Harapan Seperti Malaikat

Harapan Seperti Malaikat
Bos Para Omni


__ADS_3

SWOOSH!!!


Tepat waktu Yuda menyelamatkanku. Omni Kayu membeku pergerakannya sedetik sebelum dadaku ditusuk.


SLASH!!!


Raphael membelah tubuhnya lincah, Omni terbelah menjadi dua. Potongan tubuhnya beberapa sudah menjadi kayu, seperti tembok rumah yang hancur.


ZUNG! Aku menggerakkan kita mundur di dalam tameng kotak, membiarkan musuh itu jatuh ke permukaan.


Omni Kayu menggerung, menatap separuh lagi tubuhnya di atas lantai beberapa meter jauh dari kepalanya.


"Dasar anak-anak sialan!" Serunya marah.


Aku hendak menusuk badannya dengan tameng runcing.


"Tunggu!" Raphael mendadak berseru.


"Apa?"


Raphael menunduk sejenak. "Aku Ingin bertanya tentang sesuatu. Dia tadi mengatakan 'tidak juga' saat bicara tentang apakah dia dalang di balik dicurinya serum itu." Ucapnya serius.


"Ha? Maksudnya?"


"Ada seseorang yang menyuruhnya. Menyuruh Omni Kayu melakukan semua tindakannya. Seseorang itu jika diketahui, akan mengkonfirmasi apakah Jenderal Karlo yang benar-benar dalang di balik semua ini."


Kami bertiga mendengarnya secara teliti. Astaga, itu sangat menegangkan.


"Hei, Omni!" Zep! Aku menghilangkan tameng kotak, kami mendarat di ubin kantor secara perlahan.


Omni Kayu separuh takut separuh berniat jahat menatap kita. "Kau mau apa?!"


"Siapa atasanmu?! Siapa yang menyuruhmu melakukan semua ini?!" Raphael berteriak tegas. Aku membuat tameng di potongan tubuh Omni Kayu bagian bawah agar dia tidak beregenerasi lagi.


"Ha ... hahaha! Ha! Ha! Ha! Ha!" Tawa omni yang aneh itu kembali lagi. Wajahnya sangat menikmati semua ini! Kenapa?!


"Jawab!" ZRUNG!!! Cahaya biru terang menerangi Yuda, dia mengangkat omni itu dengan kekuatannya.


"Dengar, bocah. Walaupun kujawab, itu sudah terlambat. Kalian tidak akan bisa menang!" Omni Kayu tergelak lagi.


"Itu belum tentu benar! Jawablah, siapa atasanmu?! Siapa dalangnya?! Siapa bosmu?! Apakah ... apakah Jenderal Karlo?! Apakah Jenderal Besar Karlo?!" Giliranku berseru bertanya. Aku lamat-lamat takut menunggu jawabannya. Semoga bukan Jenderal Besar. Kalau itu benar ... aku tidak tahu lagi harus bagaimana ...


Omni Kayu tertawa lagi.


"JAWAB!!!" BRAK!!! Aku membuat tameng runcing yang membuat omni itu terjepit dengan tembok. Dia lebih sulit bernapas sekarang, ini setidaknya akan memberinya pilihan.


"Kau benar-benar ingin tahu ...? Baiklah, kita akan buat perjanjian khusus." Omni, yang sekarang lumayan sesak, akhirnya berkata serius.


"Perjanjian?" Heran Jennifer.


"Ya, perjanjian. Kalahkan aku, maka akan kuberitahu jawabannya. Jawaban yang kalian cari-cari, musuh kalian yang sebenarnya." Dia terkekeh sedikit. Tanganku berkeringat, kenapa dia tidak mau menjawab sekarang?!


"Kalau kita yang kalah?" Raphael bertanya heran.


"Maka kalian yang akan mati."


"Tapi, kamu sudah kalah. Artinya kami sudah menang." Aku maju pelan-pelan, keberatan.


Wajah Omni Kayu itu tersenyum miring.


"Kau ... yakin ..?"


Setelah melihat wajah sinisnya. Aku tahu ada sesuatu yang tidak beres.


