Harapan Seperti Malaikat

Harapan Seperti Malaikat
Petunjuk? Atau Prediksi?


__ADS_3

Jauh, sangat berbeda.


Ini lebih mirip dengan kamar, tidak terlihat seperti 'ruangan' sama sekali. Ada kasur di ujung kanan, lemari dan meja belajar di sebelah kiri. Uniknya, kamar ini berukuran jauh lebih besar daripada ruangan sebelumnya. Bayangkan saja, fakta bahwa ratusan pasukan bisa muat berdiri di sini sekarang mengartikan kamar ini milik seseorang yang sangat penting. Catnya berwarna biru muda.


"Hah? Siapa yang punya kamar di Kuil aneh ini?" Firza yang heran bertanya.


Aku mengangkat bahu. Kami bersama Yuda baru sampai ke dalam dan semua orang sama bingungnya.


"Cukup bersih. Kukira akan berdebu di kasur ini." Komandan Kiara di ujung sana mengusap-usap beberapa benda yang penting. Yuda juga serupa.


"Fal. Sepertinya ini bukan kamar biasa." Dia berkata di sampingku, memegang foto seorang anak laki-laki berusia tiga tahun. Di tembok sana ada foto ayah dan ibunya yang sedang bekerja.


Tunggu, kalau dilihat-lihat, ada banyak sekali foto di sini. Di satu sisi tembok ada sekitar lima sampai tujuh jumlahnya.


"Waduh, jangan bilang ini ..." Aku terbata-bata, hampir kecewa dengan apa yang akan menjadi jawaban Yuda.


"Teka-teki. Kita harus melakukan sesuatu untuk melanjutkan perjalanan kita."


Puk! Aku menepuk dahi untuk yang kesekian kalinya. Kuil ini yang paling menyebalkan! Belum selesai kecemasanku terhadap Zed dan Azriel yang melawan delapan patung hidup, sekarang ada kamar yang harus kita susun menjadi sebuah jawaban teka-teki! Ayolah, aku hanya ingin melihat senjatanya!


"Sabar, Falisha. Kita pasti akan menemukannya." Komandan menepuk bahuku.


"Tapi ..."


"Hei. Kau menyelamatkanku berkali-kali. Di tengah laut, di labirin gila, di Pulau Tiga, aku tidak pernah meragukanmu lagi semenjak semua itu. Jadi kita harus percaya pada diri kita sendiri, kepada orang-orang yang kau cintai juga. Urusan Paman Zed dan Azriel itu jangan dikhawatirkan, mereka pasti berhasil."


"Kebanyakan semua aksiku itu hanyalah keberuntungan, Komandan. Aku tidak sehebat yang kau kira."


Komandan Kiara tertawa kecil. Kemudian, dia menunjuk Yuda.


"Dia temanmu, kan?"

__ADS_1


Aku mengangguk.


"Dia sudah membantumu berkali-kali. Bahkan, kekuatan tamengmu itu bisa dilatih karenanya. Yuda sudah memberikan tangannya kepadamu ratusan kali. Jangan buat semua itu sia-sia, Yuda akan kecewa mendengar kata-katamu itu barusan. Jadi setidaknya, kalau kau masih merasa tidak mampu atau lemah, bayangkan saja orang-orang yang sudah percaya padamu dan mendukungmu sepenuh hati, oke?" Dia tersenyum, berucap lebih lembut daripada sebelumnya.


Aku menatap punggung Yuda, benar juga ...


"Baik, Komandan."


"Nah, begitu dong." Komandan Kiara berdiri tegak, menatap semua orang.


"Baik! Sudah jelas ini adalah tantangan lagi. Tidak ada pintu keluar dari sini. Kita tidak mau perjuangan Paman Zed dan Azriel sia-sia! Bergegas! Kira harus menyelesaikannya!" Dia memberi semangat, menyandarkan tangan ke pinggangnya.


Semua orang berseru teguh, mereka langsung bekerja mencari semua petunjuk yang ada. Kamar yang sangat besar ini pasti bukan hal yang bisa diremehkan, ada misteri di balik ini, di balik semua ini ...


"Hmm ... foto saat anak berusia tiga tahun. Lalu usia enam tahun, dua belas tahun, enam belas tahun, dan yang ini, dia sudah menjadi manager di perusahaan besar, bersalaman dengan sosok yang terlihat penting." Firza memegang lima foto sekaligus, wajahnya menyelidiki.


"Hei." Aku menyapa.


