Harapan Seperti Malaikat

Harapan Seperti Malaikat
Kejutan!


__ADS_3

"Jadi ... semuanya hanyalah Diro yang mengendalikan mereka?" Komandan Kiara menyelidiki tubuh lima omni yang kami bawa, menyenderkannya di ujung tameng kotak.


Leo mengangguk di sampingnya. Komandan Yakza sedang menemani Jennifer bersama prajurit lainnya.


"Jadi ... kalian berdua adalah prajurit yang tersisa dari Daerah Barat ...?" Firza bertanya kepadaku dan Raphael. Aku hanya menunduk, tidak selera menjawabnya.


"Firza ... kenapa Brolia Diero bisa membohongi para polisi? Kenapa Pak Zed tidak tahu bahwa dia tidak pernah ditangkap, hanya menyamar sebagai 'Karlo' dan bebas begitu saja?" Aku bertanya cemas. Firza yang memberitahuku dalam cerita itu bahwa Diro ditangkap oleh "Karlo", tapi kenyataannya justru sangat berbeda.


Dia mengangkat bahu. "Mungkin karena kepintarannya memang di luar nalar, Falisha. Bagaimanapun juga dia tetaplah Diro, bocah yang membunuh jutaan nyawa sendirian ...".


Aku menghembuskan napas. Kalau begini, bagaimana caranya kita bisa mengalahkannya? Semua kemungkinan yang kita pikirkan pasti sudah dipertimbangkan oleh Diro, ini sangat membingungkan ...


Raphael murung. "Bagaimana ... bagaimana dengan Azriel?"


"Dari yang kutahu tentangnya, pasti dia bisa bertahan sendirian. Namun aku tidak yakin dengan Mordo dan Diro, seandainya saja mereka menyerang Azriel, kemungkinan dia menang hanyalah 20 dari 100." Firza menarik napas berat, berharap besar.


Tameng kotak terbang berisi ratusan orang melaju lincah ke depan. Kami sedang mencari tempat yang aman untuk berlindung. Kalau kita bermalam di tameng ini, saat aku jatuh tertidur pasti tamengnya hilang dan Diro bisa menyerang kita kapan saja ...


"Tidak ada tempat yang aman, Falisha ..." Komandan Yakza menghampiriku, Jennifer di sebelahnya cemas menatapku.


Aku menunduk. "Yah, sayang sekali ... lalu bagaimana, Komandan?"


"Kita akan membagi giliran berjaga. Kau tidak keberatan, kan?" Tanyanya halus.


"Tidak, Komandan." Aku menggeleng.


Komandan Kiara dan Leo mendekat.


"Bagus. Jam pertama, aku yang akan menjaga kita dengan kekuatan tanah milikku. Kemudian Komandan Kiara yang akan menggantikanku dengan esnya. Lalu api milik Leo, dan yang terakhir, kau yang akan menjaga kita, mengerti?" Dia menjelaskan dengan seksama.


"Aku bisa menjadi pelindung, biarkan saja Falisha berisitirahat sepenuhnya. Kekuatan omniku bisa diandalkan." Paman Logan memotong, merapihkan posisi topi fedoranya.


Komandan Yakza mengangguk. "Baiklah, kau akan berjaga di jam terakhir."


Aku bergegas mendaratkan tameng kotak ke bawah, ke lahan besar kosong entah di mana. Tapi sepertinya aman untuk beristirahat ...


Setelah sampai, semua komandan berjaga-jaga di sekitar sini. Lalu mereka memberi sinyal aman, kita bisa bermalam.


Swung! Tameng kotak hilang sepenuhnya. Langsung digantikan dengan tanah yang menaik tinggi menjulang ke dalam, membuat separuh lingkaran melindungi kita.


"Silahkan beristirahat. Besok, kita akan memikirkan tentang langkah selanjutnya."


"Komandan Leonardo, bagaimana dengan komandan lainnya yang masih di luar sana?" Satu prajurit bertanya.

__ADS_1


"Mereka tidak percaya kepada kita waktu itu. Daripada nyawa kita dikorbankan untuk orang yang tidak setia, lebih baik kita beristirahat tanpa memikirkan mereka di sini." Komandan Kiara dengan intonasi sebal menjawab. Prajurit tadi langsung mengangguk, duduk lemas dengan teman-temannya.


Raphael sudah tertidur, cepat sekali, dasar kerbau. Aku lebih memilih untuk duduk di dekat Ayah, dia-lah keluarga terdekatku sekarang.


"Eh, Putri?" Ucapnya dengan heran.


Aku menyenderkan kepalaku ke bahunya. "Ayah, aku sangat lelah ..."


Dia tertawa kecil, mengusap-usap rambut panjangku.


"Kau dan Raphael sudah jadian ya? Hahahaha ... aku lumayan bangga."


Mendengar itu wajahku memerah. "A-Ayah tahu dari mana?! Aku belum bilang!"


"Hei, sikap kalian itu bagaikan suami dan istri yang lelah terhadap anaknya. Tidak heran."


"Tapi ... Ayah merestuinya?'


"Tentu saja. Tidak harus bertanya untuk mengetahui jawabannya, Fal. Ingat, Paman Logan menjagamu, memata-mataimu secukupnya sampai ada waktu yang tepat untuknya melatih kekuatanmu. Dan selama itu, Raphael selalu saja melindungimu." Dia terkekeh lagi.


