Harapan Seperti Malaikat

Harapan Seperti Malaikat
Omni Baik?


__ADS_3

Hari Pembantaian sudah selesai. Walaupun kita beruntung, sangat beruntung. Markas kedua dan ketiga benar-benar aneh, kita bertemu Logan, pamanku yang ternyata adalah Monster Bertopi Fedora. Lalu Ayah membantu membantai monster-monster di stadion, dia menculikku dan bilang bahwa aku tidak boleh percaya kepada markas, markas yang merawatku bertahun-tahun, memberiku uang, membunuh monster-monster yang hendak membunuh tanpa batas. Aku semakin pusing, harus berada di pihak mana sekarang?


Untungnya, hanya aku yang tahu. Jendral Besar, Leo, Yuda, bahkan Raphael belum kuberitahu soal "Para monster adalah korban eksperimen seorang ilmuan gila, tidak ada di antara mereka yang jahat."


Aku akan memberitahu semuanya kepada Jendral Besar nanti. Karena jujur saja, aku lebih mempercayai Ayah daripada siapa pun. Maaf, Leo...


Setelah tronton datang dan membawa kami semua, aku, Raphael dan Yuda memutuskan untuk menjenguk Jennifer. Astaga, dia pingsan dan tubuhnya panas. Tapi Dokter bilang dia akan baik-baik saja, syukurlah, dia memang kuat ya...


...***...


Sekarang, kami bertiga sedang naik sepeda menuju markas, sudah dua minggu semenjak Hari Pembantaian, dan aku memutuskan untuk membeli sepedaku sendiri, berwarna putih.


Dan, warga masih dievakuasi. Ternyata beberapa daerah tidak begitu beruntung, ada omni yang berhasil kabur dan sekarang entah bersembunyi di mana. Jadi sampai konflik ini benar-benar selesai, rakyat masih dievakuasi.


Di Daerah Barat, semua monster kecuali Ayahku dan Logan sudah mati, Dzar dan Ava dikunci di suatu ruangan. Jadi kami semua aman.


Semenjak Hari Pembantaian, Raphael dan Jennifer selalu saja berdiri di samping kanan dan kiriku, jadi overprotektif...


Jalanan dan tempat-tempat menjadi sangat sepi, telingaku hanya mendengar suara nging... dan terkadang suara roda sepeda yang menabrak batu. Raphael dan Jennifer masih saja melaju di sebelah kanan dan kiriku.


"Raf, Jenn, apa ini? Kenapa tiba-tiba melindungiku setiap saat? Kalian seperti petugas pribadi untuk para konsil!" Aku mencomot topik percakapan, mengalahkan hening.


Raphael menghembuskan napas "Semenjak Omni Cepat itu membantai semua pasukan, aku menjadi paranoid. Maksudku, dia menculikmu dan tidak melakukan apa-apa kepadamu, pasti dia mengancam atau meminta sesuatu darimu, benar kan?"


"Benar, aku dan Raphael sepakat dari sekarang, kita akan melindungimu setiap saat." Jennifer menimpali, mengusap keringat di dahi.


Aku berpikir sejenak, haruskah aku beritahu mereka? Bahwa Omni Cepat itu adalah Ayahku dan dia telah menjelaskan semuanya?


Worth a shot, mereka juga sepertinya bukan orang yang jahat.


"Omni Cepat itu adalah Ayahku." SRETT, persis setalah kalimatku selesai, Jennifer dan Raphael mengerem sepedanya, membuatku maju ke depan sendirian.


"HAH?!" Mata Raphael terbuka lebar, dia tidak percaya.


Aku menghentikan sepeda, menghadap ke belakang.


"Ya... dia adalah Ayahku, Liam. Dan Monster Bertopi Fedora itu adalah Logan, Adiknya. Mereka tidak jahat." Kuperjelas topiknya. Hening sejenak, mereka berdua menatapku tidak percaya.

__ADS_1


"Aku tidak mengerti, sungguh! Jelaskan lebih detail, Fal!" Raphael penasaran, menidurkan sepedanya dan berlari mendekat, Jennifer juga demikian.


Lantas aku menjelaskan semuanya kepada mereka. Fakta bahwa ada ilmuan gila yang membuat para monster dan omni, Pasukan Penjaga Kedamaian yang tidak bisa dipercaya, dan Ibuku yang ternyata tidak dibunuh oleh Logan melainkan monster medium.


Dagu mereka terjatuh, setengah berpikir.


"Kalau monster medium itu jahat, kenapa Ayahmu dan Adiknya baik? Apakah ada perpecahan di antara mereka?"


"Aku tidak tahu."


"Bagaimana caranya Ayahmu menjadi omni? Kekuatan itu dapat dari mana?"


"Aku tidak tahu." Semua pertanyaan itu kubalas dengan jawaban yang sama, aku tidak tahu.


"Sebenarnya, aku ingin membicarakan tentang hal ini dengan Jendral Besar, tapi aku masih ragu..." Aku mengusap keringat di dahi, berkata sebisanya.


"Mungkin sebaiknya kita bicarakan dulu dengan Leo. Sepertinya dia bisa melakukan sesuatu."


