
"Syarat?" Leo memiringkan kepala.
"Ya... jangan beritahu orang lain tentang ini. Bahkan Jendral Besar Karlo." Raphael menjelaskan syaratnya, Leo terlihat berpikir...
"Hm... Jenn, Fal, kalian bagian dari ini juga?" Dia bertanya pada kami sekarang.
"Y... ya... aku hanya penasaran kenapa tempat itu dilingkari warna merah. Terutama letaknya itu yang hanya beberapa meter dari sekolah." Jennifer menjawab gugup.
"Fal?" Matanya tertuju tajam padaku.
"Um... aku... ingin ikut saja..." Sebenarnya aku juga penasaran, tapi aku tidak bisa berkata-kata dengan benar karena takut akan pengetahuan Jendral Besar. Kalau dia tahu dan kita semua dihukum, nasib kita bagaimana?
"Komandan Leonardo." EEK! SUARA ITU-
"Jendral." Leo menyapa cepat, menghadap ke belakangnya. Jendral Besar sudah berdiri tegak dari tadi.
"Falisha, Raphael, Jennifer." Dia menunduk pada kami bertiga, bingung mau balas apa, aku hanya menunduk.
"Apa yang ada di tanganmu?" Jendral penasaran, menunduk ke tangan kanan Leo yang memegang kertas itu.
Tidak ada suara... Leo tidak menjawab...
"Raphael. Dia sangat antusias akan rencana Jendral. Bahkan sampai menggambar ulang peta yang kami temukan." Akhirnya dibalas, menjulurkan gambarnya kepada Jendral.
"Aku tidak pernah melihat ada orang yang semangatnya sampai begini, bagus sekali, Raphael." Jendral mengangguk mantap, menatap peta itu.
"T-terima kasih." Walaupun bergetar, Raphael berhasil menjawab.
"Aku serius, siapa yang tahu, dua tahun kemudian, jika konflik ini masih ada, kamu bisa menjadi Jendral selanjutnya." Jendral Besar terkekeh sambil mengangkat kepalanya, kami bertiga masih ragu-ragu bicara.
"Baiklah, kalian semua ambil waktu luang kalian untuk beristirahat, sewajar mungkin berlatih, jangan berlebihan. Tidak akan ada misi sampai lusa, juga bantulah warga evakuasi ke Arzhul selama dua hari ini." Ujar Jendral, bersiap pergi.
"Arzhul? Negara yang dipimpin oleh enam ketua itu?" Jennifer penasaran.
"Yup. Baiklah, terima kasih, Jendral." Leo membungkuk sedikit. Jendral juga, lantas pergi menemui dan menyapa pasukan lainnya.
"Arzhul? Kudengar mereka sedang melawan Naga Merah..." Raphael bimbang.
"Naga?!" Aku terkejut, naga? Naga sungguhan?
"Sudah selesai, enam ketua dengan para prajuritnya berhasil mengalahkannya. Setidaknya itu yang aku dengar." Jawab Leo, dia memberikan kertas itu kembali pada Raphael.
"Baiklah, dengar, aku tidak akan memberitahu Jendral Besar tentang rencanamu, Raf. Tapi maaf, aku tidak bisa ikut serta. Semua ketua diperintahkan untuk membantu mengevakuasi warga 24/7, jadi harapanku berada pada kalian. Aku akan berusaha sekuat mungkin agar kalian tidak ketahuan. Aku tahu, kau tidak ingin Jendral tahu agar urusannya tidak diperpanjang dan menabrak Hari Pembantaian lusa, kan?" Leo menjelaskan, bertanya pada Raphael.
"Benar." Dijawab sambil mengangguk.
"Oke. Sekarang beristirahatlah. Kusarankan kalian menghampiri tempat itu besok malam." Leonardo menepuk bahu Raphael, lalu pergi ke kantornya.
"Besok malam..." Raphael melipat kertas itu, meletakkannya ke kantung celana.
"Baiklah, menurut kalian, sebaiknya di mana kami berkumpul?" Raphael menghadap kami.
"Hmm... mungkin di rumahku." Aku memperbaiki posisi kotak panjangku agar tidak jatuh.
"Di mana rumahmu, Fal?" Jennifer penasaran. Iya juga, kalau Raphael sudah tahu, aku pernah mengatakannya waktu itu.
"Nanti aku akan share location lewat ponsel, besok siang, jam satu."
"Baiklah." Jennifer setuju.
Kami bertiga memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing. Di atas, para warga panik berlari sambil membawa koper dan barang-barang besar, aku membantu beberapa dari mereka sampai kosong.
***
Di dalam rumah, pukul 16.50
Aku. Sangat. Bosan.
__ADS_1
Aku sudah berlatih mengayunkan pedang, beberapa teknik khusus, berolahraga, mengerjakan semua tugas yang tertinggal, semuanya.
Sudah kutonton film yang dikatakan Stella tadi, seru, memang. Tapi sudah dua kali dan sekarang aku bosan lagi...
...
Sebenarnya... aku ingin melakukan sesuatu, sudah lama kurencanakan hal ini. Tapi aku takut kenangan buruk itu terbayang lagi...
