
"Hah?"
Azriel menunggu jawaban darinya.
"Wah, fakta bahwa kau bertanya seperti itu sekarang, berarti rencanaku mengubahmu dalam misi ini sudah berhasil." Komandan Kiara tergelak, menepuk bahu Firza. Azriel masih menunduk malu, menggendong adiknya dengan kedua tangan.
"Kakak yang baik ... yah, aku tidak tahu sih. Aku hanya mendukung Kiara dalam apa pun yang dia ingin lakukan. Kalau baik, akan kudukung sepenuhnya. Kalau buruk, aku akan menunjukkan hal yang lebih baik. Yang lebih menyenangkan."
"Tapi ... aku tidak tahu apa yang Yuda inginkan. Apa yang harus aku lakukan?"
"Tanya saja dia, saat sudah bangun nanti. Untuk sekarang, cobalah untuk belajar memaafkan dirimu sendiri. Aku tahu wajahmu, Azriel. Wajahmu sekarang itu benar-benar tidak dalam kondisi yang menyenangkan. Tarik napas, lalu buang. Maafkan dirimu sendiri ... **em**brace yourself, seperti yang mereka katakan."
"Aku takut kehilangannya ... sungguh ... kalau saja Yuda mati, aku akan sangat menyesal ... aku akan membunuh diriku sendiri-"
"Hei, jangan berkata seperti itu. Seburuk-buruknya manusia, yang bisa mengubahnya adalah diri mereka sendiri." Mereka berdua bertukar pikiran. Aku menyimaknya dengan samar, mataku fokus menatap ke depan.
"Falisha. Sudah tahu apa yang ada di ujung labirin ini?" Komandan Kiara mendekat, bertanya kepadaku.
Aku menggeleng, masih membuat semua orang terbang. "Belum, Komandan. Labirin ini sangat besar."
"Baiklah." Dia tersenyum, menepuk bahuku perlahan.
TIN! TIN! TIN!
"Komandan." Itu suara Zed! Komandan Kiara mengetuk sarung tangan hitam dari tangannya, lantas hologram berbentuk tubuh Zed muncul begitu saja.
"Paman Zed? Sudah dapat pusaka ketiganya?"
"Sudah. Lihat ini."
Zed mengambil sesuatu yang dijaga oleh dua orang pasukan, itu adalah ... apa itu? Api di dalam bola es?
"Wah, yang satu ini unik. Bisa kau jelaskan lebih rinci?" Komandan Kiara bertanya.
"Saya sama bingungnya, Komandan. Saat tantangan terakhir berhasil diselesaikan, tiba-tiba saja ada ruangan yang berisi satu benda, yaitu bola es yang berisi api ini. Awalnya kami ragu-ragu dalam menyentuhnya, tapi setelah dicoba, ternyata tidak apa-apa. Tidak salah lagi ini adalah pusaka ketiga di Daerah Selatan."
Mataku terbuka lebar. Itu sungguh api yang membara di dalam bola yang terbuat dari es. Bagaimana caranya para leluhur membuat benda seperti itu di zaman dahulu?
"Baiklah, terima kasih Paman Zed. Sekarang, tetap lah berada Pulau Tiga. Kami sedang dalam posisi yang tidak pasti, Pulau Empat mendadak kosong dan memiliki ruangan penuh labirin di beberapa meter bawah tanah. Selebihnya, terserah Paman saja. Kau yang sekarang menjadi komando regu di sana."
"Serius, Komandan? Wah, itu terdengar gawat sekali ..." Zed terdengar cemas.
Komandan Kiara terkekeh. "Ada satu sih, hal yang terdengar menyenangkan."
__ADS_1
"Apa?"
Komandan menarik bahu Firza, membuatnya masuk ke sudut pandang Zed.
"Astaga ... Firza?! Itu kah kau?!"
"Paman Zed!!!"
Mereka bertiga langsung ceria. Menceritakan semua hal yang terlewatkan bersama. Terkadang aku tertawa mendengar hal yang memalukan, terkadang aku sedih menyadari bahwa mereka bisa hidup bahagia kalau para monster tidak pernah menyerang.
Terkadang Azriel juga ikut, diajak dalam percakapan. Aku juga bergabung. Yuda belum sadar dari pingsannya, sayang sekali ...
...***...
Sepuluh menit berlalu, masih terbang dengan seluruh tubuh kita dipenuhi dengan tameng transparan yang bentuknya menyesuaikan badan.
"Itu dia! Komandan! Azriel! Firza!" Aku menunjuk ke bawah. Ada pintu berbentuk lingkaran yang besar, berada di tembok yang tingginya dua kali lipat dariku. Semuanya terbuat dari logam.
Akhirnya kita menemukannya, ujung dari labirin ini, sebuah pintu raksasa.
Kami mendarat turun ke bawah, tameng yang mengelilingi kita menghilang sempurna.
"Kau yakin ini tempatnya, Fal?"
Lengang sebentar, kami menarik napas yang dalam. Ini yang keempat, jika pusakanya berhasil ditemukan, maka sisa satu lagi.
