Harapan Seperti Malaikat

Harapan Seperti Malaikat
Pulau Empat


__ADS_3

"Di mana aku?" Firza membuka mulut, mengaduh sambil memegang kepalanya di ujung kapal. Komandan Kiara ragu-ragu bergerak mundur.


Duk!


"Jangan bergerak!" Azriel maju, mengunci pergerakan Firza dengan keras. Dia menyebarkan kedua tangannya agar Omni Peledak itu tidak bisa menyerang kapal ini.


"Aduh! Hei! Pelan-pelan, dong!"


"Diam kau, omni! Sekalinya kau berbuat ceroboh, aku akan membunuhmu di sini."


"Azriel! Tenanglah sedikit!" Komandan berteriak panik. Yuda di sampingku berjaga-jaga, melindungiku.


Aku sisi ujung kapal yang lain menutup mata. Bagaimanapun, perhatianku harus penuh tertuju kepada kapal transparan kecil ini. Secepat mungkin kita harus sampai ke Pulau Empat.


"Omni? Apa maksudmu?! Apa itu Omni?!"


"Eh?" Yuda bimbang, alisnya separuh terangkat. Apa dia bilang? "Apa itu Omni?!"


"Hah?! Kau gila, ya?! Monster peledak sepertimu itu kami sebut omni! Sekarang tutup mulutmu!" Azriel berseru kembali.


"Monster peledak?! Apa, sih?! Kalian kenapa?! Dan bagaimana caranya aku bisa berada di tengah lautan?! Kenapa pula kapalnya tembus pandang?! Siapa kalian?!" Firza bertanya lagi. Telingaku sedikit perih mendengar seruannya ...


"Kau ... benar-benar tidak mengingat apa pun? Kau tidak ingat pertempuran kami di Pulau Tiga?" Komandan bertanya lebih halus.


"Apa? Kapan? Sejak kapan kami bertempur di Pulau Tiga? Aku bahkan tidak tahu siapa kalian! Yang benar saja! Jelaskan semuanya, apa yang sebenarnya terjadi padaku?!" Dia berteriak kencang, astaga, bisakah suaranya diturunkan sedikit?! Aku harus fokus melesatkan kapal kecil ini!


"Jadi ... kau tidak mengingat apa pun? Apa yang terakhir kali kau tahu?" Suara Komandan sedikit berguncang, dia tidak percaya ...


"Aku ..."


Kami semua menunggu jawabannya.

__ADS_1


"Aku ... sedang bermain dengan adikku ... di taman belakang rumah. Bersama Paman Zed dan Ayah dengan Ibu yang mengobrol di kursi kayu dekat pemanggang daging ... tiba-tiba saja, makhluk hitam yang banyak mulai datang dan menyerang kita semua ...


"Monster-monster hitam itu membawaku pergi entah ke mana. Lalu ada sosok ... yang tinggi ... wajahnya ganas dan menyeramkan, dipenuhi dengan darah dan amarah yang berkumpul. Sosok itu memukulku sampai pingsan. Itu saja. Sekarang, entah di mana aku sadar di kapal transparan aneh ini. Kenapa aku memakai zirah? Di mana adikku? Siapa kalian?!" Firza berdiri dengan lincah, bergegas melepas semua zirah yang dipakai olehnya, menyeburkannya ke lautan. Kemudian dia memasang pose bersiap, hendak bertarung.


Komandan Kiara langsung menjatuhkan pedang cahayanya. Bergerak lincah memeluk Firza.


"Hei! Tunggu dulu! Siapa kau tiba-tiba memelukku, wanita?!"


Komandan tidak membalas, memeluknya lebih erat. Kami bertiga menatapnya terharu, ini membingungkan untuk satu pihak, tapi bagi pihak lainnya, ini adalah keajaiban yang sungguh dibutuhkan. Kami meminjam beberapa menit untuk menjelaskan semuanya, akhirnya Firza mengerti beberapa hal, duduk santai di atas perahu transparan milikku ... kita bisa melanjutkan perjalanan dengan lebih tenang dan aman ...


Beberapa detik juga dilalui dengan kita memperkenalkan diri kepadanya. Dilihat dari kelakuannya, Firza adalah anak yang sangat baik. Dan juga, keterampilan bertarungnya berada di atas Komandan Kiara, jadi dia bisa diandalkan dalam misi ini. Ini pertama kalinya, kita bisa satu tim dengan omni yang baru saja dilawan, benar-benar misi yang unik ...


Kali ini misi kita berubah total. Tadinya kita hanya ingin menghentikan Firza dalam mengumpulkan kelima pusaka saat dia menjadi omni, tapi Komandan memerintahkan kita untuk mengumpulkan kelima pusaka itu untuk diamankan di markas, tidak perlu membuka kuil yang berisi senjata yang paling mutakhir itu di bawah laut ...


...***...


