Harapan Seperti Malaikat

Harapan Seperti Malaikat
Kiara


__ADS_3

BRUK!!!


Yuda menyelamatkanku yang hampir tertimpa runtuhan atap besar.


"Terima kasih!"


BUM! BUM! BUM! Tanah merekah hebat, ruangan bergetar tanpa ampun. Aku benar-benar takut. Ini lebih menakutkan dibanding Hari Pembantaian ...


Azriel membuka mulutnya lebar-lebar, menarik napas tinggi-tinggi.


"Apa yang dia lakukan?!" Aku berteriak bingung. Yuda dan Zed tidak menjawab, tidak ada yang tahu.


"KELUARGA!!!" Lantas, satu kata itu keluar darinya. Kata yang tidak bisa diduga oleh orang-orang. Kata yang tidak mungkin-- keluar dari mulut orang yang menantang adiknya bertarung berkali-kali. Kata yang berasal dari mulut orang yang menusukku saat hendak bertarung. Dari orang yang ingin membunuh adiknya saat dia meminta kedamaian. Dari orang yang membenci adiknya seumur hidupnya. Dari orang yang terlihat selalu marah terhadap sesuatu. Azriel, dalang dibalik kehadiranku dan Yuda dalam misi ini, menyebut kata itu. "Keluarga".


Keluarga, tidak dapat dipisahkan bahkan dengan kekuatan paling mutakhir sedunia. Keluarga, walaupun terlihat dalam kondisi terburuknya, pasti bisa diperbaiki dan kembali menjadi kondisi yang terbaik, bahkan lebih baik daripada sebelumnya. Keluarga, hubungan tiada banding yang tidak akan bisa dihancurkan ... itulah jawabannya.


Ruangan ini perlahan-lahan mulai stabil. Sedikit-sedikit runtuhan atap mulai habis, tidak lagi berjatuhan. Tanah yang merekah juga perlahan mulai berhenti. Ini sudah berakhir, tantangan kedua sudah selesai ...


...***...


Semua orang menarik napas perlahan. Akhirnya, bencana alam yang mendadak terjadi, sudah tidak lagi hadir. Kami semua duduk lelah. Azriel di sana mengusap dahinya, melihat tulisan "SELAMAT! ANDA BERHASIL!" di layar depan wajahnya, menandakan bahwa tantangan kedua sudah resmi selesai.


Satu lagi tantangannya, lalu pusaka ketiga akan menjadi milik kita. Sisa dua pusaka lagi yang harus ditemukan untuk membuka kuil di bawah laut menuju senjata yang paling mutakhir sedunia.


"Hidup Azriel!!! Yeaahhh!!!" Lagi-lagi suara kebahagiaan menimpa telingaku. Aku ragu, haruskah aku ikut bersorak? Yuda di sampingku menunduk sendirian. Aku menepuk bahunya.


"Biarkan dia menerima kebahagiaan, Fal. Aku tidak tahu harus apa. Tapi lebih baik, aku tidak ikut campur urusannya lagi. Nanti kau yang kena batunya, diserang oleh Kakak lagi. Jadi aku menetap saja di sini." Ucapnya pasrah. Astaga, haruskah kuberitahu? Bahwa Azriel menyelamatkanku kerenanya? Azriel tidak jahat dan dia mengkhawatirkannya?


...


"Hore!!!" Kali ini mereka mengangkat Azriel tinggi-tinggi, mendukungnya seperti selebriti yang lewat di tengah lorong.


Aku mengangguk saja, menunggu mereka. Zed juga menetap, menunggu mereka dengan santai.


"Dia kakakmu?" Zed bertanya pada Yuda.

__ADS_1


"Iya."


"Wah, dari wajah kalian, sepertinya sesuatu tidak berjalan dengan baik."


Yuda mengangguk malas. Aku menatapnya kasihan.


Suasana hening- eh, tidak hening, suara hanya muncul dari mereka yang masih bersorak pada Azriel.


"Kalian tahu siapa Firza? Yang dikatakan Omni Api tadi?" Zed bertanya pada kami. Aku dan Yuda menggeleng heran.


"Dia kakaknya Komandan Kiara, Omni Peledak itu, mereka berkeluarga."


Deg! Mendengar itu, jantungku berdetak kencang. Yuda melotot, napasnya menjadi sedikit lebih berat ...


Bagaimana bisa?! Omni Peledak itu kakaknya?!


Kepala Zed menunduk perlahan, bersiap mengatakan sesuatu yang berat.


"Aku adalah sahabat dari ayah mereka, Diego. Bahkan, saat istri Diego hendak melahirkan Firza dan Kiara, akulah yang membantunya mencari nama, hahaha. Komandan Pasukan Daerah Selatan dan Omni Peledak yang sedang bertarung di luar kastil ini, dulu pernah bermain kejar-kejaran bersama saat mereka masih setinggi lututku. Mungil sekali." Zed terkekeh. Tapi wajahnya berkata hal lain, dia sedang berduka, sedih, tidak terima.


Zed menarik napas berat.


"Sekitar sepuluh tahun yang lalu, siang hari, di taman rumahnya, Kiara dan Firza sedang bermain permainan papan monopoli. Aku dan orang tua mereka sedang berkumpul, sebagai tetangga lama.


