
"Selamat siang, Komandan."
"Siap, siang! Jenderal!"
Ada tiga alat kecil yang sangat berguna, harus ditempelkan ke telinga masing-masing penggunanya. Satu berada di Komandan Yakza, agar suara dan proses rapat itu bisa terdengar. Lalu dua alat sisanya itu terpasang di telingaku dan Jennifer, tersambung dengan yang dipakai Komandan Yakza, kita bisa diam-diam berkomunikasi dengannya.
"Jenn, bagaimana caranya kita bisa memainkan pikiran mereka? Para Komandan jauh lebih pintar dan hebat."
"Melalui Komandan Yakza." Dia menjawab yakin.
"Benar, Jenderal. Kita akan membahasnya sekarang. Keputusan tentang Falisha Putri Alyasa." Suara Komandan Yakza terdengar.
"Reputasinya hampir melebihi Mordo, jadi dia bisa dipercaya. Kita hanya mengatakan apa yang harus Komandan Yakza bilang, itupun kalau dia kebingungan." Jennifer bersemangat.
Jenderal Besar Karlo menarik napas. Suara ketukan tangan yang diletakkan di atas meja terdengar. "Baik. Saya akan mulai membuka pertanyaan pertama. Kuil aneh di bawah laut itu, siapa yang membuatnya?"
"Para Leluhur, Jenderal." Komandan Kiara menjawab.
"Lantas, Komandan Kiara, bagaimana caranya itu bisa berada di bawah laut? Bukankah leluhur tidak bisa bernapas di sana?"
"Terkait itu, informasi yang kita punya sangat minim. Ada seorang perempuan bernama Fidelya yang pernah tinggal di sana, namun kuil itu bersama dirinya tenggelam tanpa sebab yang jelas. Tapi fakta bahwa senjata yang paling mutakhir itu bisa bertahan selama bertahun-tahun, cukup untuk menjadi bukti betapa hebatnya mereka di zaman dahulu." Dia melanjutkan argumennya. Jennifer bertepuk tangan kecil, aku tersenyum.
"Baiklah. Kemudian apa yang terjadi di Pulau Empat? Kenapa tiba-tiba kosong? Dan sejak kapan ada labirin besar di bawahnya?"
"Itu lebih aneh, Jenderal. Saat aku patroli di hari sebelum misi mendapatkan lima pusaka, Pulau Empat masih seperti biasanya, permukiman. Tapi entah kenapa, saat misi itu dijalankan, kosong begitu saja. Dan saat misinya sudah selesai, Pulau Empat kembali seperti semula. Ini benar-benar misteri. Tidak ada penjelasan ilmiah yang bisa membuatnya masuk akal."
Jenderal Besar Karlo menarik napas lagi. "Baik, kerja bagus, Komandan Kiara. Tim Penyelidik akan mengurus sisanya, dengan bantuan beberapa prajurit handal."
"Langsung saja pada intinya, Jenderal. Bagaimana dengan Falisha?" Terdengar suara berat Mordo, moodnya sedang tidak bagus.
Hening sebentar, tidak ada yang berbicara.
"Untuk itu, kita tidak akan langsung mengambil keputusan. Harus ada riset tentang riwayat hidupnya. Berkat senjata itu Falisha menjadi lebih kuat, bahkan lebih kuat dariku. Atau mungkin, lebih kuat dari orang itu, Brolia Diero." Jenderal Karlo berkata tegas.
Mendengar nama itu, Para Komandan berbisik-bisik sementara.
"Jenderal. Sekuat apa pun Falisha, dia tidak mungkin berada di atas Brolia Diero. Dia itu iblis berkedok manusia, tidak layak dibandingkan." Seseorang yang tidak kukenal berbicara. itu sepertinya komandan pasukan daerah barat daya, atau mungkin timur laut.
"Brolia Direo? Siapa dia?" Jennifer di sampingku bertanya.
__ADS_1
"Singkatnya, dia membunuh jutaan orang dalam waktu satu tahun, sendirian, dia sangat mengerikan." Jawabku, sedikit bergetar.
