
Aku melenceng cepat dari sekolah menuju markas... jalanan siang ini sangat ramai, beberapa suara klakson dan teriakan warga memasuki telingaku, tapi aku tidak terlalu peduli tentang itu, aku harus meminta maaf dengannya!
Berbelok ke kanan, kumasuki gang kecil, di sinilah tempatku diserang oleh Monster Bertopi Fedora hari itu. Gang kotor, sempit dengan banyak sampah di sebelah kanan dan kirinya, temboknya juga berlumut, terkadang aku harus menahan muntah melihatnya...
Keluar dari gang, kembali menuju jalanan ramai, jaraknya jauh sekali dari sekolah ke markas, tapi apa boleh buat... tujuan hidupku berasal dari situ sekarang...
***
Beberapa menit kemudian, akhirnya aku sampai, tembok yang tingginya tiga kali lipat dariku, berwarna gelap, berada di tempat yang sepi, bersama kotak kecil untukku menggesekkan kartu milikku.
Aku mengambil kartu itu dari tas, lantas langsung menggesekkannya, TING! Bunyi bahwa kartu diterima terdengar, temboknya terbuka, aku memasuki lift itu seperti biasa.
Menunggu liftnya turun, aku bisa melihat bekas roda di lantainya... ini tidak salah lagi bekas sepeda Raphael... dia mengepot hebat, sepertinya dia benar-benar bengis padaku sampai meninggalkan garis-garis motif roda ini...
Pintu lift menutup, ayolah jangan lambat! Kenapa kali ini terasa lama sekali?!
Akhirnya, aku sampai, setelah pintunya terbuka, aku langsung keluar. Pemandangan digantikan dengan kesibukan para pasukan berseragam dalam ruangan yang panjang, langsung saja aku mengeluarkan baju gantiku, meletakkan tas di tabung khusus dekat kantor Leonardo, lalu tabung itu menghisap tasnya, langsung mengantarkannya ke rumahku.
Dua menit kemudian, aku selesai berganti baju dan mengetuk pintu kantor Leonardo.
"Masuk." Jawabnya dari dalam.
Krek! "Leo! Di mana..."
"Raphael? Wah, kau mengkhawatirkannya ya? Hahahaha..." Dia memotong kalimatku, kali ini dia sedang menulis di buku kecil.
"Kumohon beritahu di mana dia, aku ingin bertemu dengannya..." Aku memohon.
"Dia sedang ada misi yang penting, kutelepon tadi di sekolah sehingga dia harus izin pulang duluan." Leo menjawab singkat, masih menulis.
Itulah kenapa dia pulang duluan... sepertinya aku terlalu fokus berpikir apa jawaban dari tugas tadi sehingga tidak sadar...
"Ooh... jadi aku tidak bisa bertemu dengannya?" Aku ingin memastikan.
"Yup."
...
Tidak apa-apa... aku bisa menunggu, jasa Raphael lebih banyak dariku, segini masih belum ada apa-apanya...
Astaga... aku selalu lupa dengan kantor Leo... sangat rapih, luas seperti kantor guru di sekolah, buku-buku di rak sebelah kiri pintu tertata rapih, lampu di atas besar, ada lemari dan rak lagi untuknya menyimpan barang-barang berharga, tembok berwarna abu-abu dan semuanya bersih....
"Baiklah, terima kasih." Aku mengangguk, membuka pintu, kutunggu saja dia di kursi ruangan utama.
Eh, sebentar...
__ADS_1
"Umm Leo..." Pintunya kutahan.
"Apa lagi?" Leo membalas.
"Kenapa Raphael dikirim tugas saat jam sekolah? Sepertinya sangat penting ya?"
"..." Leo berpikir.
"Masuk, tutup pintunya." Dia menutup bukunya, memerintah.
Sesuai perintah, kututup pintunya. Ada apa ini? sepertinya penting sekali...
"Dengarkan aku baik-baik... misi Raphael kali ini, tidak tahu kenapa, sampai ke perhatian Jendral Besar... biasanya dia yang memberitahuku untuk menginformasikan pasukan tentang misi mereka, tapi kali ini, dia langsung datang ke sini."
Astaga... Jendral Besar pergi ke markas ini? Tadi? Sepenting apa misinya?
"Benarkah? Misi seperti apa yang diberi, Leo?"
"Tidak tahu, dia hanya menyuruhku menelepon Raphael dan beberapa orang hebat lainnya ke sini, lalu menyuruhnya berkumpul ke ruang meeting. Tidak lebih, tidak kurang." Leo berbisik, membuat suaranya sekecil mungkin.
Wah... bahkan Leo tidak diberitahu secara spesifik misinya apa, ya...
"Kenapa kamu berbisik? Serahasia itu?" Aku bingung.
"Tidak... aku hanya ingin merasa lebih keren." Dia menjawab, aku langsung beranjak keluar.