Ternyata benar saja ... di bawah, Omni Kayu sudah menjepit kakiku, menempel dengan ubin, dengan memperacak bentuk kayu meja kantor. Dia juga mengikat kaki teman-temanku, kita semua terkunci tidak bisa bergerak. Dia mengulurkan waktu daritadi dengan basa basinya!


"Yuda! Lepaskan kita-!"


"Tidak secepat itu!"


BRUK!!!


Omni Kayu mengikat tubuh Yuda sepenuhnya, lantas membantingkannya tembus ke ruangan di sebelah kita.


"YUDA!!!"


"Jennifer! Waspada!"


Raphael terkejut. "Fal!! Menunduk!!!"


BRAK!!! Omni Kayu hampir memenggal kepalaku, aku menunduk. Serangannya merusak aksesoris kantor yang ditempel di tembok.


Lalu serangan kedua dilempar olehnya, kayu runcing yang melesat cepat ke arahku. Aku membuat tameng transparan, berhasil melindungi kita.


"Aku harus mencari Yuda!"


"Tidak ada waktu, Jennifer! Omni Kayu ini lebih kuat dan pintar dari semuanya!"


"Tapi ...!"

__ADS_1


BRUK! BRUK! BRUK! BRUK! BRUK!


Aku menahan tamengku sekuat mungkin sambil mendengar mereka bertukar pikiran.


...


Semoga Yuda baik-baik saja ...


BRUK!!! Aku memperbesar tamengku sekaligus menghilangkannya. Semua kayu yang menyerang hancur lebur.


"Dia kabur lagi!" Ucapku setelah menyadari si omni menghilang.


Plop! Raphael membuat belasan gelembung peledak sekaligus, semuanya menyebar dan meledakkan area besar di kantor.


BUM! BUM! BUM! BUM! Meja meledak, Omni Kayu terlihat mengumpat. Dia langsung maju hendak membunuh Jennifer.


SLASH! Jennifer gesit memotong tangan omni. BUM! Raphael meledakkannya, tapi omni menghindar. WOSH! WOSH! WOSH! Beberapa serangan omni meleset tidak mengenai Jennifer. BUM! BUM! BAM!!! Raphael meledakkan tiga gelembung yang dihindari lagi oleh Omni Kayu.


BRUK!!! Omni Kayu berhasil menendang Raphael, Raf terpental jauh.


"RAPHAEL! Ack!" Jennifer dicekik olehnya.


Aku hendak membantu, tapi paha kananku ditusuk oleh gumpalan kayu tajam. Aku tidak berdaya menahan sakitnya ...


"Kau ... kau menyukai bocah yang tadi, ya? Bocah yang mengeluarkan cahaya biru, bocah yang kulempar jauh ke tembok tadi." Omni bertanya sinis ke Jennifer.


Aku berusaha mengeluarkan tameng, tapi sia-sia saja. Setiap tameng yang kukeluarkan, pasti menghilang lagi.


BAM!!!


Peledak Raphael datang menyelamatkan Jennifer, giliran omni yang terpental.


Omni Kayu terlempar mundur, tubuhnya menyangkut tertusuk oleh sudut rak yang tajam di ujung ruangan.


Aku dengan tenaga yang tersisa merebut Jennifer, membawanya mundur ke di ruangan yang berbeda kantor ini.


BRAK!!! Pintunya kubuka paksa, aku langsung terkulai lemah ...


"Astaga, Fal!" Dia terkejut melihat pahaku yang berdarah. Kemudian cahaya hijau keluar dari tangannya, benang-benang hijau tipis muncul memasuki kakiku, membuatnya perlahan-lahan sembuh.


"Terima kasih ..."


"Hei ... kalian tidak apa-apa?!" Raphael ikut masuk, bertanya cemas. Wajahnya lebam di banyak tempat.


"Ya ... ya, aku-"


Astaga! Dari belakang, dada Jennifer ditusuk keras secara tiba-tiba!


"JENNIFER!!!" Seruku dan Raphael. Kayu runcing dari luar masuk ke dalam tembus, menusuk Jennifer, dan menariknya kembali sekaligus!


