Harapan Seperti Malaikat

Harapan Seperti Malaikat
Sarang Kedua


__ADS_3

"Kenapa, Fal?" Raphael heran.


"Ava." Aku memanggilnya, dia menatapku sekarang. Tatapan penuh kejahatan dan keburukan itu memasuki jiwaku.


"Logan. Pernahkah kamu mendengar nama itu?" Langsung saja, kukeluarkan pertanyaanku. Berhari-hari aku mencoba memecahkan misteri ini, siapa Logan, dari mana dia berasal, siapa keluarganya, dan lain-lain.


Tiba-tiba, mata Ava melotot.


"Logan... looogaan... LOOOGAAAANN! AKU AKAN MEMBUNUHMU LOGAAAN!!! DASAR BODOH!!! KALAU KAU TIDAK ADA, RENCANA KAMI AKAN BERJALAN LANCAR!!! LOGAAAANNNN!!!!" BUK! Ava tiba-tiba teriak marah, tidak jelas, suaranya memekakkan telinga. Raphael memukul kepalanya keras, membuatnya pingsan.


...


Hening, kami masih kaget. Dia tiba-tiba marah kepadanya. Siapa Logan ini? Kenapa Ava marah sekali padanya?


"Maaf... tapi dia tidak akan menjawab." Raphael memasang wajah sebal, menatapku.


"Ya... ya, tidak apa-apa..." Aku berusaha menarik napas, seram sekali jeritannya tadi...


"BLERGH!" Tangan yang menutup mulut Jennifer akhirnya lepas, darah yang mengumpul di dalam keluar banyak. Astaga, dia menahan darah sebanyak ini?


"JENN!" Aku berseru khawatir, masih menahan tubuhnya.


Semuanya berlari mendekat. Leo memeriksa, membuka mulutnya.


"Aku... tidak apa-apa...!" Susah payah dia mencoba membela dirinya.


"Langit mulutmu robek, terbuka lebar, gigi depanmu semuanya retak, dagumu terasa rentan. Ini jelas sangat buruk, Jenn..." Leo berkata cemas, masih memeriksa mulutnya.


"Sudah kubilang, aku tidak apa-apa..." Puk! Dia mengusap mulutnya, menjauhkan tangan Leo.


Jennifer... kenapa dia sangat memaksakan dirinya... aku jadi kasihan...


"Jenn-"


"AKU TIDAK APA-APA!" Jennifer menjerit, memotong kalimat Raphael. Kami semua terdiam. Jarang, jarang sekali Jennifer seperti ini, dia selalu riang dan tertawa di sekolah...


"Aku... aku punya tujuanku sendiri..." Dia berdiri tegak, mengusap-usap seragamnya.


"Hidupku... sampah, aku tidak mau mati sebagai sampah." Jennifer memperjelas, wajahnya hendak menangis.


Sampah? Tunggu dulu, sampah? Si Primadona Sekolah memanggil dirinya sampah?


"Maaf... aku minta maaf... Sebelum kalian mengenalku, rambut pirang, wajah cantik, ketua OSIS, terkenal, sebelum semua itu, aku... aku sungguh bukan apa-apa... Aku hanyalah..." Dia melanjutkan perkataannya, tapi lama-lama tubuhnya sangat lemas. Kakinya bergetar hebat, Buk. Kutangkap tubuhnya, dia pingsan.


Aku menatapnya kasihan, memeriksa nadinya. Syukurlah... dia masih hidup...

__ADS_1


"Aku sudah mencoba untuk menggali masa lalunya, tentu saja aku harus tahu. Aku harus mengerti semua perasaan bawahanku. Tapi Jennifer, dia selalu saja berhasil dan pintar untuk tidak membukanya." Leo bangkit dari duduknya, menatapku yang menggendong Jennifer.


"Ini semua salahku... Kau boleh menghukumku semaumu-"


"Tidak akan ada yang dihukum. Jennifer yang memutuskan untuk melindungimu, dia sudah melakukan tugasnya sebagai seorang prajurit. Kau seharusnya mengerti, Yuda." Leo memotong, Yuda mengagguk diam, menatap Jennifer.


"Komandan Leonardo!" Seorang prajurit memanggil dari luar, kami semua mengubah pandangan kepadanya.


"Kami... kami berhasil! Semua monster medium di sini sudah habis!" Dia berseru riang, prajurit lainnya yang terlihat juga bahagia. Tersenyum tanpa batas, meletakkan pedang cahayanya.


"Kerja bagus." Leo memuji.


"Bagaimana dengan Jennifer?"


"Tim Pembantu akan membawanya juga ke markas, kita sudah menyewa dokter dengan perlindungan extra khusus untuk mereka. Dia akan baik-baik saja." Dia menjawab pertanyaanku singkat, bersiap untuk pertempuran selanjutnya. Di markas kedua.


Astaga... dua omni dan kita tidak menemukan jawaban. Semoga setelah ini, ada omni yang mau bicara...


...***...


Kami berkumpul di depan bangunan TK itu, sudah hancur lebur akibat serangan Ava. Masih belum tahu jawabannya kenapa tempat itu bisa menjadi sarang monster. Dan ternyata, markas tidak menyadarinya karena TK itu dikatakan tutup, dan terlihat seperti bangunan biasa beberapa hari yang lalu.


