
Kami bertiga bergegas mengganti baju, untungnya tidak mengantri karena kebanyakan orang sudah mengganti pakaiannya duluan.
"Sudah?" Raphael dan Jennifer menungguku, aku keluar menggunakan seragam biru tua, membenarkan kotak panjang di samping celana.
Wah... Raphael dan Jennifer juga terlihat keren setiap kali berada di markas, Raphael semakin rapih dan dia terlihat gagah, dan rambut pirang Jennifer diikat ke belakang...
"Iya, ayo." Kami mulai bergerak ke ruang rapat besar. Akhirnya aku bisa melihat Jendral Besar secara langsung...
***
Wah...
Di salah satu ruangan markas, ruangan itu besar sekali! Panjangnya dan lebarnya adalah 500x500 meter, Itu sangat cukup untuk menampung seluruh pasukan! Lebih keren lagi, ruangannya terbuat dari pualam, astaga...
Aku bisa melihat delapan Ketua Pasukan Daerah sedang berdiskusi, melingkar di ujung sana, para prajurit lainnya bersiap untuk berbaris di depan mereka.
"Wow... jadi... itu mereka? Delapan Ketua Pasukan?" Jennifer kagum, dagunya jatuh.
"Hebat..." Raphael juga termangu melihat mereka.
Aku tidak bisa berkata-kata, ada yang lebih besar dan kekar badannya daripada Leo, ada yang terlihat seperti remaja, ada yang wanita! Postur tubuhnya mengancam... aku ingin menyapanya, tapi... aduh... bukan waktunya...
"Hahaha... semangatku bertambah, aku ingin membantai monster lagi..." Raphael meregangkan tubuhnya, seperti melakukan pemanasan. Aku dan Jennifer tergelak.
Tapi... di mana Karlo? Maksudku di mana Jendral Besar?
"Eh, itu dia..."
"Iya, ayo baris..." Ucap beberapa pasukan di dekat kami, suaranya panik dan mereka langsung jalan cepat berbaris. Siapa yang mereka maksud?
"Eek!" Suara Raphael yang terkejut menciut, dia melihat ke arahku.
"Eh? Kenapa Raf?" Aku heran.
Tunggu... dia tidak melihatku, dia melihat ke belakangku.
"Pagi." Tegas sekali... itu pasti...
"Maaf, Jendral. Kami akan segera berbaris." Aku bergetar hebat... tidak berani bergerak banyak... tanpa menghadap ke belakang, aku menunduk, dan langsung menepuk punggung Raphael dan Jennifer agar berbaris.
EH! BODOH! AKU MALAH MEMBELAKANGINYA! TIDAK HORMAT!
Haruskah aku mundur...? Atau berbaris...? ARGH KENAPA JADI BEGINI?
Ah, aku baris saja... toh aku juga akan melihatnya lagi.
__ADS_1
Astaga... semoga aku tidak dihukum olehnya...
Dengan cepat, semua pasukan sudah berbaris. Semua ketua memimpin barisan masing-masing pasukannya, aku berbaris di belakang Leonardo bersama seluruh Pasukan Daerah Barat, sisanya berlaku pada yang lainnya.
Duk. Duk. Duk. Duk.
"SIAP! GRAK!" Seru Komandan Yakza, kami semua mengambil posisi.
Berjalan dari samping kiri ke depan, ke arah tangga menuju ubin yang lebih tinggi. Semua pasukan bisa melihatnya, Karlo... lebih tinggi sedikit dari Leo... perawakannya elok... cara berdirinya sempurna... wajahnya tampan, berumur akhir dua puluhan. Rambutnya pendek namun stylish ke kiri, memakai seragam hijau tua, pedang cahayanya memiliki garis emas di bagian kotaknya, aku... tidak bisa berkata-kata...
"Selamat pagi." Sungguh berwibawa cara bicaranya..
"Siap! Pagi!" Semuanya menjawab, aku masih membeku melihatnya...
Fokus!
"Ini untuk enam belas orang yang mengorbankan dirinya beberapa minggu lalu. Mereka bertarung sampai akhir hayatnya melawan tantangan yang baru." Jendral berucap tegas, masih berdiri di posisi yang sama.
"Monster berbentuk manusia, atau yang aku dan para ketua sepakati sebut Omni, sudah melanda negara ini. Aneh dan canggungnya, persenjataan mereka sama seperti kita." Mendengar itu, seluruh pasukan berbicara, mereka cemas, khawatir dan bunyi-bunyi lainnya yang mengalahkan hening tadi.
"SIAP! GRAK!" Bruk! Kami semua kembali seperti semula mendengar sinyal Komandan Yakza, suasana diam lagi, tidak ada suara sama sekali.
"Mereka memiliki kemampuan sendiri, entah dari mana, seperti pedang cahaya kami. Walaupun banyak dari kalian yang belum bisa menggunakan kekuatannya, ini tetap menjadi bahaya. Setiap situasi dan kondisi, pada akhirnya jika kalian sudah pada napas terakhir, pastinya akan mengandalkan dan berharap kepada diri sendiri. Jadi aku sarankan agar kalian segera bisa menguasai skill perpedangan kalian." Jendral berucap datar, kemudian mengeluarkan kotak panjangnya, ZRUNG! Menyalakan pedangnya di depan semua orang.
"Lantas, inilah yang akan kalian lihat." SIU! BUM! Energi berwarna emas keluar dari pedang cahaya Jendral, menembak atap, membuatnya retak.
Keren... kekuatannya benar-benar hebat, tembakan energinya sangat terang dan cepat, ini pasti berguna untuk mengalahkan para Omni nanti...