"Raphael! Lakukan sesuatu!" Aku yang panik mencoba berdiri, membuat tameng untuknya sebelum dipegang oleh Omni Kayu.


Tep! Terlambat! Leher Jennifer sudah berada di tangan omni lagi ...


Omni Kayu menarik napas dalam-dalam ... "Dasar ... DASAR MENYEBALKAAAAAAN!!!"


SWOOOOOOOOOOOOOOOOOOOSHHHHHHH!!!


Semua kayu di tempat ini berterbangan, layaknya hujan di seluruh tempat ke segala arah, menusuk apa pun yang hadir di depan mereka. Kedua dada, dagu dan pipiku tertusuk tembus ke dalam. Kedua kaki Raphael juga kena serangannya, ditusuk tembus, begitu juga dengan perutnya dan pinggangnya.


Aku sekarat ... tidak bisa bernapas ... Jennifer di depan kami, sambil dicekik, badannya dipenuhi oleh kayu-kayu kecil yang runcing. Darah yang deras berjatuhan dari tubuhnya.


"Aku ... menang ... aku menang!!! HA! HA! HA! HA! HA! HA! HA!" Omni tertawa lebar-lebar. Melihat kami semua yang dilumuri darah dan keputusasaan dalam bernapas.


"Baiklah ... Je, ni, fer ... selamat tinggal!!!"


Tepat sebelum Jennifer dibunuh, sebelum kepala Jennifer dipenggal oleh Omni Kayu, Yuda, yang tidak jauh berbeda, berdarah di seluruh seragam dan kepalanya, datang mementalkan omni itu. Cahaya birunya kali ini sangat terang.


Jennifer jatuh bebas. Mulutnya terbuka lebar-lebar, mencoba tetap hidup.


"Jangan. Melukai. Jennifer. Lagi ..." Ucap Yuda dengan dingin.


Tangan kanannya diangkat tinggi-tinggi. Astaga ... astaga!!! Apa-apaan ini?! Gempa bumi yang sangat mengerikan bisa dirasakan! Dan semua, benar-benar seluruh perabot di kantor ini, sekaligus dengan tembok-temboknya sampai hancur, semua alat dan bahan di kantor ini berkumpul mengunci Omni Kayu! Semuanya menjebak Omni Kayu dengan sangat rapat!!! Yuda tidak memberinya ruang untuk bergerak! Mengejutkannya, bahkan tameng supertebalku bisa digerakkan olehnya, Yuda menggerakkan segala-galanya demi menjepit Omni Kayu dengan sangat brutal! Omni itu tidak akan bisa bernapas!


"AARRGGG RAAAGHH GRAAAAAAAAAAAAA!!!" Omni berteriak ketakutan, panik, tidak siap, dan sesak! Semua benda menutup badannya hidup-hidup, seperti dikubur dengan barang, tapi sambil melayang!


Berkat tembok yang berlubang, maksudku, berkat hampir semua tembok di kantor ini yang terpakai oleh Yuda demi menutup Omni Kayu, aku bisa melihat kondisi luar bangunan!


Yuda sangat ... mengerikan ...


"AAAAAAAAAARGGHH RAAAAAAAAA!!!" Omni berteriak lagi. Material bangunan ini terus menerus berkumpul mengubur Omni Kayu, semakin banyak dan besar kumpulan benda-benda itu!


Jennifer di bawah berhasil menyembuhkan dirinya sendiri, kemudian menatap Yuda, dia ketakutan.


"Mati kau ... MATI KAU!!!" Ujar Yuda dengan sangat marah. Tangan kanannya semakin tinggi diangkat olehnya, tubuhnya juga ikut terbang demi bisa berkonsentrasi.


Jennifer menatapku dan Raphael sekilas, langsung menyembuhkan kita dengan cepat dengan benang hijaunya.


80% Kantor ini hancur lebur, gawat ... kalau dibiarkan begini, Yuda bisa melukai kita juga!

__ADS_1


BRAK!!! Batu besar hendak menimpa Raphael, aku sempat membuat tameng kokoh sampai batunya hancur.


