Harapan Seperti Malaikat

Harapan Seperti Malaikat
Liam & Logan vs Pasukan Penjaga Kedamaian


__ADS_3

Ayahku dan Paman Logan datang secara mendadak ke kantor Leo ...


"Omni!" Yuda bersiap, cahaya biru muncul darinya menerangi seluruh ruangan.


Sret! Mordo merentangkan satu tangan ke depan, Logan menghindar dengan mencair dan Ayah menghilang, kecepatan Ayah mengalahkan semua orang di sini.


Cairan Paman Logan mengikat kaki Leo, Leo membakarnya dengan api dari pedang.


BUK! BUK! BUK! BUK! Ayah beradu pukulan dengan Mordo, mereka seimbang.


"Ayah-"


"Falisha! Mundur!" Raphael menarik tanganku.


Paman Logan mengembalikan tubuhnya. Dia menyerang Leo secara serentak. Paman Logan menyerang, Leo menghindar, lantas menyerang kembali dengan pedangnya. Percikan api terlihat berkali-kali, tapi tidak ada yang terluka.


"Hmph. Kau? Seorang Komandan? Yang benar saja." Ayah mendesis melawan Mordo.


BWUSH!!! BWUSH!!! BWUSH!!! Komandan Daerah Timur itu meleset setiap kali melukai Ayah. Aku masih belum tahu, apa kekuatan yang sebenarnya dimiliki Mordo.


"YUDA, AWAS!" Leo berteriak.


Paman Logan hampir mengikat kaki Yuda dan Jennifer, lalu Yuda mengunci pergerakannya. Cahaya biru kembali terang.


Paman Logan kembali ke tubuh manusianya, memukul tubuh Yuda agar dia bebas. Sekarang hendak menyerang Jennifer.


BUM! Raphael muncul di depannya, meledakkan sekitar agar Paman mundur.


BRAK!!! Ayah berhasil memojokkan Mordo, tubuhnya menghantam tembok.


"Sungguh memalukan betapa menderitanya kau mencoba mengalahkanku. Setelah sikap arogan yang kau letakkan kepada anakku." BUK! Ayah memukul wajah Mordo, suara retakkan terdengar.


"AYAH! HENTIKAN!"


"Falisha, mundur-"


BUM!!! Seperti yang dilakukannya kepada Raphael dan Yuda, Mordo mementalkan Ayah dengan sangat mudah. Sekarang tubuh Ayah menghantam meja sampai hancur.


Api biru melebar dimunculkan Leo, Paman Logan terpaksa mundur.


Aku ditarik kembali oleh Raphael. Mordo dan Leo berkumpul hendak melindungi kita. Leo membuat lingkaran api di ubin yang membataskan kita dengan dua omni tersebut.


"Mordo! Bawa kita pergi!" Dia berseru.


ZEP! Ayah mendadak muncul di belakang Mordo. "Tidak." BUK! Lantas memukul kepalanya keras, Mordo terjatuh.


"Ayah! Hentikan!" Aku berteriak.


Ayah memalingkan wajah. "Logan, bawa Falisha dan sahabatnya itu, tinggalkan yang lainnya."


"Baik, Kak." Logan yang berbentuk cairan hitam gercap mengikat tubuhku dan Raphael.


"HEI!" Kami keberatan.


"Tenang, aku tidak akan melukaimu-" DUAR! Raphael mengeluarkan gelembung ledakan yang membebaskan kita.


"PERGI KAU!" Cahaya biru semakin terang, Yuda mendorong Ayah dan Logan ke luar, menghancurkan tembok kantor.


"Puh, merepotkan saja." Ayah berkata sebal.


Dua Omni yang datang itu terkunci oleh Yuda, astaga, dia sangat pandai dalam menggunakan kekuatannya.

__ADS_1


Leo dan Raphael menjulurkan pedang ke arah mereka, Mordo berusaha berdiri, Jennifer di belakang mencoba menyembuhkannya. Aku jalan ke depan, mencoba berbicara.