Pulau Empat akhirnya bisa dilihat. Apa yang membuatnya spesial? Kosong. Pulau Empat benar-benar kosong. Hanya ada tanah dan pasir, itu saja. Tidak ada pohon, tumbuhan, bahkan bebatuan, benar-benar hampa.


"Serius?! Kosong?! Astaga! Yang benar saja!" Azriel komplain, memukul-mukul tanah di bawahnya dengan sebal.


"Aku masih tidak mengerti, Kiara. Kenapa aku bisa menjadi monster- eh, 'Omni' itu? Siapa yang mengendalikanku? Kenapa kita bertempur?" Komandan Kiara dan Firza di ujung sana menghabiskan waktu berdua, menjelaskan beberapa hal. Aku dan Yuda masih berpikir bagaimana caranya agar kita bisa mendapatkan pusaka keempat.


"Aku tidak tahu, Kak. Itu juga pertanyaan yang sedang Jenderal Besar cari jawabannya. Dia tidak tidur selama empat hari berturut-turut, sampai sekarang." Jawab Komandan.


"Jenderal Besar ... seperti apa dia?" Dia bertanya lagi, aku tidak menghiraukannya.


Mata Yuda bersinar terang berwarna biru, kedua tangannya dibentangkan lebar-lebar. Namun, lama-lama memudar. "Aku tidak bisa merasakan apa pun di bawah sana, Fal. Air laut lebih mudah dilewati dibandingkan pasir, maaf ..."


"Tidak apa-apa. Pasti akan kami temukan kuncinya."


Azriel di sana mondar-mandir, berpikir. Terkadang terpeleset tanah berlumpur, terkadang sebal karena sepatunya dipenuhi pasir. Siapa yang menduga, prajurit muda yang paling mengerikan itu bisa bertingkah lucu setelah meminta maaf pada adiknya ...

__ADS_1


Mata Yuda kembali bersinar. Firza dan Komandan juga sudah mulai membantu. Napasku mulai berat karena lelah menggerakkan kapal tadi, jadinya aku duduk sebentar, terkadang bermain-main dengan pasir. Ini pertama kalinya aku menyentuh pasir sungguhan dengan tangan, ternyata lumayan menyenangkan.


BRRRTTT.


Tiba-tiba seluruh pulau berguncang, membuat kami panik sekilas. Posisi dudukku menjadi berantakan.


"Apa itu tadi?!" Azriel yang panik bertanya. Tidak ada yang menjawab, kenapa? Apa yang terjadi?


"Jangan bergerak!" Komandan Kiara berseru, mengangkat lengannya.


"Ada apa?" Aku bertanya, ragu-ragu ingin berdiri.


"Lihatlah, posisi kita sekarang, kita sedang membentuk sudut dari segi lima!" Komandan memperjelas. Kalau diamati, benar juga. Kita berlima berjalan terpisah, dan seandainya ada garis yang digambar diantara posisinya, segi lima akan terbentuk dengan sempurna.


"Yuda, geser sedikit ke kiri. Azriel, mundur dua langkah sedikit demi sedikit. Kakak dan Falisha, tetap di sana. Posisi kita tidak sesempurna tadi, jadinya guncangan itu berhenti."


Beberapa gerakan kemudian, Pulau Empat berguncang lagi dengan lebih keras dan lama. Bagian tengah pulau meretak, lantas membuat lubang yang sangat besar. Tanah dan pasir terdekat mulai berjatuhan ke bawah.


"Bagaimana ini?!" Aku berseru khawatir, menatap ke bawah. Sepertinya lubang itu benar-benar dalam.


"Lompat!" WOOSH! Komandan Kiara tanpa ragu jatuh ke bawah, diikuti dengan Firza yang juga terlihat semangat. Benar-benar keluarga yang unik ...


Azriel menatap kami sejenak. "Tidak ada pilihan lain, Fal! Yuda! Kita harus ke sana! Lihat di belakangmu!"


Aku menatap ke belakang, ombak yang tingginya empat kali lipat dariku mulai datang. "Astaga! Kalau begini sih kita terpaksa!"


Azriel melompat ke dalam, sisa aku dan Yuda.


"Ayo!" WOOSH! Yuda juga melompat turun. Aku menutup mata sejenak, akhirnya, tubuhku loncat ke bawah, melalui retakan lebar di tengah pulau. Ombak yang tinggi itu di atas sana sudah menenggelamkan Pulau Empat dengan sempurna, tidak lagi terlihat.


Retakan itu perlahan-lahan tertutup, menyisakan ruang untukku yang masih jatuh dan tidak ada cahaya sama sekali, total kegelapan.

__ADS_1


"HUAAAAAAAAAAA!!!" Seruanku menggema hebat. Siapa yang tidak takut? Jatuh ke dalam lubang dengan kedalaman yang tidak diketahui, kapan saja kita bisa mendarat dan kaki kita akan patah!


__ADS_2