Harapan Seperti Malaikat

Harapan Seperti Malaikat
Jawaban Yang Kalian Inginkan


__ADS_3

Mendengar dua kata itu, jantungku bisa kurasakan sedang panik ketakutan.


Brolia Diero, manusia paling mengerikan sedunia, masih hidup ...? Bukankah dia berhasil ditangkap? Apa yang terjadi waktu itu ...?


"Diro ..." Raphael bergumam pelan, menggaruk-garuk dagunya.


"Mustahil! Dia dijaga oleh ..."


"Oleh siapa? Memangnya kau tahu apa yang terjadi padanya setelah orang-orang bilang 'ditangkap'?" Omni Kayu tertawa, memotong perkataanku yang belum selesai.


"Apa yang terjadi? Apa yang terjadi setelah dia ditangkap?" Aku maju perlahan, penasaran.


Tep! Raphael menahan lenganku. "Tunggu, Fal."


"Apa?"


"Kau tidak sadar? Barusan, Omni Kayu bilang, 'Sosok Hitam yang mencuci otak semuanya, termasuk diriku'. Itu artinya, sekarang dia berada di dalam kendali Diro. Brolia Diero berada di dalam otak Omni Kayu, omni semuanya. Setiap kali kita berkata atau bertarung dengan omni, kita sedang berhadapan dengan Brolia Diero ... sekarang, kita sedang berbicara dengannya." Dia berkata tegang, menyelidiki tegas ke arah sana.


Aku menelan ludah. "Maksudmu ... kata-kata yang keluar dari Omni Kayu, semua yang dia katakan dan lakukan, itu sebenarnya adalah ... Diro ...?"


Raphael mengangguk.


"Lalu ... bagaimana dengan pemilik asli tubuh Omni Kayu?"


"Dia ... kemungkinan sudah mati. Ini hanyalah mayat yang digerakkan dari jauh olehnya, oleh Diro."


"Aw, Raphael, Si Jenius. Aku selalu menyukai caramu berpikir. Cepat, presisi, dan tangkas. Otakmu hampir sama denganku, tahu." Dia tersenyum bangga.


"Tutup mulutmu!" Aku memotong, marah.


Jennifer mengusap hidungnya, masih menangis membungkuk di belakang.


Omni Kayu atau Diro, tertawa lebar. "Jennifer, ayolah. Kau baru mengenalinya selama ... aduh, tiga bulan? Berhentilah menangis."


"Jenn ..." Raphael ikut membungkuk turun, menepuk-nepuk bahunya.


Lantas, dia tersenyum. "Kematian Yuda tidak akan sia-sia. Kita pasti akan menang."


Jennifer masih menunduk, pasti sulit baginya untuk bergerak lanjut. Jennifer dan Yuda adalah pasangan yang sangat melengkapi satu sama lain, untuk berpisah itu sangat tidak mudah untuk diterima.


"Hei, itu hanyalah makanan pembuka. Kalian belum menikmati dessert dari fakta-fakta gila ini." Diro terkekeh lagi, tidak terkendali.


Aku kembali menatapnya. "Apa maksudmu?"


"Bagaimana dengan Jenderal kalian? Apakah ada hubungannya dengan semua ini? Karlo, apa peran dia dalam semua kegilaan ini? Kalian tidak mengetahuinya, kan?"


"Cepat jelaskan! Sebelum aku membelah otak tubuhnya!" Aku mengancamnya dengan tameng runcing.


Diro membuka mulutnya lebar-lebar, matanya melotot, senyumannya menunjukkan semua giginya. "Akulah ... jenderal kalian. Akulah Karlo yang kalian hormati dan agungi. AKULAH KARLO! KARLO BROLIA DIERO!!!"


CRAT!!!


Jennifer melempar pedang cahayanya, menusuk kepala Omni Kayu, dia sudah mati, tidak lagi menggerakkan tubuhnya.


Napasku berat sejenak, aku memegang dada dengan telapak tangan. "Je ... Jenderal Karlo ... adalah ... adalah Diro ..."


"Fal ... tenanglah ..."

__ADS_1


...


