Harapan Seperti Malaikat

Harapan Seperti Malaikat
Ruangan Terakhir


__ADS_3

"Fidelya ... Fidelya ... Fi, del, ya ..." Komandan Kiara terlihat berpikir, masih menatap kertas yang diangkatnya menggunakan kedua tangan.


"Setidaknya kita tahu kenyataan senjata paling mutakhir itu, Berada di sebelah kamar ini." Firza yang akhirnya tenang, bersedekap. Berkata lemas.


Ruangan menjadi lengang sejenak. Ini buruk sekali. Belum pernah ada sejarah tenggelamnya Yuvia pada tahun 1589 yang diceritakan di sekolah.


"Yuda, kamu tahu tentang ini?" Aku bertanya padanya.


Dia menggeleng keras. "Tidak, Fal. Tidak dalam lima belas tahun."


Haduh, buntu lagi ...


DUM!!! DUM!!! DUM!!!


Dentuman yang keras membuat sedikit gempa.


"Apa itu?!" Firza menghadap ke belakang, pintu masuk kamar ini.


Tidak ada yang menjawab, semua orang terlihat waspada. Belum masalah teka teki ini selesai, sekarang malah ada getaran yang memicu adrenalin kita.


"Kita harus menyelesaikannya cepat! Zed dan Azriel sudah berusaha sebisa mereka!" Pasukan memberi sugesti, Komandan masih menyelidiki kertas kecil itu.


"Komandan Kiara, maaf, saya ingin melihat kertasnya." Yuda berkata, menjulurkan tangannya.


"Aku tahu apa yang kau pikirkan, Yuda. Kita harus menyusunnya dari awal." Komandan membalas dengan yakin.


Yuda mengangguk lagi. "Tepat sekali. Fidelya menceritakan tentangnya dari masa muda sampai dia dewasa di kertas itu, jadi kita harus menyusun belasan foto di ruangan ini sesuai dengan urutan hidupnya. Sepertinya itu petunjuk yang menarik."


Beberapa orang menyetujui, bergumam dengan percaya.


"Ide yang bagus!" Semua bersemangat, langsung mengambil foto sebanyak mungkin dan mengumpulkannya di tembok sisi kiri.


"Kelahiran, foto dengan ayah dan ibunya." Foto pertama diletakkan di ujung kiri. Bayi Fidelya bersama orang tuanya.


"Bayi Fidelya berjalan, di teras rumahnya, tersenyum lebar." Foto kedua diletakkan di sampingnya.


Aku hendak mengambil foto ketiga, Fidelya berumur empat tahun sedang memegang piala emas bertuliskan "Juara Satu Matematika Kelas 3"


"Kelas tiga? Waw ... dia benar-benar pintar." Yuda di sampingku kagum, berucap halus.


Aku tertawa sebentar. Fidelya mengingatkanku saat itu, waktu aku delapan tahun yang lalu memenangkan lomba olimpiade.


Foto ketiga sudah berdiri di samping yang kedua.


"Hei! Tunggu!"


Seseorang tiba-tiba berseru, kami menghadapnya ke belakang.


"Sepertinya ini foto ketiganya! Bukan itu!" Salah satu pasukan, membawa gambar Bayi Fidelya di umur yang sama memegang piala bertuliskan "Juara Satu Lomba Menari"

__ADS_1


BUM!!!


Suara dentuman keras bertambah dekat.


"Cepat! Letakkan sisanya!" Komandan Kiara membuat semua orang tergesa-gesa dengan semua gambar dan foto Fidelya. Aku dan Yuda pun sama, ada total 29 foto di sini. Dan sisa dua lagi.


"Eh? Yang mana?!" Salah satu dari dua pasukan yang memegang dua gambar terakhir itu kebingungan.


"Yang ini! Aku pasti benar!"


"Tunggu dulu! Kalau salah bagaimana?!"


"Argh! Tidak mungkin salah! Yang kupegang ini pasti duluan!" Mereka berdua berteriak, beradu pikiran di saat yang salah.


BUM! BUM! BUM! BUM!


"Hei! Kau memegang saat perempuan itu lulus kuliah! Aku memegang saat dia berkerja!"


"Bagaimana kalau dia bekerja sebelum lulus kuliah?!"


"SUDAH CUKUP!" Komandan Kiara langsung merebutnya, menempelkan keduanya langsung di tembok sisi kiri.


Semua foto sudah dibereskan, tapi tidak terjadi apa-apa.


"Ah! Sudah kuduga! Kau tidak berguna!" Satu orang mendorong Yuda dengan keras, menyalahkan dia.


BUK! Aku menendang kepalanya, dia terpental mundur sepuluh langkah. "Jangan mendorong, dong."


"Dia bukan beban! Dia yang menyelamatkanku, dia yang membantu Falisha menggunakan kekuatannya! Kalian semua dapat sampai sini, semuanya karena Yuda! Bersyukurlah! Aku tidak melatihmu untuk menjadi merendahkan seperti ini!" Giliran Komandan yang membentak, dia membalas semua argumennya.


