
Beberapa orang melihat kami yang sedang berkumpul, lebih tepatnya ke arah Yuda dan Kakaknya. Tubuhnya lebih tinggi dan ada luka bakar di atas mata kanannya.
"Komandan Leonardo, kau tidak salah mengajaknya satu meja denganmu? Lemah tidak berhak untuk makan sebagus ini." Dia bicara menghina Yuda, wajahnya menjengkelkan.
"Jaga sikapmu, Azriel. Kau sedang berada di restoranku, dengan mudah aku bisa mengusir kalian semua." Leo berdiri dan menjawab dengan tegas.
"Dengan segala hormat, Komandan. Aku hanya keberatan dengan keberadaan Lemah di dekatmu. Maksudku, semua yang dia lakukan itu hanyalah kegagalan dan tidak bisa mencapai keberhasilan yang murni." Azriel yang ternyata namanya, itu sangat menjengkelkan, tidak ada habisnya dia merundung Adiknya. Yuda terlihat mengepalkan tangan marah, kepalanya menunduk.
"Aku tahu kau sangat menyayanginya, Komandan. Kau adalah Ketua terbaik yang pernah kutemui. Tapi Lemah tidak bisa dipuji-puji seperti ini. Lihat, bahkan dia memakai kemeja putih tanpa jas, itu bodoh kan?"
GREP! Dengan lincah Yuda berdiri mencekik Azriel, semua perhatian berpusat pada kami semua.
"Yuda!-" Jennifer berseru tertahan.
Tapi... wajah Yuda... dia takut...?
"Oh? Kau mencekikku?" Azriel melotot, suaranya tambah berat dan menyeramkan. Seluruh tubuh Yuda bergetar hebat, perlahan melepaskan cekikannya. Apa yang terjadi...?
"Ayo pergi. Komandan, kusarankan jangan bayar makanan Lemah. Biarkan dia menghabiskan uangnya sendiri." Azriel mengajak teman-temannya pergi, mereka akhirnya keluar. Suara bising penasaran dan perhatian yang tertuju kepada kami perlahan mulai menghilang, menyisakan Yuda yang berdiri dengan Leo.
"Jangan dipikirkan. Ayo makan." Leo menepuk bahu Yuda, mereka berdua duduk kembali.
Sunyi, kami masih bingung dengan apa yang terjadi.
"Yuda?" Raphael menunduk ke arahnya, bertanya halus.
"Kakakku... memang seperti itu. Maafkan dia ya..."
"Tidak! Bagaimanapun juga kita harus melawannya!"
"Tidak, Raphael." Leo membubarkan ambisi, mengangkat tangannya.
"Kenapa? Kau lihat kan berapa kali dia menyebut Yuda "Lemah"? Itu sangat menyebalkan! Apalagi dia adalah seorang Kakak!"
"Raphael." Yuda membantah.
"Kenapa, Yuda? Padahal kau sudah mencekiknya! Kenapa malah dilepas?!" Raphael membesarkan suaranya, dia semakin sebal.
"Aku berhak menerimanya. Ada sebabnya Kakak berperilaku seperti itu." Dia masih menunduk, wajahnya separuh malu, separuh menyesal. Apa yang terjadi waktu itu...?
"Tapi, cerita itu untuk lain hari. Aku tidak mau membubarkan suasana bahagia ini."
"Tidak apa-apa, Yuda. Ayo cerita, kita mau mendengarkan kok. Kau adalah sabahat kami." Jennifer tersenyum lebar kepadanya.
"Benarkah?"
Kami semua mengangguk. Yuda sudah banyak membantu tanpa disadari. Melaporkan penyerangan Arkane, melemahkan tangan Ava, memberitahu posisi Leo, dan bahkan membunuh empat ratus monster. Aku tidak keberatan sama sekali jika harus mendengar cerita tentangnya.
__ADS_1
Dia menarik napas, menghembuskannya.
"Baiklah..."
Kami siap mendengarkan, semua perhatian tertuju padanya.
...***...
Enam tahun yang lalu, akhir pekan, anak-anak pasti menunggu satu hal. Acara televisi pagi hari.
Azriel dan Yuda kecil sedang menonton kartun, tentang ninja hebat yang sedang melawan perampok.
"Ayo! Pukul dia! Hajar musuhnya!" Azriel mengangkat tangan mendukung ninjanya. Yuda ikut menonton senang.
Buk! Ninja berhasil memukul dua perampok dan membuat mereka pingsan. Sisa dari mereka kabur, namun dengan kecepatannya, ninja berhasil menangkap mereka semua.
"Yes! Ninja sangat keren!" Dia mengacungkan jempolnya ke televisi.
Ciut. TV dimatikan, Azriel menghadap Yuda sekarang.
"Keren kan? Ninja itu?" Dia bertanya riang.
"Iya. Keren, Kak." Yuda tersenyum manis.
Yuda memang anak yang tenang dan lembut, sedangkan Azriel selalu semangat dan bertekad tinggi.
"Oh, astaga! Aku telat latihan futsal! Duluan ya, Yuda!" Azriel melihat jam di dinding, lalu bergegas berlari, memeluk Yuda terlebih dahulu.
Azriel sudah pergi, durasi latihannya sekitar dua jam. Yuda menunggu Kakaknya itu dengan membantu warga, atau Ayahnya. Dia anak yang baik.
Ayahnya datang sambil membawa hasil tangkapannya, dia adalah seorang pemburu.
"Ayah! Kau sudah kembali?" Yuda yang tadinya duduk di luar rumah, langsung berdiri dan berlari melihat Ayahnya, memeluknya erat.
"Lepaskan tangan lemahmu dari tubuhku. Aku ingin bersih-bersih." Dibentak, Yuda langsung melepaskan pelukannya.
