Harapan Seperti Malaikat

Harapan Seperti Malaikat
Arkane (Part 3)


__ADS_3

DUR! Petir menyambar, semuanya putih sekilas, lantas kembali lagi menjadi gelap dan menakutkan.


"Apa ini... oh... aku mengerti, kalian adalah keluarga... yang tinggi itu pasti ayahnya, perempuan dengan lengan patah itu anak kedua, si pirang itu anak terakhir, dan bocah laki-laki itu anak pertama, benar kan?" Arkane tertawa, pedang besarnya disandarkan ke punggungnya.


Keluarga...?


"Jackpot! Benar sekali!" Leo menjawab, berseru. Kami bertiga melihatnya.


"Mereka semua adalah anak-anak didikku yang berharga. Kalau kau, monster jelek budukan, ingin membunuhnya, pasti gagal. Lihat, mereka semua terluka parah, tapi tidak kabur atau bahkan menyerah, kenapa? Karena tidak pernah kukatakan sekali dalam hidupku kepada mereka untuk mundur, mereka selalu maju menghadapi masalahnya masing-masing!" Dilanjutkan perkataanya, tersenyum lebar, mengatakannya dengan kepercayaan diri yang luar biasa.


"Jujur, aku ingin pulang, jadi ayo kita selesaikan ini secepatnya." Ucap Raphael di sampingku, masih mengelap wajahnya yang terkena lumpur.


"Hahahaha." Tawa Jennifer menimpali, bersiap dengan pedangnya.


Arkane menggeram, lantas maju perlahan ke arah kami, juga sebaliknya, masih menunggu "Bakso kotak" Terdengar.


Tugas kami sekarang adalah melindungi Leo, dia adalah kunci kemenangan pertarungan ini.


JRAASH! Arkane melempar lumpur, kami semua menghindar, CRAS! Leo memotong kaki kiri Arkane, ZUNG! Aku menghindari serangan, CRAS! Lantas memotong kaki kanannya, Raf dan Jennifer memotong kedua tangannya.


SLASH! Kepalanya dipotong Leo, GRASH! Muncul lagi. DUM! Lalu Leo dipukul menghantam pohon. BUK! Jennifer ditendang jauh. CRAS! Kupotong tangan kanannya, SLASH! Raf memenggalnya.


GRASH! Muncul lagi, langsung maju mencekikku, GREP! Raphael yang hendak membantu dicekik juga, dia menahan kami berdua. BUM! Lalu membanting kami keras, kepalaku pusing.


SLASH! SLASH! Leo dan Jennifer memotong kedua tangan Arkane, lalu membawa kami mundur.


"Hei! Kalian tidak apa-apa?!" Tanya Jennifer.


"Ya..." Jawabku sekuat tenaga, tidak ada suara dari Raphael.


"Raf!" Seru Leo panik.


Tidak ada suara... Raphael pingsan, luka di punggungnya terbuka lebih lebar, aku menatapnya ngeri.


BUM!


"Apa itu?!" Seruku sambil menghadap ke depan, tubuh bagian atas Arkane meledak, kali ini regenerasinya lebih lambat.


"Raphael! Dia sempat menempelkan granat waktu padanya!" Ujar Jennifer, jenius! Kalau begini, lebih banyak waktu diberikan untuk kita.


Granat waktu adalah salah satu senjata kami yang bisa melambatkan waktu di titik sekitar terjadinya ledakan.


"Fal, lindungi tubuh Raphael, kau boleh bantu kami melawan sedikit, tapi fokus utamanya adalah melindungi Raphael." Leo berdiri tegak, aku mengangguk, setuju.


CRASH! SLASH! Leo dan Jennifer maju memotong kedua kaki Arkane, tubuh bagian atasnya belum tumbuh lagi.

__ADS_1


Aku menggendong Raphael sekuat tenaga dengan lengan kananku, membawanya menjauh, berhasil! Aku membawanya 25 langkah dari Arkane, semoga aman...