"Tidak, maksudku, kita bisa beritahu Leo, tapi aku tidak yakin dia tahu apa langkah selanjutnya terkait hal ini. Jadi soal solusi, kita serahkan saja kepada Jendral besar, biarkan Leo berisitirahat, dia demam selama empat hari karena api birunya yang sangat meluas hari itu." Aku menjawab, sedikit tertawa. Jennfier dan Raphael mengangguk setuju.


Kami menaiki sepeda masing-masing, menggoesnya sampai tembok besar. Setelah menggesekkan kartu kami, lift terbuka dan akhirnya kami masuk ke dalam, meninggalkan sepeda di luar. Tenang saja, aman kok. Mumpung semua warga sedang evakuasi...


"Belum tahu, Raf. Aku belum siap." Kakiku bergetar sambil menjawab pertanyaan Raphael, pasti Jendral Besar sedang curiga kepadaku. Omni menculikku dan aku tidak terluka sama sekali, itu sangat aneh.


Perlahan, pintu lift terbuka.


Semua pasukan yang bisa dilihat oleh mataku, melihatku sinis, marah, semua percakapan mereka terhenti, semuanya melihatku. Suasana menjadi hening.


Perasaanku tidak enak...


"Um... hai?" Aku melambaikan tangan perlahan, masih bingung.


"Heh." Buk! Pasukan yang di dekat lift mendorongku, aku mundur dua langkah.


"Katakan, apa bagianmu dalam penyerangan monster? Berapa banyak harga yang dibayar mereka untukmu?" Dia bertanya kepadaku lancang, hendak memukul.


Grep! Raphael memegang lengannya yang mau memukul, membuatnya beku.

__ADS_1


"Jangan sentuh dia." Raphael berkata marah.


"Oh ya? Kalian anak kesukaan Leo memang sangat merepotkan. Sudah kuduga ketua sialan itu tidak benar." Pasukan itu melepaskan diri, hendak memukulku lagi-


"Oh? Ketua sialan, katamu?" Leo berdiri di belakangnya, menunduk. Tubuh tingginya itu terlihat mengancam.


"Kuberi hitungan sampai tiga, Suga. Jika kau tidak pergi dari hadapanku, aku akan menghajarmu seperti kemarin. Kau tahu kan, aku selalu menang saat berduel denganmu. Kebangganmu yang berlebihan itu tidak akan membuatmu menjadi lebih kuat." Leo berkata tegas, mendekatkan wajahnya. Semua pasukan terlihat takut dan beberapa dari mereka sudah pergi mengurus urusannya masing-masing.


Suga malu menunduk, kemudian pergi.


"Kalian semua juga serupa! Tinggalkan Falisha!" Dia memerintah yang lainnya juga, suaranya aku yakin memenuhi markas yang panjang ini. Sekarang sisa kami bertiga dengan Leo, dia menggeleng kecewa.


"Apa-apaan tadi, Leo?" Aku bertanya heran.


"Semenjak Hari Pembantaian, kau tidak disukai oleh banyak orang. Mereka mulai berpikir hal yang tidak-tidak tentangmu. Ada yang berpikir bahwa kau sekongkol dengan Omni Cepat itu dan bla bla bla." Dia membalas, wajahnya sedikit jengkel.


Baiklah, aku akan memberitahunya.


"Leo, bisakah kita bicara di kantormu? Hanya berempat." Aku berusul, Leo mengangguk.


Di kantor Leo, sunyi dan bersih, dia duduk di kursinya, lanjut menulis di buku kecil.


"Baik, katakan."


"Begini... Omni Cepat itu... adalah Ayahku." Sret. Pulpen yang digunakan Leo terhenti, dia menatapku tajam. Aku melihatnya heran.


"Serius?"


Aku mengangguk.


Hening, Leo masih menatapku. Lalu dia tertawa. Aku, Raphael dan Jennifer melihat satu sama lain, kenapa?


Perlahan, gelak Leo terhenti, dia menarik napas, menutup bukunya dan meletakkan pulpennya ke meja. "Maaf, maaf. Aku hanya sedikit lega. Sudah kuberikan pendapatku kepada Jendral Besar tentang ini. Biar kutebak, Ayahmu itu baik, kan? Dan dia sedikit jengkel dengan Pasukan Penjaga Kedamaian karena kita terus membantai para monster, benar kan?"


Aku mengangguk lagi, astaga, dari mana dia tahu? Sejauh itu penelitiannya?


"Yah, aku bisa menyimpulkan seperti itu karena baru pertama kali ini, ada omni yang tidak agresif ketika melihat manusia. Maksudku, seandainya Ayahmu itu seperti Dzar atau Ava, atau bahkan Arkane. Kau pasti sudah terluka parah. Tapi saat kami menemukanmu di rumah lamamu, kau sehat dan mampu bergerak luas, hanya lelah." Dia memperjelas, benar juga...

__ADS_1


"Lalu? Bagaimana menurutmu?" Jennifer bertanya, pasti Leo punya pikiran cerdas tentang hal ini.


__ADS_2