
Aku berhadap-hadapan dengannya tegas, kembali menjulurkan pedang. Tidak takut... jangan takut. Komandan Yakza tidak akan pernah takut.
"Kakimu bergetar, tuh. Pergi sana." Wanita itu berkata sombong.
"Kenapa kamu membawa mereka pergi?!" Tanyaku keras.
Dia menepuk dahi. ZRUNG! Lantas, ia mengeluarkan pedang cahayanya. Ada garis biru muda di sekitar gagangnya.
"Apa?!" Aku terkejut, ini di luar dugaan! Saat pedangnya diaktifkan, tanah di sekitar membeku, meruncing ke atas!
Ini prajurit yang memiliki kekuatan es!
"Kuberi kau kesempatan terakhir. Pergi." CRAK...! Dua detik, tanah dengan radius dua ratus meter di samping kanannya membeku sempurna. Beberapa hewan terjepit, tidak bisa bergerak.
"Aku yang melawan mereka berdua! Aku berhak tahu kenapa mereka dibebaskan!" Seruku lebih keras.
"Cih, menyebalkan." Wanita itu menggigit bibir, lalu maju dengan cepat. Kita akan bertarung.
Aku melesat maju. Dia pikir dia siapa?!
Trap! Trap! Trap! Trap! Langkahku semakin dekat, aku mengayunkan serangan pertama-
DAS!!!
...
Eh...?
Pedang cahayaku... lepas...?
BUK! Dia menendang kepalaku, membuatku mundur satu langkah. BRUK!!! Terakhir, wanita itu melakukan hal yang sama. Dia membanting dan mengunci pergerakanku di atas tanah, tanganku seperti hendak dipatahkan olehnya.
Aku... aku tidak mengerti! Sungguh! Pedangku lepas saat menghantam pedang miliknya! Siapa dia?!
"Dengar, Bocah. Aku tidak peduli siapa dirimu. Mau kau yang menangkap mereka, melawan mereka, membunuh mereka, sungguh, aku tidak peduli. Yang kupedulikan sekarang adalah kehilangan keberadaanmu dari mataku!" KREK! Dia mengeraskan pegangan, aku berseru kesakitan merasakannya.
Tidak berguna... mau bagaimanapun, aku akan kalah melawan wanita ini...
"Sebagai hadiah, kupatahkan salah satu kakimu. Mungkin itu akan memberikanmu pelajaran." Apa?! Dia gila!
"Kamu gila!" Aku tidak terima.
"Kau menyebalkan." Balasnya sinis.
Perlahan, bisa dirasakan bahwa tulang di kakiku bergeser sedikit demi sedikit. Aku sudah melawan sekuat mungkin, tapi sia-sia. Dia terlalu kuat.
Krek!
"AGH!" Astaga... sakit sekali... aku akan kehilangan kakiku...?
__ADS_1
"HENTIKAN!!!" BUK! Suara remaja lelaki berseru, dan pegangan wanita itu tiba-tiba hilang.
BRUK! Aku membalikkan badan, melihat perempuan tadi yang mental menghantam tanah. Sepertinya lelaki tadi memukulnya.
Kakiku! Oh, syukurlah... tidak apa-apa... hanya cedera.
"Kau tidak apa-apa?" Yuda! Dia yang datang menyelamatkanku! Dia memakai seragam dan tas kecil di sampingnya!
"Oh syukurlah!" Aku langsung berdiri, memeluknya. Berkata terima kasih seribu kali padanya.
"Dia orang gila! Kita harus pergi, Yuda!" Aku memegang lengannya hendak membawanya pergi. Tapi Yuda menahan.
"Kenapa, Yuda? Kita harus pergi!" Tanyaku heran. Wanita itu mulai bangkit sedikit demi sedikit.
Tapi... Yuda justru membungkuk. Seolah-olah... dia menghormatinya. Kenapa?!
"Yuda-" Srep! Kepalaku ditundukkan oleh lengannya lincah.
"Maaf, Falisha. Tapi dia..."
"Falisha?" Wanita itu memotong kata-kata Yuda. Nadanya berbeda sekarang. Walaupun masih tegas dan keras.
"Dia adalah Komandan Kiara. Ketua Pasukan Daerah Selatan." Nada Yuda lebih rendah kali ini. Dia menatap mataku prihatin.
Benar juga... kalau dilihat-lihat, seragamnya mirip seperti Leo. Dan kemampuannya jauh di luar dugaanku.
Jadi maksudnya, daritadi, aku melawan seorang Komandan?!
...
Sunyi, tidak ada yang bersuara.
"Berdiri." Komandan Kiara membuka mulut. Aku dan Yuda gesit menegakkan badan.
Dia menatap datar, menyelidiki.
"Kau. Yang perempuan. Kau kenal dengan Leonardo?" Tanyanya dengan kasar, masih menggaruk dagu.
Aku lamat-lamat mengangguk.
