
"Semuanya, bubar!" Komandan Kiara berseru lancang menghadap segala arah. Hanya belasan detik, seluruh pasukan yang ramai nan berisik itu menjauh dari kami.
"Baiklah. Ayo lanjut." Dia masih mengangkat Yuda dan Azriel dengan tangan kiri dan kanannya. Kuat sekali, sambil memimpin jalan. Aku mengikutinya dari belakang.
Sampai ke satu ruangan, sejuk, warna temboknya terang dan menenangkan. Wanginya kasturi enak, suara ribut pasukan di luar langsung hilang seketika, di sini tidak ada suara sama sekali.
Brak! Kedua remaja itu dijatuhkan.
Yuda mengusap darah di bibirnya, aku bergegas mendekatinya. Berjaga-jaga supaya tidak ada yang bertengkar lagi.
"Kenapa kau melindungiku, Fal? Minggir." Yuda dengan napas yang tersengal itu berkata, berdiri tegas di belakangku.
Aku menggelengkan kepala, menatap Azriel yang perlahan bangkit dari kulainya.
"Hmph. Kenapa kau menahan diri tadi, hah?" Ujarnya keras.
"Apa maksudmu?" Yuda heran.
"Sedikit lagi, pukulan kencang khasmu itu akan mengenai kepalaku. Belasan kali kita bertarung diam-diam, belasan kali kita baku hantam tidak diketahui pasukan, pukulanmu itu selalu menjadi kekhawatiranku karena sejatinya itulah amunisi terhebat milikmu. Dan tadi, saat itu hendak mengenai kepalaku, kau malah menahan diri. Kenapa?" Azriel marah menatap adiknya. Bukankah itu hal yang bagus?
Yuda tidak menjawab. Dia memegang bahuku "Lupakan dia, Fal. Jangan dengarkan satu pun kata dari mulutnya." Ucapnya pelan. Aku menatap wajahnya lamat-lamat.
"Baiklah." Tidak ada pilihan. Aku hanya mengangguk padanya. Menunggu Komandan Kiara yang sedang fokus mengambil sesuatu dari kotak besar di ujung ruangan.
"Berbaris." Komandan berseru lancang. Kami langsung mendekat satu sama lain, berdiri tegak membuat satu baris menyamping.
Dia memegang tabung kecil hitam dengan cahaya merah di tengahnya, berasal dari kotak itu. Dia menatapnya penuh keseriusan, tidak melepaskannya.
"Kalian tahu apa ini?" Benda itu bersinar semakin terang. Juga membuat bunyi nyaring kecil yang tidak berhenti.
BUUUM!!! Komandan Kiara dengan santai melemparkannya ke atas, cepat sekali tabung kecil itu membuat ledakan yang besar. Membuat abu dan debu mengepal, aku terbatuk-batuk mencoba bernapas dan melihat.
__ADS_1
"Apa itu tadi?!" Masih terbatuk, Yuda mengipaskan tangannya ke segala arah.
"Benda misterius. Kutemukan di pulau ketiga Daerah Selatan." Komandan Kiara bersedekap, tegas menjawab.
"Pulau ketiga?" Aku bingung. Akhirnya menarik napas panjang karena abunya sudah hilang sempurna.
"Kau belum tahu? Daerah Selatan bukanlah dataran tinggi, atau rendah seperti Daerah Barat. Melainkan lautan, dibagi menjadi lima pulau besar untuk penduduknya tinggal. Kebanyakan mata pencaharian di sana adalah nelayan."
"Astaga, kamu serius?" Aku yang terkejut malah berkata seperti itu. Komandan hanya mengangkat satu alisnya.
Daerah Darat lembah, Daerah Selatan laut? Mendengar itu saja semangatku sudah naik. Aku harus berkunjung ke sana suatu hari nanti. Jangan-jangan tujuan dari pertemuan ini adalah aku harus berkunjung ke Daerah Selatan?
"Benar. Dalam hati kalian pasti memikirkan 'Kenapa wanita galak ini membawa orang yang bukan pasukannya ke suatu ruangan? Pasti ada misi yang berkaitan dengannya.' Tepat sekali. Kebetulan saja setelah melihat data dan berkas kalian bertiga, aku punya ide pas untuk membawa kalian menuju suatu misi bersamaku." Komandan Kiara menjelaskan tenang seraya menutup kembali kotak di ujung ruangan.