Aku menutup mata, hampir tertidur. "Syukurlah ..."


Ayah berdehem halus, kembali merangkulku dengan lengan kirinya.


"Ya?"


"Bagaimana kalau seandainya Ibu masih hidup ...? Apa reaksinya ya ...?" Tanyaku sebelum benar-benar tidak sadarkan diri.


"Empat kata, Fal."


"Huh?"


"Aku. Sangat. Bangga. Kepadamu."


Kita berdua tertawa, menatap bintang yang sedikit terlihat dari lubang tanah yang dikendalikan Komandan Yakza, sangat indah ...


Dua menit aku menyenderkan kepala, aku sudah tertidur pulas. Mempertahankan tameng kotak benar-benar menguras tenagaku ...


...***...


Cepat sekali rasanya ... tapi hari sudah mulai terang.


Aku membuka mataku perlahan-lahan, tubuhku sudah ditutup dengan daun yang tebal seperti selimut.

__ADS_1


"Di mana Ayah ...?" Aku menguap, meregangkan badan. Kebanyakan prajurit di sini sudah terbangun bercakap-cakap.


Woah ... cairan hitam benar-benar menutup kita semua, ada sedikit lubang yang disisakan untuk memasuki cahaya matahari dari atas. Paman Logan ... dia sehebat ini?


Raphael dan Jennifer bersampingan di sebelah sana tertidur seperti dua kucing yang bertengkar, aku tergelak sejenak menatap mereka.


...


Satu hari tanpa Yuda ...


"Kau sudah bangun?" Leo menghampiriku, membawakan apel dan ubi yang ... dibakar? Apa ini?


"Apa ini, Leo?" Ucapku bingung.


"Sarapanmu. Ayahmu mencari makanan di dekat sini dengan kekuatan kecepatannya. Semua prajurit yang terbangun sudah makan. Ayo, agar kau bertenaga untuk hari ini." Dia menawarkannya lebih dekat. Aku menerimanya, langsung memakannya.


Setelah habis, aku berdiri tegak. Lagi-lagi kuregangkan badanku agar segar.


Astaga ... tidak ada waktu untuk beristirahat. Musuh kita adalah Brolia Diero! Aku harus membangunkan Raphael dan Jennifer!


...***...


"Baiklah, semuanya sudah terbangun?" Komandan Kiara bersedekap, bertanya. "Siap! Sudah!"


Dia, Komandan Yakza dan Leo berdiri di depan. Di dekatnya juga ada Ayah dan Firza. Paman Logan masih dalam bentuk perlindungannya, cairan hitam, menutup kita semua.


Kita hendak berdiskusi tentang apa yang harus dilakukan sekarang.


Leo menarik napas tinggi-tinggi. "Baiklah, akan kurangkum apa saja yang telah terjadi beberapa waktu terakhir. Brolia Diero, yang menyamar sebagai 'Jenderal Besar Karlo' mencuci otak semua omni dan monster untuk melenyapkan manusia. Monster dan omni adalah hasil dari eksperimen tidak sengaja seorang ilmuan gila dan anaknya yang tidak mau mematikan mesinnya, atau, bisa dibilang, monster dan omni hanyalah hasil 'kecelakaan' yang tidak disengaja.


"Lalu, Komandan Mordosstafa atau Mordo, sudah membantai habis pasukan miliknya sendiri di Distrik Elia, bukti yang cukup untuk menunjukkan bahwa dia adalah musuh kita. Brolia Diero melepaskan delapan robot besar, sepertinya masing-masing untuk satu komandan, mereka terlalu kuat dan masih mengembara di luar sana.


"Kita mencurigai bahwa mesin atau sumber pencucian otak omni dan monster adalah dari mesin yang berada di puncak salah satu gedung di ujung Daerah Barat, mesin berbentuk setengah lingkaran. Kunci fakta itu untuk sekarang.


"Setelah ini, kita akan membagi menjadi beberapa tim. Pasukan Komandan Yakza dan Komandan Kiara dan Liam, omni yang bergerak cepat tadi, akan memburu para robot secara diam-diam dan menghancurkan mereka. Untuk Falisha, Jennifer, Raphael, Firza dan Logan akan mencari mesinnya, kekuatan kalian sudah cukup kuat. Namun berhati-hatilah, markas Brolia Diero berada di dekat sana, jadi kalau bisa, kembali-lah sebelum memulai pertengkaran. Mengerti?"


"Siap! Mengerti!"


Tiba-tiba ... perasaanku menjadi sangat tidak enak ...


"Atau! Kita bisa memulai pertengkarannya di sini!!!" BAM!!! BAM!!! BAM!!! Suara orang yang mengerikan, mengancam, menyeramkan dan menggelikan itu menggema di sekitar sini. Bersama dengan tiga ledakan besar yang menghancurkan perlindungan Paman Logan.


Zet! Kita bisa melihat dunia luar. Ada delapan robot besar itu mengelilingi kita, ditemani dengan jutaan monster, Mordo, dan di sampingnya yang memimpin mereka, wajah mengerikan, rambut berantakan, mata hitam malam, Brolia Diero, berdiri di sampingnya.

__ADS_1


"HA! HA! HA! HA! KEJUTAN!!!"


__ADS_2