Harapan Seperti Malaikat

Harapan Seperti Malaikat
Aku Harus Memberitahunya


__ADS_3

Menunggu jawaban, kami melihat Leo yang sedang mengusap dagu, berpikir keras.


"Hm... sebenarnya kita juga belum tahu apa motif para monster sebenarnya. Aku yakin, dengan hadirnya 'Omni', tujuan mereka bukan hanya sekedar membantai manusia. Ada satu orang, bos para monster yang membuat semuanya. Yang memulai masalah ini dari awal. Dalang dari mimpi buruk ini." Leo menjawab lurus, pupilnya menatap ubin. Kami mengangguk setuju.


"Lalu? Kapan kau akan memberitahu Jendral Besar tentang ini? Sudah siap?" Dia bertanya, aku membeku tidak berdaya, masih takut.


"Aku tidak tahu..."


Leo menghembuskan napas, membuka bukunya kembali "Baiklah. Kabari aku jika sudah siap."


"Oke..." Setelah beberapa obrolan, kami bertiga keluar dari kantornya.


Lagi-lagi, semua percakapan, obrolan dan kata-kata yang keluar dari mulut mereka terhenti, semua orang menatapku marah. Ada yang kasihan, tapi lebih banyak yang marah.


"Halo." Yuda menyapa, melambaikan tangannya kepada kami.


"Yuda! Astaga sudah lama tidak bertemu!" Jennifer maju ke arahnya. Wajah mereka berdua sangat dekat.


"Umm... ya, itu karena kau masih dirawat, kan? Bagaimana mulutmu?" Astaga, wajah Yuda memerah, dia terbata-bata berbicara dengan nada yang aneh, terkadang menutup mukanya sendiri...


"Iya, sih... mulutku sudah sembuh total kok! Seandainya sekolah masih ada, aku sudah bisa menjalani tugasku sebagai ketua OSIS dengan sangat giat!" Jennifer tersenyum lebar kepada Yuda. Mereka sangat menggemaskan.


"Yap, mereka berkencan." Raphael menimpali, aku tertawa sedikit memukul bahunya.


"Kalau dipikir-pikir, kita juga pasangan yang serasi. Bukan begitu, Raf?"


"Hahahaha... iya. Kita sangat cocok, Fal. Tapi aku lebih buruk daripada monster-monster itu..."


Eh? Apa maksud Raphael? Lebih buruk daripada monster? Aku hanya bergurau singkat, eh, bergurau atau tidak ya? Eh, kenapa jadi bingung begini...?


"Raf, Apa maksudmu dengan "Lebih buruk daripada monster-monster?" Tanyaku padanya. Dia hanya menunduk.


Tidak ada suara, Raphael terdiam.


"Raf? Halooo..." Aku memanggilnya berkali-kali, astaga! Baru kali ini dia melamun!


"RAF!" Kubisikkan keras ke telinganya, akhirnya sadar.


"Eh, ehem, umm... maaf. Tadi hanya... belibet, ya, belibet. Tidak sengaja, hahaha." Dia menggaruk kepala, lalu menepuk bahuku.


"Falisha, Raphael. Bagaimana keadaan kalian?" Yuda berjalan mendekat ke arah kita.


"Aku tidak apa-apa."


"Sama. Dan juga, panggil saja Fal dan Raf, itu lebih cepat." Aku menjelaskan. Secara resmi, Yuda adalah sahabatku sekarang...

__ADS_1


...***...


Empat jam kemudian, sekarang sore hari. Jennifer dan Yuda ada hal penting dengan Leo jadinya aku dan Raphael berjalan pulang duluan. Hanya kami berdua yang bergerak maju sambil menatap cahaya jingga yang memeluk tubuh sempurna di tengah jalan.


Lagi-lagi harus kukatakan, di sini sangat sepi. Bahkan aku lebih sering berhalusinasi ada banyak orang yang berkumpul di sini, bermain, bertamu, dan lain-lain.


Raphael berjalan di kananku, menunduk, mulutnya tertutup rapat, matanya lemas. Aku merasa kasihan... sepertinya dia lelah.


"Raf, setelah ini sebaiknya kamu tidur. Jangan main game terus di ponsel."


"Eh, dari mana kamu tahu aku main?" Akhirnya kepalanya naik, wajahnya normal kembali. Syukurlah.


"Hmph, kamu tidak tahu? Aku main game yang sama, dan kita sudah berteman di dalamnya. Jadi aku bisa lihat kapan waktu kamu bermain. Dan bisa kusimpulkan, waktumu bermain adalah 240 menit per hari, astaga! Itu empat jam!" Aku berseru.


