Harapan Seperti Malaikat

Harapan Seperti Malaikat
Janji Seorang Sahabat


__ADS_3

Hari ini, semuanya akan berakhir.


Semuanya selesai.


Hidupku akan menjadi jauh lebih baik.


Kemakmuran umat manusia akan dikembalikan.


Hari Pembantaian akan segera dilaksanakan.


...***...


TRIN! TRIN! TRIN! TRIN!


Alarm pagi berbunyi keras menghantam telingaku. Aku beranjak keluar dari kasur, melakukan pemanasan sejenak meregangkan badan, sekilas berolahraga. Kemudian bergegas mandi.


Sepuluh menit, aku keluar dari kamar mandi. Menggunakan seragam pasukan di lemari kamarku, memakainya rapih dan hati-hati. Ini baju baru, lho. Leo bisa menamparku kalau rusak lagi.


Sarapan sejenak, memikirkan hari ini sepanjang jalan.


Krek! Aku membuka pintu. Masih gelap semi terang--bedanya, rumah-rumah kosong melompong.


Langsung saja, aku berlari menuju tempat yang diperintahkan oleh Leonardo. Yaitu daerah luas di pusat Daerah Barat, tepatnya Distrik Elia.


Di groupchat kemarin, Raphael dan Jennifer bilang kita akan berkumpul di gerbang sekolah, mumpung jarak antara gerbang sekolah dengan Distrik Elia hanya empat kilometer.


Wah, di sini benar-benar sepi. Tidak ada suara manusia sama sekali, hanya cicitan dan langkah hewan yang memenuhi telinga. Juga tidak ada bau yang menyengat, udara segar menimpali. Mereka sudah menjalani evakuasi dengan benar sampai Arzhul.


Arzhul, seperti apa ya negaranya? Kapan-kapan aku ingin berkunjung...


Sepuluh menit kemudian, aku sampai di gerbang sekolah. Jennifer sudah sampai daritadi.


"Jenn!" Aku melambaikan tangan, mendekat kepadanya yang sedang menunduk. Raphael belum datang.


Tunggu, Jennifer melamun?


"Emm... Jennifer?" Aku meletakkan tanganku di depan wajahnya.


"Eh! Fal! Maaf..." Akhirnya dia sadar, memperbaiki ikatan rambutnya.


"Wah... jarang sekali aku melihatmu melamun. Apa yang kamu pikirkan?" Tanyaku penasaran, dia membeku menatapku.


Hening sebentar, Jennifer kembali menunduk.


"Sebenarnya..." Dia memegang erat lengan kirinya dengan tangan kanan, terlihat ragu.


Aku menunggu jawaban darinya.


"Ah, bukan apa-apa, kok. Aku hanya teringat sesuatu. Hahahaha." Dia tergelak, menutup mulutnya dengan tangannya.


Wajahnya, kelakuannya ini... aku sangat mengenalnya. Aku pernah bersikap seperti ini kepada orang lain.

__ADS_1


Artinya, Jennifer sedang menyembunyikan sesuatu dariku. Sesuatu yang bisa menghalangi suatu proses, dia... tidak mempercayaiku?


"Oh, hahahaha." Balasku tertawa. Semua orang berhak menyembunyikan suatu hal. Aku sering melakukannya dulu, jadi aku bisa memakluminya...


Ding!


"Eh! Ada pesan baru dari Raphael!" Jennifer menunjukkan handphonenya yang barusan berdering. Bertuliskan notifikasi dari Raphael mengatakan "Kucing sialan! Aku dicakar karena tidak sengaja menginjak ekornya saat berlari!" Lalu mengirim foto wajahnya dengan goresan kecil di dahi. Aku dan Jennifer tertawa melihatnya.


Dia sangat baik ya... Jennifer ini. Senyuman khasnya membuat dia terlihat sangat cantik. Rambut pirangnya mengundang perhatian, dia sangat sempurna...


Matahari semakin naik menatap tanah, langit menjadi biru muda indah dan segar.


"Hei Jenn." Aku menyapanya, hendak memulai percakapan.


"Ya?"


"Soal foto hari itu, Ayah dan Ibu..." Aku ingin membicarakannya, Jennifer menatapku prihatin.


"Aku takut akan sesuatu, Jenn. Bagaimana... bagaimana kalau foto itu adalah target para monster? Bagaimana kalau aku selanjutnya? Dibunuh seperti Ibu dan Ayah-"


"Falisha." Hening sebentar, angin kencang berhembus menimpa rambut kami berdua. Jennifer menyentuh bahuku.


Aku menatapnya, Jennfier melihatku yakin.


"Kamu tidak sendiri. Aku dan Raphael bersedia melindungimu, begitu juga sebaliknya. Itu adalah cara kerja sahabat, susah dan senang bersama. Kalau kita tidak mau melindungi satu sama lain, maka pertemuan kami bertiga tidak sepatutnya terjadi." Dia mengepalkan tangannya, memberiku semangat.


...


"Jangan tertawa, jangan ditanya, jangan bicara tentang ini. Ayo cepat." Raphael datang, pfft... kali ini kedua pipinya punya dua goresan miring, dan dagunya lebam biru. Aku dan Jennifer mati-matian berusaha untuk tidak terbahak.


"Heh, wajah kalian seperti rakun yang sedang menahan kentut. Ah sudahlah, tertawa saja." Dia menyerah, aku dan Jennifer terlepas. Tertawa selama tujuh detik.


