
Beberapa minggu setelah aku pulang dari markas karena dirawat agar tanganku bisa pulih kembali, hari Selasa, aku, Jennifer dan Raphael disuruh untuk segera pergi ke markas setelah pulang sekolah. Leo bilang ada hal penting yang harus disampaikan kepada semua pasukan, artinya akan ada meeting lagi, tapi untuk yang pertama kalinya, semua orang akan hadir, termasuk delapan Ketua Pasukan Daerah, ini akan besar sekali...
***
"Faaaaaaaal..." Stella di sampingku menggeram.
Banyak hal yang terjadi setelah kejadian beberapa hari kemarin, termasuk permintaan maafku pada Stella, Nessie dan teman-temannya, aku juga mencoba untuk menjadi lebih terbuka kepada orang lain (tentunya berdampingan dengan Raphael, aku masih belum lancar untuk memperkenalkan diri).
"Kenapa Stel?" Jawabku heran, di kelas, sekarang harusnya pelajaran kimia, namun guru-guru sedang rapat dan menyuruh kami untuk tidak keluar, jadi kami sangat bosan di kelas.
"Bosan, sangat bosan." Dia mengetuk kepalanya ke meja kayu.
"Yeeh, lebih bagus begini daripada ada tugas. Kalian tahu kan bagaimana tugas kimia?" Nessie, yang sedang membaca novel di samping Stella menjawab singkat, matanya masih tertuju ke bukunya.
"Iya, sih... mending aku nonton film misteri kemarin..." Ujar Stella malas.
"Misteri? Film apa?" Aku tertarik, karena sering sekali aku menonton film dari kecil.
"Judulnya Foto Penentu Takdir. Seorang fotografer dewasa yang bisa merusak apa saja jika fotonya dicoret. Jadi kalau dia mengambil gambar seorang pengusaha, lantas dia coret kepala di fotonya, maka pengusaha itu akan punya luka gores di kepalanya di dunia nyata. Seram, memang... tapi seru." Stella mengangkat kepalanya, jauh lebih semangat.
"Huh... menarik..." Aku mengangguk. Wah, aku harus menontonnya.
"DOR!"
"EH!" Astaga! Ada yang mengagetkanku dari belakang! Memukul bahuku!
Oh, dengan ketawa yang khas itu aku sudah tahu...
"Apa, sih?" Aku menghadap belakang, Raphael dengan... topi hitam? Dia memakai topi?
"Lihat ke depan, Fal." Dia menunjuk ke depan, kepalaku mengarah ke situ.
Wow...
Semua orang... tidur? Semuanya tidur! Sudah berapa lama kita menunggu rapat guru? Aku terlalu lama melamun, jadi tidak sadar...
"Eh, Raphael..." Wajah Nessie memerah, dia menutup novel miliknya.
"Halo, Nes." Raphael menyapa singkat, melambaikan tangan, tangan satunya bersandar di kursiku.
"Woi, biawak! Jangan melamun! Dibales tuh!" Stella berseru, rambut pendeknya bergerak memutar menghadap Nessie yang membeku.
"Mau baca novelku...? Namanya Harapan Seperti Iblis... ini... kukasih gratis, deh..." Nessie berguncang hebat, menjulurkan novelnya dengan kedua tangan.
"Oh... um... aku tidak suka novel..." Jawab Raphael halus.
"Astaga, Raf... berapa lama kita menunggu Pak Rafi? Sampai semuanya tidur begini..." Aku bertanya, masih melihat tumpukan tubuh yang rebahan di karpet besar depan papan tulis, beberapa ada yang tidur di kursi.
"Hm... dua jam, sih. Sekarang pelajaran olahraga, Pak Rafi? Dia kan guru kimia Fal... wah pasti kau melamun lagi..." Raphael tertawa sebentar, menghadap ke bawah, melihatku.
__ADS_1
Pelajaran olahraga? Ya ampun, aku harus mengulangi kebiasaan melamunku...
Rapat apa sih mereka? Kenapa penting sekali?
Tok! Tok! Tok!
Ada yang mengetuk pintu kelas, kami berempat menghadapnya, sepertinya guru-guru sudah selesai.
"SEMUANYA, BANGUN!!!" Seru Raphael panik, menyuruh semua orang.
Kreeek...
"Eh, maaf..." Jennifer! Dia yang masuk ke kelas dengan seragam OSISnya, bukan guru.
"Loh, Jenn? Ada apa?" Aku bertanya heran.
Beberapa murid ada yang terbangun, bingung mengusap mata, menghadap sekitar.
"Raf, kenapa sih? Jangan dibangunin kalau belum ada guru." Salah satu dari mereka komplain, lantas hendak tidur lagi.
"Eh, jangan tidur, kalian semua disuruh pulang oleh Kepala Sekolah." Jennifer khawatir, berkata cepat.