"Aku tidak apa-apa, BLERGH!" Raphael di sampingku mencoba melawan, muntah darah.


"Jangan bergerak, kumohon..." Aku membantunya turun, dan membuatnya bersandar ke lenganku, jangan... Raphael kumohon jangan bertarung lagi... kondisinya sudah parah...


GRASH! Granat waktu sudah habis, tubuh bagian atas Arkane tumbuh lagi.


"Aku sudah muak!" Dia melompat ke arah Leo, hendak membelah tubuhnya. Leo menghindari ke kiri, BUM! Menghantam tanah, CRAS! GREP! Leo berhasil memotong kedua kakinya, tapi kepalanya digenggam keras oleh Arkane.


SLASH! SLASH! Jennifer memotong kedua lengannya, Leo lepas, BUMM! Arkane memukul kepala Jennifer keras ke bawah, kepalanya menghantam tanah, dia pingsan.


Aku bergegas lari ke arah Jennifer, GREP! Membawa tubuhnya menjauh ke tempat tadi.


"BAKSO KOTAK!" Seru Leo, suaranya pasti sampai ke markas, sangat keras.


"!" Aku terkejut, membawa tubuh Jennifer lebih cepat, BUK! Astaga, aku tersandung!


"Fal..." Suara Jennifer melemah.


"Jenn! Tahan!" Aku berseru padanya, membawanya lagi dengan lengan kananku.


"Tidak, Fal... lihat..." Kepalanya dimajukan kepada Leo dan Arkane, menyuruhku menatap mereka...


"Sepertinya ini akan menarik..." Raphael menyeka bibirnya yang berdarah, berdiri di samping kiriku yang menggendong Jennifer.


"Selamat tinggal, monster..." Ucap Leo marah.


BWURR! Api berwarna biru muncul, membakar seluruh tubuh Arkane...


"AAAAH! AAAGGHH AGHH!" Dia berseru kesakitan, Leo tersenyum menghadapnya.


Woah... dari mana... dari mana api itu berasal? Di tengah hujan deras begini, api tiba-tiba muncul membara.


BWUSH! Seluruh tubuh Arkane menjadi debu, hilang bersama api birunya, tidak muncul lagi... menyisakan Leo yang menarik napas berat, mencoba menyeimbangkan tubuhnya, lantas menghadapku.


"Kita menang..." Dia menyengir, mengacungkan jempolnya ke arah kami bertiga, lalu berjalan mendekat...


Hujan masih menimpa tubuh kami, seragam kami benar-benar basah kuyup, seperti memakainya untuk berenang. Kami menang... kami menang...


"Fal... terima kasih, ya... aku sudah lebih baik sekarang, kau bisa turunkan aku..." Jennifer berusul, aku ragu-ragu menurunkan badannya, dia berdiri di samping kananku.


"Fal... terima kasih, ya... pertarungan ini sudah selesai sekarang, kau bisa menggendongku pulang..." Ucap Raphael, Jennifer tergelak...


"Kerja bagus, aku bangga dengan kalian." Leo menyeringai, bersedekap di depan kami.

__ADS_1


"Tidak..." Aku berkata, membuat hening, hanya genangan air yang bersuara sekarang, semua orang melihatku...


"Ha?" Raphael heran.


"Aku gagal, tidak sampai lima menit, lenganku patah. Tidak sampai tujuh menit, luka tusukku terbuka lagi... tidak sampai sepuluh menit aku bertarung. Aku hanya mondar-mandir ke sana kemari, tidak jelas, bahkan alasanku kemari adalah karena kecerobohanku sendiri memarahi Raphael... aku hanyalah beban tim, kalian boleh menghukumku dengan cara apa saja." Aku menunduk, mengangkat lengan kiriku sedikit, membiarkan hujan menimpa.


"Wah..." Leo terkekeh.


"Apa? Kenapa kamu senyum?" Wajah Leonardo membuatku bingung.