Tanpa disadari, Firza gercap bergerak maju, mengubah-ubah semua posisi fotonya yang tidak tepat. Semuanya melihat dia dalam keadaan hening, cepat sekali Firza menggerakkan tangannya.


Setelah selesai, dinding di depan semua pasukan itu menurun, terbuka lebar, membuka ruangan terakhir menuju senjata yang paling istimewa itu! Apa pun yang Firza lakukan, itu berhasil! Sebentar lagi kami akan melihatnya, itu ada di hadapanku!


"Bagaimana ... bagaimana caranya ...?" Aku heran, sekaligus penasaran.


"Tidak tahu ... sungguh. Tiba-tiba saja ada insting yang mengatakan bahwa beberapa posisi dari foto itu salah. Ini sangat aneh-"


BRAK!!!


Pintu kamar terbuka mendadak. Patung berbentuk orang-orang yang gagah perkasa, ratusan jumlahnya, datang lengkap dengan senjata yang mematikan. Itu yang membuat suara dentuman tanpa henti tadi, langkah kaki mereka.


"Semuanya! Masuk ke ruangan itu!" Komandan Kiara mengeluarkan pedang cahayanya, menjulurkan ke arah mereka.


"Tapi-!"


"Pergi! Pronto!" Dia memotong kalimatku.


"Bagaimana cara kamu melawan mereka?! Delapan patung tadi saja sudah sangat sulit!" Aku mendekat, memohon padanya.

__ADS_1


"Falisha, aku adalah Komandan Pasukan Daerah Selatan, sudah tugasku untuk melindungi kalian apa pun bayarannya!"


"T ... tapi ..."


"GRAAAAAAHHH!!!" Patung di paling depan berteriak, membuat semuanya maju ke arah kita. Kalau begini, Komandan akan ...!"


"Dia tidak sendirian."


Pasukan yang tadi menyalahkan Yuda berdiri di samping Komandan, memasang kuda-kuda.


"Kalian berdua pergilah. Komandan benar, kami Pasukan Daerah Selatan memang keras, tapi usaha kami jauh di belakang kalian. Jadi, Falisha, Yuda, kalian berdua lah yang berhak mendapatkan senjata itu." Dia melanjutkan kata-katanya. Sekilas, aku tidak percaya.


"Ini, ambillah." Komandan memberikan keempat pusaka kepada Yuda.


"Selesaikan misi ini. Untuk Yuvia!"


"Untuk Yuvia!!!" Semua pasukan mendukungnya.


Firza datang menghampiriku.


"Insting tadi ... yang membuatku bisa memperbaiki posisi semua foto tadi, itu pasti bukan insting seorang manusia. Itu adalah sisa dari kekuatan 'Omni' yang diberikan kepadaku sebelum aku sadar."


Kami berdua menatapnya bingung.


"Kekuatan ini, pasti diberikan untuk melindungi adikku. Jadi aku akan menetap di sini. Falisha! Yuda! Semangat!" Firza melanjutkan kata-katanya, mengacungkan jempol, berdiri di paling depan dengan Komandan.


Aku dan Yuda mengangguk, berlari sekecang mungkin ke tempat di samping kamar Fidelnya, ruang kosong yang tidak terlalu jelas apa isinya. Tapi kita, aku dan Yuda, akan menghampiri senjata yang paling mutakhir di seluruh dunia!


Tep!


Kami sudah sampai, temboknya mengangkat lagi dengan sendirinya, memisahkan kita dengan para pasukan. Sekarang hanya sisa hening, diam, dan hitam dengan sedikit cahaya berwarna hijau tua dari atas, lampu yang sangat kecil.


"Hahahaha ... kembali lagi seperti tadi. Saat kita hendak menuju Distrik Elia, hanya berdua." Aku terkekeh.


Yuda mengusap keringat di dahinya. "Benar ... bedanya Kakak tidak di sini. Dia masih melawan patung-patung jauh di belakang bersama Zed.


"Hei, jangan khawatir. Kakakmu pasti selamat."


"Semoga saja ..."


Tetesan air berjatuhan dengan perlahan dari sedikit runcingan batu di atas. Yuda membuat tangannya bersinar berwarna biru, cahaya miliknya jauh lebih terang. Tangan satunya memegang empat pusaka, aku mengambilnya agar dia tidak kesulitan.


"Whoa ... kau pasti bercanda." Aku takjub melihat ke depan. Seperti lorong, yang menyisakan patung semua hewan di kanan dan kiriku. Ini seperti musium, tapi lebih unik dan sedikit menyeramkan.


Aku dan Yuda maju dengan hati-hati, melewati patung-patung hewan itu.


"Kuil ini ... siapa yang membuatnya?" Yuda bertanya, aku hanya mengangkat bahu.


Hanya hitungan waktu, belum sempat aku menarik napas tenang, belum juga sempat aku bertanya pendapat Yuda tentang Raphael, keempat pusaka di tanganku malah bersinar sangat terang. Kalung emas, daun kecil, berlian merah dan api di dalam bola es itu bergetar dan membuat mataku silau secara mendadak.

__ADS_1


Lantas, keempatnya terbang ke depan, meninggalkan kedua tanganku.


__ADS_2