Harapan Seperti Malaikat

Harapan Seperti Malaikat
Ledakan


__ADS_3

Komandan Yakza sudah masuk ke dalam lubang menuju laboratorium. Sisa kami berempat melawan enam monster besar di sini.


"ROAR!!!" Aku berhadapan dengan dua monster, salah satunya mulai menyerang.


BUM! Pukulannya menghantam tanah, aku menghindar seraya menyiapkan posisi. SLASH! Kupotong tangannya sampai dia menggerung kesakitan.


SLASH! Monster satunya maju hendak memukul, aku langsung membelah lengannya. SLASH! SLASH! SLASH! JRRASAASSH!!! Kedua kaki dan kelima tangan monster kedua sudah hancur, sisa tubuhnya-


BUK! Sial! Aku dipukul oleh temannya. Tubuhku mendarat di atas rumput kecil. Dia langsung berlari hendak menyerang lagi. SLASH! Jennifer menyelamatkanku yang sedang bangkit, dia memotong salah satu kakinya, sekarang tidak bisa bergerak lagi.


"Terima kasih, Jenn." Aku menyeka bibir, Jennfier mengangguk dengan singkat. CRAT! CRAT! Kami menusuk kepala dua monster itu, lantas menghilang jadi debu. Sekarang sisa empat...


SLASH! SLASH! SLASH! Raphael gesit berlari ke segala arah, mencoba menyerang. Namun hanya melukai sedikit tubuhnya, musuh di sana lebih cepat.


Kami berlari mendekat, melingkar lagi, di tengah-tengah empat monster besar yang menggerung. Mereka sedikit demi sedikit mendekat, sambil mengangkat tangannya tinggi-tinggi.


"Cih..." Yuda sebal. Aku juga merasakannya, malam hari, tanpa lampu. Hanya pedang cahaya yang menjadi sumber pembantu penglihatan.


Woosh! Woosh! Woosh! BUM! Aku menghindari tiga serangan yang mengenai tanah. Monster meraung dengan kencang, suaranya menggema menyeramkan.


Cret! Dia hendak menyerang kakiku, aku melompat ingin membelah tangannya.


"ROARR!!!" Kena! Sedikit bagian tangannya terpotong, ini kesempatanku untuk-


"FALISHA!"


BUKK!!! Aghh menyebalkan! Tangan satunya memukulku, terlempar jauh mengenai gumpalan tanah.


DUM! DUM! DUM! DUM! Dia berlari cepat, hendak membunuh. Aku menepuk-nepuk seragam, lalu berlari mendekatinya. Aku tidak akan kalah!


BUM! Serangannya meleset, BUM! Meleset lagi, SLASH! SLASH! Kupotong kedua tangan yang menyerang, melompat tinggi-tinggi ingin memenggalnya-


CRET!!!


"Ah?!" Apa?! Tangannya-


BUMM!!!


Apa-apaan ini?! Kenapa dia bisa melakukannya? Sejak kapan?! Tangan yang belum terpotong malah memanjang, melilit tubuhku. Kemudian ia membantingku jatuh!


"Ugh..." Astaga... kepalaku terasa pening-


BUM! Dia melepaskan serangan. Cepat sekali! Beruntung aku bisa menghindari serangan barusan!


Kuangkat tubuhku tinggi-tinggi, menarik sekali kemampuan barunya itu...


BUM! BUM! BUM! BUM! Semua orang juga menyadarinya, wajah mereka mulai sedikit cemas. Ini benar-benar baru-


WOOSH! Aku menunduk sekaligus membelah lengannya yang menyerang kepalaku. Langsung maju, aku harus menusuknya!


"ROAAAAAAAR!!!" Suaranya memekakkan telinga, sembari bergeraknya kakiku ingin membunuhnya-


WOOSH!


Dia melompat?!

__ADS_1


"ROAR!" Tangannya mengunciku sambil mendarat! Aku harus menghindar!


BUMMM!!! Hantamannya mengenai tanah, membuat lubang besar. Aku berguling cepat ke kanan. Asap dan debu memenuhi mataku.


"Uhuk!" Terbatuk berkali-kali, akhirnya aku bersiap lagi. Mengacungkan pedangku-


BUMMM!!! BRAK! Monster itu memukulku keras! Tubuhku mengenai tanah keras, tersungkur berkali-kali tanpa henti.


"FAL!" Seruan seseorang terdengar.


Ayolah bangkit! aku tidak boleh gagal di sini!


BUM! BUM! BUM! BUM! BUM! Suara langkah kaki raksasa mendekat. Aku tahu... Leo pernah mengajarkanku ini. Kuberdiri menghadapnya, mengunci posisinya.


ZRUNG!


CRAT!


Yes! Sambil monster bodoh itu maju mendekatiku, aku melempar pedangku dengan kecepatan layaknya anak panah. Itu menusuk kepalanya, sekarang perlahan mati menjadi debu.


Aku bergegas mengambilnya kembali, harus kubantu yang lainnya!


BRAK! BUM! BUM! BUM! Monster besar yang sangat gemuk menghancurkan tanah terdekat, Yuda gesit menghindari semuanya. Daritadi dia ingin menyerang namun musuh yang satu ini selalu saja ngeles.


Sekilas, satu serangan hendak mengenainya.


"AWAS!" BUK! Aku mendorongnya dan diriku, kami terpental. Setidaknya kami selamat...


"Terima kasih, Fal." Yuda mengusap keringat di dahi, aku mengangguk cepat.