"Aku, Karlo, adalah orang yang mengalahkannya. Diov, kau sebagai Komandan Pasukan Daerah Timur Laut juga pasti tahu betapa mengerikannya dia. Saat di penjara, semua narapidana takut kepadanya. Bahkan harus ada penjara yang berada cukup jauh di bawah tanah agar dia tidak bisa kabur." Jenderal Karlo melanjutkan kata-katanya.
"Baik, kita lanjut bahas tentang Falisha. Menurut riwayat, kata-kata prajurit, dan sejarah baktinya sebagai pasukan, dia tidak pernah berbohong dan selalu mengeluarkan semua usahanya saat menjalankan misi. Falisha juga belasan kali membantu mereka yang berpangkat senior untuk menyelesaikan tugas. Dan Falisha, adalah anak yang sempat diakui oleh Zed sebagai anak yang bersih, suci, juga tidak mungkin mengkhianati siapa pun. Aku rasa, dia bisa dipercaya." Komandan Yakza membuka mulut. Jennifer berteriak "Yes!" pelan, aku menggigit kuku.
Komandan Kiara berkata. "Aku sangat setuju dengan Komandan Yakza. Falisha dan teman-temannya berperan dengan baik dalam menyembuhkan dua omni yang sekarang hampir pulih menjadi manusia, yaitu Pak Danu dan kakakku, Firza."
Mordo menggerung. "Tapi, Kiara, setidaknya usaha mereka dibantu olehmu, kan? Aku ragu dengan tingkah mereka kepadaku tadi, bahwa Falisha dan teman-temannya berperan dengan baik? Omong kosong!"
"Mordo!" Leo berseru mendadak, membuatnya terdiam. Semuanya menjadi sunyi, hening, kosong, tidak ada yang berbicara. Aku yakin, semua orang melihat ke arahnya.
"Kurasa, yang memiliki semua wewenang dan hak untuk membicarakan Falisha, adalah dia, Leonardo. Jadi waktu dan tempat, saya dipersilahkan." Jenderal Besar Karlo berucap teguh. Semua Komandan tidak lagi berpendapat, saatnya Leo yang membuka mulut.
...
"Yah, Falisha mungkin ceroboh, gegabah, dan tidak bisa menjaga sopan santunnya. Atau mungkin, beberapa hari terakhir dia menjadi lebih brutal, lebih sembrono jauh lebih buruk dari biasanya. Dan lagi, dia juga bisa bersikap sombong, sok, dan sangat tidak sabar." Leo berkata lurus, dan tegas.
"Dasar! Memang brengsek kau, Leo!" Aku berteriak sebal.
"Fal, sabar-"
"Tapi, Leo-"
"Apa?! Leo apa?!" Aku marah, memotong semua kalimat yang hendak dikeluarkan Jennifer.
"Tapi dia adalah ... sumber cahayaku." Leo menghembuskan napas, suaranya jauh lebih lembut dan menangkan.
Apa ...?
"Apa maksudmu, Leo?" Mordo bertanya kepadanya.
"Kalian tahu kan, sejarah hidupku? Lonardo, si Bandit Bermuka Dua. Semenjak aku mendapatkan nama itu, keluargaku tidak pernah menganggap kehadiranku. Aku tidak akan melupakan julukan itu. Dari kecil, aku selalu saja bermasalah, idiot, bodoh, bahkan sikapku saja seperti iblis. Aku ini munafik, dan penipu yang handal saat usiaku remaja. Kalian semua mengetahuinya kan?"
Deg!
Mendengar itu, aku sangat terkejut. Mataku melotot sempurna, Leo, dia seburuk itu ...? Bandit Bermuka Dua, itukah caranya dikenal orang-orang?
"Fal ..." Jennifer cemas memanggilku. Aku menunduk ke bawah, merenung.
