Harapan Seperti Malaikat

Harapan Seperti Malaikat
Yakza


__ADS_3

Kreeeeek...


Kami membuka pintu besi perlahan. Suara gesekkannya terdengar keras.


Wah. Ruangan yang kutempati sekarang dipenuhi dengan cahaya putih, berbentuk setengah lingkaran diameter lima ratus meter. Temboknya berwarna silver terang dan sama, berisi banyak kabel-kabel di sekitar. Ada pula kaca-kaca berisi benda aneh dibelakang temboknya.


BRAK! Terlihat Komandan sedang bertarung melawan omni yang lengan kirinya buntung. Dia memanipulasi tanah dengan mudah, mencoba bertahan. Sangat hebat!


"KOMANDAN!" Jennifer berseru khawatir.


"Astaga, itu pasukanmu? Menarik." Omni menimpali, dia melempar tanah-tanah Komandan dengan mudah, seperti teknik telekenesis.


WOOSH! Omni mengangkat tanganya ke arah Jennifer. Hendak membuatnya terbang.


BRAK!!! Tiba-tiba ada tanah yang menjulang tinggi, itu menghalangi pandangan kami! Komandan! Apa yang kamu lakukan?! Kita tidak bisa melihatmu!


"Sepertinya kita tidak bisa membantunya." Raphael berujar, dia mengusap dagunya perlahan.


"Apa maksudmu?" Jennifer bertanya.


"Mau bagaimanapun, kemampuan omni itu sangat hebat. Kita tidak bisa mengalahkannya. Tadi, kita dilempar ke sana kemari dengan mudah olehnya tanpa disentuh. Dia lebih berbahaya dari siapa pun, bahkan Arkane." Dia memperjelas. Menatap Jennifer dengan serius.


"Tapi kenapa Komandan menghalangi kami dengan tanahnya?! Setidaknya, kita harus bisa melihatnya!"


"Itulah kelemahan omni. Dia tidak bisa melempar apa yang tidak bisa ia lihat. Dengan kata lain, kami selamat berkat tanah ini." Raphael menyentuh gumpalan di depan, debu berjatuhan terkena jarinya.


"Jadi... kami hanya bisa mendengarnya?"


"Benar, Fal."


...


Aku menghembuskan napas. Suara dentuman lagi-lagi menimpali dan menggetarkan seluruh ruangan sekilas. Aku tidak bisa membayangkan pertempuran seperti apa yang terjadi di depan sana.


BRUK!!! Terdengar suara dentuman keras dan retakan tanah. BUM! BUM! BUM! Kemudian hantaman itu kembali lagi muncul, menyerang tanah yang sama. Sepertinya omni sedang melawan Komandan dengan tanah milik Komandan sendiri, melemparkannya berkali-kali.


BRUK! TEP, BAM!!! Luar biasa! Itu pasti suara Komandan yang berhasil menyerang omni dengan memanipulasi tanah!


"Ini menyebalkan!" Jennifer geram. Aku juga, ini sungguh tidak adil. Aku harus melihat bagaimana Komandan bertarung.


"Baiklah, mungkin ini bekerja." Yuda berusul, dia mengeluarkan pedangnya.


Crrt! Crrt! Crrt! Crrt!


"Nah, dengan begini kita bisa melihatnya." Wah, boleh juga. Dia membuat lubang kecil di tanah yang menghalang ini. Walaupun titik kecil, dengan mendekatkan mata kita, Komandan dan omni terlihat dengan jelas.


Wush! Omni terbang meninggi, mengangkat lengan kanannya hingga membuat lima komponen besi di ruangan ini naik. Komandan menggunakan kuda-kuda yang kuat, mengacungkan pedangnya ke depan.


BUM! Omni melemparkannya, besi meleset. BUM! BUM! BUM! BUM! Komandan gesit menghindar sambil mencoba mendekati musuhnya.


BRAK!!! Tanah seluas satu meter yang diinjaknya memanjang ke atas, ketinggian mereka setara.

__ADS_1


ZRUNG! ZRUNG! Komandan melompat, kedua ayunannya dihindari. BRAK! BRAK! BRAK!!! Omni meretakkan sebagian tanah, melemparkannya ke Komandan, namun semuanya dihancurkan oleh pedangnya.


Tep! Komandan Yakza mendarat. BRAK!!! Omni menyerang, dihindari. WOOSH! BRUK!!!


"Yes!" Aku berseru senang. Komandan melompat mundur sambil memanjangkan tanah di belakangnya hingga mengenai kepala omni dengan keras, serangan mendadak.


Dia menggerung kesakitan, BUK! Dipukul lagi oleh tanah yang memanjang.


"Sial..." Omni hendak kabur!


SRET! Bagus! Dia hendak terbang menjauh, tapi kakinya dililit! Komandan Yakza sangat hebat dalam menggunakan kekuatannya!


WOOOOOOOOSH! BUM!!!


Asap mengepal kuat. Keadaan di sana mulai terlihat berkabut. Omni dibanting keras seiring kakinya yang dililit. Tanah meretak sampai sini, suaranya benar-benar keras.


