
SLASH! Aku terkejut, memotong lengan musuh.
"Sejak kapan mereka ada di sini?!" Satu orang bertanya.
Astaga ... pulau mengerikan ini dihuni oleh ratusan monster besar. Mereka sangat berisik dan menyerang siapa saja yang bisa dilihat.
Azriel di sebelah sana membasmi tujuh monster raksasa dalam dua detik, aku sempat termangu.
CRAS! Tidak bisa. Perhatianku tidak boleh teralihkan!
Tapi, hey, walaupun mereka terkejut, pasukan daerah selatan tidak merasa sulit melawan mereka. Dalam sepuluh detik, belasan monster besar sudah dibantai, hilang jadi debu.
SLASH! SLASH! CRAS!!! Komandan Kiara tidak bisa diragukan. Dia memberi perintah seraya mencincang monster raksasa.
"Waspadalah!" JRASHHH!!! Aku mendengar komando sekaligus menyerang.
"ROAR!!!" TUNG! Salah satu hendak menyerang, namun kuhalangi dengan tameng transparan. CRAS! Dia kupenggal lincah. Bagaimana caraku memanggil tameng tadi?
"Dik Falisha!" BUK! Aku terjatuh, kepalaku terpukul keras.
SLASH!!! Dia langsung mati, ditusuk oleh prajurit. Prajurit itu menjulurkan tangannya.
"Terima kasih." Aku dibantu berdiri, lanjut menyerang musuh.
KRAK...!!! Komandan Kiara membuat runcingan es besar, membuat beberapa makhluk itu membeku. BAM! Potongan-potongan mereka hancur beserta esnya. "Jangan lengah!"
BAS! BAS! SLASH! Lagi-lagi Azriel mencuri perhatian, meratakan puluhan monster dengan cepat.
"Jangan halangi aku!" Dia berseru sebal.
CRAS! Aku memenggal musuh di depan. Tapi sekilas ... di lautan sana seperti ada tangan yang naik, melambai. Jangan-jangan?!
"YUDA?!" BUM! Monster besar memukul perutku jatuh. Kemudian dia mengangkatku lewat tanganku yang sedang memegang pedang.
"Lepaskan aku!" Dasar! Bagaimana caranya bebas kalau begini?!
JRASH!!! Azriel memotong kedua kakinya. Aku bebas sambil berusaha berdiri. Azriel ... menyelamatkanku?
"Jangan anggap ini bantuan. Aku hanya benci makhluk-makhluk jelek ini." Ujarnya sinis, lantas pergi menjauh melawan yang lainnya.
Aku kembali menatap tangan itu. Apa?! Hilang?!
BUM! Kuhindari serangan, SLASH! Musuh itu mati menjadi debu.
"Falisha! Fokus!" Komandan Kiara berseru sambil membekukkan beberapa monster di depan. Aku lamat-lamat setuju, kembali ke medan pertempuran.
Tidak ada habisnya! Menurut perkiraanku, kami sudah membunuh ratusan monster raksasa! Tapi tidak berakhir sama sekali!
SLASH! "Minggir!" Azriel belum terlihat lelah. Wajahnya sangat marah menatap mereka.
"Mati kau monster sialaaaaaan!!!" JRAAAAASH!!! Ia maju membabi buta. Namun, tidak ada yang bisa melukainya sama sekali. Harus kuakui, Azriel memang prajurit terhebat yang pernah kulihat selama delapan tahun menjadi pasukan.
"ROAAAAAAAAAAR!!!" Suara gerungan datang memenuhi atmosfir, Pulau Dua berguncang hebat. Kami semua otomatis melihat dari sumbernya, lautan lepas.
__ADS_1
CRAS!!! Komandan Kiara menghancurkan es berisi monster yang sudah dingin, membuatnya hancur berkeping-keping.
"ROAAAAAAAAAAAAAAARRR!!!" Astaga ... menyeramkan sekali. Rasanya seperti dicekik oleh tali yang tajam setiap kali mendengarnya.
"Itu hewan tadi?!" Aku berseru heran. Jangan-jangan, hewan menggerung itu punya tangan raksasa yang menghancurkan kapal pesiar es tadi.
Aku masih cemas terhadap Yuda. Tidak ada kabar darinya ...
"Falisha! Apa yang kau lakukan?!" Komandan Kiara bertanya keras melihatku yang berlari ingin menuju laut.
Hanya beberapa langkah lagi, aku akan menyebur ke dalam lautan-
BUK! Seseorang mendorongku ke samping.
"Azriel?!" Kenapa dia melakukan itu?!
"Kau bodoh, ya?! Hah?! Buat apa kau berenang ke lautan lepas itu?!"
"Aku ingin menyelamatkan adikmu! Minggir!" Jawabku geram.
"BODOH! KAU AKAN MATI SEKALINYA MENYENTUH AIR LAUT!" Azriel berteriak lebih berisik.
"APA MAKSUDMU?!"
Sret! Azriel menarik kerah seragamku, lalu membuat kepalaku menghadap lautan. Aku baru sadar, airnya berbuih?
"LIHAT, BODOH! AIRNYA PANAS!" Buk! Dia membantingku keras. Kemudian pergi menjauh.