Kalau begitu, cairan hitam lekat yang memenuhi 70% TK ini baru muncul kemarin. Jangan-jangan para omni dan monster-monster lainnya sudah tahu kedatangan kita, jadi mereka berkumpul dan lantas cairan hitam itu baru muncul.


Tim Pembantu sudah datang, dengan satu kendaraan mereka membawa Jennifer. Dan satu lagi mereka membawa kedua omni yang pingsan itu.


"Baiklah, sepuluh menit istirahat." Leo menghembuskan napas, memeriksa semua pasukannya, pergi meninggalkan kami.


ZRUUUUUNNGGG... Singkat waktu, kedua mobil langsung pergi. Menyisakan semua pasukan yang masih hidup dan sehat. Semuanya berjalan secara sempurna. Sarang monster pertama sudah habis.


"Falisha..." Raphael memanggil.


"Ya?" Aku menghadapnya, dia berdiri di sampingku.


"Menurutmu... apa ada yang aneh dengan Jennifer? Maksudku, dia tadi melamun dan tidak ingin menjelaskannya kepada kami." Dia bertanya, matanya tertuju ke bawah.


Aku berpikir serentak.


"Menurutku... semua orang punya masa lalunya masing-masing. Termasuk aku. Aku suka melamun, kan? Dan kamu memanggilku 'Raja Galau' terus dan aku tidak pernah menjelaskan apa pun. Itu sama saja dengan Jennifer. Bedanya, aku punya kamu, Raf. Selalu sedia membantuku, jadi kita harus buktikan bahwa kita bisa dipercaya. Demi Jennifer." Aku menjawab yakin, mengepalkan tanganku.


Hening sebentar, Raphael menatapku.


"Hahaha, baiklah." Dia melambai.


"B... bagaimana cara kalian bertemu dengannya?" Yuda bertanya, bergabung.

__ADS_1


"Bertemu?"


"Ya, dari mana Jennifer bisa mengenal kalian?" Dia memperjelas pertanyaannya.


"Pfft..." Raphael menahan tawa.


"Raf, jangan." Aku hendak memukul.


"Yuda... Jennifer mengenal Fal karena-" WUP. Aku menutup mulutnya.


"Jennifer mengenalku karena dia... dia adalah ketua OSIS, jadi ada hari di mana aku bertemu dengannya." Tidak akan kubiarkan Raphael mengatakan Jennifer adalah fansku. Itu bagus, tapi aku kalah hebat darinya, jadi nanti malu sendiri.


"Ooh..." Yuda mengagguk. Aku melepaskan tanganku dari mulut Raphael, dia menarik napas.


"Kalau aku, Jennifer membutuhkan beberapa sumbangan ide, jadi aku hendak membantunya. Itu saja." Giliran Raphael menjawab, dia menatapku sebal.


"Baik! Istirahat selesai!" Suara Leo terdengar oleh semua orang. Kami semua menatapnya.


"Baiklah, ayo kita berlari menuju sarang kedua. Hanya berjarak tiga ratus meter dari sini." Leo memerintah.


"Tunggu, kenapa kita tidak menggunakan teleportasi seperti tadi?" Aku bertanya heran.


"Teknologi itu masih baru. Hanya bisa memindahkan orang-orang yang berkumpul di lingkaran batu Distrik Elia, agak rumit kalau dijelaskan, tapi itu intinya." Dia menjawab.


Setelah beberapa penjelasan dan pertanyaan. Kita melanjutkan perjalanan, menuju sarang kedua. Tempat satu lantai yang kecil hingga kita harus membagi total pasukan menjadi dua, penyerang dan penjaga. Untungnya saat pertemuan tadi, aku ditugaskan untuk menyerang, jadi sepertinya ini tidak terlalu buruk.


Dua belas menit, kita sudah sampai. Tempat kecil di jalanan sepi. Bangunan persegi panjang berwarna jingga bermotif putih dengan pintu kayu. Bagian penjaga mengambil posisi mengelilinginya, bagian penyerang bersiap masuk.


Ugh... bahkan ini lebih mengerikan, hampir semuanya tertutupi cairan hitam lengket, dan tempat ini sudah hampir rusak. Separuh atapnya hancur.


Leo menarik napas, hendak membuka pintu.


BUK! Pintu ditendang keras, terbuka. Dia masuk disusul oleh seluruh pasukan yang berseru.


"Tunggu!" Leo mengangkat tangan, semuanya yang sudah ada di dalam mendadak berhenti.


Syukurlah, aku sempat masuk. Ada apa ini?


Tunggu, itu kan...


"Fal..." Raphael memanggil, dia tahu apa yang aku pikirkan.


Monster Bertopi Fedora berdiri di tengah bangunan, lebih tepatnya berbaring. Tubuhnya terluka parah, pakaiannya robek, darah keluar dari mulutnya. Seluruh tubuhnya lebam biru. Dia menarik napas sekuat tenaga, mengangkat tangannya ke atas.


Dia akan mati? Jadi... aku tidak menjadi orang yang memenggal kepalanya? Dia akan mati begitu saja? Tidak. Aku tidak akan membiarkannya mati, aku yang harus memenggal kepalanya! Aku yang harus membunuhnya!

__ADS_1


SWOOSH! Aku melesat maju, melewati barisan pasukan dan Leo. Hendak membelah leher monster itu.


"FAL!" Leo berseru. Aku tidak akan mendengarkannya, terus berlari, ZRUNG! mengeluarkan pedang cahayaku.


__ADS_2