Harapan Seperti Malaikat

Harapan Seperti Malaikat
Hujan


__ADS_3

Sekarang pukul 19.30 malam, setengah jam lagi menuju makan malam.


Setelah pertemuanku dengan Jendral Besar, aku tidak bisa melakukan apa pun. Semua monster di daerah barat sudah hilang. Munkin hanya Ayahku dan Adiknya yaitu Monster Bertopi Fedora yang masih bersembunyi di sini, mencoba bertahan hidup dari serangan.


Aku masih bingung, para monster sudah membunuh banyak orang, tapi Ayah bilang mereka adalah orang baik. Ayah tidak jahat, aku tahu itu. Tapi... sekarang aku harus mendukung siapa? Monster atau Pasukan? Itu yang harus kutemukan jawabannya... suatu hari nanti...


...***...


Aku dan Jennifer sedang menunggu Raphael keluar dari rumahnya. Dia sama denganku, punya rumah yang disiapkan oleh pasukan, semua desainnya sama jadi tidak terlalu beda dengan milikku.


"Iya iya sebentar lagi!" Serunya dari dalam, kami berdua menatap pemandangan malam dengan angin yang sejuk di luar.


Leo menyuruh kita untuk berdandan dan hadir dengan rapih. Aku tidak tahu banyak soal "fashion", jadinya pakaianku sekarang hanyalah jaket berwarna biru dengan garis hitam di lengannya, dan kaus berwarna putih. Celananya panjang, bertema biru tua. Sambil membawa tas kecil. Rambutku masih sama, hitam dan panjang, bedanya aku membuatnya lebih wangi dan rapih. Dan sepatu kats sekolah biasa. Semoga tidak mengecewakan...


Sedangkan, Jennifer, astaga, dia seperti wanita yang profesional. Pakaiannya begitu elegan dan menarik. Maxi dress kuning tua yang panjang sampai bawah. Sepatu high heels yang menawan dan sangat cocok untuknya, rambut pirangnya diikat rapih. Dia terlihat lebih cantik.


"Terima kasih sudah mengajak kami. Ini terdengar menyenangkan, makan malam bersama kalian, aku tidak pernah menduganya." Jennifer menatapku senang.


"Iya. Kamu juga sudah membantuku banyak, jadi aku berhutang padamu, pada kalian semua." Balasku ramah.


"Ah, jangan begitu. Kau yang pernah menyelamatkanku duluan sehingga aku menjadi penggemarmu sampai sekarang, jadi ini adalah kehormatan berat bagiku." Dia menunduk sedikit, astaga, sebesar inikah tingkahnya untuk menjadi seorang penggemar? Atau dia punya alasan lain...?


Klek! Pintu rumah Raphael terbuka, dia keluar perlahan.


...


"KENAPA SAMA?!" Serunya saat keluar, dia menggunakan jaket dan celana yang sama denganku! Warnanya, bahannya! Semuanya!


"HEH, GANTI BAJUMU, RAF! AKU DULUAN!" Aku keberatan.


"MANA KUTAHU BAJUMU AKAN BEGITU? ITU TERLALU MASKULIN UNTUKMU! WARNA BIRU TUA, APA COBA?! KAU KAN PEREMPUAN!"


"BODO AMAT! AKU DULUAN, RAF! CEPAT GANTI!"


Setelah beberapa seruan dan perdebatan, akhirnya Raphael masuk. Jennifer terlihat mati-matian menahan tawa.


Lima menit, dia keluar lagi dari rumahnya.


Sekarang pakaiannya lebih enak untuk dilihat. Kaus lengan panjang berwarna hitam dengan celana jeans abu-abu. Rambutnya rapih, dia terlihat sangat keren.


"Puas?" Raphael berkata sebal, merapihkan rambutnya dengan jari. Aku mengangguk sambil mendekat kepadanya.


"Huh, tidak kusangka kaus hitam sangat cocok denganmu."


"Hahaha. Kau juga, biru sangat cocok, seperti Ibu-Ibu yang marah karena tersandung saat belanja."


"Heh!"


"Bercanda... kau sangat cantik, Fal." Dia berkata halus.

__ADS_1


Wah... benarkah? Aku terlihat cantik dengan pakaian seperti ini?


"Terima kasih..."


"Oh, aku tidak dipuji?" Jennifer bergurau sambil bersedekap.


"Eh, Jennifer... hehe, kirain orang lain... iya kamu juga cantik." Raphael menggaruk kepala sambil melihatnya.


"Baiklah, di mana Yuda?" Tanyaku.


"Dia bilang kita ketemuan saja di tembok hitam." Jennifer menjawab sambil menunjuk.