Batu-batu besar yang menyusul juga datang hampir membunuhku dan Raphael. Kita harus menghindar dengan cepat setiap waktu, belasan kali kita hampir terbunuh.


"Jennifer! Kumohon! Tenangkan Yuda!!!" Raphael berseru panik, menangis, dia tidak tega melihat Yuda yang seperti ini. Yuda yang tenang dan menahan amarahnya, di sini benar-benar bengis dan benci kepada Omni Kayu. Aku dan Raphael tidak mau melihat Yuda yang seperti ini, kasihan sekali Yuda ...


"YUUUUUDAAAAAAAAA!!!" Jennifer berteriak keras, mengeluarkan kekuatan sepenuh hatinya. Satu kata, satu kalimat, satu tujuan yang jelas ...


...


Mendengar teriakan itu, Yuda memutar balikkan kepalanya ke arah Jennifer. Mata Yuda merah, dahinya robek dan kepalanya bocor. Seragam pasukannya hancur separuh, dia terlihat sangat marah ...


Jennifer bergerak mendekat, memegang dagu Yuda yang sedang terbang. Yuda perlahan-lahan turun ke permukaan, gempa beserta getaran di seluruh tempat ini sedikit-sedikit memudar ...


Jennifer tersenyum. "Hei ...! Hei! Lihat, aku baik-baik saja! Aku tidak apa-apa! Jangan marah, jangan lanjutkan semua ini, oke? Kumohon jangan berubah ... Omni Kayu sudah kalah, Yuda. Lihat, kau sudah berhasil menjepitnya dengan sangat sempurna. Omni itu sudah mati ... sudah mati ... kita menang, kita menang ..."


...


Hening sebentar. Yuda melotot terkejut mendengarnya, sekaligus kaget melihat seluruh tubuhnya yang bersinar biru begitu terang sampai memekakkan mata, inilah kekuatan terbesarnya ...


"Jenn ..." Dia berkata lemas.


Dan ...


Zep! Cahaya birunya itu menghilang sempurna. Tubuh Yuda terjatuh di pangkuan Jennifer, mereka duduk dengan lemas.


Gempa yang sangat brutal di sini sudah berakhir. Bagian-bagian kantor, dan barang-barang yang menjepit omni itu jatuh seketika, berkumpul di satu titik bagaikan gunung, bertumpuk, banyak sekali. Kendali Yuda terhadap semuanya sudah menghilang.


Omni Kayu, musuh kita, terlihat jatuh ke tumpukan gunung itu. Tubuh Omni Kayu yang tersisa hanyalah kepala, separuh badan dan tangan kanan. Sisanya hancur, bagian jantung Omni Kayu sudah hancur, dia kalah, kita menang ...


"Oh ... oh tidak ... TIDAK! TIDAK! TIDAK!!! TIDAAAAAAAAKKKKKK!!!" Jennifer mendadak berteriak. Aku dan Raphael berlari mendekatinya, khawatir penuh.


"Ada apa, Jenn?"


!


Aku hendak bertanya ... tapi dilihat dari dekat, sudah langsung terjawab alasannya.


"Astaga ... ini ... ini pasti bohong ... hei ... ini tidak nyata, kan? Kan?!" Raphael yang tidak percaya mencoba menyelidikinya. Tangisannya semakin terlihat, air mata deras mengalir dariku, terutama Jennifer. Raphael mulai terisak parah.


Jantung Yuda tertusuk oleh Omni Kayu saat dia dilemparkan jauh tadi, dia sekarat ...


Yuda akan mati ...


"Ayolah! Sembuh! SEMBUH! SEMBUHH!!!" Sambil menangis, Jennifer mengeluarkan ribuan benang hijau yang terang. Tapi tidak berhasil, jantung Yuda tidak lekas membaik ...


"Pasti ada sesuatu yang bisa kita lakukan, apa saja ... apa saja! Benar kan?!" Aku, yang daritadi panik, sambil menutup mulut, mencoba mencari cara ...


