Harapan Seperti Malaikat

Harapan Seperti Malaikat
Hukuman


__ADS_3

"Tujuh menit. Kuulangi, tujuh menit aku meninggalkan kalian berdua. Punggung Falisha sudah terluka hebat." Suara wanita, tegas dan datar, datang menghampiri kami. Pasukan daerah selatan tidak ada yang membuka mulut lagi.


Getaran langkah kaki datang, bisa kurasakan karena telingaku menempel dengan tanah saat ini. Aku tidak bisa bergerak sama sekali.


"Bangun." SRET! Lenganku ditarik keras olehnya sampai berdiri, aku mengaduh kesakitan.


Astaga, Yuda dan Azriel sudah membeku. Tidak seperti biasanya yang menyisakan kepala, kali ini seluruh tubuhnya ditutupi oleh es, matanya melotot dan gesture tubuhnya sedang bertarung.


Komandan Kiara menepuk punggungku "ADUH!"


Tapi, entah kenapa rasanya hangat. Sekilas, punggungku sudah tidak sakit lagi. Aku menggerakkannya secara luas, benar saja, tidak terluka. Sudah sembuh.


"T... terima kasih, Komandan. Itu teknologi baru kah?" Aku bertanya sehalus mungkin, Komandan Kiara memakai sarung tangan hitam tebal di kedua tangannya.


"Hm." Dia hanya mengangguk perlahan. "Dan untuk kalian berdua, aku akan memberikan hukuman khusus. Bersiaplah, dan jangan menangis."


Mendengar itu, semuanya, maksudku, semua orang di pulau ini berseru bahagia, antusias. Mereka mengangkat tangannya tinggi-tinggi, berteriak "Hore!", "Mampus!" dan lain-lain.


Apa yang akan terjadi? Hukuman apa? Astaga, semoga mereka tidak terluka.


Dua suara yang menghantam air menimpali, tubuh Yuda dan Azriel dilemparkan ke lautan jauh oleh es Komandan Kiara. Mereka masih membeku, mengambang sambil menjauh perlahan ke tengah laut.


Semua orang tertawa lepas, mereka menikmatinya. Tentu saja ada yang memasang wajah cemas. Dua remaja membeku, terambing di tengah ombak, itu bukan sesuatu yang elok untuk dilihat.


Aku menelan ludah sambil merapatkan posisi, berdiri setegak mungkin. Muka Yuda dan Azriel sedang meminta tolong, walaupun membeku.


"K... Komandan Kiara..." Aku memanggilnya, ingin memintanya berhenti.


Kepalanya berubah arah, menghadapku sempurna. Seluruh aspek wajahnya, matanya, mulutnya, sekilas terlihat menakutkan. Otomatis aku tidak jadi meminta. "Eh, m... maaf, tidak jadi."


Tatapannya mengunciku, namun akhirnya kembali lagi. Seluruh pasukan melihat kedua tubuh ditutupi es yang menjauh perlahan-lahan.


BAS!!! Separuh es milik Azriel hancur, kepala sampai perutnya terbuka. "SIALAN KAU! KOMANDAN GILA!!!"


"Heh." Komandan Kiara tersenyum sedikit. Ratusan pasukan daerah selatan tertawa hebat sampai mengenai gendang telingaku. Tidakkah mereka punya perasaan? Atau jangan-jangan hukuman seperti ini sudah sering bagi mereka?

__ADS_1


Hanya soal waktu, es milik Yuda akan hancur.


BRUK! Tidak seperti Azriel, es yang menyelimuti Yuda langsung hancur sepenuhnya. Dia jatuh ke lautan, bernapas mati-matian sambil menjaga keseimbangan. Semua orang tergelak lagi.


Aku mengepalkan tangan. Lihatlah dia mencoba berenang, melawan banyak ombak yang sangat kuat dan tinggi.


"Jangan dibantu."


"Eh?" Aku terkejut, Komandan Kiara tiba-tiba melarangku dengan tangannya.


"Di Daerah Selatan, semua masalah harus segera selesai bagaimanapun caranya. Karena mereka adik-kakak, salah satu metode yang handal adalah mempermalukan mereka. Setelah ini pasti mereka saling meminta maaf." Dia menjelaskan secara rinci. Aku menatap Azriel yang seluruh esnya juga hancur. Mereka berdua terlihat sedang berlomba, siapa yang paling cepat sampai adalah pemenangnya.


"Kalahkan Kakakmu!"


"Dik! Jangan mau tertinggal! Ayo lebih cepat!"


"Si Jago dari Daerah Utara, aku sebagai penggemarmu malu melihat ini! Setidaknya jangan tenggelam!"


Suara dukungan dan ajakan memekakkan telinga, aku sampai menutupnya. Ayolah, kumohon jangan ada yang tenggelam! Yuda! Azriel!


BUSH! Tubuh Yuda terlebih dahulu menyentuh pasir- eh, besi. Aku bergegas menghampirinya, melewati barisan belasan pasukan.