"Kenapa?" Raphael bimbang, sandaran kedua tangannya lepas dari kursiku.
"Aku tidak tahu, tapi mereka semua menyuruh murid-muridnya pulang, ayo cepat!" Dijawab olehnya sambil masuk tiga langkah, kepalanya menunduk ke orang-orang yang tidur.
Beberapa orang merana, malas untuk berdiri, tapi pada akhirnya, semua orang mulai merapihkan barang-barangnya dan memasukkannya ke dalam tas.
Dengan cepat kami mengangguk, Raphael pergi ke mejanya dan membereskan buku dan pensilnya, memasukkannya ke tas, aku juga. Kami bertiga melesat ke luar sekolah, melewati orang-orang ramai yang hendak pulang tanpa informasi lebih, melewati gerbang.
"Falisha, naik!" Raphael berseru padaku, mengambil sepeda kuningnya dan mendekat menaikinya.
"Eh?" Aku ragu.
"Ayo, cepat!"
"Jennifer bagaimana?"
"Ayo!" Jennifer menghampiri dengan sepeda ungunya, astaga, hanya aku yang tidak naik sepeda...
Perlahan aku berdiri di tabung penopang dekat rear roda belakang sepeda Raphael, bersandar memegang bahunya yang bersiap menggoes.
"Siap, Fal?"
"Ya."
BRR! Jennifer dan Raphael maju cepat, aku menutup mataku karena debu yang menempel.
"Maaf." Ucap Raphael singkat, lalu lanjut fokus menatap jalanan, melewati motor dan mobil di jalanan, bahana orang-orang yang berdagang dan bermain di pinggir jalan menyarat telingaku, tapi teralihkan dengan kecepatan sepedanya.
__ADS_1
***
Sampai, di tempat sepi, tanah kosong dengan pohon-pohon yang berbaris melingkar setelah satu kilometer, di atas rumput-rumput pendek, tembok hitam lebar di depan mata. Jennifer dan Raphael memarkirkan sepeda di sampingnya, harusnya di di dalam, tapi karena buru-buru, tidak akan sempat. Kemudian kami semua menggesek kartu di kotak hitam. Ting! Lift terbuka lebar, kami langsung masuk, menekan tombol tutup di sebelah kiri, lalu pintunya tertutup, turun perlahan.
"Ada apa, Jennifer? Kenapa buru-buru sekali?" Aku bertanya, meregangkan badan.
"Leo... dia menelepon berkata bahwa kita harus datang sekarang." Dibalas, sambil mengusap keringat di dahi.
"Oh, rapat semua pasukan itu?" Raphael menyeimbangkan topinya, terlihat lelah.
"Ya..."
"Tapi Leo bilang itu akan dilaksanakan setelah pulang sekolah, kenapa dipercepat?" Komplain Raphael.
"Aku... tidak tahu... Leo menyuruh kami berkumpul di markas sekarang, tidak menjelaskan kepadaku secara detail." Jawab Jennifer.
Ting! Lift sudah sampai, terbuka lambat.
"Astaga..." Raphael menatap tidak percaya.
Ribuan pasukan berada di sini! Markas tidak pernah seramai ini! Lihat, ada beberapa orang yang sedang menyapa dengan pedang, ada yang beradu, ada yang berlatih. Sekilas di sini terasa pengap...
TUUUUT!
"Seluruh pasukan, diharap menuju ruang rapat. Seluruh pasukan, diharap menuju ruang rapat." Terdengar suara wanita di speaker atas lift kecil, semuanya hening, lantas berjalan ke tempat yang disuruh.
"Di mana Leo?" Tanyaku bimbang, menghadap ke sana kemari.
"Dia pasti sudah sampai duluan." Jawan Jennifer.
"Ayo, bergegas." Raphael memegang lenganku, berjalan cepat, Jennifer mengikuti.
Eh, kenapa dia memegang lenganku...?
Haruskah kulepaskan?
Atau mungkin...
Buk!
"Eh, maaf!" Ujar Raphael, menunduk, aku menabrak orang yang tinggi...
"Maaf, Pak!" Aku menimpali.
"Komandan Yakza!" Jennifer berseru senang.
"Oh, kalian..." Astaga... lebih dekat, tubuhnya semakin tinggi, warna kotak panjangnya selalu mengalihkan perhatianku, ada garis kuning kecil yang melingkari sisi-sisi kotaknya, terlihat keren...
"Cepat, bergegas ganti baju dan berkumpul di ruang rapat, kali ini akan sangat berbeda." Komandan Yakza berdiri tegak, berkata lurus.
__ADS_1
"Memangnya kenapa?" Raphael heran.
"Jendral Karlo... dia akan memimpin rapat ini." Dijawab singkat.