Tep. Tep. Tep. Tep. Suara langkah kaki terdengar, kabut lama-lama mulai menghilang. Aku bisa melihat kedua sosok itu lagi. Komandan Yakza berjalan santai, sedangkan musuhnya mati-matian mencoba bernapas. Dia merangkak dengan kedua kakinya yang patah, memegang tenggorokannya.


"Astaga... dia sangat hebat. Sulit dipercaya omni semengerikan itu bisa dikalahkan dengan mudah olehnya." Yuda menimpali.


"Itulah kehebatan seorang komandan. Suatu hari, jika perang ini belum selesai, aku akan menjadi lebih hebat dari mereka, dan menggantikan posisi Leo sebagai Komandan Pasukan Daerah Barat." Raphael percaya diri berkata sombong. Aku tertawa mendengarnya.


Srep! Kerah pakaian omni ditarik tinggi-tinggi, wajah Komandan Yakza marah besar, dia membungkuk sambil mengangkatnya. "Di mana kartunya?"


"K-k-kartu?! Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan-"


"Di mana. Kartunya." Suaranya membuatku bungkam. Amarah yang dimunculkan seperti api besar yang membara.


"Jawab aku."


"Heuh, heuh..." Jelas-jelas dia sekarat, kepalanya dipenuhi dengan darah setelah dihantam begitu.


"Jawab. Kalau tidak, kuhantamkan lagi kepala besarmu ini." Dia mengancam, omni susah payah mencoba tetap hidup.


Jennifer disampingku menggigit kuku, dia belum pernah melihat Komandan yang seperti ini.


BREK!!!


"HENTIKAN, KOMANDAN!"


"JENNIFER!" Aku berseru kaget, tiba-tiba Jennifer menghancurkan tanah penghalangnya!


"Jennifer-" Komandan hendak berkata.


CRAT!


A...


Karena perhatiannya teralihkan, omni sempat-sempatnya mengangkat retakan tanah besar lalu menusuk punggung Komandan.


Omni lepas, dia terbang menjauh. Komandan jatuh terkulai dengan pecahan tanah yang menancap di punggungnya.

__ADS_1


"TIDAK!!!" Aku berseru.


"Hahaha! Bodoh sekali!" Omni tertawa puas. Dia mengeluarkan kartunya yang disembunyikan di kantung celana.


"Cih!" Aku geram. Dasar jahat... kenapa... kenapa mereka tidak punya perasaan sama sekali?!


Omni menggesekkan kartunya ke suatu tempat di tembok tinggi, dan satu kaca terbuka. Diambilah isinya yang berupa serum berwarna hijau menyala. Itulah tujuan kita datang ke sini, itulah tujuan misi kita selama ini!


"Sekarang... aku menang. Manusia tidak akan punya kesempatan untuk-"


BUM!!!


Saat omni itu bicara, suatu gelembung misterius tiba-tiba muncul, itu melesat mendekati omni dan meledak hebat. Membuat cahaya terang dan suara yang sangat berisik.


Asap mengepul dengan tebal. Tubuh omni jatuh tanpa kekuatan, BRUK! Dia mendarat, terkulai.


Aku berlari cepat, menangkap serum itu. Akhirnya misi kami dengan resmi sudah selesai...


"Apa itu tadi?!" Tanyaku heran.


"Itu ledakanku! Kekuatanku!" Raphael membalas. Wah... bentuknya gelembung?


Eh, Komandan Yakza!


"Kalian periksa Komandan! Aku akan menjaga omni sialan ini!" Raphael berusul, aku mengangguk mantap.


"Tidak... tidak tidak tidak tidak. TIDAK. AYAH! KUMOHON BANGUN!" Jennifer terduduk, menggoyang-goyangkan tubuh orang yang tengkurap dengan tanah yang menusuk di punggungnya. Aku menatapnya ngeri, pasti sakit sekali.


"Apa... apa yang harus kulakukan?! Apa yang harus kuperbuat?!" Jennifer mengeluarkan pedang cahayanya, mendekatkannya ke punggung Komandan.


Tapi... benang hijau itu kali ini tidak muncul. Kekuatan Jennifer tidak aktif.


"Apa...? Ayolah... kumohon menyala! Muncullah benang-benang brengsek! Kumohon!" Dia menangis hebat. Wajahnya terpasang dengan keputus asaan yang absolut. Aku juga ikut meneteskan air mata. Baru pertama kali ini, ada Komandan yang begitu baik, begitu hebat dan rendah diri. Omni sialan itu melukainya...


...


Aku tidak akan memaafkannya...


"Sial... aku kalah..." Orang yang sedang dijaga Raphael membuka mulut.


"TUTUP MULUTMU!" BUK! Aku berlari mendekat, menendang kepalanya.


"Fal..." Raphael berujar. Aku tahu wajahnya sangat marah, tapi dia memilih untuk tidak melukainya.


"Kenapa... kenapa kalian tidak punya hati...? Kalian membunuh Ibuku, lalu melukai teman-temanku, dan sekarang kamu membunuh..." BUK! Aku menendang tubuhnya lagi, geram. itu fakta yang sangat mengganggu yang tidak kuketahui jawabannya dari dulu.


Namun, omni itu malah tertawa.


"Kau... wajahmu mirip sekali dengannya... Liam... Liam sialan itu..." Dia bicara lagi.


Kenapa dia... menyebut nama Ayah...?

__ADS_1


__ADS_2