Harapan Seperti Malaikat

Harapan Seperti Malaikat
Tornado Bawah Laut?


__ADS_3

"Eh?!" Aku hampir tersandung menyebur lautan. Wajahku memerah dan terasa hangat.


"Sebenarnya belum tentu jatuh cinta, sih. Tapi kalau tidak ada hal lain yang bisa menjadi petunjuk, kemungkinan besar dia jatuh cinta padamu. Siapa namanya? Raphael? Ya, dia suka denganmu. Jadi seburuk apa pun sikapmu, Fal, pasti Raphael akan bertahan dengan itu." Firza dengan santainya berkata seperti itu. Astaga, bisakah dia tenang sedikit?! Dadaku terasa berat mendengar itu secara mendadak!


Dia hanya mengangkat bahu, lantas masuk ke dalam kapal, mengisi air minumku yang kosong dengan cepat.


Wah ... Raphael mencintaiku? Manusia sempurna itu? Ahahahaha ... aku ... aku tidak tahu cara mengatasi perasaan ini. Baiklah, tenang, tenang. Sekarang waktunya menjalankan misi. Soal asmara, itu bisa dibereskan nanti.


...***...


"Komandan! Kita akan mendekati Pulau Lima! Hanya beberapa meter lagi!"


"Bagus! Semuanya, bersiaplah! Kita akan merebut pusaka terakhir!"


Aku berbaris bersama yang lainnya. Kira-kira Pulau Lima akan seperti apa, ya?


"Fal." Suara itu, Yuda, dia memanggilku.


"Yuda."


"Terima kasih, atas segalanya ... kau benar-benar teman yang baik." Dia tersenyum. Menunduk dengan halus.


Aku menepuk bahunya. "Kamu sudah membantuku lebih dari jasaku kepadamu. Aku berhutang banyak."


Yuda tertawa. "Tidak. Kau tidak berhutang apa pun. Ayo, kita selesaikan misi ini dengan persiapan yang lebih baik dari pertama kali kita bertamu ke sini."


Aku mengepalkan tangan, tersenyum yakin. "Ya. Kita akan tunjukkan betapa hebatnya Pasukan Penjaga Kedamaian!"


Zrrrrrrrrr...


"Fey?" Komandan terdengar waspada.


"Gawat, Komandan! Frekuensi dorongan yang kuat tiba-tiba hadir! Entah dari mana lokasinya!" Seseorang dari dalam berucap tegas, menatap tampilan layar di depannya.


Langit perlahan menjadi gelap, awan yang tebal berkumpul, menjadi sumber penyebab kegelapan dari atas. Pemandangan di sini menjadi mengerikan dan membuatku tidak merasa enak.


Sesaat, sedetik setelah aku menghela napas, air laut persis di depan kapal mendadak berkumpul, seolah-oleh ombak di lautan sedang menginginkan sesuatu dari kita. Mereka membuat satu titik yang menjadi sumber tekanan kepada kapal pesiar, seperti black hole dalam lautan. Ini sangat mengerikan.


"Fey! Putarkan kapal 180 derajat!" Komandan berseru.


"Tidak bisa Komandan! Aku sudah mencoba semuanya! Tapi tidak bisa! Kita akan masuk ke dalam!"


Aku menelan ludah. Ini sangat parah! Baru saja kita bersemangat untuk mengakhiri misi, tapi ada musuh baru lagi yang tidak bisa dikalahkan.

__ADS_1


Kapal pesiar membelah, beberapa pasukan kacau tercebur ke dalam. Aku memegang erat geladak, mencoba tidak jatuh.


"Kakak!" Yuda berseru sambil melihat Azriel yang sudah lepas dari kapal, tubuhnya perlahan-lahan masuk ke dalam titik di laut itu.


"YUDA-" SRRT! Cepat sekali! Azriel tengelam ditarik olehnya!


"KAKAK!!!" Dia berseru keras!


SRET! Tangan Yuda yang satunya lepas, dia bertahan sekuat tenaga dengan lengan kirinya.


"Falisha ... maafkan aku ..." Yuda menatapku penuh, tangannya sudah bergetar karena tidak kuat.


"Tidak ... tidak! YUDA! JANGAN!"


Sret! Dia lepas dari geladak. Badan Yuda yang telah berusaha itu jatuh ke bawah lautan. Ke titik hitam yang mengeluarkan suara penuh teriakan.


Ombak semakin brutal, para pasukan yang jatuh berteriak histeris. Aku mengusap mata dengan pundak, Yuda dan Azriel sudah ...


"FALISHA!" Seseorang memanggilku, suara perempuan.


"KOMANDAN!!!"


"FALISHA! KITA HARUS JATUH!"


"Entah kenapa perasaanku mengatakan ini. Tapi kita harus ikut tersedot dalam titik itu!"


"Kita akan mati, Komandan!"


"Tidak! Kakakku dan Paman Zed sudah masuk tenggelam! Sisa kita berdua di kapal ini! Ayolah! Tidak ada pilihan lain!" Wajahnya sangat serius. Begitu yakin sampai rasanya aku akan melakukan apa pun yang dia mau.


Dengan napas yang berat, aku mengangguk padanya. Lantas, kita berdua melepaskan pegangan kita, jatuh pasrah dari kapal pesiar yang terbelah menuju tengah laut yang sedang marah menghisap apa pun yang dilihatnya.


