Harapan Seperti Malaikat

Harapan Seperti Malaikat
Omni Kayu


__ADS_3

"Astaga! Apa-apaan itu?!"


Kami semua menjerit panik, waspada, dan takut di dalam waktu yang sama. Jeritan bawah tanah itu sangat mengagetkan dan mengerikan ...


"Fal!!! Tamengnya!!!"


"Hah?!" Raphael bilang apa?!


"Gunakan tamengmu untuk meredupkan suaranya!!!"


"Oh, iya!!!"


Aku membentangkan tangan. Mudah sekali tameng separuh lingkaran melindungi semua pasukan di sini. Suaranya menjadi lebih lembut, kita bisa melepaskan telinga kita.


Aku menarik napas, menatap ke bawah. "Apa-apaan tadi?!"


Raphael menarik napas lelah. "Itu dia. Yang kami katakan kepadamu waktu itu. Menyeramkan, bukan?"


"Tunggu, kau pernah mendengarnya?" Jennifer nimbrung.


"Ya. Tidak hanya Leo yang menemukannya. Aku juga."


"Mungkin aku bisa merasakannya, sumbernya, melalui kekuatanku." Yuda membungkuk.


Jennifer terkejut, lagi. "Eh?! Yuda sudah punya kekuatan?! Astaga, aku benar-benar ketinggalan banyak. Kenapa kalian tidak memberitahuku lewat ponsel?"


"Kau jarang online, Jenn. Semenjak dipindahkan, kau sangat sibuk." Aku menepuk bahunya.


"Hei, misiku banyak tahu! Aku harus-"


"Ssst, Fal, Jenn, kalian berdua diam dulu. Yuda, silahkan." Raphael antusias berkata.


Yuda menutup matanya, tangannya meraba aspal di bawah. Sekilas, cahaya biru menyinarinya sangat terang. Semakin terang setiap detiknya.


Dia menggerung. "Argh ... aku tidak bisa fokus kalau prajurit lainnya berbicara."


"Raphael, buat gelembung meledakmu ke atas." Leo yang tiba-tiba datang menimpali.


Lantas, dia melakukannya. Gelembung Raphael yang siap meledak itu melayang di atas kepala kita.


BWUSH! Leo membuat api warna biru yang membakarnya, gelembung itu meledak bercahaya biru yang hampir memenuhi tamengku. Bunyinya setara dengan teriakan bawah tanah yang masih berbunyi.


Otomatis, karena kaget, seluruh pasukan di sini dan Mordo terdiam. "Terima kasih." Ucap Yuda.


"AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA" Jeritan itu semakin berisik setelah Yuda menyelidikinya. Dia masih berusaha sekuat mungkin.


"Jadi, Fal, apa kekuatan Yuda?" Jennifer penasaran, berbisik.


Aku membalas. "Yah, dia bisa merasakan apa pun, Jenn. Apa pun. Dan mengendalikannya sesuka hati, bahkan angin."

__ADS_1


"Wah, itu sangat keren ..."


Yuda membuka matanya, berdiri tegak menatap kita. "Aku ... aku merasakan sesuatu ..."


ZEP! Cahaya biru itu lenyap darinya.


"Apa? Apa sumber jeritannya?" Tanya Leo.


"Maaf membuat kalian kecewa. Tapi... aku sudah memeriksa setiap titik, setiap jengkal di bawah tanah. Dan hanya terasa semacam ... gelombang."


"Gelombang? Apa maksudmu?" Mordo menimpali.


Yuda menggaruk kepala. "Ada gelombang yang menekan udara di bawah sana. Seperti ... seperti shockwave. Aduh, bagaimana cara menjelaskannya ya?"


"Intinya, ada manusia atau tidak? Atau justru Omni Kayu yang kita cari?" Mordo mulai geram.


Yuda menggelengkan kepala.


"Bagaimana denganmu, Alpa? Berhasil menukarkan posisi?"


"Tidak, Mordo. Walaupun aku bisa menukarkan posisiku dengan siapa pun kapan pun, kali ini benar-benar tidak ada manusia yang bisa kudeteksi di bawah sana. Yuda berkata yang sebenarnya."


"Alpa?" Aku heran.


Leo menarik napas. "Prajurit bawahan Mordo, Fal. Dia punya kekuatan untuk menukarkan posisinya dengan siapa pun. Dia bisa membuatmu berdiri di posisinya, dan dia di posisimu sekarang kapan pun yang dia mau."


"Itu artinya, tidak ada siapa pun di bawah sana? Lantas apa-apaan yang membuat suara jeritan itu?!" Mordo berteriak, membuat beberapa dari kita ketakutan.


Tiba-tiba ... jeritannya berhenti total, hening dan sunyi. Bencana untuk telinga kami itu tidak hadir lagi. Aku membuka tamengku perlahan-lahan, aman saja. Suaranya benar-benar hilang ...