"Haduh... maaf-maaf... ehe, aduh..." Aku mengusap air mata, menghentikan tawaku yang berisik. Jennifer juga demikian.


"Hmph, ya sudah. Ayo pergi." Raphael membalas halus, menungguku dan Jennifer pergi. Dia mulai melangkahkan kakinya setelah kami. Tenang saja, Raphael itu... orangnya keren. Dia tidak akan marah bahkan setelah ditertawakan.


22 menit berlalu, kami sudah semakin dekat dengan tujuan. Aku berjalan di sebelah kiri, Jennifer di tengah, Raphael di kanannya. Namun, ada hal ganjil yang daritadi terjadi.


"Jeeeniiiifeeer~~~" Sudah dua puluh detik Raphael memanggil Jennifer, bahkan bersuara seperti sedang bernyanyi. Masih belum ada jawaban. Jennifer melamun hebat.


"Oh, eh? Ya? Raphael? Maaf, ada apa?" Akhirnya dia membalas, menatap Raphael.


"Haduh, kamu ini kenapa sih? Cukup satu Raja Galau di dunia ini. Jangan dua, nanti aku yang repot." Raphael bertanya, Raja Galau yang dimaksudnya itu adalah aku, memang menyebalkan...


"Ahahaha, aku hanya... eh, lihat! Kita sudah sampai!" Jennifer memotong kalimatnya sendiri, menunjuk ke arah depan.


Di sana, ada tanah rumput pendek berbentuk lingkaran, diameter satu kilometer lebih, dengan bebatuan setinggi lututku mengelilingi pinggirnya. Kecuali satu batu yang berlubang untuk kami masuk.


Distrik Elia ini sepi, sangat sepi. Hanya ada beberapa bangunan saja, namun indah sekali. banyak tumbuhan-tumbuhan berwarna kuning dan hijau muda yang membuat elok pemandangan. Dan juga, di sini adalah pusat para ahli teknologi yang membuat senjata-senjata untuk kami. Jadi ada banyak bangunan futuristik, berwarna biru tua berbahan kaca tebal.


Sayang sekali, hanya beberapa orang yang diizinkan untuk masuk daerah sini. Tapi karena semuanya sudah dievakuasi, dan akan ada pembantaian monster beberapa menit lagi, kita diperbolehkan berkumpul di sini

__ADS_1


Terdengar suara cap cip cup pasukan dari dalam sana, kami bertiga termangu.


"Huh, Hari Pembantaian, ya... banyak yang antusias ternyata." Raphael berkomentar, meregangkan lengannya.


"Ya... kalau beruntung, ini akan benar-benar menjadi misi terakhir kami." Jennifer menimpali.


...


Misi terakhir, ya. Setelah ini, apakah kami masih bisa berteman? Apakah Jennifer akan kembali menjadi ketua OSIS yang sibuk mengurus sekolah? Apakah Raphael akan menjadi anak yang terkenal dan bisa menyaingi Jennifer? Lalu bagaimana nasib Leo? Dia berkencan dengan siapa?


Lalu... bagaimana denganku... apakah, apakah aku akan sendirian lagi...?


"Oke... ayo masuk." Raphael menghembuskan napas, melangkah duluan masuk, aku dan Jennifer mengangguk.


"Yo, Raphael!" Salah satu pasukan menyapa, Raphael balas melambai. Menunggu kami berdua benar-benar masuk.


Astaga, semua pasukan Daerah Barat berkumpul. Jumlahnya banyak sekali... ada yang sedang mengobrol, bercanda tawa, terbahak hebat, dan kegiatan lainnya.


"Wah... sebanyak ini ya mereka. Aku belum pernah melihatnya..." Jennifer termangu menatapnya.


Di sebelah kanan, aku melihat Yuda yang sedang sendirian. Mungkin... kucoba ajak bicara?


"Yudaa!" Seruku sambil berlari menujunya.


"Oh. Halo." Dia membalas singkat, menatapku tajam.


Wah... mungkin hari itu aku dan Raphael sedang buru-buru mencari Leo sampai tidak menyadari hal ini.


"Bagaimana kabarmu?" Aku bertanya.


"Baik. Kamu?"


"Aku sangat semangat! Lebih semangat daripada siapa pun di dunia ini." Jawabku sambil berseru, mengepalkan tangan.


"Hahaha, bagus." Dia tertawa sedikit.


"Oh iya, maaf kalau lancang. Tapi... berapa usiamu?" Aku bertanya lagi, dia terlihat sangat muda namun sangat berpengalaman, tingginya juga sama denganku.


"Lima belas tahun." Jawabnya pendek.


...


"Tunggu, apa?" Aku tidak percaya.


"Lima belas tahun, sungguh."


"K-kamu lebih muda dariku?! Dan menjadi kepercayaan Leo?!"


"Yah, Komandan Leonardo tidak pernah memandang usia." Dia memperjelas, aku masih gregetan hendak menolak. Aku kira, kukira aku adalah prajurit yang paling muda. Tapi Yuda lebih muda dariku, astaga...


"Baik! Silahkan berbaris!" Orang yang ditunggu, Komandan Leonardo datang berjalan menuju pusat lingkaran. Bersiap memberikan wejangan.

__ADS_1


__ADS_2