Harapan Seperti Malaikat

Harapan Seperti Malaikat
Perpisahan


__ADS_3

Lima belas detik kemudian, Komandan Yakza sudah membuka matanya. Tubuhnya yang berbaring segera diangkat olehnya secara perlahan, sedikit demi sedikit menggerung kesakitan.


Jennifer menangis bangga memeluknya. Tidak pernah kurasakan kebahagiaan sebaik ini. Komandan Yakza berhasil selamat, dia tidak mati. Dia tidak akan meninggalkan kita.


"KOMANDAN!!!" Wanita itu tersedu tanpa henti. Masih memeluk sosok tinggi di depannya yang wajahnya bingung.


"Jennifer? Apa... yang terjadi?"


"Kau... kau tidak perlu khawatir soal itu. Omni sudah kalah."


"Kalah? Kapan?"


Demi memberikan jawaban yang memuaskan, Jennifer mengusap mata dan hidungnya. Dia mencoba menahan tangis agar bisa bicara lebih baik.


"Saat kau melawan omni tadi, sikapmu sangat... berbeda. Kau menyeramkan, menakutkan dan bukan orang yang kukenal sama sekali. Kau adalah orang yang memberiku harapan, Komandan. Kau adalah... panutanku sejatinya. Sosok ayah sekaligus petarung terhormat. Aku tidak bisa ke mana-mana tanpamu. Tadinya aku tidak mau melihatmu seperti itu, dipenuhi dengan amarah. Jadi kuhancurkan tanah penghalang dengan pedang cahaya. Hingga perhatianmu teralihkan, dan omni menusuk punggungmu. Tapi singkat cerita, dia sudah kalah. Falisha sudah mendapatkan serumnya. Dan aku berhasil menyembuhkanmu." Dia menjelaskan sambil membantu Komandan berdiri secara hati-hati.


Aku tersenyum, mengangguk. Kuangkat tabung kecil berisi cairan hijau yang menyala itu tinggi-tinggi.


"Kalian..." Komandan menatap takjub kepada kami. Menggunakan wajah yang tidak percaya dan harapan yang murni. Dia sangat senang. Kuserahkan serum itu padanya.


Kemudian, dia menarik napas yang dalam.


"Terima kasih. Sungguh. Dari pertama kali aku melihat kalian melawan Arkane, omni pertama yang berhasil ditemukan, aku bisa melihat wajah keteguhan dari Falisha. Keberanian Yuda. Dan ketulusan Raphael."


Lantas, dia menatap Jennifer. Mereka berdua melihat satu sama lain.


"Dan kemandirianmu, Jennifer. Kamu bilang padaku berkali-kali, Mama dan Papamu dulu itu seperti monster. Tapi kupikir, mereka ada baiknya, dua. Yang pertama adalah melahirkanmu, dan yang terakhir adalah, walaupun ini tidak disengaja, mereka sudah membuatmu menjadi wanita yang kuat. Wanita yang mandiri, wanita yang hebat. Siapa yang tahu, dengan wajah aslimu ini, bukan pirang, bukan idaman semua orang, kau berhasil membuat kita semua selamat. Menyembuhkan kami berkali-kali di tengah misi, itu sangat mengagumkan.


"Kamu, Falisha. Leonardo pernah bilang kepadaku. Kamu selalu merasa dendam, tidak puas dan gegabah. Tapi lihat sekarang, takdir membuat sahabat yang setia untukmu, dan konflik ini akan berakhir, itu pasti.


"Raphael, perjuangan beratmu yang membuatmu menjadi pasukan muda terkuat di markas tidak akan sia-sia. Perang besar akan datang saat kita bertemu dengan dalang dari mimpi buruk ini, jadi kau akan menjadi peran yang sangat penting. Kau akan merasakan hadiahnya untuk dirimu sendiri.


"Terakhir, Yuda. Kamu tidak perlu khawatir soal Azriel. Aku bisa melihatnya. Dia adalah pasukan milikku, di Daerah Utara. Azriel memilih untuk pindah beberapa bulan yang lalu, tapi setiap detik kulihat matanya, dia masih sayang padamu. Bagaimanapun, seorang Kakak pernah menyayangi Adiknya, dan sekalinya rasa sayang itu diciptakan, tidak akan ada kekuatan di alam semesta ini yang bisa menghancurkannya."


...


Mendengar kata-kata itu, kami berempat memeluknya dengan sangat erat, tidak akan melepaskannya. Aku sangat mengaguminya, hatinya sangat jantan dan teguh. Namun sangat berbakat dalam menjadi seorang prajurit.


Aku ingin... menjadi sepertinya...


Zzt... Zzt...


"Eh? Apa itu?" Raphael bertanya.


