Harapan Seperti Malaikat

Harapan Seperti Malaikat
Halangan yang Tidak Terduga


__ADS_3

Setelah penjelasan singkat dari Komandan Kiara. Aku, Yuda dan Azriel diberi waktu satu malam persiapan.


Syukurlah... sebentar lagi aku bisa melihat bagaimana rupanya Daerah Selatan.


Sungguh beruntung aku pergi dengan Yuda, bayangkan saja kalau misi ini hanya berisi aku, Azriel dan Komandan Kiara. Ugh, pasti garing. Komandan itu tidak seseru Leo, atau sebaik Komandan Yakza.


Sebenarnya tidak ada hal apa pun yang harus kulakukan atau persiapkan. Setelah pulang dari markas, menonton acara televisi sebentar, aku langsung tidur malam dengan nyenyak.


...***...


Keesokan harinya, pukul tujuh pagi hari. Aku dan Yuda sedang berjalan di Distrik Elia, di tengah-tengah bangunan mewah. Cuacanya masih dingin dan sejuk. Terkadang kami bercanda, tertawa, dan membicarakan tentang markas. Juga pengalaman menjadi seorang prajurit selama bertahun-tahun.


"Astaga! Total 56 misi?! Itu gila! Yuda, kamu hebat!" Aku terkesima, menepuk bahunya.


"Terima kasih, Fal. Bagaimana denganmu? Berapa jumlah misi yang sudah kau kerjakan?"


"Hmm... antara 23, atau 22, tapi tidak 56! Tidak kusangka kamu sejago itu! Kapan-kapan ajarkan aku caranya menjadi prajurit yang handal, ya!"


Kami berdua tertawa di tengah-tengah tempat canggih yang sepi. Aku benar-benar merindukan suasana ramai di sini.


Di situlah, pusat dari daerah ini. Lingkaran besar yang ditutup batu-batu raksasa dengan sedikit celah sebagai pintu masuk terlihat. Langsung saja aku masuk ke dalam. Sangat luas, bisa memuat satu kota di sini.


Alat teleportasinya sudah diatur oleh markas, tinggal menunggu saja beberapa detik agar kami sampai di tempat spesial. Pastinya akan langsung bertemu dengan Komandan Kiara.


Bisa dibilang, ini adalah trip ke Daerah Selatan. Mendengarnya saja semangatku semakin membara ingin segera sampai. Semoga tidak mengecewakan.


"Kamu siap?" Aku bertanya pada Yuda di sampingku. Dibalas anggukan yakin, tekad yang kuat.


Baiklah, ayo kita pergi!


...


Eh?


Cahaya terang harusnya muncul sekarang, dan memindahkan kami ke tempat tujuan.


"Apa yang terjadi?" Yuda bertanya.


Aku mengangkat bahu, heran menatap ke segala arah. "Mungkin mesinnya rusak?"


Tep! Seseorang menginjakkan kaki. Otomatis kedua kepala kami menatapnya.


ZRUNG! Langsung saja, aku mengeluarkan pedang cahaya setelah melihatnya. "Kamu tahu, aku mulai muak melihatmu yang tiba-tiba datang paling terakhir hanya untuk mengajak ribut."

__ADS_1


Tentu saja, siapa lagi kalau bukan orang yang Yuda benci saat ini. Azriel. Datang dengan santai, meletakkan kedua tangan di saku celana. Rambut berantakan dengan luka bakar di mata kirinya.


"Puh, berisik." Dia berjalan, mendekati kami berdua.


Aku memegang lengan Yuda sambil membawanya menjauh. Tidak akan kubiarkan pertengkaran terjadi di sini, sebelum misi dimulai.


SIIIIIIIINNGGGG!!!


Akhirnya, mesin teleportasi aktif, aku menutup mata rapat-rapat. Ternyata kita harus menunggu Azriel terlebih dahulu.


Setelah beberapa detik suara nyaring, akhirnya cahaya terang itu lenyap. Suasana tenang tiba-tiba terasa ramai dan berisik. Aku bisa mendengar suara air, eh, bukan, suara... ombak...?


"Ah, mereka sudah sampai."


"Itu dia?"


"Yup, si Jago dari Daerah Utara." Ada percakapan ombang-ambing dari banyak orang, aku masih menutup mataku. Sepertinya mereka membicarakan tentang Azriel.


Setelah kuperhatikan, benar saja. Kami bertiga muncul di tepi pantai, cahaya siang menerpa luas. Kami menjadi pusat perhatian ratusan orang berseragam pasukan, Pasukan Daerah Selatan, bimbingan Komandan Kiara. Mereka menatap dengan kagum dan senang.


Pantainya bukan sembarang pantai. Kalau di tempat biasa ada pasir, di sini diganti dengan besi. Seluruh permukaan di sini diganti dengan besi.