"Ayah! Apa yang kamu lakukan?!" Tanyaku lantang.


"Aku ingin membebaskanmu dari mereka! Pasukan tidak bisa dipercaya!" Dia membalas.


"Tapi ... Leo membesarkanku selama delapan tahun! Dia-"


"Kau pikir kenapa dia mau merawatmu selama itu hah?! Supaya dia bisa memanfaatkanmu selamanya! Ide bahwa pasukan berada di sisimu itu membuatmu membela mereka mati-matian!" Ayah berteriak.


"Tidak. Aku merawat Falisha karena-"


"Karena kau gagal menjaga ibunya?! Hah?! Kau adalah dalang dibalik semua hal gila yang Falisha alami, Leonardo! Seandainya saja kau melupakan masa lalumu, dan melindungi kami, Falisha akan selamat dan menjalani hidupnya seperti remaja biasa!"


"DIAMMM!!!" BWUUUUSHH!!! Api biru muncul dari pedang Leo hendak membakar Ayah dan Paman Logan.


ZEP! Ayah bereaksi cepat, dia menghindar sambil membawa Paman.


"Mundur, Raphael!" Leo berseru.


"Tapi-"


"KUBILANG MUNDUR!!!"


Buk! Leo memukul kepala Raphael sampai jatuh.


"Pertarungan ini milikku ... akan kubuktikan bahwa aku bukan anak yang gagal!" Dia membentangkan pedangnya, waspada menunggu serangan selanjutnya.


Logan yang masih mencair dan Ayah sudah siap memberikan serangan pamungkas, serangan yang akan membunuh Komandan Pasukan Daerah Barat, Leo ...


"HENTIKAAAAAAAANNNNNN!!!"


...***...


Aku berteriak keras, masuk ke dalam telinga semua orang.


Aku lupa, sungguh aku terlupa. Aku adalah orang yang paling kuat di sini setelah serum yang disuntikkan dari Daerah Selatan.


Tanganku kubentangkan tinggi-tinggi ke arah atas, kemudian ... tameng yang begitu terang, begitu putih, dan begitu besarnya muncul menghancurkan bagian besar markas, tembus ke atas.


Tameng itu hanya satu, tapi sangat tebal sehingga serangan Leo kepada Ayah dan Logan dan sebaliknya bisa dihentikan.


Semua pasukan yang hadir di markas menatap kita daritadi, bingung apa yang terjadi. Tapi sisanya sudah bisa menyimpulkannya sendiri.


Aku menarik napas. "Jangan bertengkar ... kumohon ... aku sudah memaafkan kalian berdua. Leo, Ayah ... kehidupanku memang tidak baik. Tapi bukan berarti aku memiliki hidup yang hampa, tidak. Banyak pelajaran bermakna yang bisa kuambil dari hidupku ini, aku malah senang mengalami semuanya ... bahkan, di luar semua itu, aku sangat senang dan bersyukur melihat kalian berdua masih hidup dan bergerak, bernapas. Jadi ayolah ... jangan membuatku kehilangan orang-orang yang kusayangi lagi ... Ibuku, Isabella, tidak akan senang melihat semua ini ..."


...


"Putri ... kau tidak mengerti ..." Ayah membuka mulut, Leo menatapku penuh.


"Apa ...? Apa yang tidak aku mengerti, Ayah?"


"Alasan kami datang ke sini, alasan aku dan Logan ingin membawamu pergi adalah-"


"SUDAH CUKUP!"


Tiba-tiba, Mordo terpekik. Suaranya seakan-akan dia sangat membenci semua ini.


"Aku tidak sudi membuang-buang waktuku demi masalah keluarga yang sungguh bodoh! Omni, bersiaplah untuk menarik napas terakhirmu!" Mordo terbang!


Ayah ... Ayah dicekik olehnya! Kecepatan Mordo terbang lebih cepat dari Ayah?