***
Dua jam kemudian, masih di markas, seorang diri menunggu di salah satu kursi, pukul 16.48 sore, squad misi Raphael belum pulang...
Lama juga, ya... jangan-jangan sesuatu terjadi pada mereka...
Eh, itu tidak mungkin, melihat Raphael sangat hebat waktu itu... semuanya pasti selamat.
"Hei! Belum mati kau, ya?" Ujar salah satu pasukan di dekatku, menyapa temannya.
"Sudah mati kemarin, ini hantunya, akan menemani hidupmu selamanya..." Mereka bahagia, tertawa lepas...
Hahahaha... mungkin saat Raphael kembali, akan kugunakan kata-kata itu, "Belum mati, ya?" Setelah meminta maaf, tentunya. Dia pasti tergelak...
Tiga jam kemudian... masih belum pulang... sudah pukul 18.00 lebih, aku mulai cemas...
Kuambil pedang cahayaku dari celana, ZRUNG! Menyalakannya, membuat sekitarku terang...
Aku selalu penasaran, kenapa bentuk pedang ini begini? Saat aku kecil, kebanyakan pedang di film-film terbuat dari besi, pedangku berbeda... jangan-jangan ada sesuatu dibaliknya...
__ADS_1
Oh iya, di ruangan utama markas... ada pintu yang lebar, itu adalah lift untuk para pasukan jikalau mereka memerlukan jumlah yang banyak sekaligus untuk naik ke atas, tepatnya ke bagian belakang tembok hitam tinggi tempat kita menggesekkannya kartu pertama kali itu. Tidak mungkin kita menggunakan lift kecil untuk turun yang tadi untuk banyak orang, itu akan memakan waktu yang lama...
Dan juga, setiap daerah memiliki tembok tebalnya masing-masing untuk menggeserkan kartu milik mereka agar bisa masuk ke markas.
Aku memutuskan untuk datang ke kantor Leonardo, kekhawatiranku di luar batas...
Tok! Tok! Tok!
"Apa?! Kau serius?!" Terdengar suara Leo dari dalam, aku langsung membuka pintunya.
"Ada apa?" Aku heran.
"Aku akan segera ke sana!" Leonardo sedang menggunakan telepon genggamnya, meneriakinya, lantas meletakkannya kembali.
"Kenapa, Leo? Jarang sekali kamu teriak begini!" Aku mulai waswas.
"Falisha! Ikut aku sekarang!" Dia mengambil pedang cahayanya, menepuk bahuku, berlari ke luar kantor, aku mengikutinya.
"Hei! Jelaskan padaku cepat! Ada apa?!" Seruku padanya. Beberapa pasukan menatap kami bingung, berjalan cepat seperti tikus.
"Mereka dalam bahaya! Kita harus melawannya!" TING! Leo menggesekkan kartu miliknya ke kotak untuk lift yang lebar itu, lalu terbuka, kami berdua masuk.
"Siapa yang dalam bahaya?!" Aku memukul pinggangnya, kenapa harus ditahan, sih?
"Squad mereka! Termasuk Raphael!" Wajahnya khawatir, pintu lift tertutup.
"Apa?! Raphael?!" Aku tidak percaya, dia terluka... dengan semua kemampuannya itu...?
"Panggil bantuan yang lain, Leo! Kami berdua tidak akan cukup untuk mengalahkan orang yang melukai Raphael!"
"Aku sedang melakukannya!" Leo menekan tombol di bagian kanan lift, lampu kuning kecil menyala di atasnya.
"Masukan nomor." Suara robot menghampiri, di bawah lampu itu, bagian lift berputar, sekarang ada dua belas tombol seperti telepon rumah pada biasanya. Leo menekan tombol 112. Entah untuk apa...
"Apa ini?" Tanyaku heran.
"Ini adalah nomor-nomor para pasukan yang kalau ditekan, ada device khusus yang akan bersuara dan memberi peringatan bahwa mereka sangat dibutuhkan. Kau memilikinya, Fal, nomormu adalah 435, device khusus itu kau yang simpan." Leo menjelaskan, menunggu lift terbuka sambil naik.
"Device khusus? Aku tidak memilikinya..." Aku heran.
"Pasti punya, hanya saja lupa disimpan di mana karena tidak pernah digunakan, kau menunggu kabar tentang misi langsung di markas. Device itu untuk orang yang ada di luar." Leo membalas.
TING! Pintu lift terbuka, hari sudah mulai gelap, sepi, aku dan Leo langsung bergerak.
"Memangnya siapa musuh di sana? Kenapa wajahmu sangat khawatir?" Tanyaku sambil berlari di jalanan ramai, beberapa warga menatap kami, lalu bergegas pulang. Mereka sudah paham bahwa monster lebih kuat saat malam hari.
__ADS_1
"Fal, kau benar, teorimu itu... monster bertubuh manusia menyerang mereka semua..." Jawab Leo datar...