Harapan Seperti Malaikat

Harapan Seperti Malaikat
Omni Peledak


__ADS_3

Para pasukan di geladak sedang bersantai menuggu kapal pesiar es sampai di Pulau Tiga. Beberapa dari mereka bergurau, berlatih, beradu kekuatan, dan yang lainnya.


Aku berjalan santai di antaranya. Bahkan, selama setengah jam aku menikmati semua kesenangan yang bisa dirasakan di sini. Pasukan daerah selatan sangat baik hati dan hebat.


"Hei, kau Falisha, kan? Anak kepercayaan Komandan Leonardo?" Salah satu menepuk bahuku, perempuan berusia sembilan belas tahun bertanya singkat.


Aku mengangguk.


"Wah! Kalau tidak salah, kau juga diasuh olehnya kan?"


Aku mengangguk lagi.


"Bagaimana sih, Komandan Leonardo itu? Dia terlihat sangat tampan dan keren. Berkali-kali aku ingin menyapanya, tapi takut dimarahi. Dia terkadang juga terlihat galak."


"Uhuk!" Mendengar itu, aku terbatuk keras. Akhirnya ada orang yang sadar. Leo itu terkadang menyebalkan seperti Raphael, marah-marah terus setiap kali mengajarkanku sesuatu. Tapi pada akhirnya, kalau diingat-ingat, dia yang menyuapkan aku makan saat masih kecil, dia yang mengajarkanku berpedang, dia yang memberiku tujuan hidup sebagai pasukan.


Leo adalah ... segalanya bagiku ...


"Yah, begitulah." Aku menjawab santai, melambaikan tangan padanya sambil pergi ke tempat orang lain.


Komandan Kiara di sana sedang bersandar, tubuhnya membungkuk menatap lautan. Dia sedang memikirkan sesuatu.


Baiklah, aku memberanikan diri. Aku ingin bertanya sesuatu padanya.


"Komandan-"


WOOSH! Tubuhnya berputar, pedang cahaya miliknya lincah mengunci leherku. Sedikit saja dia maju, pedang itu akan menancap. Aku kaget menatap posturnya yang siaga setiap saat.


"Oh, ternyata kau." Sing! Pedang cahayanya mati, dia langsung meletakkannya di samping celana.


"Ada apa?" Tubuhnya kembali bersandar, melihat lautan lagi.


Aku menarik napas perlahan. "Bagaimana caranya agar aku bisa menjadi lebih kuat? Sepertimu? Kita wanita, Komandan. Bahkan aku tidak bisa mengalahkan Raphael dalam balap lari. Bagaimana caranya agar wanita bisa sangat kuat dan cepat sepertimu?" Lalu, pertanyaanku terlontarkan. Kapal pesiar hening melewati lautan.


Komandan Kiara menatapku penuh, matanya melihatku dengan serius.

__ADS_1


"Simple. Latihan."


"Eh?" Apa? Hanya latihan?


"Begini, Fal. Kakakku pernah bilang 'Jika kau ingin memperoleh kebesaran tertentu, bersiaplah untuk mengorbankan hal yang setimpal.' Saat aku berumur enam belas tahun sepertimu sekarang, dalam satu minggu, bisa jadi 60% waktuku dipakai untuk berlatih. Berlatih fisik dan mental. Berkali-kali tulangku patah dan cedera berat, tapi aku tidak pernah berhenti.


"Tapi, itu belum semuanya. Memang, latihan itu penting, tapi tentu saja kita butuh dukungan dari orang lain. Dulu, Kakakku, wah, dia sangat keren. Pesona dan kharismanya bercahaya layaknya matahari pagi. Dia sangat hebat dalam segala hal, namun sangat rendah hati kepada semua orang. Aku termotivasi, maka latihan itu berjalan. Jadi ada dua kunci, latihan dan dukungan." Dia menjawab sempurna sambil merapihkan rambut pendeknya. Beberapa orang di samping kami mendekat hendak ikut mendengarkan.


Aku termangu. Dukungan, ya ... syukurlah aku punya teman-teman di sisiku yang setia dan selalu berkata jujur. Mereka mendukungku setiap saat dan waktu, itu sudah lebih dari cukup.


"Baiklah. Aku akan melakukannya. Terima kasih, Komandan." Aku membungkuk padanya, lantas berjalan pergi. Sebentar lagi kita akan sampai ke Pulau Tiga, aku bisa merasakannya ...


...***...


"Komandan!" Satu orang berseru sambil menunjuk ke arah timur, kami semua otomatis melihatnya.