Tapi, ini aneh. Dia tidak bergerak sama sekali. Hanya menggoyangkan tubuhnya, dan berseru. Menggoyangkan tubuhnya, lalu berseru. Begitu terus.


"Iya, aku juga bingung. Setelah ini, dia menyerang sesekali, tapi jaraknya dekat sekali. Seandainya kita berdiri jauh, serangannya tidak akan mengenai kita." Yuda memutuskan kebingungan. Huh... yang ini unik, ya...


Bagaimana cara menyerangnya...?


"Dengan bantuanmu, mungkin rencanaku bisa bekerja." Dia berkata, aku antusias mendengarkan.


...


Kemudian, bisikkan rencananya tersampaikan. Aku mengangguk setuju.


"Baiklah. Ayo kita lakukan."


WOOSH! Aku melesat maju, melompat tinggi-tinggi.


BUK! Tubuhku dipukul keras, namun dengan segala keberuntungan, aku bisa menyangkutkan diriku dengan tangan monster besar itu. Dia meraung keberatan, mencoba mengayun agar aku jatuh. Tapi syukurlah, fisikku lumayan kuat untuk bertahan.


TRAP! TRAP! TRAP! TRAP! Suara kelincahan Yuda berlari mengelilingi monster itu memenuhi telingaku.


"ROAAAAAARRRR!!!" AGH! Berisik! Bisakah kamu diam, monster?! Dia masih bergerak cepat mencoba melepaskanku! Tidak akan kubiarkan!


SLASH! "ROAAAAAAAAAAAAARRR!!!" Astaga! Kepalaku mulai pening! Dia kesakitan menerima serangan Yuda!


SLASH! SLASH! CRASSS!!!

__ADS_1


Yuda memotong kedua kaki, ketiga tangan monster sekaligus. Akhirnya dia menusuknya, darah hitam yang banyak mulai bertebaran, lama-lama menghilang lagi, menjadi gumpalan asap yang tebal.


Phew... aku mendarat dengan selamat, menghembuskan napas. Tugasku tadi hanyalah mengalihkan perhatian...


"Kamu hebat, Yuda..." Kutarik napas dengan perlahan. Sisa dua monster...


"Ini juga karenamu, Fal. Sekali lagi terima kasih." Dia tersenyum lebar padaku, kubalas mengangkat jempol.


Jennifer! Kita harus membantunya! Monster yang dia lawan itu paling besar!


WOOSH! Jennifer menunduk menghindar, SLASH! Memotong kaki kiri monster. BUK!!! Ditendang jauh olehnya. Tidak berhenti, dia maju lagi, SLASH! CRAS! SLASH! Memotong empat tangan monster, BUK!!! Ditendang lagi!


"ROAAAAR!!!" BRUK! Monster menyerang tanah, membuatnya retak dan meruncing. Jennifer gesit melompat mundur, lantas maju lagi. SLASH! SLASH! JRASH!!! Sisa tubuh dan kepalanya dipenggal. Monster paling besar langsung menghilang, kalah...


Aku dan Yuda menjatuhkan rahang, wanita itu... dia mengalahkannya seorang diri...


Jennfier menarik napas berat, kelelahan. Lalu menarik rambut hitamnya kembali ke belakang.


"Eh...? Kalian tidak apa-apa?" Dia bertanya menghadap kami. Aku mengangguk kagum, Yuda masih termangu.


"Ayo. Kita harus bantu Raphael." Jennifer berusul.


"Eh? Di mana dia?"


Huh? Oh, benar juga... di mana Raphael? Dia tidak terlihat di mana pun-


"FALISHAAAAAAA!!!" Seruan hebat terdengar dari belakang, itu suara miliknya!


Aku memutar balikkan badan. Monster besar dengan tangannya yang tajam hendak menusuk kepalaku, kecepatannya di luar nalar, wajahnya seram. Tanduknya ada empat di atas kepala. Ini adalah monster yang dilawan Raphael daritadi, sangat menyeramkan...


Tapi... sepertinya... aku tidak akan selamat. Hanya tiga centimeter jaraknya dari kepalaku. Aku akan mati...?


"JANGAAAAAAAAN!!!"


BUUUUUUUUUUMMMMMMMMM!!!


Cahaya jingga menyakiti mataku. Ledakan hebat tiba-tiba terjadi di tubuh monster itu. Aku, Yuda dan Jennifer terpental ke belakang. Kami semua jatuh terkulai...


Suasana sekarang hening. Suara tanah yang berjatuhan sebab ledakan itu memenuhi. Sebagian berlubang besar dan rusak. Aku terbatuk satu dua kali, mengusap bibir yang kotor.


Monster besar itu sudah hilang. Hanya tubuh Raphael yang terbaring berada di sana.


"Apa... apa yang terjadi?" Tanyaku heran. Semua orang lama-lama bangkit, terbangun juga...


"Raphael! Pedangmu!" Yuda menunjuk ke arahnya...


...


Hei... pedang milik Raphael menyala terang. Berwarna kuning kejinggaan. Asap hitam keluar dari sana. Dia melotot, menarik napas cepat. Sepertinya dia shock setelah apa yang terjadi...


"Apa... apa itu... tadi...?" Raphael membuka mulut. Melihat pedangnya yang sangat terang itu...


"Raphael... kamu..." Aku berujar namun terhenti. Ini... ini sudah pasti! Sudah pasti benar!


Kekuatan Raphael telah bangkit! Ledakan!

__ADS_1


__ADS_2