__ADS_1
"Tapi sejak Isabella, kakakku, melahirkan Falisha, aku sadar bahwa seburuk apa pun keluargaku menganggap diriku, Falisha akan menganggapku seperti manusia pada biasanya. Falisha tidak akan menatapku dan berkata, "Wah, ini si bandit yang dikatakan itu ya? Ih, dasar, pergi sana!" Tidak, Falisha akan menganggap diriku sebagai manusia biasa nanti, saat dia remaja, dan yah, itu terkabulkan. Belum ada satu pun kata "Bandit" yang keluar dari mulutnya. Reputasi dan perasaanku terjaga bersih oleh Falisha, maka dari itu aku bisa tetap bertahan hidup, dan tidak mencabut nyawaku sendiri.
"Jadi, pendapat dan permintaanku, jika Falisha akan dieksekusi setelah rapat ini, kalian harus membunuhku juga. Aku tidak mau hidup di dunia tanpa Falisha, tanpa cahayaku." Suara Leo mengancam keras, mengetuk meja. Sisa hening dan sedikit bisikan berpikir dari yang lainnya.
Aku tidak bisa berkata-kata. Sungguh, betapa cerobohnya aku memanggilnya "Idiot." Di restorannya tadi. Aku benar-benar menyesal ... karena bagaimanapun juga, Leo adalah orang yang membesarkanku. Aku sangat sangat menyesal, Leo ... maafkan aku ...
"Komandan, katakan kepadanya bahwa kita setuju, dan semua pasukan Daerah Utara tidak akan menerima jikalau Falisha dieksekusi, itu mutlak." Jennifer langsung berinisiasi, berkata kepada alat kecil di telinganya.
Lantas, Komandan Yakza berbicara. "Seluruh pasukan Daerah Utara memulai dan menyebar rumor tersebut, Jenderal. Mereka tidak akan menerima Falisha dibunuh, pasukanku juga meneror agar keluar dari jasa prajuritnya setelah ini."
"Saya juga tidak terima." Komandan Kiara berucap.
"Saya juga." Diov, Komandan Daerah Timur Laut, berpendapat.
"Saya tidak tahu apa-apa tentangnya. Tapi kalau Komandan Leonardo berkata seperti itu, pasti dia anak yang baik." Suara yang tidak kukenal lagi terdengar, sepertinya dia adalah komandan yang tidak pernah kutemui.
Leo hanya menggerung.
"Cih." Mordo tidak terima.
"Leonardo, camkan ini. Falisha akan menjadi sumber kematianmu-"
"Cukup, Mordo." Jenderal Besar memotong kata-katanya.
Aku terkejut, lagi. Kenapa dia sampai berkata seperti itu?
Terdengar suara tarikan napas, dari Jenderal Karlo. "Baik, kalau begitu, Falisha akan berada dalam supervisi yang lebih ketat. Itu artinya, Leo, kau harus menjaganya setiap menit. Jangan sampai Falisha menjadi sumber kehancuran pasukan. Atau seperti yang Mordo bilang, sumber kematianmu."
"Baik, Jenderal."
"Yes! Kau selamat, Fal!" Jennifer berseru riang, aku tersenyum sambil mengangguk.
"Saya ingin membahas hal terakhir sebelum rapat ini selesai. Dan ini, adalah bahaya tingkat maksimal, harus kalian semua ketahui." Jenderal Besar Karlo berkata lagi, intonasinya lebih serius kali ini. Nadanya juga lebih berat dan hati-hati.
"Lima dari semua tahanan omni lepas dari ruangannya, sekarang mereka bergerak bebas tidak terkendali di luar. Dan menurut rangkaian peristiwa di Yuvia selama kurun waktu tersebut, bisa disimpulkan bahwa ada salah satu dari kita, yang mengkhianati pasukan. Dia bersekutu dengan para omni."
"Apa? Apa maksudmu, Jenderal?!" Mordo merasa tidak nyaman.
"Di antara kita, di antara Para Komandan, termasuk diriku sebagai Jenderal, ada pengkhianat yang bekerja sama dengan para monster, menghancurkan kita diam-diam."
__ADS_1