Tas yang dibawa Komandan Yakza bergetar dengan sendirinya. Dengan cepat, dia meraba ke dalamnya, lalu mengeluarkan alat yang sama seperti tadi.

__ADS_1


SING!!!


Alat itu dijatuhkan, mengeluarkan cahaya terang untuk sementara. Lantas, tubuh Kak Liona sebagai hologram kembali terlihat. Dia menepuk tangannya dengan ceria, dia hadir di hadapan kita sekarang, bukan rekaman.


"Hebat! Aku tahu kalian pasti bisa- EH?! ADA APA DENGAN WAJAH KALIAN?!" Hologram Liona hendak memuji, tiba-tiba terkejut setelah melihat wajah kami yang berdebu dan kotor.


"Astaga! Astaga! Apakah tantangannya terlalu sulit? Maaf! Aku sungguh meminta maaf, Komandan! Anak-anak! Aku tidak mengira tantangan itu akan sulit..."


"Tidak apa-apa, Liona. Tantangannya cukup mudah. Anak-anak berhasil menyelesaikan semuanya. Sayangnya kita diserang oleh omni dari daerah lain, itu yang membuatnya rumit. Bahkan beberapa dari mereka membangkitkan kekuatannya." Komandan Yakza terkekeh, menutup mulut dengan tangannya.


"Kekuatan? Wah, hebat! Selamat, ya!" Hologram Liona tertawa senang.


"Kecuali Yuda, Kak..." Jennifer berkata kasihan. Membungkuk sedih tidak berdaya.


Yuda hanya diam, dia menerima takdir apa adanya. "Tidak apa-apa. Aku tidak butuh kekuatan untuk bertahan, selama aku punya kalian." Lalu Yuda tersenyum, mengepalkan tangannya. Kubalas meremas jari, memberinya semangat yang lebih.


"Maaf, Yuda... tapi suatu hari pasti akan aktif, kok! Aku yakin!" Hologram Liona mendukungnya.


"Jadi, Kak. Apa yang harus kita lakukan pada serum itu?" Raphael bertanya.


"Bawa ke markas, bilang pada ilmuan terhebat di sana. Dia mampu menduplikasikan semuanya seiring berjalannya Pemburuan."


"Pemburuan?" Aku heran.


"Jadi, itu artinya..."


"Iya, Fal. Markas akan bekerja keras, lebih keras daripada sebelumnya." Mendengar kata-katanya, aku teringat kejadian tadi. Omni itu meledak saat ditanyai Raphael tentang bagaimana caranya mereka bangkit. Sangat aneh...


"Sepuluh." Tiba-tiba suara komputer muncul, itu hitung mundur lagi seperti sebelumnya.


"Haduh! Alat ini harus kuperlambat durasinya! Baiklah, aku sangat bangga pada kalian. Aku sudah seperti Ibu yang melihat anak-anaknya sukses, sangat bangga! Sangat!" Hologram Liona tersenyum lebar, berkata riang.


"Semua ini tidak akan bekerja tanpamu, Kak. Terima kasih." Aku berkata lagi sambil menunduk. Aku sangat beruntung karena dikelilingi orang-orang jenius yang rendah hati.


"Sama-sama. Baiklah, hati-hati menuju Distrik Elia. Dan Jennifer, sepertinya hari ini adalah waktunya, bukan begitu?" Eh? Waktunya? Waktu untuk apa?


"Iya, Kak. Hari ini yang terakhir." Jennifer mengangguk. Apa maksudnya? Apa maksud dia?


ZZEP! Hologram Liona mati, menyisakan hening di laboratorium dan angin yang berhembus kencang. Aku menarik napas lelah dan lega. Misi ini sudah berakhir.


Tapi... apa artinya tadi?


"Jennifer? Apa maksudnya...?" Yuda bertanya, suaranya bergetar dan cemas.


...

__ADS_1


Jennifer tidak bicara, sunyi.


"Suatu kehormatan. Bisa berjuang di samping kalian." Jennifer membungkuk, kepalanya menurun.


"Hei... apa maksudmu?" Yuda bertanya lagi.


Sejenak, Jennifer menatap Komandan. Haruskah kukatakan pada mereka?


Komandan Yakza mengangguk singkat. Ya. Mereka berhak mengetahuinya.


Lantas, dia menarik napas berat, menghembuskannya perlahan.


"Saat aku diterima menjadi pasukan, Jenderal Besar Karlo melihat bahwa aku lebih cocok dan berguna saat berada di bawah bimbingan atau menjadi pasukan Komandan Yakza. Dan karena rumahku di Daerah Barat, Jenderal bilang dia memberiku waktu dua tahun sampai aku dipindahkan ke Daerah Utara selama-lamanya bersama Komandan. Dan hari ini adalah hari terakhirku, jadi aku tidak bisa menjalankan misi bersama kalian lagi." Dia menjelaskan dengan seksama. Wajahnya hendak menahan sedu.


