Harapan Seperti Malaikat

Harapan Seperti Malaikat
Bocah Sialan!


__ADS_3

Semua orang sudah menaiki kapal es itu, kami sedang berdiri di atas buritan yang lebar. Kapal melintas jantan membelah lautan, ini pertama kalinya aku baik kapal pesiar.


Entah kenapa, walaupun jelas sekali di sini semuanya terbentuk dari es, aku tidak bisa merasakan dingin sama sekali. Suhunya pas seperti keluarga yang sedang berlibur.


"Falisha." Yuda menghampiriku di antara pasukan-pasukan yang berkumpul. Beruntung sekali aku dapat posisi di ujung, bersandar melihat dasar laut yang indah. Daerah Selatan ternyata tidak buruk, terlepas dari pantai aneh yang terbuat dari besi tadi.


"Hai. Kamu tidak apa-apa?" Tanyaku cemas, masih teringat dia kedinginan akibat hukuman itu.


"Iya." Dia menjawab singkat, terkekeh sedikit sambil menepuk-nepuk bagian seragamnya yang basah.


Ombak bersuara keras di sekeliling kapal. Aku jadi teringat sesuatu.


"Pantai tadi aneh ya. Semuanya silver, besi. Benar-benar unik." Kucomot topik pembicaraan. Entah kapan lamanya sampai kita bisa melihat "Pulau Satu".


"Iya. Pulau Besi itu yang mereka sebut Pulau Satu, Fal." Yuda menjawab datar.


"Serius?"


"Yup. Aku pernah membaca bukunya. Hanya ada lima pulau di Daerah Selatan, kau tahu itu. Pulau Besi tadi ditempatkan untuk fasilitas riset para ilmuan lama. Sayangnya tidak ada lagi yang tinggal di sana, jadinya sekarang Pulau Besi disebut sebagai 'Pulau Satu', tempat bebas untuk para pasukan."


Aku mengangguk perlahan, penasaran tentang pulau berikutnya.


"Pulau Dua, ini bagian terburuknya. Pulau Dua adalah tempat yang horror, seram, tiada sisi baiknya sama sekali. Dari dulu, para hewan raksasa dan leluhur berkumpul di sana. Jadi, Para Konsil tidak mengambil keputusan apa pun tentang tempat itu, hanya menentukan jarak dengan pulau berikutnya, lalu membiarkannya sendirian."


"Waduh... semoga kita tidak harus menyelidikinya..." Aku mulai merasa cemas. Pulau Dua terdengar sangat berbahaya. Kalau Para Konsil saja tidak mau ikut campur, siapa yang akan memimpin kita dalam penyerangan ini? Walaupun Jenderal Besar Karlo hebat, tetap saja dia berada dalam wewenang mereka, seluruh Pasukan Penjaga Kedamaian berada di dalam wewenang Para Konsil...


"Hahahaha, tenang saja. Kita kan pasukan yang hebat, apa pun itu pasti mudah untuk dilawan." Yuda terkekeh, menepuk bahuku. Dia tersenyum lagi... senyuman yang bercahaya dan menawan itu.


Aku selalu kagum, walaupun berada di tengah masalah, Yuda bisa membuat bahagia orang lain tanpa mengkhawatirkan dirinya sendiri.


"Terima kasih." Aku menatapnya sempurna, sedikit lebih tenang.


BRUK!!! Terdengar suara keras dari ujung sana. Semua orang panik seketika. Kapal pesiar ini miring dua puluh derajat, sesuatu menghantamnya.


"Apa-apaan itu?!" Salah satu orang berseru marah. Tapi fokusku bukan itu sekarang. Azriel sialan itu, dia menabrak tubuhku.


"Hei ******! Kau buta, ya?! Minggir!"


Aku menatapnya geram. Kapan saja bisa kuhajar si budukan ini, sayangnya keributan semua orang menghalangiku melakukannya.

__ADS_1


KRAAAK...! Oleh Komandan Kiara, geledak kapal ini melebar, membentuk bunga melengkung ke atas. Membuat ruang yang lebih besar dan aman untuk melihat situasi.


"Harap tenang! Itu hanya es besar biasa!" Suara itu, Komandan Kiara, bicara di atas tumpukan es lancip. Seketika, beberapa pasukan sudah tenang kembali, menghembuskan napas yajgt halus sambil meraba dadanya...


Aku mengusap keringat di dahi. Pertama kali naik kapal lalu tenggelam, itu bukan sesuatu yang aku mau...


Azriel? Dia sudah pergi meninggalkanku, begitu saja. Dasar penakut!


"Fal! Kau terluka?!" Yuda yang masih mengaduh kesakitan mendekat, menatapku cemas.


"Tidak... kamu?"


"Harap tenang! Harap tenang! Jika ada yang terluka, kalian bisa mengangkat tangan tinggi-tinggi!" Komandan Kiara berseru lagi. Dia melambaikan tangannya kemana-mana.


...


Aku tidak terluka. Dan tidak ada satu pun orang yang mengangkat tangannya, benar-benar gila. Kurasa semua prajurit daerah selatan adalah orang-orang yang terkuat di Yuvia. Komandannya saja, gila, dia sangat kuat, perempuan pula.


"Baik. Ayo kita lanjutkan." BWUSH! Setelah kata-katanya selesai, kapal pesiar es kembali seperti semula. Ia bergerak maju, membelah ombak tanpa cacat dan lurus.


Yuda dan aku saling tatap. Syukurlah kita tidak terluka...


"Hahahaha. Iya. Kita hampir mati dua kali." Aku menimpali, ikut tergelak. Pasukan yang lainnya juga terbahak mendengar kita berdua. Siapa yang menduga, Yuda bisa membuat suasana menjadi lebih baik...


