Harapan Seperti Malaikat

Harapan Seperti Malaikat
Tidak Tahu Diri


__ADS_3

"Benarkah? Itu hebat!" Aku berseru riang. Itu berita yang luar biasa!


"Iya... eh, kau sendiri mau ke mana, Fal?" Yuda tersenyum, serentak, dia kembali bertanya.


"Aku ingin ke..." Set! Kata-kataku terhenti.


Haruskah kuberitahu bahwa aku ingin melawan masa laluku di Taman Kebahagiaan? Bagaimana kalau Yuda malah membatalkan pertemuan dengan Kakaknya di sana?


Tidak apa-apa. Demi Yuda, aku tidak akan mengecewakannya.


"Aku ingin pergi ke markas. Ada panggilan dari Leo." Kutepuk bahu Yuda perlahan. Lantas melambaikan tangan sambil berbelok ke gang besar di sebelah kanan.


"Ooh, hati-hati, Fal!" Yuda tersenyum lebar. Aku mengacungkan jempol. "Ya! Kamu juga!"


Kita berdua berpisah. Aku punya rencana lain untuk hari ini. Yuda harus kupastikan masalah dengan Kakaknya selesai. Bukannya aku tidak percaya Azriel, tapi, apa saja bisa terjadi, kan?


Saat Yuda sudah lumayan jauh, aku mengikutinya secara samar. Kuberjalan ke dekatnya, mengumpat di balik tiang.


Oke, hati-hati, jangan sampai ketahuan...


Ting!


Bodoh! Tidak sengaja pahaku mengetuk tiang itu!


"Hm?" Yuda memutar balikkan badan, aku berusaha menutup tubuhku.


...


Hening, semoga tidak ketahuan. Semoga tidak ketahuan. Semoga tidak ketahuan.


Aku tidak bisa melihatnya, tapi kuyakin dia sedang memeriksa sekitar belakangnya. Menatap ke sana kemari, "Apakah ada yang mengintai?" Dalam hati.


Dia akhirnya melangkahkan kaki lagi. Syukurlah...


Waktu kecil, aku pernah diajarkan beberapa hal tentang mengintai dari Leo. Walaupun... marah-marah terus, tapi ilmunya tersampaikan. Aku sangat beruntung punya orang sepertinya.


Baiklah, mula-mula, kakiku harus membuat suara sekecil mungkin. Baru aman. Aku mengikutinya daritadi, masih tidak curiga kepadaku.


"Hei!"


Seseorang memanggilnya, berasal dari depan sana. Kami otomatis melihat lurus, aku gesit mengumpat di balik tembok gang terdekat.


"Y... ya...? Ada apa?" Yuda ragu-ragu menjawab.


"Kau mau ke mana?" Dia berjalan mendekat, semakin terlihat jelas wataknya, orang itu bertanya. Tubuhnya lebih tinggi sedikit dariku. Dan dia berjanggut hitam. Kepalanya gundul. Siapa dia? Sekilas, dia terlihat tua. Eh, seragam itu... seperti seragam pasukan...


"Aku hendak pergi ke Taman Kebahagiaan."


"Oh? Ada apa di sana?"


"Ada hal khusus yang harus kuhadiri. Boleh kutahu siapa namamu?" Yuda heran.


"Mordosstafa. Panggil aku Mordo." Mordo berjabat tangan dengannya. Mereka berdua terlihat tegak dan disiplin, menghormati satu sama lain.


Siapa Mordo ini?


"Mordo, namaku Yuda."


"Yuda? Yuda yang itu? Adiknya Azriel?"


"Iya. Eh, kalau boleh tahu... apa kau melihat Kak Azriel di sini?"


"Hm, sepertinya tidak. Dia di sedang di Daerah Utara, menjalankan misi dengan Komandan Yakza. Kau belum tahu itu?"


Yuda sepertinya lupa, dia mengangguk lamat-lamat.


"Ya, sisi positifnya, Azriel adalah orang yang paling disiplin yang pernah kulihat-"


Krek!

__ADS_1


...


Eh?! Kucing sialan! Dia jatuh dan mematahkan kayu di dekatku! Menyebalkan, dia berlari ke arah gang, jadinya suara tadi sangat mencurigakan!


Oh tidak, mereka berdua menatap ke arahku heran. Tapi aku belum ketahuan...


