Harapan Seperti Malaikat

Harapan Seperti Malaikat
Rencana Baru


__ADS_3

Jennifer, seorang remaja berumur enam belas tahun. Matanya buta sebelah dengan lebam hebat di atas mata kirinya. Belasan jerawat memenuhi pipinya, dahi miliknya berwarna kuning hebat. Itulah wajah aslinya.


Dan rambutnya tidak pirang, hitam kecoklatan. Sungguh, aku tidak bisa berkata-kata. Semuanya sedih melihat kelakuan Jennifer yang seperti orang gila, dia sangat stress akan apa yang dia lalui...


Komandan Yakza menunduk sedu, sepertinya dia sudah terbiasa melihat wajah asli Jennifer. Dia bukan Ayah kandungnya, tapi aku yakin, Jennifer menganggap Komandan Yakza sebagai sosok "Papa" yang asli, maka dari itu dia pergi duluan ke Daerah Utara dalam misi ini, untuk menemui Papa tirinya.


Itulah kenapa dia menjadi Ketua OSIS, dan juga menjelaskan kenapa dia menganggap dirinya sampah saat Hari Pembantaian, lalu aku yakin, dia menjadi pasukan juga karena hal yang serupa. Karena dia dipaksa menjadi sempurna dari kecil, dan menjadi kebiasaan sampai usianya sekarang.


"Bagaimana? Kalian tidak menduga ini, kan?! Primadona Sekolah yang diagungkan, berbakat, teladan, mandiri, wajah aslinya malah seperti kotoran hewan?! Setelah ini apa? Kalian ingin pergi dariku...? Tidak menganggapku sebagai teman?! Memanggilku Babi yang Tidak Berguna?!-"


Grep! Cepat, lincah, dan tepat, Yuda melesat maju, menghentikan kalimat Jennifer. Dia memeluk Jennifer dengan sangat erat.


...


"Apa? Kau kenapa, Yuda? Memelukku tiba-tiba... oh, aku tahu. Ini pelukan terakhir sebelum kau pergi selamanya kan? Ini adalah salam perpisahan setelah kau melihat wajah asli burukku, kan?" Jennifer geram, mencoba melepaskan pelukan Yuda dengan paksa. Tapi sia-sia, Yuda masih memeluknya.


"Jennifer... aku tidak tahu... jawabannya tidak bisa kutemukan untukmu. Tapi... aku mengerti rasanya direndahkan, dianiaya, dipandang buruk oleh seseorang yang sangat kusayangi. Saat kau mengorbankan dirimu untukku dari serangan Ava di Hari Pembantaian, di situlah aku terharu. Dari situ aku menganggapmu sebagai pahlawan, pengecut sepertiku diselamatkan oleh orang sepertimu, bahkan kita belum mengenal satu sama lain saat itu.


"Jadi, aku benar-benar memuja perbuatanmu, pengorbananmu itu kukenang setiap detik, menit dan jam. Mungkin... mungkin ada kebaikan, Jennifer... aku yakin sekali. Ada kebaikan dibalik semua penderitaanmu itu walaupun kau tidak bermaksud, walaupun kau melakukan itu untuk dipandang sempurna, tetap saja perbuatan baikmu akan berbekas. Dan juga, dengan menjadi pasukan, kau sudah membantu jutaan orang di Yuvia. Bayangkan berapa jiwa dan kebahagiaan yang kau ciptakan untuk warga-warga kecil. Jadi, akan ada hadiah, suatu keadilan, suatu pencapaian dari semua penderitaanmu, Jennifer..." Yuda berujar halus, lemas dan lembut, masih memeluknya. Dia juga ikut menangis.


Aku mengusap air mataku... sangat terharu. Ini adalah pertemuan antara dua orang yang dipandang remeh seumur hidupnya oleh keluarganya, tidak kusangka akan menjadi sebijak ini.


Benar... dibalik wajah yang paling bahagia, pasti ada masa lalu yang paling menyakitkan...


Mereka berdua tersedu hebat, menahan satu sama lain di tengah suara api unggun yang membara.


Komandan Yakza menatapnya, walaupun matanya juga berkaca-kaca, dia tersenyum lebar. Jennifer... semoga kau bisa mendapatkan kebahagiaan dari teman-temanmu, dan dirimu sendiri.


...***...


Kami duduk melingkari api unggun di tengah-tengah. Jennifer dan Yuda sudah lebih tenang, aku dan Raphael mencoba untuk menghibur mereka selama sepuluh menit, hahaha, syukurlah bekerja. Kami melawak, mengerjai satu sama lain, mencubit pinggang berkali-kali dan hal-hal konyol lainnya. Komandan juga tidak memarahi, dia tahu ini harus dilakukan, dia juga menikmatinya.


