
"Eh? Kau yakin?" Mata Zed menatap sempurna ke bawah.
Aku mengangguk.
Hening sebentar. Semua orang yang menyimak percakapan kita sedikit penasaran, berjalan mendekat.
"Teori yang bagus." Komandan Kiara ternyata ada di sebelahku, ikut menyelidiki.
"Tapi kita butuh dukungan yang lebih. Kuil itu pasti dijaga oleh rombongan tertentu. Aku ragu senjatanya dibiarkan begitu saja oleh para leluhur." Azriel ikut berpendapat. Yuda di belakangku menepuk bahuku.
"Aku bisa menjadi dukungan kalian. Kekuatanku ... bisa dibilang cukup untuk langsung menghancurkan musuh dalam skala yang besar. Yah, asalkan aku tidak pingsan seperti tadi." Dia mengajukan diri. Kami sedikit terkekeh mengingat bahwa dia sempat dikalahkan oleh kumpulan gorilla.
Zed menarik napas dalam. "Bagaimana, Komandan? Sudah siap?"
Komandan Kiara mengepalkan kedua tangannya. "Ayo. Kita dapatkan senjatanya!"
Sekilas saja, semua orang langsung berteriak semangat. Berseru sepenuh hati meyakini bahwa kita akan menang. Kita tidak akan kalah dengan monster lagi.
Plop! Zed menghilangkan lingkaran miliknya, digantikan oleh tameng lingkaran milikku yang mampu menahan air agar tidak masuk. Kumajukan tamengnya agar kita bisa mendekat ke kuil tersebut.
Setelah jarak yang cukup dekat, ternyata tempatnya terbuat oleh emas. Emas bisa bertahan di lautan? Dan juga, bentuknya secara keseluruhan mewujudkan harimau yang berdiri gagah. Entah apa yang dipikirkan mereka dahulu sampai membuat bangunan seperti ini.
"Kalian siap?" Komandan Kiara mengeluarkan pedang cahayanya.
Getaran hebat terjadi, itu adalah tanda akan terbukanya pintu masuk kuil.
KRAK...! Komandan menodongkan pedangnya ke depan, sekarang lautan dengan luas 700 x 700 meter berubah menjadi es, bergabung dengan tembok kuil yang ada pintu masuk tersebut.
Dia juga mengubah semua air yang masuk menjadi es, lalu menghancurkannya. Berkat itu, kita punya tempat yang luas untuk bergerak masuk di dalam es yang berbentuk persegi miliknya.
SING! Tameng lingkaranku menghilang. Kita menginjakkan kaki di dasar lautan.
Aku menarik napas. Apa pun yang ada di dalam sana, semoga tidak akan merenggut nyawa salah satu dari kita.
BRUK!!! Pintu kuil terjatuh begitu saja, membuat kami sedikit kaget. Semua pasukan menjulurkan pedangnya ke depan. Komandan Kiara yang memimpin juga serupa, pedang cahayanya bersinar terang berwarna yang sama seperti langit biru.
Ruangan di dalam sana sedikit terlihat, temboknya berwarna jingga juga seperti di luar.
Komandan memberi sinyal, kita semua maju perlahan-lahan. Langkah kaki yang begitu kompak ini cukup untuk menakuti musuh di dalam.
"Krrrrr..." Sekilas setelah suara mengerikan itu terdengar, Komandan Kiara gesit menendang sosok yang keluar dari kuil.
Itu bukan monster, juga bukan manusia. Kepalanya aneh, badannya terlihat keras dan kokoh. Wajahnya mengerikan dan semuanya berwarna hijau. Makhluk macam apa dia?
CRAT! Komandan Kiara menusuk kepalanya. Dia mati begitu saja, tidak menjadi debu seperti monster.
Hening, aku menarik napas karena tadi sempat ketakutan ...
__ADS_1
Beberapa dari pasukan mendekat, mencoba menyelidiki.
"Omni?" Zed bertanya.
"Bukan. Ini bukan manusia." Komandan Kiara mengangkat tubuh makhluk itu. Dilihat lebih dekat, ternyata dia tidak memiliki mata, hanya ada lubang di samping kanan dan kiri hidungnya. Dagunya juga hampir lepas.
"Huh. Jangan-jangan itu penjaga senjata paling mutakhir sedunia? Yang benar saja." Azriel berkomentar.
"Aku ragu hanya ini saja musuh di kuil yang besar di depan kita. Ayo, kita masuk. Lebih hati-hati kali ini." Komandan menjatuhkannya, kembali menjulurkan pedang ke depan.
Kami dipimpin masuk olehnya. Setelah masuk ke dalam, cepat sekali pintu kuil tertutup secara otomatis, membuat kaget beberapa orang.
Astaga, ini sangat indah. Ruangan di dalam sini, benar-benar terbuat dari emas. Ubinnya, temboknya, sampai beberapa tiang yang menopang juga dari emas. Di sebelah kanan ada empat artefak yang ... ah, aku tidak tahu cara menjelaskannya, tapi bentuknya sangat menarik.
Di sebelah kiri, ada delapan patung berbentuk manusia. Dari sifat dan ukirannya, sepertinya para leluhur membuat patung tentang delapan orang yang berupa sosok penting pada masanya. Mereka terlihat kuat dan gagah.
"Inikah mereka? Orang-orang terdahulu?" Yuda antusias bertanya.
