Harapan Seperti Malaikat

Harapan Seperti Malaikat
Tempat Misterius


__ADS_3

"Falishaaa! Raphaeeel!" Suara Jennifer tiba-tiba datang dari gang kecil tadi, aku dan Raphael menghadap ke arahnya.


"Maaf, aku terlambat." Dia menaiki sepeda ungunya menuju ke sini, lantas turun, mengusap keringat di dahinya.


"Pfft..." Aku sudah tidak kuat.


"Fal, jangan." Raphael tahu kenapa aku menahan tawa.


"Jennifer..."


"Jangan!" Dia menutup mulutku dengan tangannya, aku mencoba melawan. Jennifer menatap kami bingung.


"Hei, kalian kenapa?" Dia memiringkan kepala, melihat dua dia orang yang bertengkar sendiri.


Astaga... Raphael terlalu kuat, aku tidak bisa melepaskannya.


"Bklh! Bklh!" Susah payah aku ingin berkata "baiklah", tapi akhirnya dia mengalah, mulutku bebas.


Aku menarik napas perlahan...


"Lihat, kalian dilirik belasan warga yang mengantri." Jennifer menunjuk ke arah kiri, di pinggir jalan, orang-orang yang membawa tas, beberapa pasang keluarga, menatap kami heran.


"Tidak ada apa-apa di sini!" Raphael melambaikan tangannya, berseru.


Aku hendak memberitahu Jennfier bahwa Raphael setelah kepercayaan dirinya itu, dia tiba-tiba menabrak seseorang... hahahahaha...


"Hmm... ya sudah, ayo kita berangkat." Jennifer menaiki sepeda ungunya, Raphael dan aku juga menaiki sepeda kuning.


"Ingat, kamu tidak ingin kejadian tadi terulang lagi, kan?" Aku sengaja bergurau, berdiri di bagian belakang sepedanya.


"Argh... jangan diungkit..." Wajah Raphael memerah, lalu dia mulai menggoes sepedanya, diikuti dengan Jennifer di belakang.


Kita akan menuju sekolah, lalu ke tempat misterius itu. Apa yang mereka sembunyikan di sana sampai ditandai begitu?


***


"Eh, sebentar." Raphael menghentikan sepedanya, kami persis berada di depan pagar sekolah. Di sini sudah kelam, pagar sekolah dengan tinggi tiga meter itu ditutup. Sepi, jalanan di depannya tidak ada siapa-siapa, toko-toko tutup.


"Kenapa, Raf?" Aku bertanya, turun dari sepedanya, Raphael memeriksa saku dan mengeluarkan kertas berisi peta itu.


"Fal... Jenn... aku salah, bukan sebelah timur dari sekolah, tapi tenggara, di dekat rumah ini." Raphael menunjuk suatu rumah berwarna krem, terletak di dekat gang besar.


"Astaga! Itu rumah lamaku!" Pantas saja aku merasa bentuknya sangat familiar... rumah pagar hitam terletak di samping gang besar itu tempat tinggalku dulu...


"Rumah lamamu?" Jennifer mendekat, penasaran.


"Iya! Persis sekali!" Aku menjawab antusias.


"Hmm... tidak jauh dengan rumah barumu, ya. Hanya empat kilometer. Raphael mengusap dagu, berpikir.

__ADS_1


"Oke, ayo lanjut." Dia memasukkan peta itu, menaiki sepedanya, Jennifer juga demikian.


Teringat lagi...


Haruskah aku ikut? Haruskah aku merasakan hal yang sama lagi? Kalau aku mendekat ke rumah lama, Raphael dan Jennifer akan dibunuh monster, dan aku kabur lalu pingsan saat berlari...


Itu akan terjadi lagi...? Orang-orang yang aku sayangi dibunuh lagi? Kegagalanku sebagai manusia, itu akan muncul lagi?


"Fal." Raphael menepuk bahuku.


"Kalau ada sesuatu, ceritalah... aku memang pernah tertawa hari itu saat mendengar penjelasanmu tentang teori Omni, tapi kalau kau menjelaskannya dengan lengkap tentang apa pun masalahmu, aku akan melakukan yang terbaik untuk membuatmu bahagia kembali." Wajahnya mendekat, sepertinya aku melamun lagi...


"Iya, kami adalah temanmu, Falisha. Pasti usaha apa pun akan kami lakukan untuk membantumu." Jennifer datang menimpali.


...


"Terima kasih, aku hanya teringat akan sesuatu. Itu saja." Aku menjelaskan singkat, lantas Raphael memiringkan sepeda, aku menaikinya. Jennifer juga mendompleng sepedanya, bersiap menggoes.


Kemudian, kami melanjutkan perjalanan, sedikit berbelok melewati jalanan yang lebih kecil daripada yang di depan rumah baruku.


Astaga... suasana lebih gelap daripada biasanya, kuharap konflik ini segera berakhir. Barisan umah-rumah yang tidak dihuni menjadi lebih gelap karena sumber cahaya hanya berasal dari lampu jalanan.


