Harapan Seperti Malaikat

Harapan Seperti Malaikat
Daerah Utara


__ADS_3

Kami sedang berjalan menuju Distrik Elia, Leo bilang kita bisa menggunakan teknologi teleportasi itu untuk pergi ke Daerah Utara.


Sudah mulai sore, matahari memencarkan sinar yang panas menghantam wajah kami. Selalu beda rasanya karena semua orang dievakuasi... sepi dan hening.


"Aku belum pernah menjalankan misi bersama ketua lain selain Leo, kalau tidak salah, totalnya ada delapan ya?" Aku penasaran.


"Yup, mereka sangat hebat. Aku pernah melihat satu." Yuda menjawab.


"Sungguh?"


"Ya, Komandan Kiara. Dia adalah Komandan Pasukan Daerah Selatan. Waktu itu kasusnya adalah Kak Azriel-"


...


Yuda tiba-tiba diam. Sepertinya menyebut nama itu masih tidak mengenakkan...


Aku dan Raphael menatapnya kasihan. Raphael menepuk bahunya perlahan...


Yuda tersenyum sedikit.


"Waktu itu kasusnya adalah Kakak diangkat menjadi salah satu prajurit terbaik di markas. Tapi harus ada tantangan tertentu, melawan salah satu Komandan. Hasilnya harus bertahan selama lima menit, atau seri. Kalau menang, maka prajurit itu akan menjadi Komandan selanjutnya. Nah, Kakak dapat Komandan Kiara sebagai lawannya, dan menurut rumor, duel antara mereka berdua itu mengalahkan pertarungan apa pun di dalam markas." Yuda menyengir lebar, dia terlihat seperti penggemar berat pertempuran itu.


Kak Azriel... sepertinya dia sangat hebat, menjadi salah satu prajurit terbaik di markas...


Tunggu, Komandan Kiara perempuan? Wah, jangan-jangan yang kulihat hari itu? Yang seperti remaja?


Eh, jangan-jangan dia Komandan yang masih remaja?!


...***...


Sampai di Distrik Elia, kota yang berbangunan keren dan futuristik ini malah sepi, kasihan sekali...


Kami berada di tempat yang dikelilingi batu-batu besar itu. Karena hanya ada tiga orang di sini, tempat ini terasa jauh lebih besar. Tempat yang dipakai Leo untuk memberikan instruksi kepada semua pasukan Daerah Barat saat Hari Pembantaian...


"Umm... bagaimana cara kerjanya?" Kepala Raphael menghadap ke segala arah, aku dan Yuda serupa.


"Mungkin... kita harus-" Aku hendak berusul.


SIIIIIIING!


Eh?


Cahaya putih terang memekakkan mata, aku tidak bisa melihat!

__ADS_1


SIIIIIIIIING!


Kututup mataku dengan penuh. Astaga, cahaya apa itu? Kenapa terang sekali?


Tapi... kenapa sekarang kakiku terasa... lebih halus? Suasana juga terasa berubah, walaupun aku tidak bisa melihat apa-apa. Dan juga panasnya lebih menimpa daripada sebelumnya.


"Wah..." Ada suara Raphael yang terdengar kagum, aku masih menutup mata.


"Ada apa, Raf? Ada apa di sana?"


"Kau harus melihatnya sendiri, Fal... ini sangat indah..." Suaranya semakin mengecil, dia sepertinya melangkah maju perlahan...


"Yuda? Bagaimana menurutmu?" Aku bertanya lagi.


"Raphael benar... ini enak untuk dipandang..." Sama, Yuda terdengar kagum.


Baiklah, aku akan membuka mataku...


Waaah... aku berada di lembah berwarna hijau muda dengan gunung di antaranya... beberapa bunyi yang tidak kumengerti menyambut telingaku dengan lembut... cahaya matahari meneranginya, membuat pemandangan ini semakin indah. Udaranya juga sejuk dan menenangkan...


Eh, inikah Daerah Utara? Lembah?


"Ah, kalian sudah sampai!" Suara wanita di belakangku menghampiri. Kami bertiga memutar balikkan badan.


"Jennifer!" Aku berseru. Dia berjalan dengan riang dan tersenyum lebar, rambut pirang indahnya diikat rapih, dia sangat wangi, sungguh cantik hari ini!


"Komandan Yakza butuh bantuan tadi, mencari suatu lokasi. Tapi sudah selesai, dia menunggu kita di dekat sana! Ayo!" Dia menjawab, melambaikan tangannya dan berjalan ke belakangnya.


Kami bertiga menatap satu sama lain, tapi akhirnya mengikuti Jennifer di belakangnya. Rumput-rumput pendek di bawah terlihat sangat memuaskan.


Aku menatap kedua gunung di kanan dan kiriku, bisakah aku naik ke sana suatu hari nanti? Ah, rasanya tidak mungkin. Tapi mungkin saja...?


Oh iya, aku belum memberitahu Leo tentang kekuatanku. Raphael, Yuda dan Jennifer juga belum. Mungkin suatu hari nanti.