Nah, ini dia. Entah kenapa, entah sebesar apa pun perjuangan Yuda untuk menjadi lebih kuat, lebih hebat, tidak pernah satu senyum pun diberi oleh Ayahnya.
Bahkan, Yuda sudah berhari-hari menunggu kepulangan Ayahnya, namanya Zask. Tapi, dengan sambutan pelukan murni, Zask malah memarahinya. Bahkan memanggil tangannya "lemah".
Hebatnya, tidak pernah sekalipun Yuda merasa lemah. Ratusan kali kata menyakitkan itu disebut, itu tidak akan menyakitinya. Karena kata-kata itu tidak keluar dari satu orang yang sangat dia percaya.
Siang hari, Zask sudah tidur di kamarnya. Yuda masih menunggu Azriel, menatap luar jendela kamar miliknya menikmati cahaya terang matahari.
"Kakak hebat, ya... fisiknya kuat, larinya cepat dan kemampuan bela dirinya keren. Dia adalah panutanku." Ujar Yuda dalam hati. Ini adalah hal yang biasa baginya. Setiap kali Kakaknya belum pulang, dia berangan-angan tentangnya, mengidolakannya.
"Oi, Yuda!" Zask berseru dari dalam, Yuda bergegas pergi ke kamar Ayahnya.
__ADS_1
"Y... ya, Ayah?"
"Ambilkan aku minum." Dia terbangun secara tiba-tiba, memerintah kasar. Langsung saja Yuda berlari mengambil gelas, dan mengisinya hampir penuh dengan air. Malangnya, saat dia hendak memberikannya, ada air bekas keringat Zask yang membuatnya terpeleset. Buk! Yuda jatuh, gelasnya pecah menusuk sedikit perutnya.
"Aw!" Untuk anak berusia sembilan tahun, tentu luka tusuk itu bukan main-main.
"Astaga! Sebodoh apa kau?! Bawa gelas saja banyak sekali kekurangannya!" Zask keluar kamarnya, memarahi tubuh Yuda yang terkulai. Tidak peduli, dia mengambil gelas baru, mengisinya penuh. Lantas kembali ke kamarnya, BUK! membanting pintu sampai tertutup, menguncinya.
"Aduh, adududuh..." Yuda mati-matian menahan diri agar tidak teriak. Perutnya tertusuk beling tebal, tidak dalam, tapi sakit.
"Aku pulang!" Terdengar suara Azriel dari luar dan bola yang ditendang. Dia masuk dengan riang.
Namun, melihat Yuda yang menahan sakit, wajah Kakaknya itu berubah total menjadi cemas dan khawatir.
"Yuda!" Dia berlari mendekat, membantunya duduk. Melihat luka tusuknya, Azriel bingung harus apa. Dia hebat dalam hal fisik. Namun perawatan dan obat-obatan, Yuda yang handal mengetahui semuanya.
"Aku... aku harus apa? Yuda, aku harus apa?!" Dia berseru sedih.
"Jangan panik, Kak... ini hanya luka kecil..." Adiknya yang malang itu tersenyum halus. Menekan lukanya dengan serius.
Sebelas menit, lukanya sudah ditahan, pendarahannya berhenti, sudah dicuci dengan air dan sabun bersih, jadi sudah aman. Dan itu semua dilakukan oleh Yuda sendirian.
Sekarang, mereka berdua duduk di sofa. Azriel sedang menjaga Yuda yang sedang tidur.
"Yuda..." Azriel mengelus kepala Adiknya yang mendengkur di atas pahanya.
"Minggu depan, aku akan ikut olimpiade futsal. Umurku sekarang sebelas tahun, sudah kuimpikan tentang lomba ini sejak lama. Jadi, doakan aku menang ya..." Katanya halus. Tanpa dia sadari, Yuda sudah terbangun dari tadi, hanya pura-pura tidur agar dia bisa menahan rasa sakitnya lebih lama.
"Iya, Kak. Semoga menang." Katanya dalam hati, masih memejamkan mata.
"Ah, Azriel." Langkah kaki berat datang mendekat, Zask menghampiri mereka berdua. Yuda masih pura-pura tidur.
"A-Ayah! Kau sudah pulang?"
"Ya. Kenapa kau rela mengorbankan pahamu untuk Yuda? Kakimu kan pegal setelah berolahraga." Zask terkekeh, menghina anak bungsunya itu.
"Tidak apa-apa. Dia luka tadi, dan mengobatinya sendirian. Aku hanya membantu sebatas menyapu beling di tanah." Balas Azriel dengan tenang.
"Tapi, dia tidak layak diberi perlindungan seperti itu. Kakimu lebih penting dari keberadaannya, Yuda itu lemah."
Yuda masih pura-pura tidur, dia mencoba untuk tidak terlihat bangun. Ini sangat menyakitkan...
"Yuda tidak lemah, Ayah. Dia pintar."
"Oh ya? Waktu itu saat kuajak kalian berburu, dia sangat lemas di hutan sehingga kau terluka akibat mengorbankan dirimu untuknya. Jangan lupa, beberapa lama setelah itu kau membantah berteriak berjam-jam tentang betapa lemahnya Adikmu kepada Ibumu sampai dia tidak kuat. Wanita sialan itu meninggalkan kami, seharusnya dia membawa Yuda!" Ayahnya berseru keras, suaranya menyakiti kedua telinga anaknya.
Di saat itulah, Yuda akhirnya tertekan. Azriel, orang yang sangat dia percaya, ternyata pernah menganggapnya lemah di luar pengetahuannya.
__ADS_1
Hati Yuda sudah tidak kuat, dia ingin marah besar, nafasnya berat sekali. Tapi masih dianggap sedang tertidur oleh Kakak dan Ayahnya, dia selamat...
Setidaknya untuk sekarang...