
Sampai sore, tidak ada misi lagi untukku dan Raphael, kita benar-benar disuruh istirahat. Kami di markas hanya menyengir sambil berkeliling menunggu pengumuman, padahal biasanya langsung ada perintah untuk melakukan sesuatu...
Membosankan...
Aku memutuskan untuk duduk di salah satu kursi markas.
"Astaga! Aku lupa!" Raphael berseru setelah melihat jam di dinding.
"Lupa?"
"Aku sudah berjanji untuk menemui kelompok prakaryaku sore ini!"
"Kelompok prakarya?"
"Iya! Pra. Kar. Ya. Prakarya adalah..."
"Aku tahu apa itu prakarya. Tapi ada perlu apa?" Aku bertanya lebih lanjut.
"Sebenarnya sih bukan kelompoknya... lebih ke... organisasi..." Raphael membalas malu.
Hmm... organisasi...? Ada apa dengan organisasi? KIR? PMR? Organisasi sekolah sedang mengadakan apa?
OSIS? Kudengar sih mereka merencanakan program "Seni untuk semua." Atau apa pun namanya itu, mereka benar-benar tidak bisa memberi nama dengan baik.
"Program itu, ya?" Aku melanjutkan.
"Iya."
"Tunggu... ide program itu darimu, kan?"
"Iya. Kenapa?"
"Pfft... namanya kenapa "Seni untuk semua."? Apa ada yang lebih jelek lagi?" Aku menepuk bahu Raphael, menahan tawa.
"Ih, bukan aku yang memberi namanya! Itu Jennifer!" Raphael melawan, wajahnya sebal.
Oh... Jennifer, ya...
Yah, dibilang iri padanya sih tidak. Hanya saja... kenapa aku harus melalui semua ini... kalau saja Ayah dan Ibu masih hidup, mungkin aku yang menjadi Ketua OSIS, bukan dia...
"Haduh... Fal..." Raphael mendengus.
"Ha?" Aku bingung.
"Kau iri, ya? Jennifer sibuk mengurus hal-hal yang keren dan penting, kau malah fokus membantai monster." Raphael menyengir.
"Eh, iri apanya? Jangan sok tahu ya!"
__ADS_1
"Aku bisa baca pikiran orang lain, tahu."
Suasana hening sekejap. Raphael duduk di sampingku sekarang.
"Tapi... menurutku kau lebih baik seperti ini, daripada menjadi Ketua OSIS, Fal..." Raphael menunduk, dia menggoyang-goyangkan kakinya.
"Kenapa, Raf? Ada apa dengan aku menjadi Ketua OSIS?"
"Ya organisasinya hancur lah, nanti!" Dia menjawab, menjulurkan lidahnya, lantas kabur.
"RAPHAEL SIALAN! JANGAN LARI!" Aku mengejarnya, membuat beberapa orang menengok ke arah kita seperti anak yang hilang.
Dia melambatkan larinya, aku menunduk, menarik napas perlahan, aku kalah cepat dengan Raphael?
Raphael mendekat ke arahku, sekarang pasti dia sedang tersenyum menyebalkan.
"Aku hanya bergurau, Fal..." Dia tertawa kecil, lalu mengeluarkan kertas dari saku celananya.
"Apa ini?" Aku menatap kertas itu, isinya seperti... blueprint?
"Ini blueprint untuk karya yang akan kita buat nanti, rencananya, kalau berhasil, dan praktis, lalu dijual, uangnya akan disumbangkan kepada yang membutuhkan. Karena OSIS memiliki uang yang banyak, dan aku butuh modal untuk membuat project ini, aku beritahu mereka tentang ide dan cara membuatnya. Syukurlah, mereka setuju." Dia menjelaskan, terkekeh sedikit, menatapku fokus.
Astaga... sedalam ini tujuannya? Aku tidak menduganya... pantas saja namanya "Seni untuk semua." Semua itu maksudnya adalah penerima sumbangan uangnya...
"Maaf, Raphael, aku tidak tahu..." Aku merasa bersalah.
"Tidak apa-apa, Fal." Dia menepuk punggungku, berkata lembut.
Dia selalu saja menyembunyikan hal baik dibalik hal konyol... anak itu aneh sekali...
***
Malam hari, pukul 19.00, aku memutuskan untuk pulang, Raphael sudah duluan.
Aku mengetuk pintu kantor Leo.
"Masuk." Jawab dia dari dalam ruangan. Aku membuka pintunya.