"Ayo makan, ayo, nah, habiskan yaaa..." Suara yang tua, berat dan gagah terdengar tidak jauh dariku.


Eh, ada orang yang sedang... apa itu? Biji-bijian? Dia melemparkan biji-bijian kepada cendrawasih berwarna merah yang terbang. Lantas ia mendarat, dan memakannya.


Rambut panjang diikat, badan tinggi dan gagah, jenggotnya yang tipis... itu Komandan Yakza! Aku masih ingat wajahnya!


Tunggu sebentar, ada tas yang menempel di samping seragamnya? Tidak ada tali, hanya tas.


"Komandan!" Jennifer melambaikan tangan ke arahnya, lantas ia membalikkan kepala, menghadap kami semua.

__ADS_1


"Ah, selamat datang." Suaranya terdengar jelas, sedikit serak dan lebih berat. Kami semua mendekat satu sama lain, aku tidak berani bicara... dia terlihat menakutkan, tapi... aku merasakan kebaikan dalam hatinya.


"Komandan, ini mereka! Falisha, Raphael dan Yuda!" Jennifer dengan senang memperkenalkan kami. Dibalas menunduk.


"Aku sudah mendengar banyak tentang kalian. Dan terima kasih atas waktunya. Suatu kehormatan bisa bertemu dengan prajurit teladan seperti kalian." Dia balas menunduk. Astaga, harusnya kami yang mengucapkan itu. Dia sangat rendah hati, ya.


Cendrawasih merah tadi terbang menghampiri Komandan Yakza, berputar-putar mengelilinginya.


"Hahaha... iya sama-sama." Balasnya, sambil menatap burung itu menjauh dari kita.


"Baiklah, sebelum memulai misi ini, ada pertanyaan?" Dia berkata. Apa? Pertanyaan?


Kami menatap satu sama lain. Bingung.


"Saya, Komandan." Yuda mengangkat tangannya.


"Silahkan, Yuda."


"Apakah... apakah semua Daerah Utara mencakup dataran tinggi? Adakah perkotaan atau misalnya... mall, di sini?" Dia memperjelas perkataannya, wajahnya amat penasaran.


"Hahahaha. Tidak, Nak. Di Daerah Utara, tidak ada yang namanya mall, perkotaan, atau semacamnya. Warga di sini cenderung menikmati kesederhanaan dan kerja keras. Jadi yang menggunakan teknologi mutakhir hanyalah Pasukan Penjaga Kedamaian. Sisanya biasa, bergerak sesuai mata pencahariannya." Komandan Yakza terkekeh, menjawab sehalus mungkin.


Astaga, jadi begitu. Mereka lebih suka kesederhanaan. Pantas saja aku tidak melihat bangunan mewah sedikit pun, ini sangat berbeda dengan Daerah Barat...


"Komandan, aku punya pertanyaan." Giliran Raphael yang mengangkat tangannya.


"Silahkan."


"Serum apa yang ingin kau buat? Maaf, aku lupa."


"Baik. Singkatnya serum itu adalah penyembuh omni, dan baru selesai diproduksi, jadinya misi ini berlaku sekarang. Itu bisa mengubah omni kembali menjadi manusia. Nanti saat sudah diambil, akan diduplikasikan untuk yang lainnya. Jadi saat mereka sudah sembuh, tugas terakhir pasukan adalah mencaritahu siapa dalang dibalik semua monster. Begitu." Komandan Yakza menjawab pertanyaan. Tubuh tingginya berdiri tambah tegak, kami mengagguk perlahan.


"Kenapa harus membawa kami, Komandan? Maaf, tidak bermaksud keberatan atau menyinggung, tapi aku yakin Komandan sudah sangat hebat, tidak membutuhkan kami." Aku bertanya sekarang, masih heran.


"Itu adalah permintaan dari ilmuanku. Dia secara spesifik mengatakan nama kalian untuk mengikuti misi ini." Setelah berkata, Komandan Yakza mengambil tabung kecil dari sakunya, lantas melemparkannya ke atas rumput.


Apa ini? Tidak terjadi apa-apa-


"Menghubungi, menghubungi, mohon tunggu. Menghubungi, menghubungi, mohon tunggu." Eh?! Tabung itu mengeluarkan suara! Seperti alat yang memanggilku tadi!


Sekilas, keluar sinar berwarna biru muda dari sana, bertuliskan "Loading..." yang mengedip tanpa henti.


"Maaf, ini agak lama. Sebagai gantinya, kalian akan melihat seseorang yang sudah kalian kenal. Ilmuan ini sangat baik." Komandan Yakza menimpali, bersedekap menunggu alat itu.

__ADS_1


"Koneksi berhasil." ZRUNG! Setelah berkata begitu, ada hologram berbentuk manusia yang keluar dari sana, tingginya sebanding dengan kehidupan nyata, tidak lebih kecil maupun lebih besar.


Tunggu sebentar... itu... Kak Liona?!


__ADS_2