Pulau yang sehat, segar, bersih, dipenuhi oleh bangunan yang waras untuk ditempati. Pulau Tiga, berbeda dari dua pulau yang sebelumnya, kali ini benar-benar tempat untuk manusia hidup dan bertumbuh.


Komandan Kiara tersenyum. "Aku tahu. Ini rumah kita. Satu-satunya pulau yang layak ditempati, Pulau Tiga."


"Aku ingin kalian berkumpul di Pulau Satu tadi agar kita bisa mencari pusaka pertama di sana, namun tidak ada. Lalu Pulau Dua, yang sekarang dipenuhi oleh monster, juga menandakan bahwa pusaka itu juga sudah diambil. Jadi bisa disimpulkan, omni yang kucari yang sekarang memegang dua pusaka sedang menuju ke sini, Pulau Tiga, mencari pusaka yang ketiga." Komandan menjelaskan dengan seksama, lantas memberhentikan kapal di dekat tempat mendarat. Singkat waktu, kami semua sudah turun, berkumpul di tanah Pulau Tiga.


BWUSH! Kapal pesiar es sudah hancur olehnya, ditenggelamkan. Kami sibuk menatap sekitar, tepatnya hanya aku, Azriel dan Yuda.


"Tidak buruk." Ujarku perlahan. Di depanku ada gerbang hitam untuk sekolah yang cukup besar, bahkan lebih lebar daripada sekolahku sekarang.


"Kurasa kita harus sering datang ke sini. Konsep lima pulau ini benar-benar menarik." Yuda di sampingku menimpali, meraba gerbangnya takjub.


Azriel di kejauhan menatap lapangan basket kecil, bersedekap membelakangi kita. Para pasukan dan Komandan sibuk mengatur strategi.


"Baiklah, kita bagi pasukan menjadi empat, Squad Timur, Squad Barat, Squad Utara dan Squat Selatan. Masing-masing mencari pulau di arah yang sesuai dengan namanya." Komandan Kiara memberi kode dengan tangannya, sayangnya regu Azriel dan Yuda berbeda denganku. Baiklah, tidak apa-apa. Kita harus mencari tantangan yang disiapkan leluhur untuk mengambil pusaka ketiga-


BUM!!!


Ledakan kecil terjadi di gedung sekolah belakang kami, seseorang datang. Aku dengan cepat mengacungkan pedang cahaya.

__ADS_1


BUM!!! BUM!!! BUM!!!


Seluruh fondasi runtuh, asap mengepul di sekitar kami, menyakiti mata.


"Komandan! Itu-"


"Iya! Kalian semua mundur! Siap siaga atas segala situasi!" Komandan Kiara memotong kalimat pasukan, kenapa kami harus mundur?! Lihat dia, Komandan maju sendirian!


"Dek! Mundur!" Salah satu orang mengingatkan.


"Kenapa?!"


"Itu musuh yang dihadang komandan waktu itu! Omni Peledak!" Mendengar itu, aku bergegas mengikutinya. Kami semua berkumpul di dekat pintu supermarket, di antara jalanan yang lebar dan besar. Komandan Kiara di depan sana maju sendirian, menghadang omni yang dilawannya waktu itu sampai kewalahan. Omni Peledak sudah memiliki dua pusaka, sisa tiga, dia sedang mencarinya di sini.


"KIARAAAAAAAA!!!" Seruan menggema muncul menyeramkan. Dia berteriak keras!


Asap yang tebal itu lama kelamaan menghilang, kami terbatuk sekali-kali. Akhirnya, pemandangan kami mulai jernih. Komandan Kiara berhadap-hadapan dengan lelaki tinggi, musuhnya itu memakai zirah yang tebal memenuhi semuanya kecuali kepala. Wajahnya sangat tampan dan tegas, hampir mirip dengannya.


"Kau ..."


"Kiara, apa yang membuatmu datang ke sini?" Omni tertawa lebar.


Komandan mengepalkan tangan. "Berikan aku kedua pusaka itu sekarang. Atau aku harus membantaimu lagi."


Omni Peledak tertawa lagi. Matanya menutup dengan sempurna, dia memegang perutnya seolah-olah sedang sakit, gelakannya memenuhi langit-langit pulau.


SING! Pedang cahaya Komandan keluar, dia bersiap dengan kuda-kuda dan tangannya.


"Dek, ini akan mengejutkan, jangan muntah." Pasukan di sampingku menimpali.


"Hah?"


CRAT! Dari telapak tangan Omni Peledak, tabung kecil yang waktu itu bisa meledak yang ditunjukkan Komandan Kiara di markas, keluar.


Itu kekuatannya?! Mengeluarkan peledak dari telapak tangan?!

__ADS_1


__ADS_2