...


Aku melihat Raphael dan Jennifer yang sedang fokus membawa sepedanya.


"Raf, kamu tidak lelah?" Aku bertanya, takut mereka keberatan.


"Yeeh, aku serius."


"Hahahaha, tenang saja. Ini tidak ada apa-apanya dibanding latihan yang diberi Leo dulu." Raphael menjawab. Benar juga... dulu kami disuruh sit up, push up, pull up, dan up up lainnya yang belum pernah kami dengar. Juga latihan mengayun pedang, bisa ratusan kali per hari.


"Baiklah. Kalau lelah, bilang saja." Aku menimpali.


"Hahahaha, kalian lucu kalau bersama. Bagaimana kalau jadian saja?" Jennifer bertanya.


"Hmph, mana mau!" Aku dan Raphael berkata serempak.


"Falisha itu galak, Jenn... lebih galak dari penjaga kantin."


"Raphael itu menyebalkan, candaannya itu terkadang hanya dia saja yang menganggapnya lucu."


"Hei, Fal, kau saja yang kurang humoris!"


"Lawakanmu juga yang kadang aneh!"


Aku dan Raphael bertukar pikiran, Jennifer hanya terbahak.


"Yah, tapi... dibalik semua itu, seumur hidupku dan tugas-tugasku sebagai Ketua OSIS, aku tidak pernah melihat hubungan seperti kalian berdua. Benar-benar cocok, deh." Jennifer terkekeh.

__ADS_1


"Ha, seandainya Falisha tidak buas, hubungan kami akan lebih baik. Bahkan bisa menguasai dunia."


"Menguasai dunia apanya kalau yang punya rencana malah bercanda terus?"


"Eh, semua orang butuh hiburan! Bahkan hewan!"


Kami melanjutkan perdebatan, Jennifer lagi-lagi tertawa mendengarkan kami.


***


"Baiklah... ini dia..." Raphael menghembuskan napas, memiringkan sepedanya, aku turun.


"Woah..." Aku termangu, di depan kami, pinggir jalan, ada rumah kecil, dua puluh kali tiga puluh meter, satu lantai, separuh rumah itu ada benda-benda lengket berwarna hitam yang menyebar kemana-mana.


"Ugh... menjijikkan..." Jennifer cicik saat melihatnya.


"Hmph, menurutmu ini apa? Darah monster?" Raphael menunjuk ke arah benda likat hitam yang berhamburan ke mana-mana itu.


"Sepertinya iya... setelah melihat darah Arkane dulu, mungkin itu memang darah monster." Jennifer menjawab.


Benar juga, darah Arkane itu hitam dan lekat, menjijikkan...


Berarti... ada seseorang yang melawan monster di sini? Siapa dia? Apakah dia selamat?


"Ingat apa yang selalu dikatakan Leo, jangan berlebihan." Aku mengeluarkan pedang cahaya, ZRUNG! Menyalakannya, bersiap bertarung, berjalan perlahan mendekati pintu.


"Tentu saja. Aku tidak mau mati di tempat ini, tidak keren." Raphael menimpali, mengeluarkan pedangnya juga, ikut menghampiri.


Jennifer berhati-hati, fokus menentang.


Sudah di depan pintu, pintu kayu berwarna coklat, tingginya hampir sama denganku.


"Baik... ini dia..." Kreeeeek... kubuka pintunya perlahan.


Di dalam, gelap sekali, ada TV mati yang terletak di ujung tengah, lemari tinggi di samping kiri, dan pintu menuju suatu ruangan di sebelah kanan. Dengan meja makan persis di pusat ruang tamu ini.


"Terus waspada... sekarang mungkin kosong, tapi kemudian bisa saja ada seribu mayat yang berkumpul."


"Ssh... bukan saatnya untuk candaan seperti itu, Raf!" Jennifer hendak menjewer telinga Raphael, aku masih waspada memasuki rumah itu.


Kulihat saklar di samping lemari, Krak! Menyalakannya.


Wow... temboknya menggunakan wallpaper bergaris hitam putih, walaupun ada banyak sobekan dan kerusakan, setidaknya ini terlihat lebih elok... dan juga semua barang-barang tadi ternyata berdebu, tidak layak tinggal.


"Boleh juga..." Aku berkomentar, mulai masuk lebih dalam. Raphael maju tidak peduli masuk ke dalam, menatap sekitar.


"Umm... Fal... Raf..." Jennifer memanggil kami berdua yang masih menatap sekitar, kepalanya menghadap ke atas. Kami berdua bingung, apa yang dia lihat? Fokus sekali...


"Ada apa, Jenn?"

__ADS_1


"I... itu..." Aku menghadap atap rumah, ya tuhan... ini... apa ini...


Ratusan... ratusan monster kecil... sedang menggantung di atap, lengan dan kakinya menempel satu sama lain, bersiap untuk turun...


__ADS_2