
Suasana hening, semua pasukan bersiap, monster-monster medium juga berkumpul ke sekitar omni itu. Beberapa pasukan berusaha bangkit, berhasil. Beberapa gagal, kembali terkulai.
Leo di paling depan berdiri gagah, bersiap akan segala kemungkinan.
Krek! Krek! Omni itu meregangkan lehernya. "Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, sembilan?! Sepuluh?! Tiga belas?! Ada tiga belas barisan pasukan yang harus dibantai?! Aduh... padahal dia bilang akan lebih sedikit dari ini... aduuh gawat gawat gawat gawat!"
"Siapa yang menyuruhmu?! Siapa tuanmu?!" BWUSH! Leo bertanya lancang, pedangnya menyalakan api yang membara.
"Haaaah kalian ini merepotkan! Sudah membakar pakaianku! Banyak tanya pula!" ZRUNG! Pedang cahaya omni itu diputar, dia bergaya.
"Kraaahhh!" Monster-monster medium menyerang maju, omni itu menghilang.
BWUUUSH! Leo menyilangkan pedangnya, membuat api secara diagonal maju membakar belasan monster, mereka terpental.
ZRUNG! Omni itu muncul, beradu pedang dengan Leo.
SLASH! Aku tidak bisa melihat mereka, monster medium menyerangku daritadi!
"Kita harus membantunya, Fal!" Yuda menimpali, membasmi tiga musuh dihadapannya.
"Bagaimana caranya?" SLASH! Aku penasaran.
CRAT! Leo menusuk telapak tangan omni itu, membuat pedangnya jatuh. BUK! Omni memukulnya, Leo mundur tiga langkah.
CRAS! Aku memenggal monster di depan. "Yuda, Awas!"
JRAAASH! Yuda membelah tubuh banyak musuh sekali tebas.
"Falisha!" Raphael datang, berdiri di belakangku.
"Raf?!" Aku terkejut.
SLASH! "Kau tidak apa-apa?" Raphael bertanya.
ZUNG! "Ah... anak asuhnya, ya...?" Omni itu tiba-tiba muncul di depanku!
ZRUNG! Raphael menurunkan tubuhku, serangan Omni meleset.
CRAT! Yuda menusuk lengannya. "Aargh! Remaja sialan!" Omni itu menghilang lagi.
"JENNIFER!" Seruku khawatir, omni itu pasti ingin menyerangnya!
"Falisha!" SLASH! SLASH! Raphael hendak menghentikanku yang berlari menuju Jennifer.
Buk! Aku mendorongnya, ZRUNG! Serangannya meleset lagi.
WOOSH! WOOSH! BUK! Aku menyerangnya dua kali, meleset, lantas menendangnya menjauh.
__ADS_1
"Terima kasih!" Jennifer berkata.
Tubuh omni ditahan oleh Raphael dan Yuda, menahan kedua lengannya. Leo datang mendekat, mengacungkan pedangnya ke leher omni.
"Katakan, siapa tuanmu?" Wajah Leo mendekat, bertanya serius.
"Bintang keciiil, di laaangit yang biiiruuu~" Apa sih?! Omni malah menyanyi!
"JAWAB PERTANYAANKU!" BWUUSH! Pedang Leo bernyalakan api, wajahnya marah.
"Hei, lihat. Kupu-kupu!" Kepala omni menunjuk ke arah atas, benar saja ada kupu-kupu yang lewat. Tapi ini sangatlah menyebalkan!
BUK! "Jawab." Yuda memukul wajah omni dengan sikut, membuat lebam hebat di pipinya.
Kemudian, omni terkekeh. Menatap Leo serius, wajahnya mendekat.
"Kau merasa jagoan, ya. Tapi aku bisa melihat matamu, hmm... yah, yah, kau adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Kau adalah anak yang membuat peristiwa besar dan keluargamu jadi berantakan! Benar, kan? Benar kan?! Ah, pasti benar!" Omni tertawa lepas, memenuhi seluruh ruangan dengan tawa jeleknya.
"Apa maksudnya, Leo?" Aku bertanya heran.
Leo tidak menjawab, wajahnya menunduk.
"Aww, lihat, dia malu. Benar kan? Dia hanyalah beban keluarga di masa lalunya! Tidak kalah jelek dari para monster yang kalian lawan!" Omni itu melanjutkan, Leo masih terdiam.
Hening sejenak, suara pasukan yang memotong tubuh monster terdengar.
"Aaargh! Pedang apa ini?!" Omni berkomentar, BUK! Yuda memukulnya lagi.
"Siapa. Tuanmu." Yuda bertanya dingin, matanya 100% tertuju ke mata omni yang dia tahan.
SLASH! SLASH! Aku dan Jennifer membantu satu sama lain membantai monster yang hendak menyerang.