"Halo? Ada orang di sana?" Mordo bertanya seru, langkah kakinya mendekat melewati Yuda.


Aku harus menghindar, gang ini begitu kecil, jadi aku bisa menahan seluruh tubuhku dengan menempelkannya sambil naik!


Sret! Sret! Aku merentangkan kedua kaki dan tangan ke sisi kanan dan kiri gang, kemudian mengangkat diriku ke atas, sedikit demi sedikit. Untungnya tubuhku sudah terlatih untuk hal seperti ini.


Kepalanya masuk ke dalam gang, dia menatap sekitar. Yuda masih di sana menunggu, mereka berdua belum mengetahui keberadaanku.


"Hm..." Masih mencari, menatap ke sana kemari. Aku menahan napas, mencoba tidak terdeteksi oleh semua panca inderanya.


Dari gerakannya... kali ini dia hendak menatap ke atas! Sial! Aku harus bagaimana?!


"Meong."


Eh?


"Hm?" Mordo yang hendak menatap ke arahku, mengganti pandangannya menjadi ke samping. Kucing abu-abu itu bertingkah lucu, berguling ke kanan dan kiri.


"Aw... lucu sekali." Phew, dia benar-benar menganggapnya. Hanya kucing. Aku bebas sekarang.


"Baiklah, kusarankan kau hati-hati." Mordo melambaikan tangan ke arah Yuda, berpisah. Dia sempurna meninggalkan gang kecil ini. Aku kembali sendirian.


Yuda mengangguk, kembali berjalan maju ke arah Taman Segitiga.


Trap! Aku hati-hati mendarat. Mengelus-elus kucing yang masih berbaring. "Terima kasih."


"Meong." Balasnya, kemudian kabur. Entah ke mana.


Oke, saatnya lanjut. Sebentar lagi sampai ke taman itu. Aku harus lebih hati-hati.


...***...


"K... Kak Azriel...?" Dia berseru bingung. Harusnya Azriel sudah sampai.


Tidak menyerah, Yuda memeriksa semua kursi. Termasuk yang di tengah-


"FALISHA, AWAS!!!" Aku teringat seruan Ibu malam itu.


...


Aku harus melawannya. Ingatan buruk itu.


Ya... ya... persis sekali. Delapan tahun yang lalu. Aku mengumpat di balik tirai transparan, melihat Ibuku yang tertusuk oleh monster. Kemudian Logan datang menyelamatkannya.


Eh? Kakiku bergetar? Bodo amat, ingat lagi!


Ibuku tertusuk oleh monster kecil, tidak apa-apa...


Ibuku dibunuh saat aku masih kecil, tidak apa-apa...


Itu masa lalu, bukan sekarang.


Itu masa lalu, bukan sekarang...


Itu tidak akan terjadi lagi. Kau bukan Tuhan, tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi.


Itu semua di masa lalu, Falisha. Itu tidak akan terjadi lagi...


Aku menghembuskan napas perlahan, menariknya, menghembuskannya, menariknya lagi...


Napas terakhir, kubuang secara sempurna. Aku merasakan gelombang kecil dari rambut sampai ujung kakiku...


...

__ADS_1


Hei... hei! Kaki dan tubuhku sudah sedikit lebih tenang! Ini hebat! Kemajuan yang lumayan!


Bagus! Aku akan melakukannya lebih baik nanti-


"Yuda."


Akhirnya, bintang tamu datang. Azriel dengan seragam yang lebih gelap, berkerah dan berkelas. Dia berdiri tegak di belakang adiknya yang masih bingung.


"Eh, Kak Azriel..." Yuda langsung kaget, merespons katanya. Lebih tepatnya dia terkejut melihat luka bakar yang hebat di mata kanan Azriel.


"Kak... aku ingin meminta maaf... atas kejadian waktu itu. Aku salah, sangat salah. Dan... kuharap kau memaafkanku atas mata kirimu itu..." Dia terbata-bata berkata. Berguncang hebat namun mencoba menenangkan dirinya. Tangannya mengepal. Dia berkeringat hebat. Sejenak aku tidak tega melihatnya.


...


Sunyi, tidak ada jawaban darinya.


"Hm, baiklah, dimaafkan."