"Di luar itu, aku ingin mengucapkan selamat kepada Ketua Pasukan Daerah Barat, Leonardo, beserta tiga pasukannya, Falisha, Jennifer dan Raphael, yang berhasil membunuh Omni untuk yang pertama kalinya." Jendral mematikan pedangnya, lalu bertepuk tangan, seluruh pasukan juga menyemangati kami, aku menunduk malu... Di belakang, Raphael justru jinjit melambaikan tangannya ke mana-mana, Falisha hanya mengangguk, sambil mengucapkan "Terima kasih." Perlahan.
"Dengan tekad, kerja sama dan pengorbanan, mereka mengalahkannya dengan sempurna, kalian memiliki kehormatanku sepenuhnya." Dia menunduk, menatap kami serius.
"Tapi, bukan hanya itu prestasi mereka." Kali ini Jendral berjalan ke kiri, kemudian tembok di belakangnya tadi memutar, digantikan layar besar, TING! Menyala, menunjukkan peta hari itu... tentang para monster yang berencana untuk menyerang markas ini sekaligus.
"Ya, markas ini akan diserang oleh seluruh monster di sini, bisa ribuan bahkan jutaan jumlahnya." Hening sebentar, dia menarik napas.
"Kita akan membawa pertarungannya, kami akan membantai mereka langsung sebelum mereka menyerang kita." Ujar Jendral tegas, wajahnya sangat yakin.
Lagi-lagi, para pasukan membuat keributan, aku hanya berpikir, apakah kami bisa menang...? Maksudku... mungkin saja jumlah kita lebih sedikit, kalau kita menyerang mereka, apakah kami bisa mendapatkan kemenangan...?
"SIAP! GRAK!" Komandan Yakza sekali lagi memerintah, suasana diam kembali.
"Biar kuperjelas." Sekarang Jendral menunjuk salah satu titik hitam di peta, yang terletak di Daerah Utara.
"Begini rencananya, aku akan menemani Yakza karena Utara memiliki sarang monster yang paling banyak dari daerah lainnya, lalu, jika sudah selesai, sisa dari kami akan berpencar dan membantu kalian.
__ADS_1
"Strategi dan pola penyerangan akan kami berikan kepada ketua kalian, penyerangan akan dimulai dua hari lagi. Semua orang kecuali Pasukan Penjaga Kedamaian akan dievakuasi mulai hari ini, kalian mengerti?" Dia memperjelas.
"Siap! Mengerti!" Kami menjawab.
Jadi karena itu ya, rapat guru cenderung lama... dan tiba-tiba semua orang disuruh pulang, ternyata ada evakuasi...
Dua hari lagi? Hari Kamis... sekolah pasti diliburkan, itu akan memberiku waktu untuk latihan... mungkin bersama Leo, sudah lama aku tidak berlatih dengannya, terbiasa dengan berlatih sendiri...
"Baik, itu saja." Kemudian, semua barisan disuruh bubar, mempersiapkan diri untuk Hari Pembantaian lusa nanti...
Aku langsung menjadi penggemar nomor satu Jendral Besar... astaga... lihatlah dia keluar dari depan, berjalan kembali ke kiri. Para ketua mengikutinya dan merapat padanya, membicarakan sesuatu.
Eh! Jangan melamun! Bubar barisan!
***
Kami sekarang berada di ruang utama, banyak pasukan yang beranjak pulang karena tidak ada hal lagi yang harus dilakukan, aku, Raphael dan Jennifer ingin menetap di sini untuk sementara, menunggu Leonardo keluar dari ruang rapat.
"Aku jadi ingin bikin kursus anti melamun buat kau, Fal." Raphael menggaruk kepalanya di sampingku, Jennifer menahan gelak.
"Ha? Apa maksud kamu?" Aku heran.
"Maaf, Fal... tapi saat meeting tadi, dagumu terbuka selama tiga menit. Kami berdua melihatnya karena tadi ada di belakangmu..." Jennifer terbahak kecil, Raphael tertawa lepas.
"Eh! Yang benar! Jangan bercanda!"
"Hei, kalian belum pulang?" Orang yang kami tunggu akhirnya keluar, Leonardo, melambai kecil. Semua komandan juga keluar dari ruang rapat, menyapa beberapa pasukannya.
"Kami menunggumu." Jennifer menjawab.
"Kenapa? Kangen ya?"
"Yeh, norak." Jawab Raphael.
"Aku bercanda... Tapi serius, ada apa?"
Aku menepuk lengan Raphael, dia ingin menjelaskan sesuatu.
"Begini, Leo..." Raphael maju, mengecilkan suaranya.
"Kurasa... kami harus memeriksa tempat ini." Dia mengeluarkan kertas, sebenarnya itu hanyalah kertas biasa yang digambar sehingga menyerupai peta yang kami temukan saat penyerangan rumah jamur itu, termasuk tanda panahnya, titik-titiknya, dan letaknya. Raphael sempat-sempatnya menggambar ulang saat rapat tadi, sedikit demi sedikit.
"Huh... aku kagum dengan kecepatan menggambarmu, Raf... tapi kenapa ini penting sekali?" Leo bingung, menatap kertas itu lebih dekat.
"Aku sudah menyadarinya saat pertama kali Falisha menemukan petanya. Lihat ini, tempat ini sendiri, dia dilingkari buletan berwarna merah, pasti sangat penting bagi para monster." Raphael menunjuk salah satu titik hitam besar di Daerah Barat, benar saja, dilingkari merah sendirian. Aku tidak menyadarinya.
__ADS_1
"Tapi dengan satu syarat..." Raphael melanjutkan, bagian yang penting akan dikatakannya.