Harapan Seperti Malaikat

Harapan Seperti Malaikat
"Orang Tua"


__ADS_3

Di markas, tepatnya di dalam ruangan lorong tahanan para omni. Semua yang tertangkap di Hari Pembantaian, ditahan di sana walaupun belum seluruhnya. Omni yang berhasil ditangkap masing-masing dijebak dalam kamar kecil berbentuk kotak yang terhalangi oleh kaca transparan bertenaga laser biru muda, semuanya berseru membuat berisik memekakkan telinga.


Mereka aman, tidak bisa kabur maupun menyerang, tertahan sampai Jendral Besar membebaskannya.


Leonardo yang sendirian, sedang berjaga-jaga di luar kamar orang tua yang Falisha, Raphael dan Jennifer temukan dua hari sebelum Hari Pembantaian. Dia menjaga foto keluarga Falisha yang sedang liburan, maka dari itu ia ingin segera menyelidikinya, siapa orang tua itu sebenarnya.


Dia mulai skeptis terhadap identitas orang itu, untuk seorang omni, yang tegas dan menakutkan, aneh sekali jika mereka melindungi sekertas foto kecil. Bahkan, dari yang Falisha katakan kepadanya, kekuatan tentakel itu terdengar menakutkan...


"Hoaam..." Dia menguap. Bersedekap menatap orang tua pendek dan gemuk yang rebahan di atas kasur dalam kamar tahanan, melalui laser terang itu.


"Hei..." Ada yang menyapa. Suaranya berasal dari kamar di sampingnya.


"Kau buat apa berdiri di sana? Nanti pegal lho..." Dzar, membungkukkan seluruh tubuhnya demi mengejek Leonardo. Tidak dibalas, dia kembali ke tempat semula, depan kamar orang tua itu.


"Siapa kau sebenarnya, Pak Tua? Kenapa dari semua omni menyebalkan itu, kau yang paling membuatku penasaran...?" Leo mengusap dagu sambil bicara pada dirinya sendiri. Sudah tujuh hari dia menunggunya bangun...


"Selamat siang, Leonardo." Seseorang datang dari pintu masuk, berjalan menuju lorong panjang.


"Siang." Jawabnya pendek. Lantas dia menguap lagi.


"Apa yang kamu lakukan di sini? Sendirian menatap para omni?" Itu adalah Komandan Yakza, Ketua Pasukan Daerah Utara. Rambutnya panjang namun diikat, badannya gagah dan kuat, tingginya sama dengan Leonardo. Dari semua Komandan, dia yang memiliki hubungan paling erat dengannya, seperti rekan sejati.


"Sedang menunggu jawaban. Tidak usah ditemani, kok."


"Oh, orang tua itu ya?"


"Ya."


Hening sejenak, Yakza melihat tubuh orang tua itu. Kasihan sekali, rambut beruban dan wajahnya yang keriput terlihat lelah, pasti buruk sekali menjadi seorang omni...


"Kamu yakin tidak butuh apa-apa dariku? Bagaimana kalau segelas teh hangat? Atau kopi susu yang selalu menjadi kesukaanmu?"


"Aku sedang tidak mood, Yakza. Beberapa hari yang lalu, anak-anak diserang oleh Monster Bertopi Fedora-"


"Astaga! Serius?!"


"Ya. Kekuatannya di luar dugaan. Tapi syukurlah mereka semua selamat. Aku hanya sebal karena harus menunggu, menunggu dan menunggu. Kasihan sekali mereka harus menderita bertubi-tubi tanpa henti, aku tahu itu adalah resiko menjadi seorang pasukan, tapi... aku sangat menyayangi mereka. Melihat ada yang pingsan saja aku tidak kuat, harus mati-matian menahan wajah dinginku itu." Kepala Leonardo menunduk sedikit, Yakza melihatnya prihatin.


"Aku dengar, Daerah Utara sukses membantai semua omni dan sarang monster?" Leonardo bertanya.


"Ya, sebagian besar berkat Jendral Besar."


"Hahaha, aku tahu. Dia sangat hebat. Bisa mencari Falisha yang hilang dengan perasaannya. Kita sungguh beruntung memilikinya-"


"Um... ugh..."


Astaga! Orang tua itu! Akhirnya dia mengeluarkan suara!


"Yakza... ini mimpi?"

__ADS_1


"Bukan. ini hasil usahamu dan anak-anak, Leo." Mereka berdua melihatnya tidak percaya. Orang tua itu perlahan terkejut, dan duduk dengan sendirinya. Menatap sekitar, akhirnya perhatiannya tertuju pada Leonardo dan Yakza.


"K... kalian... siapa...?" Untuk pertama kalinya ada omni yang tidak agresif dan marah. Mata Leonardo dan Yakza melotot penuh, mulutnya terbuka.


"Pak, mohon tenang. Kami adalah Pasukan Penjaga Kedamaian." Leonardo mencoba menenangkan sambil mengangkat kedua tangannya.


"P... Pasukan...? Pasukan apa? Menjaga kedamaian dari siapa?"


Semuanya heran, pertama, apa?! Orang tua ini kenapa?! Dia tidak tahu soal pasukan yang menjaganya selama delapan tahun?! Kedua, orang tua ini pasti heran, di mana dia? Dan kenapa ada dua orang yang berseragam tegas dengan kotak panjang di sampingnya?!


"Pak Tua, kau..." Leonardo terbata-bata berkata. Namun, akhirnya dia menarik napas perlahan.


"Pak Tua, siapa namamu?"


"D... Danu... Danu Tarandu..."


"Pak Danu, apa yang terakhir kali Bapak ingat?" Leonardo bertanya lebih halus. Yakza berpikir keras mencoba menemukan jawaban.