Oke... tenang, Falisha, tenang...
Aku akan melakukannya.
Beranjak dari sofa, langsung pergi ke kamar.
GREP! Aku mengambil seragam prajuritku dari lemari, memakainya, meletakkan kotak panjang di tempat pada celanaku, lantas berlari sampai pintu.
Karena rumahku ini baru dan disiapkan oleh Pasukan Penjaga Kedamaian, jadi aku lupa beberapa hal tentang rumah lamaku... aku akan mencari Taman Segitiga, sambil membantu beberapa warga yang kulihat.
Kubuka pintuku perlahan, terik cahaya matahari mulai menimpa tubuhku.
BRUK!
"Eh?" Pintuku menabrak seseorang, wanita dengan rambut panjang rapih berwarna merah dan kacamata hitam. Berpakaian seperti dokter...
"Kak Liona?" Aku terkejut, apa yang dia lakukan di sini?
"FALISHA!!!" KREK! Dia memelukku erat, sekilas aku bisa mendengar suara tulang-tulangku... memang seperti ini sikapnya.
"Apa yang Kakak lakukan di sini?" Dia melepaskan pelukannya, aku bertanya.
"Raphael dan Jennifer sudah kukunjungi, aku hanya ingin memastikan keadaanmu, lenganmu yang patah, luka tusukmu, lebam besar di punggungmu, beset di pipimu, asupan proteinmu dan lecet di lengan kananmu sudah maksimal?" Astaga... dia adalah dokter yang merawatku, Raphael dan Jennifer setelah melawan Arkane, salah satu kelebihannya adalah dia ingat semuanya, benar-benar semua lukaku dia teliti dan rawat, hebat sekali...
"S... sudah sembuh semua, kok! Aku tidak apa-apa, lihat?" Kugulung lengan panjang seragamku di kedua lengan, menunjukkannya, Kak Liona mengangguk-ngangguk setuju.
"Punggungmu?"
"Hmm... kepala?"
Aku menunduk, dia melihat-lihat kepalaku, rasanya aneh sekali kalau dilihat orang-orang...
"Dari wajahmu, aku sudah tahu kamu dalam keadaan sehat. Syukurlah..." Dia menghembuskan napas lega, menyentuh dadanya sendiri.
"Iya... eh, Kakak tidak fokus evakuasi bersama yang lainnya? Sini aku bantu."
"Tidak sekarang, aku ingin menghabiskan waktuku di tempat ini sebentar... tepatnya di tempat khusus." Liona menjawab, merapihkan posisi kacamatanya.
"Oh? Di mana?" Tanyaku penasaran.
"Taman Kebahagiaan."
Oh...
Aku teringat...
"ADA APA DENGAN DUNIA, AYAH?! KENAPA?"
"AKU TIDAK TAHU."
"AYAH LARI DARI SIAPA?!"
"AKU TIDAK TAHU!"
...
"Eh... Fal...? Kenapa kamu melamun?"
"..."
__ADS_1
"Halo?"
"Eh! Iya? Kenapa? Maaf..." Kenangan itu untuk pertama kalinya... kembali padaku...
"Haduh... Raphael benar, kamu sering melamun... ayo, ikut aku menuju Taman Kebahagiaan, taman itu indah sekali." Kak Liona memapas lenganku, berjalan membawaku ke depan.
Warga-warga terlihat panik berlari menuju tronton dengan logo medali berwarna putih berukir merpati di depan, menunjukkan kendaraan yang disiapkan Pasukan Penjaga Kedamaian, evakuasi sedang berlangsung hebat di sini...
***
Delapan tahun yang lalu...
Taman Kebahagiaan...
Ibu dan Ayah...
Ayah sedang mengambil hadiah lombaku di luar...
"AWAS, FALISHA!"
Lantas... Ibu mendorongku, lalu aku bersembunyi di balik tirai transparan...
CRAT!
Ibu ditusuk... oleh Monster Bertopi Fedora... lalu dia kabur...
Hujan deras mulai turun, Ayah menggendongku sambil berlari ke luar.
Tiba-tiba... ada suara langkah kaki yang menimpa air dari belakang, menandakan kita sedang diikuti.
"Itu apa... Ayah...?"
"CEPAT! LARI DARI SINI!"
"TAPI-"
"CEPAT! NAK!!!" Seruan Ayah yang mengalahkan petir membuatku takut... lalu aku berlari, menjauh darinya...
CRAT!
Ada suara seperti bagian tubuh yang dibelah dari belakang, aku terlalu takut untuk melihatnya... masih berlari ke depan. Ayah dibunuh juga...
Aku kelelahan... sampai akhirnya, aku jatuh pingsan...
***
...
"Hei!"
"..."
"Heeeeiiii~"
"..."
"Aduh... kalau begini sih gawat..."
"Oh, ah? Ya? Kak Liona? Ada apa?"
"Akhirnya sadar juga... lihatlah, Taman Kebahagiaan sudah di depan mata!" Liona tersenyum lebar, menjulurkan tangannya ke arah kanan.
Taman Kebahagiaan...
Taman... Segitiga...
Tempat dan hari yang sama... di mana semua yang kumiliki direnggut dariku...
__ADS_1