
Aku mengangkat bahu. Sudah tiga menit kita menunggu Komandan Kiara agar dia keluar. Tapi masih belum juga.
Oh iya. Mumpung aku berada di dekat Raphael (tepatnya sih dengan pasukan yang lewat juga, tapi mereka tidak peduli) haruskah aku bertanya padanya sekarang? Pertanyaan misterius ini? Kenapa Raphael ingin berteman denganku walaupun sikapku buruk waktu itu? Padahal jelas sekali, Raphael membenci orang yang jahat atau minim akhlak walaupun sering bercanda.
Mungkin... dia adalah anak yang baik? Tidak membeda-bedakan orang, dan bisa mengerti masa lalu manusia dari pandangan pertama? Maksudku, dia bisa peka dengan melihat wajah lawan bicaranya saja. Jadinya selalu tahu apa yang harus dilakukan.
Mungkin saja... Raphael seperti cahaya dalam hidupku. Dia adalah sahabat terdekatku...
Baiklah, aku menarik napas perlahan.
"Hei, Raf." Kepalaku menoleh sedikit demi sedikit, aku bisa melihatnya...
"HOEK!!!"
"EH?! KAMU KENAPA?!" Aku terkejut, mengambil selembar tisu kecil dari kantung celana. Anak itu malah muntah.
"Aku- aku tidak suka permen ini. Rasa kurma, kurma tidak enak!" Dia melepehkan permennya ke sana, lantas membuangnya ke tong sampah terdekat.
Aku lamat-lamat membersihkan seragamnya. Kasihan sekali, Raphael tidak suka kurma?
"Kurma itu enak, tahu." Ucapku halus, sambil membuang tisu lainnya ke tong sampah. Raphael masih ber-hoek dengan matanya yang berkaca-kaca. Beberapa air liurnya keluar. Satu dua, bahkan enam pasukan melihat kami tertawa. Aku menunduk malu, tapi tidak apa-apa.
"Terserah. Rasa kurma itu seperti madu yang busuk." Raphael berkata, meminta lagi tisu dariku. Aku juga membantunya membersihkan beberapa bagian dari seragam. Rasanya... menenangkan, membantunya seperti ini...
Eh? Apa dia bilang? Rasa kurma seperti madu busuk?
Aku hendak memukul jidatnya itu, tapi ya sudah. Tidak semua memiliki standar yang sama dengan kita. Menurutku rasanya enak saja. Cukup untuk dimakan saat bosan, atau saat lapar.
Oh iya, pertanyaanku tadi-
Bruk! Pintu ruangan medis sudah dibuka sempurna oleh Komandan Kiara. Dia menatap kami berdua datar, lurus.
"Selamat sore." Dia mengangguk sebentar, kemudian pergi menjauh. Tidak seperti Leo, seluruh pasukan justru langsung menunduk, membungkuk, bahkan berbaris sempurna setiap kali dia lewat. Komandan Kiara memiliki kehormatan paling besar di sini setelah Jenderal Besar Karlo, respect.
Begitu saja, Komandan Kiara sudah naik lewat lift besar. Postur dan tubuhnya yang mengagumkan untuk seorang wanita itu menghilang dari mataku. Dia sudah pergi.
"Terima kasih, Fal. Serius. Dari kecil, aku selalu muntah kalau memakan kurma." Raphael mengangguk, matanya masih berkaca-kaca. Aku tergelak melihat kondisi wajahnya yang seperti menahan tinja.
"Oh iya, kau mau bertanya sesuatu tadi?" Raphael bertanya, menggunakan tisu terakhir untuk membersihkan mulutnya, menyikut bahuku perlahan karena melihat wajahku yang mati-matian menahan tawa.
Entah kenapa, hawanya sedikit berbeda sekarang. Aku... tidak mau bertanya tentang itu saat ini. Aku melambaikan tangan padanya. "Tidak jadi, Raf."
...***...
__ADS_1
Aku menggoes sepedaku cepat, sangat lincah melewati pepohonan di jalanan dan gelapnya malam.
Sekitar pukul 18.23 tadi, di rumah, alat pemanggil pasukanku berbunyi keras. Awalnya aku santai saja menggunakan seragam, menyiapkan pedang cahaya di tempatnya di samping celana, dan merapihkan rambut hitam panjangku.
Tapi tiba-tiba, Leo memberitahuku lewat ponsel. Bertuliskan: "Fal, cepat ke sini. Ada pertemuan khusus dengan Komandan Kiara."
Siapa yang tidak panik? Dipanggil di samping nama yang hebat itu. Prajurit handal. Prajurit hebat. Wanita yang kuat, Komandan Kiara. Dan aku? Kenapa hal apa pun yang menanti di sana ada hubungannya denganku? Aku tidak mengenalnya begitu dekat!
Sret! Kujatuhkan sepedaku di mana saja. Langsung menggesekkan kartu di tembok tebal hitam. Lift terbuka menyambutku. Di dalam terasa sesak walaupun sama saja.
Sambil menunggu turun, aku memikirkan tentang hal yang terjadi di Taman Segitiga. Kalau kulakukan lagi, maksudku melawan kenangan buruk dan pikiran negatif itu. Kenangan bahwa Ibuku ditusuk di depan mataku. Mungkin salah satu beban hidupku akan hilang, dan aku bisa lebih fokus lagi dengan menjadi seorang prajurit.