"Oh? Minta kontaknya dong." Aku mengeluarkan ponsel dari tas. Menyalakannya.


Singkat waktu, Jennifer memberi nomor telepon Yuda kepadaku. Kami sudah siap pergi.


"Umm... teman-teman..." Tiba-tiba, Raphael menatap langit sambil memanggil.


"Kenapa Raf?"


"Lari."


"Ha?"


"LARI!!!" DUAR! Ada petir yang menyambar disusul dengan hujan deras, kami berlari sekuat tenaga agar tidak terkena awan yang meneteskan air.


Astaga... sudah rapih-rapih, malah hujan. Semoga pakaiannya tidak hancur...


...***...


Aku membuka jaketku, hendak melindungi Raphael dan Jennifer.


"Apa yang kau lakukan?!" Raphael heran.


"Jangan bergerak! Nanti kena hujan!" Susah payah aku melawan angin kencang agar jaketnya stabil dan diam.


"Pakai saja! Lindungi dirimu sendiri, Fal!" Raphael tidak terima, menjauh dariku.


"Tapi!-"


"Semuanya! Masuk!" Jennifer melambaikan tangan, masuk ke dalam lift yang sudah terbuka. Aku dan Raphael menyusulnya, sampai. Ting!


Lift sudah tertutup. Suasana menjadi sedikit lebih hening sekarang, walaupun masih ada suara hujan deras yang samar dari luar.


Kami menarik napas lelah. Agak jauh jaraknya dari rumah Raphael ke markas. Tapi tidak apa, kami sudah aman sekarang.


Aku memakai jaketku kembali, untungnya, hanya sedikit yang basah, jadi tidak terlalu memalukan.


"Eh! Yuda!" Jennifer khawatir.

__ADS_1


"Oh iya!" Raphael berseru bersama denganku, aku tidak percaya kita meninggalkan Yuda!


Ting! Perlahan, lift terbuka kembali. Kami hendak berjalan maju, tapi, eh? Markas sangat gelap. Sungguh, hanya ada warna hitam di depan kami, tidak terlihat apa-apa...


"Hei... bagaimana sekarang...? Aku jadi takut..." Bisikku cemas sambil mundur dua langkah, memegang kaus Raphael.


"Ha. Lemah. Nih, aku jalan duluan." Dia mengusap hidung, melangkah di depan. Lalu mengambil ponselnya dan menyalakan cahaya di salah satu opsinya.


Rak di tengah terlihat, ubinnya juga bersih. Pintu-pintu ruangan tidak ada yang rusak, semuanya aman.


"Baiklah, kamu ingat kan di mana lift besar itu?"


"Tentu saja. Tinggal beberapa langkah lagi-"


Srrek!


Eh?!


Kami bertiga memutar, ada suara cakaran yang mengenai tembok.


"Itu... apa...?" Aku berbisik lagi, masih memegang kaus hitam Raphael.


"Bukan apa-apa. Ayo lanjut." Balasnya lurus. Aku dan Jennifer mengangguk setuju.


Kami maju lagi perlahan. Menatap sekitar sambil memastikan semuanya baik-baik saja. Biasanya di jam segini, markas sangat ramai. Dikarenakan saat malam hari, monster lebih kuat dan mengerikan, sayangnya usiaku belum dibolehkan untuk misi seperti itu. Kecuali Arkane, waktu itu darurat.


Buluku naik semua, aku mencoba tenang...


BUK!!!


"EH!" Astaga! Rak di belakang kami, yang tingginya setengahku jatuh keras. Suaranya memenuhi markas ini!


"Oke. Ini gawat..." Suara Raphael sedikit bergetar.


Jennifer masih tidak bicara, dia berpikir? Atau...


"Haruskah kita lari...?" Tanyaku merinding, kakiku berguncang.


"Tenang... di saat seperti ini kita harus tenang. Jangan sampai panik-"


"HA!!!"


"AHH?!!" BRUK! Kami bertiga jatuh bersama, menabrak ubin di lantai seperti domino. Siapa sih?!


Oh, Leo... sial! Lampunya sudah menyala, dia membawa pedangnya untuk suara cakaran tadi. Dan rak itu? Dia mendorongnya sampai jatuh. Dasar!


Lihat, dia tertawa, meneteskan air mata dan mengusapnya, apa yang dia pikirkan?!


"Aduh, ha... aduh... kalian sangat lucu, ahaha... ha..." Leo masih tergelak, sambil menahan perutnya.

__ADS_1


"Heh! Apa sih?" Aku keberatan, berdiri tegak sambil mengusap-usap jaket biruku.


__ADS_2