"Hah?! Serius?!" Wajah Yuda berubah drastis. Mulutnya lebar tersenyum, kedua alisnya naik. Nada bicaranya semakin tinggi, dia girang berseru, memeluk kakaknya dengan sangat erat.


"Syukurlah... syukurlah kita bisa menjadi keluarga lagi, Kak..." Dia bicara lagi. Aku menangis melihatnya. Akhirnya dendam bertahun-tahun itu bisa hilang. Mereka berdua bisa lebih bahagia sekarang...


Yuda terlihat sangat senang... syukurlah, syukurlah Yuda! Ini adalah hal yang sangat dia inginkan seumur hidupnya, kedamaian dengan Kakaknya. Lihat wajah itu, mengalahkan kebahagiaan siapa pun di bumi ini.


"Sekarang!" Sebelum pelukannya dibalas, dan sebelum Azriel tersenyum kembali kepada Yuda. Dia berseru. Kemudian, tiga orang berseragam pasukan datang.


Aku heran, Yuda juga hendak melepaskan pelukan penasaran, tapi Azriel menahan kedua lengannya. Yuda tidak bisa kabur dari kakaknya.


Apa...?


Ada apa ini?!


Ketiga orang itu beserta Azriel tertawa.


"Apa ini, Kak?" Yuda bertanya bimbang. Wajahnya masih tersenyum, mengira ada kejutan spesial dari Azriel.


"Kau pikir aku bodoh, Dik? Mau meminta maaf bagaimanapun, mataku tidak akan bisa kembali. Jadi, sampai itu sembuh, aku tidak akan pernah memaafkanmu!" Pegangan kedua lengan Yuda semakin erat, Yuda dihadapkan ke arah tiga orang yang hendak menyerang.


Oh tidak... tidak tidak tidak tidak... tidak...! Tidak!


BUK! Salah satu temannya memukul perut Yuda sangat keras, tertawa jahat.


BUK! BUK! DUK!!! Orang kedua memukul, lalu menendang kepalanya, percikan darah menetes darinya. Tidak! TIDAK!!!


"Bagaimana? Sakit? Ha, hahahaha... adik bodoh!" BUK! BUK! BUK! BUK! Yuda dipukul berkali-kali oleh orang terakhir, napasnya tersengal. Kepala adik yang malang itu berdarah hebat, darah segar keluar dari bibirnya. Wajahnya dari riang, ceria dan penuh harapan, menjadi lemas tiada tenaga.


"Hei, Jio. Tusuk dia."


Apa?!


Sing! Orang pertama tadi mengeluarkan pisau kecil dari celananya. Dia ingin menusuk Yuda?!


"Tidak... TIDAK!!! HENTIKAN SEMUA INI!!!" Aku sudah tidak tahan. Aku berlari keluar, menunjukkan diri dengan sempurna, menyalakan pedang cahaya. Semuanya menatapku sekarang.


"F... Fal...?" Suara Yuda kecil berangin, dia sudah tidak kuat.


"Kamu...! Dasar... dasar Kakak bodoh! Adikmu itu ingin meminta maaf! Kenapa malah memperlakukannya seperti itu?! Dia... wajahnya tadi sudah berharap banyak darimu! Apa-apaan ini?!" Tanyaku lancang, menjulurkan pedang ke arahnya.


"Wah, kau punya pacar, Dik?" BUK!!! Azriel berbisik pada Yuda, lantas membantingnya ke kursi besi dengan kencang sampai rusak.


Tubuh Yuda terkulai bersama potongan-potongan besi kecil, dia berusaha bergerak sekuat mungkin. Melihatnya saja sudah terasa sakit...


"Jaga dia." Dia memerintah tiga temannya, mereka mentah-mentah mengangguk, bergerak ke arah Yuda. Menendangnya, memukulnya, semuanya dilakukan agar dia tidak bisa bangkit.


ZRUNG! Dia menyalakan pedang cahaya miliknya. Berwarna putih terang, berjalan ke arahku. Luka bakarnya semakin jelas terlihat.


"Hei, ******. Aku akan membuatmu menutup mulut untuk selamanya. Aku paling benci orang asing yang sok tahu!" Azriel melesat maju.


Gh...

__ADS_1


"AYO SINI! HADAPI AKU!" Aku sangat geram... berlari kencang ke arahnya.


__ADS_2