Ini gawat, benar-benar gawat ...


...***...


"AAAAAAAAAAAAAHHHH!!!" Aku berseru pasrah seiring jatuhnya tubuhku menuju dasar lautan. Sumpah, tubuhku membeku karena takut. Kalau ada satu hal yang sangat kutakutkan dalam dunia ini, itu adalah menyebur ke tengah lautan. Dasar laut gila!


Terlihat juga tubuh-tubuh pasukan yang tenggelam tidak berdaya, mencoba berenang ke atas. Tapi lautan hanya menariknya kembali, semua orang secara pasrah harus tenggelam.


Aku mencari Yuda dan Azriel, mereka tidak ada di manapun. Begitu juga dengan Firza dan Komandan Kiara.


Napasku hampir habis ... di sini sangat gelap dan redup ... sebentar lagi ... hidupku akan ...

__ADS_1


SIIIIIIIIIING!!!


Detik terakhir sebelum napasku habis sepenuhnya, tiba-tiba ada cahaya yang menerangi lautan lepas. Bentuk lingkaran yang bersinar sendiri hadir tiba-tiba, kita berada di dalam lingkaran tersebut.


"Kalian semua tidak apa-apa?! Kalau iya, cobalah untuk mengangguk!" Seseorang berbicara. Suara itu, aku mengenalnya.


Saat aku melirik ke bawah, ada Zed yang sedang berkeliling sendirian. Dia memeriksa satu per satu pasukan dengan seksama. Bagaimana caranya dia melakukan itu? Bergerak luas di tengah lautan? Apakah itu termasuk kekuatannya?


"Dek Fal!" Dia berjalan, tapi ke atas, bergerak ke arahku.


Bedanya, tubuhku benar-benar tidak bisa digerakkan. Aku dan semua pasukan daerah selatan berada di dalam lingkaran berwarna ungu, tubuh kami sulit digerakkan, hanya Zed yang bisa bergerak secara bebas.


"Zed ..." Aku susah payah berbicara.


"Cobalah untuk bergerak, Falisha. Sedikit demi sedikit. Maaf, kekuatanku memang ... unik. Aku bisa menghentikan apa pun yang bisa terlihat, mau waktu, ruang, maupun lautan. Aku bisa menghilangkan semuanya untuk sementara." Zed berkata jantan. Aku mencoba untuk menggerakkan seluruh tubuhku secara hati-hati.


Para pasukan banyak yang sudah bergerak lancar. Sepertinya beberapa dari mereka terbiasa dengan kekuatan Zed, benar-benar hebat.


Aku masih belum menemukan teman-temanku, di mana mereka?


Akhirnya, aku bisa berdiri tegak. Setelah meregangkan badan, aku memutuskan untuk berjalan-jalan sejenak. Sungguh, ini sangat keren. Untuk naik, aku tinggal berlagak seperti berenang ke atas. Untuk turun, aku hanya menunduk sampai seluruh tubuhku menungging. Dan untuk maju, tinggal berjalan santai saja, kekuatan milik Zed benar-benar di luar dugaanku.


Wah. Dalam lingkaran putih milik Zed, aku bisa melihat lautan luas, tapi lebih terang daripada biasanya. Ini hampir sama dengan saat aku dan Firza berlindung di dalam tamengku yang berbentuk lingkaran untuk melesat kabur dari kumpulan gorilla. Bedanya, ini belasan kali lipat lebih besar.


Tapi, ada satu yang menarik perhatianku. Satu.


Di dasar sana, di bawah, ada semacam atap bangunan, sangat luas dan besar. Tubuhku sampai menunduk sempurna demi ingin tahu apa sebenarnya itu.


"Pulau Lima itu seperti apa, Zed?" Aku bertanya, masih menengok ke bawah.


"Pulau Lima? Itu adalah pulau yang sangat kecil. Tempat itu kita pakai untuk akses masuk ke markas, tidak begitu dipentingkan untuk warga kecil." Dia menjawab santai, sambil membantu beberapa orang lainnya.


"Eh!" Mulutku terbuka lebar, tanganku reflek menutupnya.


"Kenapa, Fal?"


"Zed, sepertinya aku tahu apa itu. Di bawah sana, atap itu melindungi apa. Mungkin aku benar, mungkin aku salah. Seandainya benar, maka ini akan menjadi titik akhir dalam misi kita."


"Apa maksudmu, Dek Fal?"


"Begini, Komandan Kiara bilang, rumor mengatakan bahwa ada lima pusaka, kan? Nah, dari semua pusaka yang kita kumpulkan, tidak ada yang tahu siapa dan bagaimana caranya dibuat, kan? Ini hanyalah teoriku, tapi fenomena di atas sana yang menarik kita tenggelam dan menghancurkan kapal pesiar itu disebabkan oleh empat pusaka aneh tersebut, seolah-olah mereka ingin kita tenggelam. Mereka ingin kita pergi ke sini. Dan di bawah sana ..."


"Di bawah sana ada apa? Atap apa itu?"

__ADS_1


Aku menelan ludah, sedikit gemetar. "Kuilnya. Kuil di tengah laut yang berisikan senjata paling mutakhir sedunia."


__ADS_2