__ADS_1


"Kakak!"


"Logan! Bawa Falisha dan Raphael pergi-"


BRAK!!!


Astaga, Mordo sambil terbang membanting Ayah ke tembok markas berkali-kali! Semuanya dilakukan sampai retak dan pecah!


"Mordo! Apa yang kau lakukan?!" Seru Leo.


"AYAH!!!" Keringatku memenuhi seluruh kepala. Ayahku dibanting ke sana kemari bertubi-tubi tanpa henti, tanpa ampun.


Kuda-kudaku semakin kuat, aku menjulurkan kedua tangan ke depan. Lalu, cahaya putih yang sangat terang muncul di hadapanku.


BRAK!!!


BRAKK!!!


BRAAKKK!!!


Hanya terdengar suara dentuman, dentuman dan dentuman. Juga keramik dan aspal yang hancur. Aku menutup mata, berharap yang terbaik akan terjadi.


"HENTIKAN, FALISHA!!!" Terdengar seruan orang yang amat kubenci, Mordo.


BUUUUUUUUUUUMMMMMM!!!


Tamengku ... menjulur ke atas, miring, menghancurkan hampir dua puluh persen markas, benar-benar menembus ke atas langit.


Mordo dan Ayah terlihat sedang jatuh, mereka terpental mengenai tamengku.


Yuda mengangkat tangannya, membuat dua orang itu mendarat dengan selamat.


"Astaga ... astaga!!!" Aku berlari-lari kecil ke arah Ayah, melewati tamengku yang seperti benteng tebal, benteng transparan putih yang bersinar memekakkan mata.


"Ayah, ayolah bangun ... bangunlah! Ayah!!!" Aku melakukan semuanya. Menepuk-nepuk pipinya, dadanya, segalanya. Tapi tidak ada kabar, dia pingsan. Wajah Ayah lebam di banyak tempat dan terluka parah, Mordo benar-benar menghajarnya dengan keras ...


Mordo, dia juga serupa. Tidak ada kabar. Napas mereka berdua terdengar, tapi tidak ada yang sadarkan diri ...


Cahaya terang dari langit masuk ke dalam markas, melalui lubang yang disebabkan olehku.


Napasku semakin berat ...


"Falisha, kau tidak apa-apa?" Raphael bertanya.


"Astaga! Ada apa ini?!" Terdengar suara penonton yang mulai bertambah. Ini menjadi semakin gawat.


"Fal ..." Akhirnya Ayah membuka mulut.


"Logan ... bawa dia dan sahabat laki-lakinya itu pergi ... pasukan tidak bisa dipercaya."


"Tapi ... kenapa, Ayah?! Kenapa aku tidak bisa mempercayai mereka?!" Aku membantunya berdiri perlahan. Sepertinya Ayah benar-benar ingin membawaku pergi dari markas.


Tapi ... kenapa?


"Jangan dengarkan dia ...!" Mordo hendak menyerang, tapi aku cepat membuat tameng tebal yang memisahkan kita dengannya.


"Falisha ... Jenderalmu menyerang Logan di saat Hari Pembantaian. Itulah mengapa kau menemukannya sekarat, untungnya monster kecil berhasil membawanya pergi, di saat kau masih membencinya. Itulah kenapa, dia tidak bisa dipercaya. Tidak ada yang bisa dipercaya." Aku menutup mulut mendengar kata-kata barusan.


"Jenderal Karlo ... menyerang Paman Logan ...? Tapi dia ... jadi ... dia ... dia sudah tahu akan keberadaan kalian? Tapi kenapa ... bagaimana ...?" Tanyaku cemas.


"Tidak tahu. Tapi pendapatku, dia sudah tahu semua hal tentang monster, Omni, dan yang lainnya. Aku ingin kau waspada akan hal itu, Nak. Dia berpura-pura bodoh selama ini ..."

__ADS_1


__ADS_2