"Uhm... itu... um..." Tangannya bergetar hebat, bergerak saja terlihat sulit, aneh sekali. Seolah-olah dia kehilangan kendali atas tubuhnya selama bertahun-tahun.


Leonardo menggaruk dagunya. Sesulit itukah untuk orang tua ini bicara?


"Saya... dan majikan saya hendak pergi ke suatu tempat, lupa ke mana tepatnya. Lalu, tiba-tiba saja ada orang aneh yang mengikutiku. Mengatakan beberapa hal tentang... pengorbanan? Ya, pengorbanan dan semacamnya. Aku menolak, pergi menjauh darinya. Sayangnya, tiba-tiba aku tidak sadarkan diri. Dan sekarang, aku berada di ruangan aneh ini."


Leonardo dan Yakza menangguk perlahan, walaupun mereka tahu, tidak ada yang bisa menarik kesimpulan dari situ.


"Sekitar... bulan Mei, tanggal empat. Tahun 2014."


Di saat itulah, kedua Komandan mundur dua langkah dengan sendirinya. Kejadian menjadi semakin aneh. 2014?! Itu delapan tahun yang lalu!


Semua omni berseru semakin berisik, kali ini telinganya sampai menyakiti semua orang. Mereka seperti mengejek, mengatakan "Rasakan itu!" Dan hal semacamnya.


"DIAM!!!" Yakza berseru hebat, suaranya sendiri mengalahkan semua omni yang berseru. Sekarang hening, sangat sunyi. Danu menutup telinganya takut, masih tersesat dengan sekitarnya.


"Leonardo." Yakza memutarkan tubuhnya, menghadap temannya sekarang. Mereka memikirkan hal yang sama.


"Kau benar, Yakza. Dia tidak sadarkan diri selama delapan tahun... seseorang... mengendalikannya." Leonardo ragu-ragu menjawab, menggaruk dagunya tambah cepat sambil menatap rekannya.


Yakza mengangguk, sedikit cemas. Siapa monster yang tega melakukan itu? Siapa? Apakah itu ilmuan yang dikatakan Falisha?


"Tolong... jelaskan kepadaku... apa yang terjadi? Kenapa di sini berisik sekali? Di mana mereka? Di mana Logan?"


"!" Leonardo mengangkat tubuhnya yang tadinya bungkuk, mendengarnya langsung membuatnya terkejut. Falisha pernah menyebut nama itu suatu hari.


"Logan?" Dia ingin informasi yang lebih lanjut.


"Iya... adik dari Liam Ghazali, dulu aku pengasuh keduanya. Sampai saat ini, aku dianggap bagaikan keluarga oleh mereka. Di mana Liam dan Logan?" Danu bertanya lagi, lebih lanjut kali ini.


Sekarang, bagaimana caranya Leonardo menjawab pertanyaan itu? Logan menjadi monster bersama Kakaknya?

__ADS_1


"Yakza... sepertinya aku butuh kopi sekarang..." Katanya pasrah. Yakza tertawa sejenak, lantas pergi mengambilkan kopi untuk temannya.


Sepuluh menit, Leonardo menjelaskan semuanya. Dari Pasukan Penjaga Kedamaian, Para Omni, dan Hari Pembantaian. Danu melotot hebat mendengar semua itu, seolah-olah dunianya berubah total, memang sih...


"Astaga... seburuk itukah dunia sekarang...? Ini gawat..."


"Tenang, Pak Danu. Masih ada harapan."


"Harapan?"


"Ya. Kalau kau dianggap keluarga oleh Liam dan Logan, pasti kau mengenal seseorang. Falisha."


Mendengar "Falisha", wajah Danu sedikit lega, dia menghembuskan napas.


"Iya... aku sangat mengenalnya. Aku yang memberinya nama itu. Anak itu bagaikan emas yang tiada banding, kebanggaan keluarga..." Dia menundukkan kepala sambil berkata lemas, meletakkan tangannya di atas dada.


"Berarti... ini sebabnya dia melindungi foto itu. Walaupun dikendalikan oleh orang gila selama delapan tahun, yang namanya firasat dan rasa sayang pasti akan mengambil alih sebagian otak manusia." Ujar Leonardo dalam hatinya, kembali menggaruk dagu.


Sreet... Pintu terbuka, Yakza datang dengan kopinya.


"Huh. Cukup lama untuk sebuah kopi." Leonardo bergurau.


"Maaf. Ada panggilan darurat, aku harus melakukan misi khusus nanti."


"Misi? Bukankah semua monster sudah habis di daerahmu?"


"Ini bukan tentang monster, Leo."


"Ooh..." Leonardo langsung mengerti, meminum kopi yang dibuatnya sedikit.


"Oh iya, bolehkah aku meminta anak-anak untuk mengikuti misi kali ini?"


"Hm? Buat apa?"


"Aku merasa mereka cocok untuk hal ini."


"Semuanya? Sekarang juga?" Leonardo bertanya lagi, baru pertama kali Yakza menginginkan bantuan Falisha, Raphael, Jennifer dan Yuda untuk suatu misi.


Yakza mengangguk singkat.


Dia berpikir sejenak, memperhitungkan segala kemungkinan di kepalanya.


"Baiklah, tapi berjanjilah untuk membawa mereka semua pulang dengan selamat."


"Tenang saja. Aku punya pengalaman menjadi seorang Ayah."


"Hmph, sedikit."


"Biarkan. Yang penting punya." Yakza memukul lengan Leonardo, bergurau sedikit. Lantas mengucapkan kata perpisahan kepada temannya dan Danu, berjalan perlahan keluar ruang tahanan.

__ADS_1


__ADS_2