Alfred ...?'
'AAAAAAAAAHHRGAAGAGAAAAAHHHH HENTIKAN INI RAAA!!!' Sungguh mengerikan, badan Alfred berubah ... hitam ... berbulu ... dan menakutkan ...
Mengejutkannya, dari pintu masuk, seorang anak kecil masuk ke dalam.
Sang Suami menatapnya, terkejut. 'Apa yang kau lakukan di sini?!'
'Ayah ...? Apa yang terjadi dengannya?' Anak itu menatap Alfred, sama takutnya.
'Tolong Ayah, Nak! Tarik tuas di sampingmu! Itu akan mematikan Project ini!' Sang Suami berseru.
Anak kecil itu terlihat berpikir. Sejenak tubuh Alfred semakin buruk, matanya berubah kuning, bulu hitamnya menutup semua kulit miliknya.
'Tidak mau ... aku ingin melihat apa yang akan terjadi.'
'JANGAN, NAK! TARIK TUASNYA SEKARANG!'
'Tapi ...'
__ADS_1
'KUMOHON!!!'
Anak kecil itu menggelengkan kepala. Tidak peduli betapa kerasnya Sang Suami berteriak, dia tidak akan menarik tuasnya yang menjadi harapan terakhir ayahnya.
Mendadak, semua laboratorium meledak begitu saja. Membuat ruangan bertabrakan ke mana-mana, hancur. Api membakar semua yang bisa dilihat. Semua alat dan perlengkapan pecah berhamburan, hancur sudah tempat itu. Video menunjukkan Sang Suami berbaring, kepalanya tertusuk oleh kaca dari tabung bekas Subjek, mengerikan.
"Ya ampun ..." Aku menutup mulut dengan tangan.
'ROOOOOOOOAAAAAAAAAAAAAAAAHHH' Teriakan yang begitu nyeri, dalam dan serak muncul dari sana. Sepertinya itu adalah Subjek atau Alfred yang sekarang sudah menjadi ...
"Monster. Video ini adalah penjelasan asal usul dari monster, musuh yang kita lawan selama ini ..." Mordo menunduk fokus, kedua lengannya dibuat bersedekap.
Tep! Proyektornya mati, videonya sudah selesai.
Tidak ada yang berbicara. Mordo telah menemukan video yang menjawab pertanyaan hidupku. Pertanyaan yang membuatku ingin hidup lebih lama hanya untuk mengetahui jawabannya. Dan itu hanyalah sebuah ... kecelakaan ...
...
Mordo terkekeh. "Aku tidak menyangka. Ha. Siapa mereka?"
"Tidak tahu. Wajah mereka tidak terlihat jelas. Yang pasti, ada empat orang di sana. Suami, Istri, Subjek, dan Anak kecil. Nama Subjeknya adalah Alfred, dia adalah monster pertama yang berhasil diciptakan siapa pun ilmuan di video itu. Dialah monster yang paling kuat, memiliki semua kekuatan." Leo menggelengkan kepala.
"Di mana Alfred sekarang? Dan kenapa ilmuan itu diperbolehkan melakukan eksperimen sekeji itu?" Yuda bertanya.
Proyeksi dimatikan. "Tidak ada informasi mengenai itu. Yang jelas, kita harus memberikan kaset ini kepada Jenderal Karlo. Dan kita harus melakukan riset tentang Alfred. Siapa dia, berapa umurnya, di mana rumah terakhirnya, dan sebagainya."
"Ayo, Mordo. Anak-anak, terima kasih banyak." Mereka berdua hendak pergi.
Aku bergegas menahan tangannya. "Tunggu! Leo! Aku ingin meminta maaf-"
"Diam!" Mordo menepuk tanganku, keras, aku terpaksa mundur.
"Kau serius mengira bahwa Leo akan memaafkanmu?! Setelah kau hina dia di depan semua orang?! Hah?!" Dia berseru lantang.
...
Sunyi, semuanya diam. Leo menatapku sejenak.
"Falisha, aku ... aku tidak pernah marah padamu. Tidak akan pernah. Aku marah kepada diriku sendiri. Aku tahu bahwa ... hanya soal waktu kau akan menyadari alasan kenapa Ibumu meninggal. Tapi setelah saat itu, aku menjadi sangat benci kepada diriku sendiri. Itulah kenapa aku menulis buku harian hampir setiap waktu, untuk mengalihkan perhatianku. Tapi astaga ... aku malah mengingat kejadian itu ... itu sangat menyakitkan ... Kak Bella, Ibumu, mati karena kecerobohanku ..." Dia mengusap air matanya, berkata sehalus mungkin. Leo menahan rasa sakit ini selama bertahun-tahun sambil membesarkanku, astaga ... aku tidak bisa membayangkan penderitaannya ...
Belum lagi fakta bahwa dia harus menjalankan masa lalunya sebagai remaja yang dibenci oleh keluarganya sendiri, dan harus bertahan hidup bagaimanapun caranya. Leo ... memiliki masa lalu yang lebih buruk dariku ...
...
Mendadak, dua orang berpakaian hitam membuka pintu, masuk. Mereka adalah orang yang sangat sangat sangat aku kenal ...
__ADS_1
"Wah, wah, wah. Drama yang seru, bukankah begitu, Logan?"