
"Hei! Bisakah kalian bicara?!" Leo bertanya lagi, lebih lancang kali ini.
"Krhh krggg krhhg." Para monster hanya berseru tidak jelas, tidak bisa dimengerti.
Sisa belasan monster sekarang, mereka sedang memojok ketakutan, kebanyakan habis oleh Raphael dan Leonardo.
Beberapa pasukan ada yang terluka parah, bahkan ada yang terbunuh, aku tidak kuat melihatnya...
"Astaga... bagaimana caranya kalau begini?" Leonardo menggaruk kepala.
"Kita harus menggeledah tempat ini." Raphael masih berdiri tegak di samping kiri Leo, tubuhnya tidak bergerak sama sekali.
"Kau benar..." Leo mengangguk, lantas membalikkan tubuhnya.
Di depannya, ada total tujuh prajurit yang meninggal, tertusuk, terpenggal, ngeri sekali aku melihatnya...
"Ini semua demi prajurit-prajurit kita, kita harus mencari alasan dibalik penyerangan ini. Kalian menyadari semua hal yang aneh, kan? Ada monster-monster baru yang belum pernah kami lihat berada di sini, dan sarang monster ini terlalu kecil. Banyak hal yang sangat ganjil di sini... mungkin kita bisa mencari suatu petunjuk lebih tentang para monster..." Leonardo melihat ke sana kemari, beberapa menunduk kepada mayat yang terkulai.
"Fal." Astaga! Raphael tiba-tiba ada di sampingku!
"Ah! Kenapa...?" Aku terkejut.
"Maaf, tanganmu itu... kau tidak apa-apa...?" Dia menatap lengan kiriku fokus, tertusuk tembus. Sakit, memang, tapi perhatianku teralihkan tadi saat Raf tiba-tiba membantai banyak monster.
"Ya... tidak apa-apa, kurasa..." Aku mengangkatnya susah payah, menatapnya cemas.
"Kau tunggu sini saja, aku dan Leo ingin menggeledah tempat ini." Raphael menepuk bahuku, berdiri tegak, lantas berjalan menjauh, memeriksa segala arah.
Aku mencoba berdiri, tapi tidak bisa...
Sial... aku sangat lemah...
Sisa sembilan dari kami yang masih sadar... delapan dari mereka berjalan ke sana kemari, melihat semua bagian ruangan yang mereka bisa, hanya aku yang duduk menatap ke mana-mana seperti orang gila...
Aku harus menjadi lebih kuat...
SRING! Beberapa monster dibunuh Leonardo untuk bisa memeriksa ruangan yang terhalang tubuh mereka.
"Kosong..." Leonardo berkata datar.
Di samping kananku, salah satu prajurit memotong kepala tiga monster, lantas bergerak maju memeriksa sekitarnya.
"Di sini tidak ada apa-apa..." Ujar dia khawatir.
SLASH! SLASH! Raphael memotong empat monster sekaligus, membuat mereka menjadi debu, kemudian maju menatap ruang kosong.
"Tidak ada..." Dia membungkuk.
Ruangan tabung ini benar-benar tabung polos berwarna hitam, dengan tinggi dua ratus meter... bau dan kotor... tidak ada hal lain lagi, semuanya hampa...
"Tidak ada apa-apa, komandan!" Salah satu prajurit berseru, wajahnya kecewa berat, Leonardo juga menahan amarahnya, sambil menahan rasa sakit setelah tubuhnya dipermainkan monster tadi.
"Kita habisi saja monster-monster yang tersisa, agar tidak ada lagi yang mengganggu." Raphael memberi, bersedekap di dekat Leo.
__ADS_1
"Tahan, Raf... lihat, semua monster ketakutan melihatmu." Leo menunjuk ke depan, ke arah belasan makhluk hitam yang bergetar hebat.
Aku mencoba berdiri... sedikit demi sedikit... berhasil... lalu mulai berjalan ke sebelah kiri... kosong juga... hanya ada tiga monster kecil yang menghalangi jalan, tubuhnya menghadap ke arah Raphael, tidak melihatku sama sekali...
Aku menjulurkan pedang, ingin membelahnya...
SING! Aku berhasil membunuh satu monster, sisanya menatapku sekarang.
"KAH! KAHH!" Kedua monster itu berseru, dengan bahasa yang tidak bisa kumengerti.
Salah satunya melompat ke arahku, SLASH! Berhasil dipotong, sisa satu lagi... dia maju sekarang-
ACK! Sial! Tanganku yang terluka tadi tiba-tiba terasa sakit lagi!
BWUSH! Seseorang dari belakang melempar pedangnya, monster itu tertusuk, lalu menjadi debu. Kotak panjangnya jatuh tergeletak.
Aku menghadap ke arah belakang, ternyata salah satu prajurit membantuku.
"Terima kasih..." Astaga, mengucapkan terima kasih tiga kali... payah...
