Harapan Seperti Malaikat

Harapan Seperti Malaikat
Perubahan Misi


__ADS_3

"Astaga, itu buruk sekali ..." Aku merapihkan rambutku dengan jemari. Aku tidak akan pernah mengerti, bagaimana rasanya memiliki keluarga menjadi omni. Kehilangannya memang menyakitkan, tapi kalau menjadi monster? Bagian dari mereka? Itu sangat ... astaga ...


Suasana lengang, Yuda merapihkan rambutnya juga, matanya berkaca-kaca. Dia sedang berpikir keras, masa lalunya dengan Azriel memang kasar, tapi dia masih bingung apakah harus memaafkan semuanya yang pernah terjadi. Entah memaafkan dirinya sendiri atau kakaknya. Hubungannya dengan Azriel harus segera diperbaiki, aku harus membantunya!


"Hei." Orang yang tadi menjadi pusat perhatian datang, Azriel tersenyum mendekati kami, separuh heran.


Kepala Yuda mengangkat sedikit.


"Kalian kenapa? Wajahnya menjadi pucat berat seperti itu ... iri ya?" Azriel terkekeh, menepuk-nepuk dadanya. Kami tidak menjawab.


Prajurit lainnya menunggu tembok yang sedikit-sedikit membuka, menunjukkan ada pintu yang tersembunyi.


Azriel menarik napas panjang, menggaruk kepalanya.


"Yuda." Dia menepuk bahu adiknya.


"Aku ... minta maaf, sungguh. Entah kenapa ... misi ini membuatku menyadari beberapa hal penting. Jujur saja, saat kau tenggelam selama beberapa detik di Pulau Dua tadi, aku benar-benar khawatir. Aku memarahi teman perempuanmu agar perhatianku tidak teralihkan pada fakta bahwa adikku bisa mati kapan saja di bawah laut ... misi ini telah mengubahku, aku ... aku tidak ingin masalah kita berlanjut lagi ...


"Yuda, kumohon. Aku tidak menjalani peranku sebagai seorang kakak dengan baik. Jadi ayo, berilah aku kesempatan sekali lagi. Ayo kita berhubungan seperti kakak dan adik yang asli, tidak ada lagi pertengkaran, kebencian dan kejahatan di antara kita. Kumohon. Kalau aku membencimu terus, itu sama saja dengan apa yang Ayah bodoh itu lakukan: tidak memikirkan perasaan anaknya. Ayo kita berbaikan, Yuda ..." Azriel tersedu secara halus. Baru kali ini, perkataannya keluar secara lemah dan lembut, dia mengangkat tangan adiknya dengan serius. Mereka berdua menatap satu sama lain.


Mata Yuda melotot hebat, dia terkejut. Ini adalah momen yang ditunggu-tunggu baginya. Saat Azriel ingin meminta maaf, dan Yuda sudah siap melakukan hal yang serupa. Ini seperti keajaiban dunia ke delapan. Aku tersenyum lebar, bahagia dalam hati ...


"Kau ... kau serius ...?" Yuda berkata pelan.


"Iya, aku sangat serius." Kakaknya membalas.


Mereka berdua perlahan-lahan tersenyum. Sedikit lagi, mereka akan berdamai-


BRUKKKKKKK!!!


"Apa itu?!" Zed berseru kaget. Tiba-tiba saja tembok di belakang kami hancur lebur.


Dua sosok yang sibuk di luar, datang ke sini. Komandan Kiara dan Omni Peledak dengan kondisi yang parah masih melanjutkan pertempurannya sampai ke sini.


"Komandan!!!" Aku berseru khawatir.


Pintu di depan menuju tantangan terakhir sudah terbuka, tinggal masuk saja.


"Kalian semua masuklah! Jangan mengkhawatirkanku!" Komandan Kiara berseru keras, menyerang Omni Peledak dan menghindari beberapa serangannya.

__ADS_1


Aku sangat ragu, apa yang harus kulakukan?!


"Tinggalkan dia! Komandan sudah percaya!" Salah satu prajurit berseru, tubuhnya bersama beberapa orang lainnya sudah masuk menuju pintu itu.


Kakiku berguncang hebat, sudah mengetahui masa lalu Komandan, dan sekarang aku harus melihat mereka berdua bertarung, adik dan kakak, Kiara dan Firza.


"Ha! Tidak akan kubiarkan!" Firza melepaskan tabung peledak menuju kami.


BUM! Azriel melemparkannya ke atas, tabungnya meledak namun tidak melukai siapa pun.


"Kita harus membantunya!" Aku berseru tegas.


"Bagaimana caranya?! Lihatlah, kecepatan mereka di luar dugaan kita! Ini jauh di atas level seorang pasukan!" Azriel, yang memenangkan duel melawan Komandan Kiara waktu itu berkata seperti itu. Dia sudah mengakui, sebenarnya Komandan Kiara lebih hebat daripada siapa pun, dia hanya menahan kemampuan yang sebenarnya saat duel waktu itu.