Kami diberi makan olehnya, dua roti masing-masing orang. Sekarang pukul 20.32 malam hari, lembah hijau muda sangat gelap, cahaya hanya muncul sedikit dari api itu.


"Omni itu... sama seperti Omni Kayu ya, Komandan? Mereka sangat cepat hingga bisa ke Daerah Utara, padahal semua monster di sini sudah habis dibantai." Aku memulai percakapan, memutus hening.


"Benar, Falisha." Dia membalas.


"Jadi, apa yang harus kita lakukan sekarang?" Raphael bertanya.

__ADS_1


"Kita harus ke laboratorium Liona. Omni yang melemparkan kita semua pasti berada di sana karena dia memiliki kartunya."


"Di mana laboratoriumnya?" Aku heran.


"Pusat Daerah Utara."


"Pusat? Tapi kan..."


"Aku tahu Daerah Utara mencakup dataran tinggi, tapi khusus untuk Liona, disiapkan lahan khusus di bawah tanah untuk labnya." Komandan menjawab tegas.


"Tapi bagaimana cara mengalahkan omni itu? Kita langsung kalah tadi..." Aku bertanya lagi.


"Aku sudah tahu caranya. Kalian berempat fokus mencari serum itu, atau melawan musuh kecuali omni tadi, oke?" Dia membalasnya. Kami semua mengangguk setuju.


Lantas, semuanya berdiri. Bersiap, melakukan pemanasan, berdoa, dan yang lainnya. Malam ini, kita akan mendapatkan obat untuk menyembuhkan omni tahanan di markas sekaligus mengalahkan orang aneh itu. Kami pasti menang, pasti menang...


"Hei..." Jennifer memanggilku, dan Raphael. Aku kurang terbiasa melihat wajah aslinya, tapi tidak apa-apa. Lama-lama juga aku senang karena Jennifer bisa lebih bahagia.


"Aku minta maaf. Tadi benar-benar... aneh..."


"Hahaha, jangan khawatir." Raphael dan aku terkekeh. Dia menepuk bahu Jennifer.


"Ayah- Komandan..." Gilirannya dipanggil.


Srep! Komandan Yakza langsung memeluk Jennifer. "Tidak apa-apa, tidak perlu meminta maaf..."


"Terima kasih sudah menjadi sosok Ayah bagiku..."


Dan yang terakhir, Yuda. Mereka berdua menatap satu sama lain dengan dalam.


Aw... sekilas mereka terlihat lucu...


"Ayo kita kalahkan semua musuh di depan sana. Dengan begitu, kebanggan kami yang sebenarnya akan hadir." Yuda mengepalkan tangan, bicara duluan. Dibalas oleh Jennfier. "Ya..."


Kesempatan kedua akan datang.


Omni aneh, kamu akan kalah! Manusia akan menang!


...***...

__ADS_1


Berlima di malam hari, kami melesat melalui lembah hijau muda. Pedang cahaya menjadi sumber lampu, bisa menerangi sekitar.


"Seberapa jauh, Komandan?" Jennifer bertanya.


"Beberapa langkah lagi."


Srep! Srep! Srep! Srep! Rumput-rumput pendek terinjak sampai gepeng. Sesekali aku menguap, sesekali aku bersin. Sungguh, aku tidak terbiasa berada tempat yang bukan perkotaan...


"Kau sakit? Tidur sana." Raphael menimpali.


"Kamu bisa diam?" Aku membalas. Dia tertawa kecil mendengarnya.


Tapi... hawaku sangat tidak enak. Perasaanku mengatakan bahwa aku harus pulang...


...


DREP!


"Eh?!"


"FALISHA!"


BUKK!!! Raphael tiba-tiba berseru, berdiri di depanku. Lalu mendadak ada yang memukulnya sampai terpental jauh! Dia mengorbankan dirinya dari sesuatu!


"RAPHAEL!" Seruku cemas, WOOSH! Aku menghindari serangan berikutnya, ini pasti...!


"Monster besar." Yuda berkata, menjulurkan pedang cahayanya di sampingku.


Benar! Aku bisa melihatnya sekarang, enam monster raksasa, tingginya dua kali lipat dariku. Tangannya enam, sedikit bertanduk dan dua kakinya sangat kecil. Sial! Kenapa di saat seperti ini!


Tanah di depan Komandan terbuka, aku sekilas melihatnya. Itu pasti pintu menuju laboratoriumnya Kak Liona!


"Anak-anak-"


"Pergi saja, Komandan! Kalahkan omni aneh itu!" Raphael yang baru bangkit berseru, sedikit terbatuk.


Komandan melihat kita khawatir. Tapi dengan tatapan keyakinan dari kami, dia akhirnya menangguk, pergi melompat ke dalam.


Kami berempat berkumpul kembali, mengelilingi satu sama lain. Menghadap enam monster raksasa.

__ADS_1


Ayo, maju sini!


__ADS_2