"Benar juga. Perempuan ini ... siapa dia?" Aku memegang foto saat anak itu berumur enam belas tahun. Dia sangat cantik, elok, semua tubuhnya terlihat sangat terjaga.


"Tidak tahu." Firza membuka rak kedua, di rak pertama hanya kosong, tidak ada apa-apa.


"Kira-kira, adakah hubungannya dengan Brolia Diero?" Aku mulai penasaran.


"Diro? Sepertinya tidak. Kenapa kau bertanya tentang itu?"


"Aku hanya sedikit terpesona ... eh, maksudku, bukan terpesona, terkejut, ya, itu kata yang benar, terkejut. Aku sangat tidak percaya dengan kemampuan miliknya. Bocah sembilan tahun membunuh jutaan orang dalam waktu satu tahun, Brolia Diero atau Diro itu sangat menakutkan." Aku memegang foto di sampingnya, saat dia sudah bekerja. Perempuan itu sangat terpandang berkharisma, dan pasti disukai banyak orang ...


"Yah, dunia ini memang gila. Pasti ada sesuatu yang besar terjadi pada waktu tertentu." Sudah tiga rak yang dibuka olehnya, masih tidak ada apa-apa. Sejenak dia terlihat kecewa.


"Di sini tidak ada apa-apa, Komandan!" Yuda memeriksa semua bagian kasur, nihil.

__ADS_1


"Meja juga kosong!" Dilanjutkan orang lain.


Keributan mulai terdengar. Kumpulan ******* tidak puas dan gerungan marah hadir di sekitarku. Komandan Kiara di sudut ruangan mulai bergerak, membuka lemari.


"Bullseye!" Dia berseru senang.


"Ada apa, Kiara?" Firza mendekat ke arahnya.


Sret! Dia mengeluarkan selembar kertas, yang bertuliskan sesuatu. "Ini. Kertas ini tertempel di dalam menggunakan lem."


Baiklah, dia akan membacakannya.


"Ramalan itu sangat mengerikan, aku takut. Dia mengatakannya dengan akurat. Siapa pun yang menemukan kertas ini, ketahuilah bahwa kejadian menakutkan ini akan melahap seluruh Yuvia! Katakan kepada semua ketua, buatlah anggota cilik yang akan menjadi konsil di masa depan! Atur semuanya sampai selesai! Bencana ini tidak akan bisa dihentikan, namun kita masih bisa membuat rencana back up, bantuan!


"Aku adalah anak perempuan yang berada di foto-foto itu, namaku Fidelya, anak dari Merman. Sekarang tahun 1589, Yuvia akan tenggelam sebentar lagi. Dari kecil, aku sudah mengetahui semuanya akan rusak suatu hari nanti. Benar saja, akan terjadi sesuatu yang mengerikan nanti.


"Saat remaja, prestasiku tidak pernah berhenti. Aku berhasil menghilangkan kelaparan di seluruh dunia. Bahkan semua orang memujaku, musuhku termasuk yang menghormatiku di barisan paling depan.


"Dan sekarang, aku sedang duduk di kamar. Dengan usia 25 tahun aku akan berusaha untuk membantu kalian menguak segalanya, semua misteri dan sebab, apa yang bisa-bisanya menyerang kami, membuat kami tenggelam nanti ...!


"Kertas ini bukan dongeng, fiksi, atau anak yang sedang bosan di sekolah lantas ia menulis hal-hal ini, bukan! Semuanya nyata, sungguh nyata! Di samping kamarku ini, ada ruangan yang akan mencakup semuanya. Senjata terhebat di seluruh dunia berada persis di samping sini, itu bisa membantu kalian! Yang harus kalian lakukan hanyalah ..."


Eh? Komandan Kiara tiba-tiba berhenti?


"Hanyalah apa, Komandan?" Aku bingung.


"Hah? Kertasnya sobek! Sobek di bagian yang paling penting, astaga!" Firza yang ikut mendongak, sebal berseru, mengusap-usap kertasnya agar terjadi sesuatu. Tapi sia-sia saja, kertasnya terobek di bagian yang sangat penting.


"Tunggu! Apa yang terjadi pada waktu itu?! Kenapa seluruh Yuvia bisa tenggelam?! Siapa yang mengatakan ramalan itu?!" Yuda bimbang bertanya, Komandan Kiara masih fokus kepada kertasnya.


Apa yang terjadi? Ratusan tahun yang lalu negara ini pernah ... tenggelam?

__ADS_1


__ADS_2