"Hmph. Baiklah." ZRUNG! Dia mematikan pedang cahayanya. Menyisakan hening dan suara angin. Dan juga gerungan Dzar dan Ava yang tidak putus asa mau kabur.
"Maaf atas kelacanganku. Kukira kau salah satu dari pasukan sialan itu. Di Daerah Barat, banyak sekali pasukan yang bermalas-malasan. Leonardo itu... kau diasuh olehnya, kan? Dia harus lebih tegas. Mungkin kau bisa memberitahunya." Komandan Kiara maju perlahan, wajahnya sempurna mengunci wajahku. Dari caranya melihat, aku sudah bisa menilai bahwa dia adalah pasukan kelas kakap. Sungguh hebat dan berprestasi.
Aku pernah mendengarnya. Katanya Daerah Selatan berhasil membasmi semua monster paling cepat di Hari Pembantaian, tanpa bantuan Jenderal Besar Karlo.
Mulutku masih bungkam hebat. Tidak akan kubicara sampai disuruh.
"Yuda. Apa yang kau lakukan?" Dia menolehkan wajahnya. Bertanya pada remaja di sampingku.
__ADS_1
"Aku ingin pergi ke Taman Kebahagiaan, Komandan." Eh? Taman Kebahagiaan? Kenapa dia ingin ke sana juga?
"Oh? Bernostalgia?"
"Tidak, Komandan. Aku ingin... membereskan sesuatu." Yuda menjawab dengan ragu. Kakinya lumayan berguncang.
"GAH!!! BISAKAH KALIAN DIAM?! AKU INGIN KELUAR DARI SINI!" Ava yang masih berusaha bebas tiba-tiba menimpali.
KRAK...! Komandan Kiara gesit menyalakan pedang cahaya, lantas mengayunkannya kepada Ava, dengan cepat, es setinggi satu meter sempurna membekukan Ava sepenuhnya. Sekarang dia tidak bisa bergerak maupun bicara.
"Diam dulu." Komandan berkata.
Astaga... keren sekali... aku menjatuhkan rahang melihatnya.
Yuda menelan ludah sambil menundukkan kepalanya.
"Baiklah, kalian boleh pergi. Tenang saja, Dzar dan Ava adalah Ayah dan Ibuku. Aku berencana untuk memulihkan ingatan mereka sebelum serum itu diduplikasi dengan membawanya ke tempat-tempat lama. Mumpung mereka tinggal di Daerah Barat, jadi aku ingin ke restoran, taman bermain, dan hal lainnya yang membuat mereka mengingat bahwa aku adalah anaknya." Dia berkata lebih halus kali ini. Sejenak, matanya menatap ke bawah. Lamat-lamat bisa kurasakan rasa sakit yang dia alami dari intonasinya...
Memang... siapa pun ilmuan gila yang memulai semua ini, aku akan membunuhnya ...
Komandan Kiara melambaikan tangannya dan pergi menjauh dengan Dzar yang takut melihat seluruh tubuh Ava membeku. Aku dan Yuda membungkuk hebat, melangkah memutar balikkan badan.
"Aduh..." Aku meraba kaki. Sakit sekali rasanya disakiti begitu...
"Mau kuobati, Fal?" Yuda menawarkan.
"Kamu bawa obat?"
"Iya." Yuda tersenyum, tertawa sedikit. Lantas mengeluarkan pembalut dari tasnya.
"Asik! Terima kasih!" Aku dibantu olehnya. Dia mengoleskan kaki dan punggungku secara perlahan dan jantan. Sepertinya soal pijat dan obat, dia akan menjadi orang yang sangat pas untuk markas.
"Baik, sudah selesai." Dia menyengir lebar. Aku mencoba berdiri secara perlahan.
"Wah... sepertinya kalau tidak ada kamu, tubuhku sudah ada di dalam kuburan." Aku bergurau, sedikit menggaruk kepala.
"Hahaha... memang begitu dia. Suka marah dan sangat tegas." Yuda terkekeh, memasukkan obatnya ke dalam tas.
Setelah beberapa gurauan dan candaan. Kami berdua bergegas pergi melangkah. Menuju Taman Segitiga. Atau nama yang lebih sah, yaitu Taman Kebahagiaan.
"Yuda, kenapa kamu ingin ke Taman Segitiga- eh, Taman Kebahagiaan?" Aku bertanya.
Wajahnya menunduk, matanya mulai cemas. "Aku minta doa darimu, Fal."
"Doa? Kenapa?"
...
Yuda tidak menjawab. Namun, akhirnya dia menarik napas berat.
__ADS_1
"Aku membuat perjanjian dengan Kak Azriel, Kakakku. Kita akan berbaikan dan meminta maaf di taman itu. Semua masalah kita akhirnya akan selesai di sini, hari ini." Yuda mengepalkan tangan, tersenyum yakin dan sangat bersemangat