"Tidak! Raphael aku tidak bisa tenang! Kau benar! Ini adalah hidup yang buruk! Tapi aku tidak menduga akan seperti ini! Apalagi yang belum aku ketahui?! Hah?! Apalagi kejutan yang menunggu?!" Aku berteriak.


Hening mengelilingi ruangan kantor. Aku tidak bisa berkata-kata lagi.


Jennifer berdiri perlahan-lahan, membuka matanya yang merah.


Dia menarik pedang cahayanya dari kepala Omni Kayu. "Aku akan membunuhnya ... aku yang akan membunuh Diro dan semua orang yang mengikutinya. Persetan dengan menjadi orang baik. Aku yang akan membuatnya bertemu dengan kematiannya yang mutlak, menyiksanya selama setahun, sepuluh tahun, ribuan tahun, Diro akan mengalami rasa sakit tanpa henti dariku, aku yang akan membuatnya memohon untuk tetap hidup ..." Ucapnya dengan berat, Jennifer menatapku dan Raphael dengan dingin.


...


Aku mencoba meraihnya. "Jennifer ..."


BUM!


Tiba-tiba, ledakan di sekitar pintu depan terjadi, hancur lebur.


"Apa itu?!" Raphael waspada.


Aku melihatnya, jelas sekali. Robot milik Jenderal Karlo yang mengeluarkan misil kecil itu. Dia tidak terluka sedikit pun.


Aku panik. "Di mana Leo?!"


Kami bergegas ke luar, menghindari beberapa runtuhan dan misil kecil yang menyerang kasar.


BUM! BUM! BUM!


BAM!!!


Raphael membuat gelembung peledak yang lebih besar, meledakkan mereka sebelum sampai. Aku membuat tameng sambil bergerak untuk melindungi kita.


Tapi ... astaga ... matanya ... mata kiri Leo lepas, lengan kirinya patah dan caranya berjalan pincang.


"LEO!!!" Aku melompat ke arahnya, langsung membuat gelembung pelindung yang berhasil menutup kita dari serangan.


Mataku berkaca-kaca. Leo terlihat sangat terkalahkan, babak belur. "Astaga ... apa ... apa yang terjadi?!"


"Robot sialan itu, dia terlalu kuat ... lihatlah, semuanya mati. Semua prajuritku mati ..." Dia menunjuk ke arah kiri, ramai sekali tumpukan mayat itu hadir. Semua rekan-rekanku, semua pejuang yang bertahan sebagai Pasukan Penjaga Kedamaian di Daerah Barat, semuanya kalah ... hanya kami yang tersisa ...


Jennifer menyembuhkan semua luka Leo, tapi kali ini lebih cepat dari biasanya.


"Di mana ... di mana Yuda ...?" Leo bertanya cemas.


...


Tidak ada yang menjawab. Aku hanya menunduk.


"Di mana Yuda? Di mana Yuda?!" Dia berteriak, berdiri tegak menatap kita, bertanya lebih ambisius.


Aku memalingkan wajah tidak kuat. Raphael yang akhirnya membuka mulut. "Dia ... dia sudah tidak ada ..."


Deg! Leo terjatuh lagi, memegang dadanya yang sesak. Air mata langsung keluar darinya. Terlepas dari ledakan berkali-kali yang terjadi di luar, kabar ini memang sangat berat untuk siapa pun ...


"Kita harus kabur, untuk saat ini. Fal, bisakah kau menggerakkan tamengmu bersama kami?" Jennifer bertanya cepat.


Aku mengangguk, mengangkat tanganku tinggi-tinggi. Aku mengubah tamengku menjadi kotak dan menerbangkannya, kita berempat berdiri di dalamnya.

__ADS_1


Swosh! Kita terbang meninggalkan robot besar dan orang-orang yang meninggal, dan Yuda ... aku tidak mau melihat ke bawah.


Ini buruk ... sangat buruk ...


Jendral Karlo adalah ... Brolia Diero ...


...***...


Suasana sore hari, cahaya jingga menerangi seluruh Yuvia.


Sambil melayang di tameng kotak transparan, melewati bangunan bangunan di Daerah Barat, kami semua tidak membuka mulut.