CRAS! Kupotong monster di belakang Jennfier, Jennifer memotong monster di sampingku.
"Yah, kalau kujawab sekarang, pertarungan ini menjadi tidak seru, kan? Dua anak ini juga menahanku erat daritadi, aku seperti membeku." Omni menunjuk Raphael dan Yuda, keberatan.
"Tapi, hei, aku lebih kuat dari kelihatannya lho." BUKK! Kedua lengan omni memukul kepala Raphael dan Yuda sampai jatuh. Dia menghilang lagi.
BWUUUUSHHH! Leo menyilangkan pedangnya, membuat api yang melesat ke depan, baju omni terbakar, dia terlihat lagi.
"Kalian tidak apa-apa?" Leo bertanya.
"Ya..." Raphael menjawab, mengusap darah dari bibir. Yuda mengangguk.
"Serahkan omni ini padaku, kalian bantu pasukan lain melawan--eh..." Leo yang menjulurkan pedangnya ke arah Omni Menghilang, tiba-tiba terdiam, lagaknya seperti... dia merasakan sesuatu...
"Kenapa, Leo?" Tanya Jennifer heran.
__ADS_1
"Hei! Kenapa kau membeku?" Omni Menghilang berseru, terkekeh.
"Gawat..." Leo terdengar sebal.
"Hei! Jelaskan! Ada apa?" Giliranku bertanya.
BUK! BUK! BUK! BUK! Terdengar suara langkah kaki yang mendekat dari lantai dua, Omni Menghilang yang sedang mengibaskan pakaiannya tertawa, bersiap dengan pedangnya.
"Ada omni lagi, dia berbahaya." Leo berkata kecil, waspada ke segala arah. Kami mengikutinya.
Namun, dari tangga menuju lantai dua, turun satu orang. Seorang Ibu tua, tubuhnya tinggi dan badannya gemuk, rambutnya berantakan, dia memakai baju dan celana layaknya Guru biasa.
"Siapa dia...?" Tanyaku heran.
Perempuan itu mengangkat tangannya tinggi-tinggi, BUUUMMMM!!! Dia memukul udara ke atas, namun atap bangunan ini roboh, berlubang, Bagian-bagiannya terbang ke mana-mana, cahaya matahari mulai menyinari kami.
"Astaga!" Jennifer terkejut, menutup wajahnya dengan sikut, mencoba menghindari debu-debu yang beterbangan.
Lalu perempuan itu mendekat ke arah Omni Menghilang, menatap semua pasukan, tersenyum sombong.
"Kalian sangat bodoh, sungguh bodoh kalau mengira bahwa aku menjaga sarang ini sendirian." Omni Menghilang tergelak, menepuk bahu perempuan di sampingnya itu.
"Apa-apaan pukulannya tadi?" Aku sedikit bergetar, bimbang.
"Kalau begini, kita tidak bisa menang, Leo." Yuda berkata, tubuhnya tetap rileks.
"...tidak. Kita bisa." Leo menatap kami semua, yakin.
Hening sebentar, pasukan lain masih sibuk membantai monster medium.
"Serahkan kedua omni itu padaku. Kalian tetap bantu yang lain membantai monster lainnya." Leo melanjutkan, menjulurkan pedangnya. BWUSH! Api biru membara di pedangnya, wajahnya sangat yakin.
Tidak, aku tidak ingin meninggalkan Leo sendirian menghadapi dua makhluk mengerikan itu. Dia mengasuhku, sejak kecil memberiku makan dengan sabar, mengajakku jalan-jalan. Dia sudah seperti Paman bagiku, Paman terbaik di seluruh dunia.
"Aku ikut denganmu." Aku menimpali, berdiri di sampingnya.
"Bodoh! Aku bisa sendirian!" Leo berkata.
"Tidak! Leo! Aku ikut! Kamu sudah membesarkanku! Jadi jangan pernah merasa bersalah saat mendapatkan bantuan dariku! Aku sudi mati karenamu, Leo!" Aku teriak padanya, berkata seisi hatiku.
Leo menatapku tajam, belum ada jawaban darinya.
"Baiklah... aku juga ikut." Yuda menimpali.
"Aku juga, aku harus melindungi Falisha, sebagai fans terberatnya." Jennifer mengikuti.
"Biarlah pasukan-pasukan yang malas itu membantai monster medium. Aku di sini untuk bersenang-senang, aku akan membantumu." Raphael berbicara, kami semua berdiri serempak, menatap dua omni yang tertawa menghadap kami. Meremehkan kami.
__ADS_1
Leo masih diam, tapi akhirnya, dia membuka mulut, "Hahahaha, baiklah. Ayo kita tunjukkan siapa kita sebenarnya."