
Di sisi lain, terdengar suara Leo yang sedang bertarung melawan Dzar. Walaupun aku tidak bisa melihatnya, kuharap dia baik-baik saja...
Jennifer berhasil berdiri, mengusap darah di bibir. Yuda waswas hendak membiarkan, aku dan Raphael berdiri di depan. Ava hanya tertawa seperti orang gila.
BUUUUM! Ava melepaskan pukulan, angin kencang maju menuju kita, berhasil dihindari.
Aku dan Raphael maju, WOOSH! Seranganku dihindari, WOOSH! Serangan Raphael meleset, BUUUUM! Kami menghindari pukulannya, angin super kencang menyakiti telingaku.
BUUUUM! BUUUM! BUUUUM! Tiga pukulan lepas, menghancurkan bangunan, aku mati-matian menghindarinya.
Raphael maju.
ZUNG! Serangan Raphael meleset, WOOSH! Selanjutnya dihindari, BUUUM! Pukulan kencang lepas, Raphael menghindar dan gesit menahan lengannya.
"Fal!" Dia memberi sinyal. CRAT! Aku menusuk lengan kanannya.
"BOCAH SIALAN!" BUM! Pukulan lengan kanannya melemah, tapi mementalkan Raphael jauh ke belakangnya.
"RAF!" Seruku khawatir, BUM! Aku menghindari serangan Ava.
BUM! BUM! BUM! Pukulan bertubi-tubi dilepas, semuanya kuhindari. Aku punya rencana.
BUM! Kuhindari serangannya, BUM! Pukulannya meleset, BUM! Lagi-lagi tidak mengenaiku.
SLASH! Sedikit lengan Ava terluka, dia menjerit marah.
BUM! Ava memukul tanah sambil melompat, membuatnya lebih tinggi. BRUUUKKK! Dia memukul ke bawah saat mendarat, ubin yang retak tambah rusak, aku menghindari serangannya sekuat tenaga, menjauh sebisaku.
"Ha!"
"!" Gerakannya cepat sekali! Ava di depanku hendak memukul!
BUM! Dia memukul kebawah, kakiku terperangkap di antara ubin! Ini gawat!
"Nah... ha... hahaha... kalau begini salah siapa?" Ava menahan kepalaku, hendak memukul lagi-
CRAT!
"Agh!!!" Raphael menusuk punggungnya dari belakang, BUM! Dia dipukul lagi, terpental jauh menghantam tembok. Aku berhasil lepas, mencoba kabur.
GREP! Dia menahan seragamku, BUM! Memukulku ke bawah, masuk tembus menghancurkan ubin.
"Ack..." Sakit sekali, napasku tersengal-
Ava menarik kerahku, hendak memukul. "Ada kata-kata terakhir?"
"...tidak." BUK! Aku menggunakan kepalaku untuk menyerang, lebih parah. Sekarang kepalaku sangat pusing.
BUM! Ava memukul, tapi meleset. BUM! BUM! Hampir kena, aku masih berusaha mengendalikan kepala.
Ava menahan sakit juga, dia berhenti menyerang sejenak.
Susah sekali menjaga keseimbangan, ayolah Falisha! Jangan lemah!
BUMM! Sial! BUK! Tubuhku melesat melewati Yuda yang sedang menjaga Jennifer, menghantam tembok. Namun aku langsung berdiri, mengendalikan tubuh. Dan lari sekuat tenaga menuju Ava.
BUM! Pukulan Ava kuhindari, BUM! Selanjutnya meleset, BUM! BUM! BUM! BUM! BUM! BUM! Seluruh otot tubuhku kugunakan untuk menghindar, hampir tidak bisa bernapas.
__ADS_1
Ini yang kupelajari saat menyerang Arkane, terkadang, tidak hanya senjata yang membuat seseorang menjadi lebih kuat dalam suatu pertempuran. Terkadang, tubuh kita sendiri harus diandalkan juga untuk pertahanan, bahkan tanpa tameng sekalipun.