Aku menelan ludah, ketakutan. Raphael di sampingku cemas menunduk. Jennifer dan Leo tidak berbicara.


Aku melihat ke bawah, pemandangan yang biasa saja namun sangat mengerikan. Semua yang aku lihat berada di bawah kendali Diro, dia mengatur semuanya.


"Eh, waduh ..." Raphael tiba-tiba berucap.


"Kenapa Raf?"


"Fal ... kau tahu kekuatan Mordo itu apa?"


Aku menggeleng. "Tidak."


"Jennifer?"


Dia juga menggeleng.


"Leo-"


"Angin." Memotong perkataan Raphael, Leo langsung menjawab.


"Apa?" Aku ingin tahu lebih.


"Kekuatan Mordo adalah mengendalikan angin. Itulah kenapa dia bisa terbang, dan melempar kalian dengan mudah tanpa disentuh." Leo perlahan-lahan berdiri, mata kirinya ditutup.


Raphael menutup mulutnya. "Gawat ... ini sangat gawat."


"Gawat apa?"


"Ingat suara yang aku dan Leo temukan? Yang jeritan itu? Yang diperiksa oleh Mordo dan prajuritnya sekarang? Kurasa itu memang bukan berasal dari manusia ..." Dia bergumam pelan.


Aku menggaruk kepala. "Apa? Apa sih?"


"Dengar, angin miliknya itu bukan main-main. Kuat sekali. Dia bisa melempar kita dengan kekuatan dan jarak yang mengagumkan. Tapi, aku selalu mencurigai kenapa Yuda bisa bertemu dengan Mordo waktu itu, di tengah fakta bahwa dia adalah orang yang sangat tidak menghargai hal yang tidak penting. Kalau dia tidak ke Daerah Barat untuk bertemu dengan Leo saat itu, kenapa harus cepat sekali hadir ke sini? Itu artinya, Mordo punya rencana lain sebelum Falisha dan Yuda menjalankan misi dengan Komandan Kiara, dan tidak sengaja bertemu dengan Yuda."


Leo sedikit melotot. "Apa maksudmu, Raphael?"


"Angin, jika dilebarkan dan dibuat dengan kecepatan yang sangat kencang, lalu diredupkan oleh gumpalan tanah yang cukup tebal, itu bisa membuatnya seakan-akan menjadi suara jeritan, padahal hanya angin belaka. Intinya, menurutku Mordo-lah yang membuat angin itu, membuat 'jeritan' palsu itu."


"Tapi, kenapa dia sampai berbuat begitu? Untuk apa?" Aku bingung.


"Untuk membunuh Alpa." Jennifer dengan tatapan dinginnya mengikuti percakapan, berkata lemas.


Aku terkejut. "Astaga! Yang benar saja!"


Jennifer menarik napas berat. "Rapat Para Komandan dan Jenderal Besar atau Diro tadi pagi itu, mereka menyimpulkan bahwa ada satu pengkhianat yang membebaskan lima omni, benar kan? Itu pasti Mordo, dia berjasa kepada pasukan selama bertahun-tahun agar tidak dicurigai oleh kita.

__ADS_1


"Mordo membebaskan lima omni, kemudian menemukan kaset yang menunjukkan asal usul omni, dan kebetulan ayah Falisha datang dan menyerang, lalu memberitahu bahwa Jenderal Karlo itu mencurigakan, hingga kita harus berkumpul secara mandiri, lalu berpisah dengan misi masing-masing, ditambah lagi Mordo menyuruh kita melawan Omni Kayu dan robot besar secara mendadak agar tidak lagi menyelidiki tentang jeritan di bawah tanah itu. Semuanya dilakukan agar dia ingin Alpa dibunuh oleh Omni Kayu, dan menjebak kita harus melawan robot besar Diro. Mordo bersekutu dengan Diro, dan pasti Mordo sekarang dia sudah membantai semua pasukannya sendiri di Distrik Elia agar tidak ada yang menghalanginya.


"Mordo telah menjadi mata-mata Diro, Diro yang selama ini menyamar menjadi Jenderal Karlo. Mordo dan Diro adalah biang kerok dari semua kegilaan ini."


__ADS_2