"Diego sedang duduk santai, meminum kopi hangat bersamaku. Istrinya yang cantik, Lia, sedang memanggang daging di mesin pembakar.


"'Zed, bagaimana kabar anakmu?' Diego bertanya, alisnya separuh terangkat.


"'Berisik, mentang-mentang sudah tidak perjaka.' Jawabku lurus, menyedu kopi milikku dengan halus. Diego tertawa terbahak-bahak melihat wajahku yang malas.


"'Yeah!!! Miskin deh kau!' Firza berseru senang, di papannya, uang sekitar seribu dollar berkumpul di depannya. Sedangkan Kiara, uangnya sudah habis. Mereka berdua tertawa senang, lucu dan sangat menggemaskan.


"'Hei! Sosis dan daging sudah siap!!!' Lia datang membawa nampan, dengan senyuman khasnya dia menghidangkannya dengan profesional. Otomatis, anak-anak mungil itu datang mendekat, bersiap menyantap.


"'Cuci tangan dulu sana.' Lia mengusap kepala anaknya. Keduanya langsung pergi ke wastafel, sedikit berebut mencuci tangannya.

__ADS_1


"'Diego, anak-anakmu itu, mereka sangat lucu.' Aku berkata gemas. Namun, wajah sahabatku itu berkata hal lain, mukanya khawatir.


"'Hei, ada apa?' Aku mulai cemas.


"'Zed. Kiara dan Firza, mereka ... memiliki bakat yang sangat hebat. Aku hanya takut terjadi sesuatu pada mereka ...' Ucapnya sambil berguncang. Diego memang seperti itu, dia panikan, dan gampang cemas ...


"Aku menepuk bahunya, mencoba menenangkan. 'Tenang saja, mereka bisa menjaga dirinya sendiri.'


"Setelah beberapa detik menunduk, Diego tersenyum 'Terima kasih'.


"'Kiara, lihat dong.' Firza menepuk-nepuk sosis miliknya, sampai pada akhirnya, ia terbelah. Kiara tertawa melihat. 'Hebat, Kak!'


"Mereka berdua bermain-main dengan makanannya. Sampai Lia memarahinya berkali-kali, namun mereka tidak akan berhenti. Firza akan mengerjai Kiara berkali-kali, Kiara akan membalasnya. Firza mendorong Kiara sampai jatuh, Kiara akan mencuri makanannya tanpa mengaku. Berjuta-juta kali mereka terluka atau terlihat seperti bermusuhan, pasti akan selalu bersatu pada akhirnya. Tidak ada yang bisa memisahkannya. Jangan lupa, Firza dan Kiara berusia enam belas tahun dan dua belas tahun, mereka melatih, mendukung, dan pastinya menyayangi satu sama lain, selalu seperti itu." Zed menjelaskan dengan lemas, sambil mengusap mata kirinya dengan telunjuknya.


Suara sorakan perlahan-lahan bubar. Azriel sudah diletakkan kembali ke bawah.


"Lalu ... apa yang terjadi?" Tanyaku penasaran. Pasti hal yang selanjutnya bukan sesuatu yang enak untuk didengar ...


Zed menatapku dan Yuda berduka, dia menarik napas berat. "Sama seperti kalian. Itu terjadi pada mereka. Monster."


"Di hari yang sama, saat Lia dan Diego sedang mencuci piring, aku sedang melihat kedua anak itu bercanda tawa.


"'Hahahaha! Hyat!' Mereka sedang berlatih membela dirinya. Firza menendang Kiara namun ditahan, Kiara memukul Firza, namun ditahan lagi. Sudah berkali-kali mereka melakukan hal ini di waktu luang.'


"Namun, sungguh disayangkan. Ada monster yang melata dengan cepat membunuh Lia. Saat itu aku belum menjadi seorang pasukan, jadi kita semua sangat lengah.


"'Lia ...? LIA?! ASTAGA! ASTAGA!!!' Seruan Diego mengalahkan apa pun, kami semua otomatis berkumpul. Lia sudah berbaring, Diego menangis hebat. Firza dan Kiara melotot sempurna menatapnya.


"Namun, monster kecil itu tidak mengenal ampun. Dia tidak mau memberi celah, dia langsung menusuk kepala Diego dengan lincah.


"'AYAH!!!' Kedua anak itu terkejut. Hanya soal waktu, monster-monster lainnya sudah berkumpul di tengah taman. Mereka menunggu momentum untuk memakan kita semua.


"Kaki Firza dililit keras, lantas mereka menariknya.


"'KAKAK!!!' Kiara berteriak kencang, menangis, memukul-mukul punggungku, aku dengan cepat membawanya pergi. Aku tidak mau meninggalkan Firza, tapi aku tidak bisa membiarkan Kiara dimakan oleh monster. Jadi dengan paksaan yang sungguh menyebalkan, aku harus meninggalkan Firza sendirian, di taman, dibawa oleh monster-monster hitam yang seram, berisik dan mengganggu seluruh momen bahagia ini. Telat sedetik saja, aku dan Kiara sudah habis dimakan oleh monster. Kami berdua berhasil keluar lewat pintu depan, menghadapi warga-warga yang teriak panik, dan singkat cerita, salah satu prajurit markas menemukan kita. Dan yah, sama seperti kalian. Kami dijadikan prajurit oleh mereka."

__ADS_1


__ADS_2