"Hilang lagi, deh." Raphael terlihat kecewa.


Leo menghembuskan napas. "Bagaimana, Mordo? Rencana B?"


"Yah, terserah. Selama ada proses, aku setuju. Oh iya, bawa juga Alpa bersamamu."


"Baik. Semua pasukan Daerah Barat! Ikuti aku!"


Leo berseru tegas, berlari ke arah utara meninggalkan Distrik Elia diikuti dengan kami semua. Mordo dan pasukannya ditinggalkan di sana, sepertinya mereka handal dalam menyelidiki jeritan misterius ini.


Kita mau ke mana? Dan kenapa Alpa harus ikut bersama kita?


"Fal." Raphael tiba-tiba memanggil.


"Ya?"


"Perasaanku tidak enak. Semua ini pasti ... dilatarbelakangi oleh hal yang sangat buruk. Entahlah, mungkin hanya perasaanku saja."


...

__ADS_1


"Mungkin ... mungkin juga tidak ..."


...***...


Kami berhenti di depan kantor yang tinggi, sekitar dua belas lantai berwarna hitam bermotif abu-abu.


"Di sinilah laporan terakhir dari intel prajurit, kemungkinan adanya Omni Kayu di dalam sini sekitar enam puluh persen." Leo berdiri di depan kita, menatap fokus bangunan itu.


"Siapa? Siapa intel prajurit yang mengatakannya?" Raphael bertanya cemas.


"Entah. Tapi dia salah satu bawahan Mordo. Ayo kita periksa. Soal teriakan misterius itu akan diurus oleh pasukan Daerah Timur." Dia menjawab sambil berjalan pelan-pelan. Pedang cahayanya dikeluarkan sambil berjaga-jaga. Hanya sebelas langkah lagi jarak Leo dengan pintu masuknya.


Kami juga bersiap sedia akan segala kemungkinan. Raphael menepuk bahuku sekilas, tersenyum.


Aku juga menatapnya, tersenyum kembali.


"Fal ... Raf ... Jenn ..." Yuda tiba-tiba berbisik.


"Ya?" Aku menimpali.


"Setelah ini, setelah semua ini berakhir, monster dan omni ... apa yang akan kalian lakukan ...?" Dia bertanya kecil.


"Apa? Setelah ini? Uhm ... entahlah, sekolah? Yah, tujuan utamaku sih tetap menjadi militer untuk membela negara Yuvia ..." Jawabku sambil menyengir.


"Kalau aku, aku ingin menjadi ketua OSIS di sekolahku yang Daerah Utara. Raphael akan menggantikanku sebagai ketua OSIS di sekolah sini, benar kan Raf?" Jennifer melambai, menjawab lengkap.


Raphael tertawa. "Eh, aku tidak mau jadi ketua OSIS, merepotkan. Aku ingin menjadi inventor, membuat senjata untuk militer Yuvia bersama Falisha. Itu akan sangat keren. Bagaimana denganmu, Yuda?"


Kami semua menunggu jawabannya.


"Aku ... aku ingin pergi, bersama kakakku. Entahlah, hidupku sebelum menjadi seorang pasukan itu sangat suram ... sehingga aku bertemu dengan kalian. Kalian mengubah hidupku menjadi jauh lebih baik." Dia menunduk, tersenyum lebar mengatakannya.


Aku mendekat kepadanya. "Hei, tenang saja. Kita akan selalu berada di sisimu setiap saat. Berkat kamu, kekuatanku bisa diuji lebih dalam. Dan berkatmu juga, aku adalah pasukan yang paling kuat di sini sekarang. Kamulah yang sebagian besar merubah hidupku, Yuda."


"Hehehe, terima kasih. Jennifer, Raphael, kalian juga kuucapkan terima kasih atas masa-masa kita bersama. Itu lebih baik dari segalanya, segalanya ..."


Kami berempat tertawa kecil, beberapa pasukan heran menatap kita, tapi tidak apa-apa.


Dua langkah lagi kaki Leo akan masuk ke dalam bangunan itu. Tangannya hendak meraih gagang pintu.


BUM!


"Apa?!" BUK!!! Di belakang, seorang pasukan terpental jauh dipukul oleh sesuatu. Suara dentumannya sangat berisik dan menyeramkan.


Astaga ... itu ... itu adalah salah satu dari delapan robot besar yang disimpan oleh Jenderal Besar Karlo di markasnya! Kenapa dia tiba-tiba datang dan menyerang pasukannya sendiri?!


"Komandan Leonardo!!!" Alpa, yang ikut bersama kita, berseru khawatir.


Persis di depan Leo, di dalam kantor itu, Omni Kayu membuka pintu lincah. Sudah siap untuk menusuk tubuh Leo.

__ADS_1


__ADS_2