Tidak ada tumbuhan asli, hanya bebatuan dan sedikit pohon hiasan. Apa-apaan tempat ini?


"Em... hai. Namaku Falisha. Ini temanku Yuda-" Belum selesai kalimatku terucap, malah terpotong suara kaget semua pasukan. Suara obrolan itu hadir kembali, seolah-olah namaku... melegenda...


"Falisha? Yuda? Falisha Yuda yang itu?! Prajurit muda dengan puluhan misi?!" Satu orang antusias bertanya.


Aku mengangguk.


Astaga! Setelah anggukanku, mereka semakin ramai bicara! Kami seterkenal itu?! Ada apa ini?


"Serius? Wah! Suatu kehormatan!"


"Iya! Kalian ini hebat! Misi kali ini pasti mudah!" Sebagian pasukan mulai memuji, sisanya berseru kaget. Aku dan Yuda menatap satu sama lain, sama bingungnya.


"BERISIK!!! TUTUP MULUT KALIAN!!!" ZRUNG! Azriel berteriak hebat sampai ujung pantai, tangannya mengeluarkan pedang cahaya, diacungkan ke arah mereka.


Suasana menjadi diam total, nihil suara, menyisakan bunyi ombak yang mondar mandir. Seluruh makhluk yang bernapas menatap Azriel.


"KALIAN SEMUA SAMPAH! RENDAH! JANGAN MEMUJI MEREKA BERDUA!" Kata-katanya dilanjutkan. Mendengar itu, tangan Yuda mulai mengepal.


"AKU, AZRIEL. SI JAGO DARI DAERAH UTARA MEMINTA KALIAN, KAUM BAWAHAN DAERAH SELATAN UNTUK MENJAUH DARI FALISHA DAN YUDA! MEREKA TIDAK LEBIH HANYALAH KEBERADAAN YANG TIDAK BERGUNA!"

__ADS_1


TEP! Yuda hendak memukul kepala kakaknya, namun ditahan sempurna.


"Lihat, dia tidak bisa memukul dengan benar!"


"Diam!" Yuda berseru sebal, memotong kalimat kakaknya.


Perasaanku mulai tidak enak... sepertinya akan terjadi lagi, pertarungan.


"Kau menantangku lagi? Baiklah." Sekarang, Azriel menjulurkan pedangnya ke arah adiknya.


"Ayo kita buat yang ini lebih menarik. Kau dan aku, duel. Ditonton oleh seluruh pasukan daerah selatan dan ****** itu." Ujarnya secara sombong, nadanya sungguh meremehkan.


Yuda di sampingku menimpali. Kedua pedang cahaya dijulurkan satu sama lain.


"Kumohon, hentikan. Yuda, semua yang kamu inginkan adalah kedamaian dengan kakakmu, kan? Inikah cara yang bisa ditempuh? Berduel terus menerus? Kumohon, bersabarlah. Bertempur lagi dan lagi dan lagi tidak akan membuatnya nyata..." Aku mencoba menenangkannya, berkata sehalus dan selembut mungkin.


Sepi, aku menunggu jawaban Yuda. Wajahnya terlihat sedang berpikir, dia menundukkan kepalanya.


...


BAS!!!


"FALISHA!" Seruan Yuda memenuhi telingaku. Azriel menebas punggungku dari belakang.


"Banyak bicara kau. Aku menantang Yuda bertarung! Bukan wanita lemah sepertimu!" Ucapnya dengan tinggi.


Suara gawat dan kecemasan pasukan daerah selatan mulai terdengar. Tubuhku dipangku oleh badan Yuda.


"Kau tidak apa-apa?! Astaga! Astaga! Falisha kumohon bertahanlah!" Napasnya terdengar berat, dia mengkhawatirkanku.


Aku mencoba tetap hidup, menarik napas sekuat mungkin. Rasanya sakit sekali... punggungku... terluka parah karena Azriel... sial...


"KENAPA KAU MENYERANGNYA?! TAKUT? HAH? KENAPA?!" Tubuhku dibaringkan perlahan. Dia berdiri kembali, menantang kakaknya.


Sulit sekali... aku merasa ingin pingsan... Azriel tanpa ragu menyerang punggungku, aduh... sial...! Sebelum misi dimulai kenapa jadi seperti ini...?


DAS! DAS! BAS! Terdengar bunyi pantulan pedang yang menyerang. Tubuhku tidak jelas, aku menahan sakit dengan membuat posisi seenak mungkin, tapi tidak ada yang bekerja... aku tidak bisa melihat pertarungan Yuda dan Azriel.


Tidak ada yang bisa kulakukan. Pandanganku mulai buram. Para pasukan menatap mereka berdua cemas namun sedikit menikmatinya...


Di mana dia? Komandan Kiara?


KRAK...!

__ADS_1


__ADS_2