"Baiklah, ini dia ..." Komandan Kiara melangkah maju hendak memegang pintunya. Lalu, itu terbuka dengan sendirinya, membuat suara yang sangat berisik dan menghadirkan suasana yang sangat tidak nyaman ... Seluruh tempat ini juga bergetar hebat tiada ampun. Pintu raksasa itu bergeser membuka jalan menuju ruangannya.
Akhirnya, gerakan itu berhenti. Semua kekacauan dan hal yang tidak elok menghilang, menyisakan hening di dalam ruangan yang hitam dan berdebu. Kami melangkahkan kaki ke dalam.
"Gelap sekali ..." Firza berkomentar seiringnya mencoba meraba sekitar. Tidak ada apa pun yang bisa dipegang, benar-benar hampa.
"Gh!" Yuda tiba-tiba menggerung. Walaupun tidak terlihat, wajahnya pasti sangat menahan sakit sekarang ...
"Yuda!" Azriel berseru panik.
"Kita harus mencarinya! Falisha, buat tameng yang sangat terang! Kau dan Firza, ikut aku! Azriel, jaga adikmu sampai kita menemukan pusakanya!" Komandan memerintah. Aku mengangguk siap, menjulurkan tangan dan membuat bola yang keras bersinar putih.
"Baiklah. Semoga berhasil." Aku menatap Azriel, perlahan-lahan menghilang di dalam bayangan. Kita harus mendapatkannya, demi Yuda, demi Yuvia ...
Cahaya dari tamengku menyinari sekitar kita yang sedang berjalan maju, masih belum ada apa-apa.
"Hei ... Komandan ..."
__ADS_1
"Ya, Falisha?"
"Setelah misi ini ... bagaimana caraku menghubungimu lagi?" Aku bertanya, sedikit ragu-ragu.
"Oh? Untuk apa?"
"Aku sangat mengagumi kalian ... sungguh ... dari Leonardo, Jenderal Besar Karlo, Komandan Yakza, dan sekarang kau, Komandan Kiara. Aku merasakan seperti ... ada bagian tertentu di dalam diri kalian yang membuatku maju dan tidak menyerah. Tanpa kalian aku tidak memiliki tujuan, aku akan menjadi anak bawahan yang sering dirundung di sekolah dengan keluarga yang tidak mengadopsiku, tapi tidak, itu tidak terjadi. Aku menjadi pasukan yang hebat, aku menjadi orang yang dibanggakan, aku adalah Pasukan Penjaga Kedamaian karena kalian ... aku harus belajar banyak darimu, suatu hari nanti ..."
Komandan Kiara menatapku sempurna, seluruh tubuhnya menghadapku dengan tegas.
Dia mengusap kepalaku.
"Tenang saja. Saat kau ingin bertemu denganku, datang saja ke kantor pada sore hari. Dua jam sebelum matahari terbenam, aku pasti berada di markas." Ucapnya dengan halus. Wajahnya tersenyum murni, dia sangat cantik ...
Di tengah momen yang mengharukan itu, Firza tiba-tiba menunjuk ke depan. "Di sana! Ada yang bersinar terang!"
Kami menatapnya langsung. Itu adalah ... daun ...
Daun, benar. Daun kecil berwarna hijau muda yang bercahaya, cahayanya menyinari bahkan puluhan kali lipat dari tamengku. Aku bisa melihat Azriel dari jarak puluhan langkah karenanya. Daun apa ini?
Angin yang berhembus membawanya mendekat, menuju Komandan Kiara.
Dia memegangnya dengan tangan kanan. Aku menutup sebagian mata karena silau.
"Jangan-jangan ... ini ... pusaka keempat ...?" Komandan berkata takjub. Daun hijau yang bersinar sangat terang itu melayang dengan seimbang.
DUNG!!!
Cahaya dari daun tersebut memanjang menuju kita, lebih tepatnya menuju Yuda yang terbaring lemas di pangkuan kakaknya. Seketika, tubuh Yuda semuanya ikut menjadi terang memekakkan mata.
Azriel sampai mengaduh saking besarnya cahaya yang dihasilkan dari tubuh Yuda. "Yuda?!"
Detik demi detik berlalu, seluruh luka di tubuh Yuda menghilang sempurna. Kemudian cahaya dari daun itu menghilang perlahan-lahan.
Dia terbangun separuh mata, meraba-raba dadanya. Azriel meletakkannya turun.
"Aduh ... eh, eh? Kenapa lukaku bisa sembuh? Di mana kita?" Kepalanya menghadap Azriel, bertanya heran.
Cepat sekali, kakaknya langsung memeluk sosok adiknya. "Astaga! Astaga ... astaga Yuda, maafkan aku ... maafkan aku ..."
Aku mengusap mata kananku. Komandan dan Firza tersenyum menyaksikan momen ini. Misi inilah yang paling berarti bagiku ... keluarga adalah segalanya, itu sudah pasti ...
Tapi ... ada satu hal yang membingungkan.
__ADS_1
Sebuah daun kecil, menyembuhkan Yuda ...