"Heh, empat jam itu bukan apa-apa dibanding temanku, Yossi, dia bermain selama tujuh jam per hari!"


"Ha? Astaga... eh, tapi aku tidak membicarakan Yossi! Aku mengkhawatirkanmu!"


Hening sebentar, Raphael menatapku heran.


"Mengkhawatirkanku? Wah, hahaha... terima kasih."


"Lah, itu wajar, kan? Kita kan teman." Aku lebih heran, kenapa dia bilang terima kasih?


"Iya, aku tahu. Hanya saja... akhir-akhir ini aku merasa sangat stres, jadi mendengar itu membuatku terharu." Dia melanjutkan perkataannya, tersenyum halus.


...


"Apa sih? Sok banget seperti di film-film." Aku menyembunyikan perasaan, menepuk bahunya, lanjut berjalan. Raphael tertawa singkat, lantas mengikutiku.


Langit memancarkan keunguan di bawah jingga, sudah mulai gelap. Aku berada di depan rumah, hendak pamit dengan Raphael.


"Baiklah, ingat, jangan main game. Tidur." Aku mengingatkan, memasukkan kunci ke lubangnya.


"Iya, dasar tua. Berisik." Raphael membalas, aku membuka pintu, tidak menghiraukan.


"Oke, bye Raf." Aku melambaikan tangan, dia juga serupa. Krek. Pintu tertutup, menyisakanku yang sendirian di rumah. Merapihkan debu di meja, sofa, dan layar TV. Dan mengelap jendela, astaga, semuanya kotor sekali!


...***...


Sudah mandi, sudah bersih. Aku merebahkan diriku di kasur kamar. Memainkan ponsel di malam hari. Sekarang jam 20.00. Apa yang Raphael, Jennifer dan Yuda lakukan sekarang, ya...?


Eh, aku belum tahu lebih tentang Yuda. Lain kali aku akan berbicara dengannya agar kita semakin dekat.


Jennifer, dia selalu on di aplikasi chatting setiap waktu, pasti dia sedang berbicara dengan teman-temannya di Arzhul.

__ADS_1


Raphael...


Ting!


Eh? Aku mendapatkan notifikasi "Hei." Dari Leo.


Tumben sekali, Leonardo yang keren itu menggunakan aplikasi ini sekarang? Jam segini?


"Apa? Mau kubelikan makanan?" Aku membalas pesan itu, bergurau sedikit.


"Boleh, martabak keju tiga dus, ya."


"Tidak."


"Terus? Kenapa menawarkan?"


"Uangku mau kutabung untuk masa depan."


"Masa depan masa depan, bilang saja untuk Raphael agar dia kagum denganmu, kan?" Ih, kenapa dia... arghhhh aku jadi salah tingkah, aku menabung--ya... memang untuk Raphael kagum kepadaku, tapi... arghhh Leo!!!


"Sok tahu." Dengan sedikit getaran, aku membalas pesan, dengan emoji cemburu di sampingnya.


Hening, aku menunggu Leo yang sedang typing. Sepertinya dia sedang mengetik inti dari percakapan ini.


"Soal Raphael, aku memintamu untuk menggali masa lalunya. Maksudku, agar kau bisa lebih dekat dengannya. Aku tahu kau menyukainya dan akan kujaga status itu, mendukungmu penuh. Tapi, entah kenapa dia belum mempercayaimu sepenuhnya, Fal. Jadi ini untuk kebaikan kalian berdua, lagipula, kau masih belum tahu kenapa Raphael selalu saja dekat denganmu, kan? Kau yang curhat kepadaku waktu itu..." Akhirnya, dia mengirim ketikannya. Aku membacanya fokus.


Menggali masa lalunya, ya...


Iya juga, Stella dan Nessie bilang mereka heran kenapa Raphael mau berteman denganku. Bahkan hari itu, dia lebih mementingkan nilai fisikaku dan membantuku dibanding melakukan hal yang lainnya. Aku harus mencaritahu alasannya...


Eh, jangan-jangan... dia menyukaiku?


Eh! Ah, jangan kejauhan. Dia itu murid teladan dan hebat, kemungkinannya sangat kecil.


Ting!


Ting!


Ting!


Astaga! Aku lupa masih berbicara dengan Leo!


"Mengerti, Fal?"


"Fal? Halooo."

__ADS_1


"Gawat, pasti berangan-angan." Tiga pesan itu dikirim olehnya. Aku membalasnya dengan "Sok tahu.", "Baiklah", dan emoji tangan yang mengacungkan jempol. Lantas mematikan ponsel, beranjak tidur.


__ADS_2