"Tidak. Tidak perlu, Fal, terima kasih." Yuda yang sekarang basah kuyup, memotong kalimatku. Aku hendak meminjamkan seragam pasukan untuk menutup tubuhnya. Dia menggigil kedinginan, napasnya terlihat sulit dan berat.


"Kamu yakin?" Tanyaku khawatir, dia mengangguk.


"AH!" Azriel sampai dengan sempurna, wajahnya panik dan napasnya ditarik berat. Dia langsung berbaring di atas pasir, eh, di atas besi.


Kami berdua menatapnya, Azriel sendirian, tidak ada teman, mencoba bertahan tanpa bantuan.


"Apa yang kalian lihat? Hah?" Ucapnya kasar.


Aku ragu-ragu ingin mendekatinya, tapi Komandan Kiara tiba-tiba datang menarik lenganku. "Jangan dekati mereka."


Sunyi, kami menunggu dua sosok remaja agar lebih tenang. Yang lebih tua mengibaskan seragamnya, yang muda duduk mengikat kaki dengan lengannya, masih berguncang kedinginan.

__ADS_1


"Cih, lemah! Ha! Kedinginan! Hahahaha!" Azriel menghina adiknya sendiri, di depan semua orang. Dia meludahi, menyebut nama binatang, bahkan mendendang punggungnya berkali-kali.


Aku hendak maju lagi, tapi ditahan oleh Komandan Kiara.


"Hei, kau niat jadi Komandan tidak, sih?" Kataku dalam hati, wajah tegasnya selalu saja membuatku takut.


Yuda akhirnya mengusap air di bibir, berdiri tegak sambil menguras beberapa bagian dari seragam, melepaskannya. Dibalik itu dia memakai kaus lengan pendek berwarna putih.


Sementara Kakaknya, seragam miliknya kering dengan cepat olehnya. Dia sudah berjalan ke barisan pasukan daerah selatan. Astaga, tanpa halangan atau hambatan dia bisa berantisipasi dengan hukuman Komandan Kiara dengan lincah, bukan main.


Yuda menyusul, masih tersengal namun akhirnya siap siaga. Dia menunduk sedikit ke arah Komandan, kemudian berjalan berbaris bersama yang lainnya. Yuda menjauh sejauh mungkin dengan kakaknya.


Komandan Kiara melepaskan pegangan tanganku, lantas menyuruhku ke barisan. Aku lamat-lamat melaksanakannya, sempat menatap Yuda dengan cemas.


"Baiklah, semuanya sudah berkumpul?" Komandan berseru, semua pasukan mengangguk sedikit.


"Benarkah...?" Kali ini suaranya lebih berat, dalam dan serak. Tangan kanannya hendak melakukan sesuatu.


BRAK! BRUK! BRUK! BRUK! BRUK! Apa ini?! Mendadak, seluruh pasir, eh, seluruh besi berubah menjadi es?! Dan kami semua dimain-mainkan oleh es itu! Diangkat! Diturunkan! Membuatku pusing!


"Tenang saja, aku hanya ingin memeriksa." Komandan berkata dengan santai, pedangnya ditusukkan ke bawah


Semua pasukan berseru kaget, takut, dan cemas. Beberapa terlihat sudah terbiasa. Aku mati-matian menahan muntah yang sedikit lagi akan keluar.


Setelah beberapa menit kekacauan itu, kami semua dijatuhkan secara perlahan. Semua es hancur dan mencair dengan cepat, Komandan Kiara mengangguk. Aku mengusap kepala, sakit sekali rasanya tadi...


"Lai, Gwira dan Milo tidak hadir. Tidak ada surat izin atau semacamnya yang kuterima. Ada yang tahu mereka di mana?" Dia bertanya. Astaga, Komandan benar-benar berharap akan ada yang menjawab? Tidak! Lihat mereka! Banyak yang mabok udara, mencoba berdiri dengan lemas, dan lain-lain! Karena hal aneh dengan esnya tadi, suasana di sini berubah seperti rumah sakit jiwa!


"Tidak ada? Siap."


Aku menarik napas berat untuk yang terakhir kalinya. Komandan ini gila, gila! Seharusnya aku tidak ikut dengannya! Tidak ada jiwa kepemimpinan atau kejantanan dalam hatinya. Dia ini sakit! Gila!


Tapi, ada satu hal yang membuatku terkesan.


Komandan Kiara mengangkat tangan kanannya dengan pedang itu. Gempa hebat mulai datang menghampiri kami, belum selesai muak karena diangkat-angkat oleh es tadi, sekarang seluruh pantai malah bergetar. Aku terkesima melihat apa yang datang dari lautan sana.

__ADS_1


Lima belas detik durasinya, kapal pesiar selebar gedung tiga lantai muncul, bentuknya terbuat dari es, semuanya. Ukirannya elegan dan menarik, terlihat seperti kristal yang dibentuk menjadi kapal. Rahangku jatuh sempurna menatapnya. Bahkan geladaknya dipasang logo Pasukan Penjaga Kedamaian, burung merpati.


"Ayo kita mulai misi suci ini. Mencari lima pusaka yang agung." Ujarnya tegas.


__ADS_2