BUM!!! BUM!!! BUM!!! Tiga ledakan terjadi di dekat Komandan, berhasil menyerangnya.


"Kiara!!!" Zed berlari cepat hendak ikut-


"TINGGALKAN AKU, ZED!"


DUARR!!! Ledakan membuat tanah hancur, berpencaran ke mana-mana.


"Akhirnya. Dia akan suka kalau aku berhasil membunuh seorang Komandan Pasukan. Selamat tinggal, Kiara." Ujar Firza secara sinis, suaranya lebih berat dan seram. Zirah di tubuhnya sudah 78% hancur, astaga, aku tidak bisa membayangkan apa yang terjadi di luar kastil tadi.


Tunggu, siapa "Dia" yang Firza maksud? Jangan-jangan, ketua para omni?!


ZEUNGGGGGGGGGGGGGGGGGGG!!!


Zed membentangkan tangannya tinggi-tinggi. Lingkaran berwarna merah dengan radius sepuluh meter muncul.


Rasanya aneh ... aku tidak bisa bergerak sama sekali, sedangkan Zed bisa bergerak dengan bebas. Inikah kekuatannya?


Semuanya, aku, Yuda, Azriel, Komandan Kiara dan Firza tidak ada yang bergerak. Namun Zed dengan leluasa berlari ke depan, mengambil tubuh Komandan Kiara, lantas kembali mundur.


ZZEP! Lingkaran merah itu menghilang, akhirnya seluruh tubuhku terasa lagi, aku bisa bergerak lagi.


"Hei! Apa-apaan itu tadi?!" Azriel berseru. Kami semua berjalan menuju Komandan.


Zed merobek bagian dari seragamnya, lalu melipatkannya ke lengan Komandan yang terluka. "Kemampuan milikku. Aku bisa menghentikan waktu, tapi hanya untuk sementara."

__ADS_1


Firza menjepit matanya, dia merasa pusing. "Hei ... aku sepertinya pernah melihatmu, Pak tua. Tapi dari mana ya ...?"


"Coba diingat baik-baik. Aku tidak tahu bagaimana caramu bisa menjadi omni. Tapi aku tahu, kau dari kami semua dulu pernah bilang bahwa kau, adalah orang yang sangat benci dengan orang-orang yang jahat. Firza, ayolah, tidakkah kau mengingat masa-masa dulu? Kita dulu bagaikan keluarga yang satu. Selalu bersama dan melindungi satu sama lain. Kumohon, ingatlah siapa dirimu, Firza. Anak dari Diego dan Lia, kebanggaan keluarga!" Zed mengatakannya sendirian, tegas dan lurus. Aku membantu Komandan Kiara berdiri perlahan.


"Terima kasih, Falisha." Ujarnya singkat, aku mengangguk.


"Gh ... siapa kau ... aku hanya mengingat Kiara, adikku yang menyebalkan dan tidak berguna ..." Firza mulai gila. Cara berdirinya tidak seimbang dan wajahnya seperti orang yang mual. Pidato Zed sepertinya bekerja dengan baik.


"Ayolah, Kak ... ingat aku! Kau yang mengajarkanku cara membela diri! Berpedang dan memanah! Kau yang mendukungku sampai kita berdua pingsan! Kau yang-" Komandan Kiara terbatuk keras, dia sangat lelah.


...


Hening, seluruh ruangan terasa kosong.


Firza mulai memegang kepalanya, dia terlihat muak.


"Gh ... Aaack! Peduli setan!" BUM!!! Dia membuat peledak untuk meluncurkan dirinya sendiri ke atas, melalui lubang di atap yang hancur karena guncangan tadi.


"Aku akan mencari pusaka keempat, kalian orang-orang lemah tidak akan pernah menang!"


"Dia hendak kabur!" Azriel sebal berteriak.


Zed hendak menghentikan waktu.


"Jangan!" Komandan Kiara memotong, kami semua menatapnya.


"Zed, jangan terlalu banyak menggunakan kekuatanmu, itu akan menguras tenagamu dengan ekstrim. Kekuatanmu itu lebih kuat dibandingkan siapa pun, jadi gunakanlah di saat yang benar-benar tepat. Untuk sekarang, serahkan Kakak kepadaku, kau bawa anak-anak menuju tantangan terakhir."


"Tidak! Aku tidak mau meninggalkanmu!" Yuda berseru tidak terima.


"Apa?! Kenapa?!"


"Aku juga, Komandan. Ada perasaan yang familiar yang bisa kurasakan di sini. Jadi aku harus ikut, kumohon." Azriel menimpali, dia mengeluarkan pedang cahayanya.


Aku hendak berkata, namun tatapanku sudah menjelaskan semuanya.


Komandan Kiara terlihat berpikir, lalu dia tersenyum kecil.


"Zed, ganti posisiku sebagai Komandan sejenak. Anak-anak, ayo sini, mendekat kepadaku. Kita akan mengejar Firza ke Pulau Empat."

__ADS_1


__ADS_2