Harapan Seperti Malaikat

Harapan Seperti Malaikat
Gorilla


__ADS_3

Kami berdua berlari sekencang mungkin, mencoba meninggalkan belasan gorilla seukuranku yang melesat lincah hendak menyerang.


"Dari mana mereka berasal?!" Firza menghandap ke belakang, berteriak. Aku menggelengkan kepala.


Masalah yang lebih besar adalah kita berpisah dengan Yuda, jadinya untuk melewati labirin ini akan menjadi semakin sulit.


"AA! AA! AA!" Pemimpin Gorilla berseru sambil menunjuk-nunjuk wajahku, apa yang mereka rencanakan?


Beberapa dari mereka mengambil banyak obor yang tertempel di tembok, melemparkannya ke arah kami.


Aku mengangkat tangan kanan ke belakang sambil berlari maju, tameng transparanku memantulkan semuanya.


"Bagus!" Firza mengacungkan jempol, aku fokus lagi berlari ke depan.


Kumpulan gorilla terdengar marah. Bahkan kecepatan mereka berlari lebih hebat kali ini.


"Argh! Bagaimana caranya lepas dari mereka?!" Aku sebal.


Firza terlihat berpikir. "Falisha, aku punya ide!"


"Apa?" Aku menunggu ide darinya, sambil memunculkan tameng lagi agar obornya tidak membakar kami hidup-hidup.


Firza mengangkat tangannya juga ke belakang, menggerung agar sesuatu keluar darinya.


"Aghh!!! Bagaimana caraku mengeluarkan peledak saat menjad omni tadi?!" Dia menepuk dahinya, aku masih konsentrasi dengan tamengku.


Sepertinya Firza benar-benar tidak tahu caranya mengeluarkan peledak, seandainya saja bisa, itu akan menjadi perlawanan yang sangat hebat.


"Sudahlah! Percuma saja! Lari, Falisha!" Dia menyerah, merapihkan baju dan celana. panjangnya.


Namun, Pemimpin Gorilla di paling depan berhasil meraih kakiku.


"Ah?!" Aku terkejut, caranya memegang benar-benar kuat! Sulit sekali untuk lepas darinya!


"AA! AA! AA! AA!" Otomatis, tubuhku diangkat tinggi-tinggi. Sial! Aku semakin jauh dengan Firza!


"Falisha!!!" Dia berteriak panik.


"Tinggalkan saja aku, larilah!" Entah kenapa aku berkata seperti itu, padahal jelas sekali nyawaku kapan saja bisa hilang.


Hey, mataku melotot sempurna. Firza berlari ke samping, melewati dinding, melingkar ke atas dan dia menggendong tubuhku, aku lepas dari pegangan Pemimpin Gorilla, sungguh bakat yang atletis dimilikinya.


"Terima kasih." Aku menghembuskan napas sambil menahan agar badanku tidak jatuh. Firza mengangguk sambil menggendongku berlari ke depan.


Kawanan gorilla terdengar lebih marah daripada sebelumnya.


Firza berbelok ke kanan. Labirin ini punya banyak lubang yang menuju ke arah yang berlawanan, kami sangat bingung dalam menentukan arah mana yang harus dituju.


"Falisha! Kau punya ide?!" Dia menghadap ke segala arah, aku menggelengkan kepala.

__ADS_1


"AA! AA! AA! AA! AAA!!!" BUK! Pemimpin Gorilla hendak memukul, meleset, pukulan kerasnya membuat dinding retak dengan kerusakan yang lumayan.


"Mereka kuat sekali!" Aku berseru terkejut.


Sejenak, aku menyelidiki bagaimana kumpulan gorilla itu mengejar kita. Mereka bergerak secara konstan, kecepatan dan akselerasinya terlihat begitu mulus dan konsisten. Seolah-olah mereka seperti ...


"Firza! Aku punya ide!"


"Hah?"


"Saat kuberi sinyal, melompatlah!" Ujarku dengan yakin, ini pasti berhasil!


"Kau yakin?!"


Aku mengangguk.


"AAAAAA!!!" BRUK!!! Pemimpin Gorilla mendang sambil melompat, meleset lagi. Sekarang teman-temannya maju lebih cepat, kelincahan Firza hampir tertandingi.


"Sudahkah saatnya?!"


"Belum!" Aku menjawab. Timing kali ini harus pas!


Beberapa dari mereka melemparkan obor lagi. Firza berbelok ke sembarang arah untuk menghindari apinya.


"Sekarang?!"


Sebentar lagi. Kawanan itu memiliki waktu tertentu, jeda, jeda khusus yang bisa menjadi amunisiku. Jika jeda itu tidak digunakan dengan baik atau pada waktu yang salah, maka habis sudah rencanaku, gagal.


Bwush! Obor terakhir dilemparkan, Firza menghindari semuanya, tidak terkena api. Hening, gorilla-gorilla itu mencari obor lagi, namun tidak ada. Ini saatnya.


"LOMPAT, FIRZA!"


Woosh! Dia bergerak dengan sempurna. Di saat itulah, aku membentangkan tangan ke depan, membuat tameng transparan berbentuk lingkaran yang melindungi kami berdua. Dan berkat latihan menggunakan kapal tadi, aku bisa menggerakkannya sesuka hati. Dengan bola yang menggelinding, kita bisa meninggalkan kawanan gorilla sialan itu.