Setelah kuamati, sepertinya ruangan ini lebih terlihat sebagai kantor. Ini kantornya Komandan Kiara? Sungguh kosong. Tidak ada apa-apa. Tanpa benda apa pun ternyata bisa membuat tenang...
"Cuih, buat apa aku menjalankan misi bersama dua orang ini? Bawa aku saja. Lebih berguna." Azriel menunjuk-nunjuk kami berdua sambil menyengir. Yuda hendak menyerang, kutahan bahunya kuat-kuat.
Sunyi, Azriel menatap ke bawah setelah melihat tatapan dingin Komandan. Bagaimanapun juga, dia harus menerima bahwa di ruangan ini, Komandan Kiara adalah orang yang paling kuat. Dia bisa mengalahkan kami bertiga dengan sekejap.
"Hmph." Yuda mendengus pelan.
"Aku ingin bertanya, Komandan." Tanganku terangkat.
"Ya."
"Bisakah misinya dijelaskan lebih rinci? Saya kurang mengerti. Dan kenapa aku dan Yuda harus ikut misi ini? Azriel adalah biang dari segala bencana itu." Ucapku perlahan. Aku tidak mau membuatnya marah karena pertanyaanku.
Dia menatapku sejenak, lantas menarik napas. "Bagus sekali. Akhirnya ada anak muda yang bisa berpikir rasional."
Sekilas, aku melihat Azriel yang mengunci pandangannya padaku. Awas kau, ******.
__ADS_1
Aku tidak menghiraukannya, menunggu penjelasan dari Komandan Kiara.
"Daerah Selatan." Ting! Dia menekan suatu tombol di jam lengannya. Hologram yang menunjukkan lima pulau di antara lautan luas. Masing-masing berciri khas yang berbeda.
"Daerah Selatan, berisi pulau satu, dua, tiga, sampai lima. Yuvia, negara kita, sejak dulu dibuat seperti itu. Dulu, leluhur-leluhur yang tinggal di sana ingin membuat sesuatu yang spesial. Masing-masing pulau dibuatkan pusaka yang bisa didapatkan dengan menyelesaikan tantangan tertentu. Kelima pusaka itu bisa membuka pintu khusus kuil rahasia di bawah laut, yang sebenarnya, katanya menyimpan senjata paling mutakhir di seluruh penjuru dunia. Setidaknya itu rumornya." Komandan menjelaskan dengan seksama.
"Lalu? Biarkan saja senjata itu diam di sana, jangan diambil. Pasukan Penjaga Kedamaian sudah punya banyak amunisi yang canggih, tidak perlu ditambah-tambah lagi." Azriel memotong, menggaruk kepala.
"Nah, itu dia konflik utamanya. Kalian ingat tabung kecil yang meledak tadi? Itu kudapatkan dari omni yang tiba-tiba muncul saat aku berpatroli."
Astaga! Ada omni?! Di Daerah Selatan? Secepat itukah mereka yang tersisa mengembara?
"Sayang sekali. Saat aku bertarung dengannya, setelah sedetik kesalahanku muncul, omni itu berhasil kabur. Terlihat bahwa dia sudah memegang dua pusaka yang entah berasal dari pulau mana. Jadi kita harus menghentikannya.
Jadi... hanya tiga pulau yang aman? Kalau begitu, kita harus cepat!
"Maka dari itu, aku butuh kalian. Pasukan yang handal."
"Tunggu, kenapa Raphael tidak ikut? Dia cukup berbakat dalam bertarung." Aku mengangkat tangan lagi, berusul.
"Raphael sedang menjalankan misi dengan Leonardo. Aku sudah meminta izin padanya, tapi dia menolak, dan bilang bahwa Falisha dan Yuda sudah berlebihan untukku."
Aku mengepalkan tangan. Omni misterius itu mendapatkan informasi tentang senjata paling mutakhir di seluruh penjuru dunia dan dia muncul untuk merebutnya!
"Heh, kalian pergi saja dari misi ini. Toh hanya akan menjadi beban." Azriel terkekeh.
BUK! Yuda lincah sekali, Sepersekian detik pukulannya sudah mengenai wajah Azriel.
"Terima kasih, Komandan." Yuda membungkuk, mengabaikan wajahku yang ingin menghentikannya, dan kakaknya yang sedang mengusap lebam di pipi.
Misi yang baru, benar-benar segar dan menarik. Kita akan pergi ke Daerah Selatan, bersama Komandan Kiara mengalahkan omni yang berbahaya. Melindungi kelima pusaka dan senjata yang paling maju di dunia!
__ADS_1