Mau dengan tameng superkuat, kekuatan penyembuh, atau gelembung yang bisa menjadi peledak yang cukup kuat untuk jadi kekuatan hidup, tidak akan berhasil. Kematian tidak bisa dikalahkan oleh apa pun ...


"Tidak ... kumohon ... Yuda ... sembuhlah ..." Jennifer terisak penuh, menyerah. Lima menit dia mencoba agar Yuda bisa bangkit lagi, gagal. Yuda tidak akan selamat ...


"Maaf ... aku sangat ... meminta maaf ... kalau aku pernah berbuat salah- Huk! Uhuk!" Yuda sadar, walaupun sangat lemas. Yuda menggunakan kekuatannya yang tersisa untuk berbicara.


Jennifer menatapnya kasihan, menempelkan dahinya ke dahi Yuda. Raphael menunduk, menangis deras. Aku menatapnya, aku menatap Yuda, mencoba agar tidak membuang waktuku melihat yang lain.


"Hei ...jangan sedih ... kemenangan akan selalu berada ... di depan orang yang baik. Aku sangat ... sangat percaya itu ..." Dia berujar sambil terbatuk sekali dua kali, tersenyum penuh kepadaku. Senyumnya itu sangat menawan ... sangat tampan ... dan sangat penuh dengan ... harapan ... seperti malaikat ...


Aku memeluk tubuhnya yang penuh dengan darah. Aku berbisik "Yuda ... Yuda ... Yuda ..." Berkali-kali, mencoba cara apa pun agar dia tetap bisa bernapas. Tapi tidak berguna ...


Jantungnya ... sudah berhenti ...


"YUUUUUUDAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!"


Jennifer berteriak tidak terima, marah, bingung, dan sedih di saat yang bersamaan. Aku memeluk Raphael, menutup wajahku yang sangat menyesal ...


Kenapa ... kenapa ini harus terjadi ...? Yuda yang selalu tersenyum kepadaku, Yuda yang banyak membantu, yang melawan pahitnya hidup bersamaku, Yuda yang selalu berada di sisiku, akan meninggalkanku, selama-lamanya ...


Kami bertiga menangis histeris, menyerah, menunduk penuh tidak terima. Dia adalah pahlawan kita, pahlawan kami semua ...


...


...***...


"Uh ... ugh ... aduh ..." Omni Kayu, di tengah kesedihan kami, menggerung kesakitan.


ZUNG!!! Cepat sekali aku membuat tameng runcing, bersiap menusuk omni itu kapan saja.


"Tenang, bocah. Aku tidak akan bisa menyerang lagi. Jantungku sudah habis terjepit dan hancur, ingat? Yang tersisa di dalam diriku hanyalah otak dan pita suara. Sebentar lagi aku akan menyusul anak itu ..." Ucapnya dengan sangat lemas.


Hening sejenak, Raphael menurunkan tanganku perlahan. Aku akhirnya menghilangkan tamengnya, Omni Kayu itu tersenyum lebar. "Itu artinya, kalian menang, ya ... hahahaha ... aku harus memberitahu kalian siapa atasanku, bosku, musuh kalian ... ini, ambil serum sialan itu." Dia melemparkan serumnya kepadaku, aku menangkapnya.


"Ya, cepat. Sebelum aku menusukmu dan kau harus melihat alam baka. Atau kalau mau lebih ringkas, neraka. Kau akan bertahan di neraka selama-lamanya. Dasar baj*ngan." Aku berkata sinis. Raphael di sampingku juga menunggu jawaban. Jennifer masih membungkuk, kepalanya ditidurkan di perut Yuda.


"Baiklah. Bersiaplah, jangan sampai pingsan atau bahkan bunuh diri setelah mendengar ucapanku setelah ini."


Kita berdua menunggunya. Hatiku berdetak sangat parah. Aku menarik napas tinggi-tinggi, mencoba menenangkan diri ...


"Musuh kalian, atasan para omni, sosok hitam yang membuat omni dan mencuci otak semuanya, termasuk diriku, sosok yang merencanakan segalanya dari awal, yang harus kalian lawan sekarang, adalah Brolia Diero."

__ADS_1


__ADS_2