Ini dia. Ava buta dan sibuk melawanku, aku yakin mereka mengerti.
CRATTT! Jennifer lincah menusuk lengan kanan Ava tembus. Yuda yang sudah bersiap langsung melukai kedua kaki Ava sebisanya. Membuatnya tidak bisa melepaskan serangan super kuat lagi.
Jennifer melepaskan pedangnya dari lengan Ava. Raphael mendekat, beberapa lecet terlihat di wajahnya, tapi dia masih kuat. Dia menahan kedua lengan Ava, Yuda membuatnya jatuh, menjaga kakinya.
Buk.
"Jenn!" Aku berlari ke arah Jennifer yang tiba-tiba jatuh, menahan mulutnya.
"Ugrp..." Jennifer jelas-jelas menahan darah yang hendak mengalir dari mulutnya.
"Hei, kita berhasil. Kita berhasil, tidak apa-apa, pertarungan di sini sudah berakhir. Jangan menahan luka apa pun yang ada, kita tidak keberatan." Aku mencoba menenangkan, membantunya duduk sambil memegang bahunya.
"Ti, tidak. Masih ada dua sarang, Fal..." Mata Jennifer menutup erat, wajahnya pucat. Masih menutup mulutnya.
"Katakan, b*jingan. Siapa tuanmu?" Yuda bertanya lancang, mengancam hendak menusuknya. Raphael juga geram menatapnya.
Ava berusaha lepas, menggerakkan tubuhnya sekuat tenaga, tapi Raphael dan Yuda lebih kuat dari kondisinya sekarang.
"Hmph... aku tidak akan memberitahu." Dia terkekeh, wajahnya menghina kami.
"Baiklah." KRAK! Astaga, jari telunjuknya dipatahkan oleh Yuda, Ava menjerit kesakitan.
"Kau sudah membunuh banyak orang, manusia yang murni, baik hatinya, keluarganya. Semuanya hancur karena orang-orang sepertimu. Aku tidak akan segan mematahkan semua jarimu." Dia melanjutkan perkataannya, menatap Ava lebih dekat.
"Hehehe... tidak... akan..." Ava menjawab sinis, berkeringat hebat, masih menahan sakit.
"AAAGHH AAAARGHH!!!"
"Jawab!" Semakin geram, dia hendak mematahkan dua jari secara bersamaan.
Aku menatap Raphael, wajahnya sangat marah. Lalu Jennifer, daritadi batuk keras, tapi mulutnya ditutup olehnya sehingga darahnya tidak mau keluar.
"Oh? Kau mau pingsan? Setelah melukai Jennifer kau mau pingsan?!" Kali ini Yuda benar-benar ingin mematahkan semua jarinya-
"Tahan." BWUUUSH! Api biru pembatas menghilang, Leonardo datang dengan sedikit luka di tubuhnya, menyeret kerah Dzar yang, astaga, punya lebam di mana-mana. Sepertinya kemampuan menghilang itu sangat menjengkelkan.
"Leo." Raphael memanggil singkat.
"Tenang saja, aku tidak apa-apa." Leo tersenyum, sekilas melihat Jennifer.
"Jenn?"
"Aku tidak apa-apa, kumohon fokus pada Ava dan Dzar." Suaranya tertutup tangannya, aku masih memegang bahunya khawatir.
Hening sebentar, Leo mulai menatap para biang.
"Dengar, aku sudah muak dengan tingkah laku kalian." Leo melempar tubuh Dzar, mendekat pada Ava.
"Yuda, Raphael, lepaskan dia." Mereka berdua melepaskan Ava, mendekat ke arahku.
"Jenn..." Yuda menatapnya kasihan, menyentuh leher Jennifer.
"Oh tidak, dia panas." Dia memperjelas.
__ADS_1
"Aku tidak apa-apa! Percayalah!" Jennifer berseru marah, terbatuk empat kali.
"Raf..." Aku bingung harus apa, bertanya pada Raphael.