Ting! Pintu lift terbuka lebar-lebar. Tidak kuhiraukan belasan pasukan yang berjalan. Aku langsung mengetuk pinu kantor Leo.
Tok! Tok! Tok!
...
Tidak ada jawaban? Baiklah, akan kucoba lagi.
Tok! Tok! Tok!
...
Masih hening. Tidak hening juga sih, suara bising pasukan yang mondar-mandir di belakangku menimpa telinga. Heningnya berada di dalam kantor ini. Di mana Leo? Aku akan membukanya secara perlahan...
Begitu tubuhku sempurna ada di dalam, benar-benar hitam, gelap, seperti di tengah hutan saat malam hari. Sumber cahaya hanya ada di ruangan utama markas, tidak lebih-
BAM!
Tiba-tiba pintu tertutup keras.
"!" ZUNG! Aku lincah menyalakan pedang cahaya, memakai kuda-kuda kokoh. Apa pun tidak bisa kulihat di sini, hanya warna hitam pekat. Baru kali ini kantor Leo tidak ada lampu yang dinyalakan.
Krek...!
"Eh?!" BRAK!!! Aku mendengar suara es yang muncul! Dengan cepat kuayunkan pedangku sambil menghindar, dari suara dan getaran yang kurasakan di lengan, sepertinya aku berhasil menghancurkan es itu!
Sret! Aku lagi-lagi mengacungkan pedang. Bersiap akan apa yang muncul nanti.
KREK!
BRUK!!! BUK! BUK! Tiga kepingan es terpental ke arahku, membuat dingin telapak tangan. Kuhancurkan satu, dua lainnya meleset mengenai tembok kantor Leo.
__ADS_1
Ini pasti Komandan Kiara, tidak salah lagi. Dia ingin membunuhku? Sial! Aku belum pernah bertarung buta seperti ini!
BUK! BRAK! BUM! Lagi-lagi tiga es terbang meluncur, kuhancurkan semuanya dengan insting.
Sing!
Tanah di bawahku tiba-tiba licin, membuatku sulit berdiri.
"Haduh!" Buk! Tubuhku jatuh mentah-mentah, tiba-tiba kurasakan dingin dari atas, pasti serangan lagi!
BRAK! BRAK! BRAK! BRAK! Benar saja, aku berguling ke arah depan, membuat empat es yang jatuh itu meleset.
Susah payah aku berdiri lagi, BRUK! Menghancurkan es, woosh! Menghindar ke sana kemari. Kumpulan es dingin itu sekarang pasti membuat lubang-lubang hebat di tembok kantor ini.
Sret!
"Ah?!" Kakiku dibekukan?! Rasanya dingin sekali!
CRAT! Es tajam meleset mengenai pipi kananku. Aku tidak bisa menghindar! Berkali-kali mencoba melepaskan diri, tapi es ini terlalu kuat!
KREK... suaranya kali ini seperti berkumpul, menyiapkan sesuatu yang sangat besar, lebih hebat daripada sebelumnya.
Apa yang harus kulakukan?! Ayolah, aku tidak akan mati di sini, kan?! Es yang membekukan kedua kaki, lama-lama membesar memenuhi seluruh tubuhku! Mengunciku dengan sempurna! Sekarang sisa kepala saja yang bebas! Dan rasanya sangat dingin!
"TOLONG!!!" Seruku keras, masih belum bisa melihat apa pun. Siapa saja, Raphael, Yuda, tolong aku...
Suara yang berkumpul itu masih melonjak naik, lama-lama semakin berisik. Es yang membekukan tubuhku ini benar-benar membuat indraku melemah. Tidak kusangka ini, dibunuh oleh seorang komandan. Dan tidak ada orang yang akan menolongku.
BYUM!!!
Kali ini, seperti meriam yang menembak, tidak, seperti laser yang meluncurkan amunisi, terdengar bunyi keras yang melesat ke arahku. Ini pasti es yang sangat besar, dikumpulkan sebagai serangan pembunuh agar aku kalah.
Aku menutup mata, tidak bisa menghindar dan menyerang. Pikiranku berkumpul pada masa lalu, kenangan buruk itu. Maafkan aku, Ibu... aku gagal menjadi seorang prajurit, gagal menyelamatkanmu, gagal menjadi kebanggaan keluarga seperti yang kamu harapkan...
...
Tidak, aku tidak boleh menyerah. Dalang dari monster, omni dan bencana ini belum ditemukan, aku belum boleh mati!
Kuteguhkan seluruh tubuh, setidaknya kalau es besar itu kena, hanya cedera sedikit, tidak akan mati.
BRUK!!! Suara keras dan berisik menimpa.
Perlahan, aku membuka mata kembali. Eh? Tidak terjadi apa-apa, aku baik-baik saja!
__ADS_1
Eh? Tameng...? Iya! Ini tamengku! Kekuatan tameng transparan milikku yang menghalangi es besar itu muncul! Membuatnya hancur! Tameng di depanku yang terbang mengeluarkan cahaya sedikit, aku bisa melihat sekilas ruangan ini yang dipenuhi dengan tumpukan es kecil, beberapa sudah mencair.
"Sudah kubilang, dia hebat." Terdengar suara lelaki tidak jauh. Lantas, saklar dinyalakan. Lampu kantor Leo menyala. Sudah bisa kulihat beberapa rak dan meja yang ada di sini dengan jelas, pendangan hitam penuh itu sudah tidak ada lagi.