"Tunggu... tunggu sebentar! Tunggu sebentar, Jennifer! Maksudmu... maksudmu kau akan meninggalkan kami? Kau akan pergi begitu saja? B... bagaimana dengan rumah?! Rumah di Daerah Utara akan berbeda dengan Barat!" Yuda tidak terima, dia menggoyang-goyangkan bahu Jennifer dengan melotot. Dia tidak terima atas fakta ini, aku juga. Kenapa dia harus pergi...? Kenapa...?


"Rumah di Daerah Utara akan sama saja dengan Daerah Barat, karena disiapkan markas. Maaf, Yuda. Tapi aku yakin kau akan menjadi prajurit yang sangat hebat, bahkan di atas para Komandan. Kau akan mendapatkan kedamaian dengan kakakmu. Itu semua mampu didapatkan tanpa kehadiranku-"


"Tapi apa jaminannya semua itu?! Kau salah satu orang yang datang menyelamatkanku dari Arkane, kau mengorbankan rahangmu di Hari Pembantaian, kau menjadi Ketua OSIS yang hebat di sekolah! Itu... itu semua berkatmu yang sangat berbakat! Itu semua karenamu!"


"Tidak, Yuda. Semuanya berkat dirimu sendiri. Aku melihat kebaikan di dalam hatimu, tidak sepertiku yang hidup dalam kepalsuan. Maka dari itu aku melindungimu." Senyum Jennifer semakin melebar, semakin aku tidak ingin mendengar lebih darinya.


Napas Yuda terdengar berat, napasku kutahan mati-matian. Sekalinya aku bernapas pasti akan menangis. Jennifer adalah anak yang riang, cerdik, bersemangat dan selalu tertawa. Tidak ada yang tahu bahwa dia menahan masa lalunya dan memberi kebahagiaan untuk orang lain selama bertahun-tahun tanpa menerimanya untuk dirinya sendiri, sampai membuat tubuh baru, wajah baru dan rambut yang berbeda. Dan saat aku baru mengerti perasaannya, dia malah pergi... kita akan jarang bertemu. Bahkan, bisa jadi tidak akan pernah saling melihat lagi...


"Itu artinya... kau akan berhenti menjadi Ketua OSIS? Siapa... siapa yang akan menggantikanmu nanti?! Tidak ada di sekolah ini yang sepandai dirimu dalam memimpin! Kita... kita tidak akan berfungsi dengan baik tanpamu! Guru-guru, kepala sekolah, bahkan Pak Rudi, Satpam selama tujuh tahun memuji semua keteladananmu!" Raphael berseru tidak terima, mulai terisak, matanya berkaca-kaca. Aku menutup mata dengan telapak tangan kiri.


Jennifer menujuk Raphael.


"Kau, Raf."


"A... aku...?"


"Kalau ada saingan atau versi kedua dari diriku, itu adalah Raphael. Kita menjadi duo yang ikonik di sekolah, kan? Kau tidak ada bedanya denganku, Raf. Hanya saja... kau lebih humoris dariku. Hahaha." Dia tertawa membalas, mengusap sebagian mata kirinya.


"Tapi... tapi...! Argh!!! Falisha! Katakan sesuatu! Hentikan dia untuk pindah!" Raphael tidak terima, aku masih menutup mata.


Hening. Aku tahu semua orang menatapku, menunggu kata-kata yang keluar dari mulutku.


Aku pasrah. Melepaskan tanganku. Biarlah mereka melihat wajahku yang memerah, dipenuhi air mata dan jelek. Aku memeluk Jennifer dengan erat.


"Tidak apa-apa... setidaknya kamu berhak menerima kebahagiaan yang murni. Kamu sudah tidak perlu menyamar menjadi 'Wanita Pirang yang Sempurna' lagi. Lagipula, kita masih bisa berbicara lewat aplikasi di ponsel. Jennifer, aku bangga padamu." Dia berhak bahagia, beristirahat dan hidup tanpa kepalsuan. Sulit sekali membayangkan semua perjuangannya itu.


Cepat, Jennifer langsung memelukku kembali. "Terima kasih, Falisha. Aku juga bangga padamu. Sebagai penggemar, aku tidak akan pernah melupakanmu, tidak akan."


Singkat waktu, kami semua mendekat, berpelukan. Berkata terima kasih dan salam perpisahan. Sempat bercanda tawa dan berseru riang. Sempat melewati masa bodoh dan pintar bersama, Jennifer akan pindah daerah sebentar lagi ... benar-benar tidak terasa ...

__ADS_1


__ADS_2