JRASHHH!!! Semua prajurit habis-habisan menyerang, tidak ada jeda napas atau istirahat.
"Aku punya rencana!" Komandan Kiara berteriak, masih memunculkan es runcing yang besar dan banyak.
"ROOOOOOOOOAAAAAAAAAARRR!!!" Gerungan hewan bawah laut menyakiti telinga.
"Kalian semua pergi ke ujung pulau! Cepat!" SLASH! SLASH! SLASH! Dia memberi perintah.
Kami perlahan-lahan menuruti perkataannya, dihalangi beberapa monster namun bisa dilawan. Aku sungguh takjub, pasukan daerah selatan tidak ada yang kelelahan. Dan tidak ada yang malas atau lemah di sini, tidak seperti Daerah Barat. Leo, kamu harus mencontohkan Komandan Kiara- eh, jangan deng ... nanti malah terlalu galak.
"ROOOOOOAAAAAAAAAAAARRRRR!!!"
"Cepat!" KRAK...! Kali ini, es yang dibuatnya lebih besar dan lebar.
"Eh?" Sesuatu memegang lengaku-
"Falisha!" Satu orang berseru khawatir. Dan dengan hitungan detik, aku dilempar ke arah lautan lepas oleh monster besar! Sial! Aku tidak menyadarinya!
Aku tenggelam, rasanya panas ... suara peperangan di pulau meredam, seragamku basah kuyup lagi.
"TOLOONG!!!" Aku takut, di sini sangat panas ... kesadaranku mulai melemah, ayolah jangan pingsan sekarang!
"DASAR! KENAPA KAU BISA TERCEBUR?!" Seruan Azriel terdengar walaupun samar.
Seseorang lagi jatuh ke dalam laut, siapa dia? Apakah dia orang yang akan menyelamatkanku?
__ADS_1
"BERTAHANLAH!" Suara itu ... ah, jangan-jangan?
Aku berusaha menaikkan tubuh, berhasil. Kepalaku naik ke atas, aku bisa melihat semua orang dari sini, Azriel yang sombong, yang memukul wajahku sampai lebam semuanya, yang mengkhianati adiknya saat dia hendak meminta maaf, yang mengaku bahwa dirinya tuhan, yang bersifat arogan terhadap semua orang, yang tidak menghormati para komandan, Azriel, dia menolongku, dia berenang cepat hendak membawaku kembali ke Pulau Dua.
"Pegang lenganku!" Dia berseru.
"ROOOOOOOOOAAAAAAAAAARRR!!!" Gerungan makhluk misterius membuat ombak besar, aku terpisah lebih jauh darinya.
"Sial! Bisakah kau diam sebentar, hewan sialan?!" Azriel mencoba mendekatiku, berenang lebih cepat.
"Panas!" Aku reflek berteriak, semakin jauh tubuhku terombang-ambing, semakin panas air lautnya! Apa-apaan ini?!
"Bertahanlah!" Astaga! Bisakah dia berhenti memanggilku ******?! Ironis sekali rasanya diselamatkan oleh orang yang merendahkanku!
Tapi, punggungku tiba-tiba merasakan sentuhan. Ada orang ketiga di lautan ini.
"Yuda?!" Aku menoleh ke samping kiri, itu Yuda! Dia masih hidup!
"Fal! Gunakan tamengmu!" Dia memberi saran.
"Apa?!"
"Gunakan tameng transparanmu! Itu bisa menjadi tumpangan!"
Eh! Benar juga! Tapi bagaimana caranya?!
"Coba fokuskan perhatianmu kepada pedang cahaya! Ini waktu yang tepat untuk latihan dengan ombak-ombak yang brutal di sini!" Yuda memperjelas perkataannya.
Baiklah, aku menutup mata. Aku tidak mau mati di sini. Pasukan Penjaga Kedamaian belum kubalas budikan kalau dalang dari semua bencana monster ini belum mati. Leo, aku penasaran terhadap diary miliknya. Jennifer, aku merindukannya. Raphael, alasan dia ingin berteman denganku belum kutemukan selama ini ...
Aku belum boleh mati, aku belum mau mati ...
SIIIING!!!
"Berhasil!" Mendengar seruan Yuda, mataku terbuka lebar. Wah! Ada tameng berbentuk seperti kapal kecil!
Aku mati-matian berusaha naik, lalu menolong Yuda agar kami semua berada di atasnya.
"Terima kasih, Yuda!" Aku menarik napas lega, memeluk tubuhnya sambil menahan agar tidak jatuh. Ombak di sini benar-benar mengerikan, kapal kecil transparanku semoga saja tidak rapuh.
"Beruntung sekali, sungguh, aku sangat beruntung punya teman sepertimu." Yuda tersenyum lebar, memelukku kembali.
Aku berkata dalam hati, "Majulah." Lalu kapal kecilku langsung maju menuju Pulau Dua. Sepertinya aku mulai bisa mengendalikan kekuatan ini!
Eh! Azriel!
"Tunggu!" Aku berseru, kapalku berhenti seketika.
"Ada apa?!"
"Azriel! Di mana dia?!"
"Hah?!" Yuda memasang wajah tidak percaya. Apa maksud Falisha? Ada apa dengan Azriel? Kenapa dia ingin menyelamatkannya?
__ADS_1