...***...


Di kejauhan sana, ditutupi oleh kabut tebal yang besar, aku bisa melihat Pulau Dua yang dikatakan Yuda tadi... bentuknya sungguh mengerikan. Banyak siluet runcing dan tajam, rupanya seperti kura-kura yang tempurungnya memuat balon lancip, aku tidak tahu cara menjelaskannya dengan benar, tapi intinya, Pulau Dua berisi banyak jarum raksasa yang mengarah ke atas. Aku termangu dan takut di saat yang sama saat melihatnya.


Beberapa orang di dekatku juga terkejut, beberapa juga sudah terbiasa melihatnya. Yuda di sampingku terkesima sambil terbatuk satu dua kali.


"Kamu sakit?" Tanyaku khawatir.


Yuda menggeleng, melambaikan tangan. Lalu kami melanjutkan tatapan pemandangan yang keren dan seram ini...


Komandan Kiara di atas sana juga waspada, tangannya memegang pedang cahaya.


"Sampah!" Satu orang berseru, otomatis seluruh kepala menghadapnya.


Astaga, dia lagi...

__ADS_1


"Kalian menganggap pemandangan ini keren? Ha?! Ini tidak ada apa-apanya dibanding Daerah Utara! Jangan lebay! Jangan berlebihan sampai segitunya melihat Pulau Dua!" Azriel sialan itu berteriak keras menyampaikan intinya, membuat semua orang terkejut dan keberatan.


"Kau merendahkan Daerah Selatan? Kami?" Salah satu prajurit menghampirinya. Badannya sangat besar, lebih besar daripada siapa pun. Juga lebih kekar dan tinggi dibanding Azriel.


"Iya. Memang kenyataannya kan? Ini hanyalah tempat kosong yang tidak pernah dirawat. Bodoh! Menurutku."


GREP! Lengan prajurit itu mencekik leher Azriel keras, mengangkatnya. "Aku tahu, kau dipanggil si Jago dari Daerah Utara. Tapi tingkahmu seperti si Bodoh dari Seluruh Dunia. Aku akan menghancurkan lehermu dalam setengah detik, kalau kau membuka mulut busukmu lagi."


Kakiku berkeringat, aku berjalan mundur sedikit demi sedikit.


Namun, biang kerok itu, tertawa lebar. Sambil tercekek, Azriel tergelak lepas dan sangat berisik berkali-kali. Matanya menutup namun mulutnya terbuka sampai bawah, tawanya mengalahkan suara apa pun di bumi ini.


"Kenapa kau tertawa?! Hah?! Mau mati sekarang?!" Prajurit besar itu bertanya lancang.


"Karena tidak ada siapa pun di alam semesta ini yang bisa mengalahkanku." SRET! BRUK!!! Setelah Azriel menjawab dengan sinis dan berat, dia mengambil lengan kekar prajurit itu, lantas membantingnya mengenai kapal es. Semuanya terjadi dalam satu detik, Azriel sudah menang mengunci musuhnya. Kami semua kaget menatapnya.


"Dengarkan aku! Aku, Azriel! Tidak takut pada siapa pun di sini! Jadi aku akan melakukan apa saja yang kumau! Kalau ada yang mengganggu, pasti akan kubalas dengan setimpal! Bahkan lebih!" Ujarnya dengan sombong. Musuhnya yang masih dikunci pergerakannya, berseru sakit.


"Cukup!" BRAK! Komandan Kiara turun mendarat. Dia berjalan mendekati pusat perhatian.


"Azriel. Aku tidak tahu siapa yang mengajarkanmu sifat sombong yang berlebihan ini. Tapi kuharap kau bisa menutup mulut sekarang juga. Atau-"


"Atau? Ha, atau? Hahahahahahha!" Orang gila itu malah memotong kata-kata Komandan, kembali tertawa. Azriel, ada apa denganmu?! Kamu tidak bertingkah seperti orang yang waras!


"Kiara Kiara Kiara... ingat duel kita waktu itu? Yang membuat aku dinobatkan sebagai 'Prajurit Kepercayaan'? Ah, tidak mungkin kau lupa. Itu pasti pengalaman yang mengejutkan dalam hidupmu." Azriel berkata dengan keras, menatapnya dengan arogan.


Duel Azriel melawan Komandan Kiara... Yuda pernah menceritakannya. Seorang prajurit akan dinobatkan menjadi tingkat yang lebih tinggi jika sudah melakukan seratus misi atau lebih, dan sebagai upacaranya, dia akan melawan salah satu komandan. Waktu itu Komandan Kiara yang dipilih sebagai lawannya.


Namun aku belum tahu siapa yang menang dalam pertempuran itu.


Komandan Kiara hanya menunduk, tidak membuka mulutnya lagi.


"Oh. Seandainya saja waktunya bukan lima menit, kau sudah mati sekarang-"


WOOSH! Salah satu pasukan mengacungkan pedangnya ke arah Azriel setelah mengatakan itu. "Berani sekali kau, meremehkan komandan kami."


BUK! Azriel memukul prajurit itu lincah, lantas tertawa lagi. "Dari semua orang, aku yang paling berhak merendahkan Komandan Kiara. Mau tahu beritanya? Plot twist dari duel legendaris itu?"


Kami semua hendak menyerang, tapi lihat saja, prajurit paling besar dikalahkan dengan mudah olehnya. Jangan lupa Komandan Kiara terlihat malu sekarang, yang tentunya belum pernah dia terlihat seperti itu, selalu saja tegas. Tapi kali ini ada yang berbeda.

__ADS_1


Apa yang terjadi waktu itu...?


__ADS_2