"Jennifer kuat, Fal. Aku tahu itu. Tapi kita tidak tahu sarang monster kedua akan seperti apa. Dan kalau Jennifer terlalu memaksakan diri, kita bisa kehilangannya." Dia menjawab, walaupun agak menyakitkan, wajahnya sangat tulus mengkhawatirkannya.
"Hei, jawab pertanyaanku. Siapa. Ketuamu." BWUUSH! Api biru membara di pedang Leo, kami terkejut. Dia mengacungkannya kepada leher kedua omni itu.
Sunyi, mereka tidak menjawab.
Pedang Leo menyentuh leher keduanya, mereka menjerit kesakitan.
"Apinya akan hilang setelah kalian menjawab." Dzar dan Ava berteriak, sangat berisik. Aku yakin suaranya sampai kepada prajurit lainnya di luar.
Tambah dekat, kepala mereka terbakar sedikit demi sedikit.
"BAIKLAH! AKU AKAN MENJAWABNYA!" Dzar berseru. Leo menghilangkan api biru, menjauhkan pedangnya.
"..." Hening, kami masih menunggu jawaban.
"Kami... tuan kami..." Dia terbata-bata menjawab.
"Ketua kami adalah..." Astaga! Lama sekali! Siapa di balik semua ini?!
ZUNG! Tubuh Dzar menghilang.
"Puh, dasar..." BWUUUUUSHHH! Dengan keras, Leo memotong udara, membuat api yang maju menuju arah Dzar yang hendak kabur ke pintu depan.
Kena, Dzar kembali terlihat, dia menjerit hebat. Berusaha mematikan api di seluruh pakaiannya, api biasa itu membakar semuanya.
"Leo!" Aku berseru takut. Kalau dibunuh, kita bisa kekurangan omni untuk ditanyakan.
"Tenang, aku bisa menghilangkan apinya kapan pun." Dia menjawab.
"Cih, sok kuat." Ava tiba-tiba bicara, nadanya menghina Leo. Kami mengubah pandangan kepadanya.
"Api biru itu pasti memakan banyak energi, kan? Kau sangat lelah, menahan mati-matian agar tidak terlihat lemah di hadapan 'anak-anak'mu, kan? Kan?" Ibu tua itu, Ava, suaranya diberatkan. Lagaknya benar-benar menghina.
Leo mengusap dahi, menarik napas.
"Ya, aku sudah lelah. Tapi ini bukan apa-apa dibanding pengorbanan prajurit-prajuritku. Sebagai ketua, aku harus melebihi semuanya, perjuangan, pengorbanan, perlakuan. Apa pun itu, seorang ketua harus melebihi rekannya." Dia menjawab tegas. Ava terdiam bisu, tidak lagi bicara.
"Tidak ada gunanya, Leo. Mereka pasti tidak akan menjawab." Raphael berkata.
BWUSH! Api pada tubuh Dzar menghilang, dia pingsan.
Sunyi, suara prajurit yang melawan monster medium di luar semakin mengecil.
"Baiklah. Aku akan mengambil Tim Bantuan untuk memindahkan kedua omni ini ke markas. Serangan mereka tidak akan berpengaruh, ada ruangan ditutupi oleh energi yang bisa menahan pukulan super kuatnya. Setidaknya mereka tidak seagresif Arkane." Leo menghela napas, memasukkan pedangnya ke tempatnya.
"Arkane?!" Ava memotong percakapan.
"Kalian sudah bertemu dengannya?! Bagaimana kabarnya?! Dia adalah monster yang sombong, semoga sudah mati!" Ava memperjelas, aku bahkan tidak tahu apakah dia mendukung atau membencinya. Nadanya seperti dia penggemar Arkane.
"Tutup mulutmu." Leo marah. Raphael hendak memukulnya.
"Tunggu!" Aku teringat akan sesuatu. Semoga yang ini, Ava bisa menjawabnya...
__ADS_1