"Falisha... tanpamu, Arkane akan tahu bahwa aku masih hidup, dan dia akan membunuhku. Tanpamu, aku akan mati tanpa bertarung lebih, barusan itu sangat seru. Dan terakhir, kalau kau tidak datang ke sini, aku tidak bisa mendengarmu meminta maaf sepuluh kali." Raphael tertawa sambil batuk sedikit, bersantai, lantas duduk di genangan air hasil hujan.


"Sungguh... aku sangat berterima kasih kalian datang, Fal... Leo..." Dia tersenyum lebar, menghembuskan napas.


"Dan, hei, lihat, Jennifer adalah bagian dari pasukan." Leonardo menjulurkan tangannya ke arah Jennifer.


"Maaf... aku akan menjelaskan semuanya nanti, tapi sekarang, kalian harus..."


"Jenn, sebutkan kata-kata yang sama padaku saat kau pertama kali ingin menjadi prajurit." Leo memotong kalimat Jennifer.


"Apa...? Tapi, kan..."


"Lakukan saja, sebagai bayaran bahwa dia telah menyelamatkanmu." Lagi-lagi kalimat Jennifer dipotong, dia terlihat malu.


"S... sebenarnya... alasan aku menjadi prajurit adalah... karena aku... aku fans... aku adalah fans beratmu... Fal... sampai sekarang..." Jennifer bergetar hebat, merinding parah, menutup wajahnya.


"HAH?! AHHHAHAHAHAHA." Raphael tertawa hebat, walaupun terhalang oleh batuk dan ranaan sakit, suaranya memenuhi seluruh tempat.


Jennifer? Ketua OSIS yang dikenal satu sekolah dan prestasinya melebihi apa pun? Yang semua guru bahkan takut pada kemampuannya yang sangat di luar nalar? Penggemarku?


"Tunggu, beberapa hari yang lalu kamu baru kenalan denganku, kan?" Aku bimbang.


"Iya... karena aku tidak mau ketahuan bahwa aku mengikutimu. Agar aman, kuperkenalkan diri saja agar seolah-olah kami baru bertemu." Jawab Jennifer gugup.


"Sudah, Raphael... jangan tertawa, nanti lukamu membuka lagi..." Leo membantu Raphael naik, dia menopangnya.


"Aduh... aduh... salah fans kamu, Jenn..." Raphael mencoba menahan sakit, masih sedikit senang.


"Tidak... tiga tahun yang lalu, aku pernah melihat Falisha menyelamatkanku waktu itu tanpa takut dan habis membunuh monster besar sendirian, dari titik itu, aku selalu mengikutinya, ke mana saja dia pergi saat pulang sekolah. Lantas aku menemukan sebuah lift tersembunyi di dinding tinggi gelap itu, aku sadar tidak bisa masuk, lalu sempat menyerah.


"Kuceritakan semuanya kepada Leo yang kebetulan kutemui di jalan dengan seragamnya, ternyata dia adalah Ketua Pasukan Daerah Barat, singkat cerita aku menunjukkan bakatku, diterima, dan berlatih sekuat tenaga. Aku tidak pernah ikut misi bersama kalian karena harus mengurus hal-hal yang terkait dengan OSIS. Jadi, malam hari adalah waktu bebasku untuk misi apa pun. Semoga kita bisa menjalin kerja sama yang baik, ya..." Jennifer memperjelas semuanya, berusaha untuk tidak bergetar.


Astaga... bahkan Si Primadona Sekolah pernah mengikutiku? Wah... lucu juga kalau dibayangkan...


Aduh... lenganku yang patah tiba-tiba bereaksi, terkena air hujan...

__ADS_1


"Oh iya... terkait api itu... kau ingin menjelaskan sesuatu, Leo?" Raphael bertanya kepada orang yang menopang tubuhnya...


"Api biru itu, ya..." Leo mengangguk perlahan, hendak memberitahu sesuatu...


__ADS_2