"Sepertinya begitu. Sejarah Yuvia setahuku adalah daerah yang satu namun dibagi menjadi delapan oleh petinggi-petingginya. Sepertinya delapan orang ini adalah mereka." Aku menjawab halus. Pasukan menghadap mereka dengan kagum, beberapa memberi hormat yang tegas dan agung.
Ini dia, kabar mengerikannya. Tidak lama setelah kita memuji-muji patung tersebut, mereka menggerakkan tubuhnya, hidup, delapan patung itu hidup layaknya manusia biasa. Hanya saja, ukuran mereka lima kali lebih besar dari kita.
Patung Lelaki Berambut Keriting memukul ubin, membuatnya retak dan beberapa dari kami harus mundur. Mereka sedang marah.
"Siapkan posisi!" Komandan Kiara memberi perintah.
SING! Aku menjulurkan pedang bersama yang lainnya, masih bergerak ke belakang secara bertahap.
"Tidak tahu. Tapi yang pasti, seseorang merancangnya agar kita tidak semudah itu mendapatkan senjatanya." Zed juga serupa, bingung dan cemas.
Firza mengeluarkan beberapa tabung peledak ke arahnya, namun dengan Patung Wanita Berambut Lurus ditangkis begitu saja. Bombnya meledak ke atap, beberapa bagiannya retak dan siap runtuh.
"Mereka sangat kuat!" Komandan membuat pelindung setiap kali lawannya, Patung Remaja Wanita Berkacamata menyerang. Delapan patung raksasa dengan kekuatan super, ini sungguh, gila!
BRAK!
Lelaki Berambut Keriting hendak menyerang, namun Yuda menghancurkan tangannya dengan kekuatannya.
"Bahkan dengan kemampuanku saja, mereka tetap keras. Tidak semudah itu menghancurkan tangannya, bahkan jarinya saja harus diberikan konsentrasi yang sangat penuh." Dia berkata, sambil menghindari pecahan ubin yang berterbangan.
Delapan musuh kita sekarang yang ternyata patung adalah Lelaki Keriting, Wanita Berambut Lurus, Wanita Berkacamata, Pria Pendek Bertopi, Kakek Tua yang membawa tongkat, Remaja Petinju, Guru yang membawa buku dan Pria Pemburu yang menaiki harimau. Aku menepuk dahi. Jangan lupa, ukuran mereka lima kali lebih besar dari kita.
BRAK!!! BRAK!!! BRAK!!!
"Kalau dibiarkan, mereka akan menghancurkan kuil ini! Kita bisa tenggelam!" Yuda berseru.
SUNG! Zed menghentikan waktu di area patung, mereka tidak bisa bergerak.
__ADS_1
"Majulah! Pergi menuju ruangan berikutnya! Aku akan menahan mereka!" Dia berusul, berseru sambil menahan kekuatannya.
"Tidak! Aku tidak akan meninggalkanmu!" Komandan Kiara menolak.
"Kiara, Firza, aku sudah berjanji kepada Diego. Aku akan melindungi kalian berdua apa pun resikonya. Patung-patung mengerikan ini bukan apa-apa dibandingkan momen di mana orang tuamu dibunuh dan Firza diculik. Kumohon, kalian harus selamat dalam misi ini, bertahanlah sampai akhri, sampai semua misteri berhasil dipecahkan. Jadilah yang terbaik diantara kita semua ..." Zed berkata lagi. Dia mengusap keringat dan merapihkan rambut Komandan dengan satu jari.
Firza terlihat berpikir keras, namun akhirnya dia sadar bahwa dia tidak punya pilihan.
Komandan Kiara menunduk sejenak, matanya tertutup. Namun, pada akhirnya mengangguk. "Baiklah. Jaga dirimu, Paman Zed."
Mereka berpelukan. Firza juga menepuk bahunya.
"Ayo cepat! Menuju ruangan berikutnya, stat!" Komandan memberi perintah, semua pasukan bergerak maju.
"Tunggu!"
Azriel mendadak berteriak, semua orang melihatnya sekarang.
Dia menarik napas.
"Aku akan membantunya."
"Apa?!" Yuda yang pertama kali terdengar tidak setuju. Dia berjalan cepat menuju kakaknya.
"Apa maksudmu, Kak?"
"Dengar ... aku tidak menjalankan peranku dengan baik sebagai seorang kakak, tapi-"
"Aku juga adik yang terburuk! Aku menyalahkanmu atas semua kesalahanku! Kau harus ikut!"
"Yuda ..."
"Cepat! Aku tidak bisa menahan mereka lebih lama!" Zed memotong, berteriak tegas.
Hening sebentar. Mereka berdua menatap satu sama lain.
"Aku pasti selamat, jangan mengkhawatirkanku. Ingat? Aku adalah pasukan muda yang terkuat semarkas. Aku dan Zed pasti berhasil melawan patung raksasa ini, oke?" Azriel mengusap kepala adiknya dengan halus, suaranya kali ini lembut dan lemah, aku hampir terpesona mendengarnya.
Yuda memeluknya, juga dia tidak punya pilihan. "Janji?"
"Janji."
Mereka memeluk satu sama lain. Sejenak Yuda menangis.
Aku mendekat, mengusap bahunya.
"Jaga dia, Falisha." Azriel berkata. Aku mengacungkan jempol padanya.
__ADS_1
Komandan Kiara melambaikan tangan, lantas aku, Yuda, Firza dan seluruh pasukan berlari maju. Meninggalkan Zed dan Azriel pergi bersiap melawan delapan patung raksasa yang hidup.
Setelah lima kilometer berlari jauh, akhirnya ada ruangan lagi yang baru.