Tapi sialnya, aku dan Firza harus bertabrakan satu sama lain, berkali-kali di dalam bola transparan.


"Aw! Aduh! Hei! Sakit!" Kami mengaduh untuk kesekian kalinya. Seandainya saja ada cara yang lebih tidak sakit dari ini ...


BRUKK!!! Tamengku hancur dengan cepat. Kami menabrak tembok karena konsentrasiku berantakan.


Firza di sampingku meraba-raba kepalanya. "Kau tidak apa-apa?"


Aku mengagguk, dibantu olehnya berdiri. Di depan kami, lebih jauh kali ini, sekumpulan gorilla sedang marah berlari, hendak membunuh kita berdua.


"Sepertinya sekarang giliranku." Firza meregangkan kedua telapak tangannya, seperti melakukan pemanasan. Aku menelan ludah, semoga dia benar-benar berhasil mengeluarkan peledaknya.


"AA! AA! AAAA!!!" Seluruh makhluk itu berseru, menyakiti telinga.


Firza menutup matanya, sedikit memaksakan diri.

__ADS_1


"Maaf, tapi kau harus cepat! Gorilla itu semakin dekat!" Aku panik.


Plop! Tiga tabung kecil keluar dari telapak tangannya.


"Ha?! HA! HAHAHA! BERHASIL! AKU BERHASIL, FALISHA!" Dia senang, lantas langsung melemparkan semuanya ke arah mereka.


BUM!!! BUM!!! BUM!!! Ledakan yang besar dan brutal terjadi, membuat darah menyebar ke segala tempat dan asap yang tebal. Aku menutup mataku, terbatuk sedikit-sedikit sambil melindungi mulut. Firza juga demikian.


Perlahan, asap mulai menghilang, menyisakan ceceran darah dan sedikit bulu bekas gorilla-gorilla itu, kita menang ...


Aku otomatis duduk, menghela napas lega. "Phew ... hanya butuh tiga ledakan, keren ..."


Dia mengelap keringat di leher. "Hahaha ... tameng bolamu juga ide yang bagus, memberi kita waktu yang pas ...


Aku terkekeh, meregangkan kaki di permukaan labirin yang keras. Kita harus melangkahkan kaki setelah ini, menemui Komandan Kiara, Yuda dan Azriel. Atau kalau beruntung, aku dan Firza yang akan melihat pusaka keempat pertama kali. Kira-kira seperti apa ya ... semoga seindah dua pusaka yang kita punya sekarang ...


...***...


Dua belas menit sudah berlalu.


Aku dan Firza fokus mencari jalan keluar. Kita sudah memakai berbagai metode, seperti berpencar, menggunakan frekuensi suara, meledakkan tembok dengan kemampuan Firza, dan yang lainnya. Tapi tetap saja, kita tersesat lagi, lagi dan lagi.


Aku menguap. "Sepertinya kita buntu. Sayang sekali Yuda tidak di sini ... kekuatannya itu sangat keren, dia bisa merasakan semuanya yang berada di dekatnya ..."


"Falisha, seperti apa teman-temanmu itu? Bisakah kau menceritakan mereka kepadaku?" Firza tersenyum, bertanya dengan lembut.


"Yah, Yuda adalah orang yang sangat baik, terlepas dari konflik dengan kakaknya yang sekarang sudah selesai, dia juga sangat berbakat dan tenang. Jangan lupa, Yuda yang menyelamatkanmu dari laut tadi."


"Hahaha, iya-iya."


"Dan Azriel, aku tidak terlalu mengenalnya. Tapi dia adalah pasukan termuda yang paling hebat dalam hidupku. Azriel sangat teladan dan lincah, juga kuat dan presisi. Butuh orang selevel Komandan yang bisa menyeimbangi bakatnya."


Firza terkesima, sambil berjalan perlahan-lahan agar kita tidak terpisah.


Aku ingin bertanya tentang Komandan Kiara, tapi sepertinya itu tidak relevan, aku ingin bertanya hal yang lainnya.


"Hei."


"Ya?"


"Zed bilang ... kau yang mengajarkan Komandan Kiara bertarung, membela dirinya, dan yang lainnya kan? Apa yang menjadi inspirasimu dalam menguasai semua itu? Ilmu bela dirimu sepertinya sangat luas." Aku bertanya antusias, menyeimbangi kecepatan langkahnya.


Firza menarik napas yang sangat panjang, lalu menghembuskannya.


"Kau tahu kasus itu? Kasus yang membuat semua detektif, aparat, dan kepolisian Yuvia berkumpul hanya untuk mencari solusi atas masalahnya?" Dia bertanya, suaranya seperti orang yang ketakutan.


Aku menggelengkan kepala. "Kasus apa?"


"Orang-orang memanggilnya 'Kutukan Umat Manusia', sungguh, itu lebih mengerikan dibandingkan apa pun ..." Kali ini dia berucap sambil berkeringat, juga memegang kedua bahunya. Astaga, kasus separah apa yang bisa-bisanya dinamakan "Kutukan Umat Manusia"?

__ADS_1


__ADS_2