"Hei, tidak ada misi sama sekali? Sungguh?" Aku bertanya.
"Beristirahatlah, Fal. Besok adalah hari yang besar. Hanya pasukan Daerah Barat saja yang ditugaskan oleh Jendral Besar." Leo menjawab, dia masih membaca buku tipis di tangannya, aku masih heran buku tentang apa itu sampai Leo tidak mau melepaskan pendangannya.
Tunggu... apa? Hanya pasukan Daerah Barat? Daerah sini?
"Kenapa tidak mengirim semua pasukan saja? Termasuk mentor Daerah Timur, Utara, dan sisanya?" Aku bertanya lagi.
"Aku juga tidak tahu, tapi tidak ada yang bisa melawan Jendral Besar... aku sebagai mentor saja tidak bisa mengalahkannya." Leo membalas.
__ADS_1
Jendral Besar, ya... aku tidak pernah melihat wajahnya secara langsung... tapi dia adalah orang yang membuat markas ini, dan berhasil melindungi warga di semua daerah.
"Sehebat apa dia?" Aku penasaran.
"Yah... combat skillsnya tak tertandingi, kekuatan berpedangnya juga hebat, battle IQ miliknya juga menakjubkan, kalah jauh dariku..." Leo tergelak, membuka halaman baru buku tipis itu.
Wah... dia terdengar keren.
"Siapa namanya?" Aku berdiri santai, menikmati percakapan.
"Karlo." Leonardo membalas, menutup buku tipis itu.
"Baik, saatnya pulang, Fal." Leo mendekat, menepuk bahuku.
"Eh? Kenapa? Ayo bicara lebih tentang Jendral Besar!" Aku antusias ingin melanjutkan.
"Tidak bisa, kau harus istirahat. Besok kita akan mengakhiri konflik besar ini." Dia menatap halus.
Kalau begini... tidak bisa kulawan... aku juga ingin pulang karena bosan berjam-jam berada di markas.
"Yasudah." Aku memutar balikkan tubuhku, melangkah menuju pintu kantor.
"Oh, iya, satu hal." Leo menaikkan suaranya.
"Ha?" Aku heran.
"Tolong jaga Raphael besok, ya... kalian berdua berhak menikmati kebahagiaan yang sejati, dunia tanpa monster, dunia yang diambil dari kalian." Dia tersenyum semangat, tekadnya kuat sekali.
"Tentu saja. Kau juga jangan mati, kita akan menikmati dunia tanpa monster bersama." Aku membalas, mengepalkan tangan, tersenyum lebar.
Krak. Aku menutup pintu kantor Leo. Bergegas menuju lift, meninggalkan beberapa prajurit yang sibuk mondar-mandir, mengobrol, masuk ke ruangan-ruangan markas, dan yang lainnya.
Aku tidak percaya semuanya akan selesai besok... tidak ada lagi misi... monster... kebencianku akan hilang... semuanya akan kembali seperti semula!
Aku menggesekkan kartuku di kotak hitam samping lift keluar, TING! Bunyi itu lagi, lantas pintu lift terbuka lebar, aku masuk ke dalam sendiri, merapihkan seragam biru tuaku.
Astaga!!! Aku kegirangan sendiri... besok monster-monster akan mati semuanya! Hidupku akan kembali seperti semula... dan yang paling aku tunggu dari semuanya adalah...
Saat aku menghampiri Monster Bertopi Fedora... monster tinggi hitam dan berbentuk seperti manusia... kupenggal kepalanya... lalu kubisikkan ke dalam telinganya "Rasakan." Dan dia menghilang seperti monster-monster lainnya, ahhh itu akan terasa sangat enak...
TING! Lift dibuka, secara tidak sadar daritadi aku sudah naik ke atas. Pemandangan digantikan menjadi tempat yang sepi.
Aku mengambil kotak panjang yang menempel di celanaku, menekan tombol putih kecil.
ZRUNG! Lantas, cahaya putih panjang keluar dari kotak itu, membuatnya terlihat seperti pedang sungguhan, bedanya, ini menggunakan cahaya.
"Kau dan aku akan menikmati waktu terbaik dalam hidup." Aku berkata dalam hati. Astaga, aku seperti orang gila, bicara pada senjata.
__ADS_1
Aku mematikan cahayanya, meletakkan kotak itu kembali, langsung melangkahkan kaki menuju rumah, berlari sekuat tenaga.
Selamat tinggal, monster...