Aku mengambil kotak panjang miliknya, memberikan kepadanya.
"Ya..." Dia membalas.
Susah payah mencoba berdiri, akhirnya berhasil. Aku mendekati tempat yang ingin aku tuju...
Tunggu... apa ini? Di bawah, ada kertas kecil berwarna krem.
"Leo!" Aku berseru, semua orang melihatku.
"Kau menemukan sesuatu?" Leonardo berjalan mendekat, matanya tertuju pada kertas itu, lalu mengambilnya.
Mata Leo benar-benar teliti melihat segala titik di kertas itu, biasanya di saat-saat seperti ini, dia tidak bisa diajak bicara.
"Apa yang kau temukan, Fal?" Raphael dan seluruh pasukan mulai bergerak ke arahku, sama, menatap peta itu.
"Sepertinya itu adalah peta, tapi aku tidak terlalu yakin." Balasku malu.
Setelah beberapa detik mata Leo bergerak ke mana-mana, dia menghembuskan napas.
"Semuanya... kita dalam bahaya besar..." Leo berkata cemas.
"Amati." Kertas itu memiliki panjang dan lebar sama seperti kepalaku, tidak terlalu besar, Leonardo membaringkannya di bawah, kami semua menatapnya.
Di situ bergambar peta negara yang kami tinggal, aku lupa namanya. Uniknya, negara kami dibagi menjadi beberapa daerah dengan nama arah mata angin. Daerah Timur, Daerah Tenggara, Daerah Selatan, Daerah Barat Daya, Daerah Barat (tempatku tinggal sekarang), Daerah Barat laut, Daerah Utara, dan Daerah Timur Laut. Hanya ada delapan tempat yang dibagi di sini, dan bentuknya juga cenderung lingkaran, jadi lebih mudah untuk diingat.
"Ini, adalah tempat kami berada sekarang, sarang para monster." Leo menunjuk lingkaran hitam kecil di antara gambar berwarna kuning, menandakan markas para monster ini dan jalanan pasir.
"Lihat tanda-tanda ini, belasan, semuanya. Mereka mengarah ke gambar ini!" Leo melanjutkan, astaga, aku baru sadar... ada banyak titik hitam yang menunjukkan sarang para monster! Dan semuanya memiliki anak panah berwarna merah yang menuju ke gambar persegi panjang berwarna abu-abu di tengah peta! Jangan-jangan...
"Sial..." Raphael mendengus, dia sudah tahu...
"Astaga... banyak sekali! Ada berlimpah sarang para monster yang tidak kita ketahui!" Ujar salah satu prajurit.
__ADS_1
"Itu bukan bagian terburuknya..." Leonardo berdiri tegak, meregangkan tubuhnya, mengembuskan napas berat.
"Mereka sedang merencanakan sesuatu yang besar, yang mengerikan, yang merugikan..." Seru prajurit lain, wajahnya sangat takut.
"Benar... ini bukan satu-satunya sarang monster... dan mereka semua berencana untuk menyerang kita, belasan sarang monster dengan seluruh isinya ingin membantai kita sekaligus... mereka bisa ribuan jumlahnya..." Leo menjawab santai.
Itulah kenapa ada banyak monster-monster aneh yang belum pernah kita lihat bermunculan... itu juga menjelaskan kenapa Monster Bertopi Fedora tidak ada di sini!
Itu artinya.. kebahagiaanku belum terwujud... para monster masih ada, mungkin lebih banyak dari yang aku duga...
"Apa yang harus kita lakukan sekarang?" Aku bertanya kepada Leo.
"Yang pastinya, kita harus melaporkannya ke Jendral Besar. Dia dari semua orang selalu tahu apa yang harus dilakukan." Dia membalas santai.
"Dan juga, kita harus memusnahkan semua monster di sini." Leonardo mengeluarkan pedang cahaya miliknya, SLASH! Lalu dengan cepat memotong belasan tubuh monster.
***
Hari ini sudah selesai... rumah jamur itu sudah tidak berisi lagi... semua monster di sana habis kami bantai.
Semua orang yang pingsan langsung dibawa oleh bantuan, Leonardo membantu mereka bahkan saat dia sendiri terluka parah.
Pertarungan ini sudah selesai, semuanya selamat.
Sayangnya, kesengsaraanku baru akan dimulai. Semua monster, semuanya... banyak sekali jumlahnya, akan menyerang kami, pertempuran yang lebih besar akan datang suatu hari nanti...
"Fal, Raf..." Di luar, kami hendak melapor ke markas, tiba-tiba Leo memanggil kami.
"Ya?" Tubuhku ditopang oleh Raphael, dia membantuku jalan.
"Semuanya akan berbahaya setelah ini... jadi aku ingin bertanya, jawab dengan keyakinan penuh. Apakah kalian masih ingin menjadi prajurit? Atau kalian akan menjadi remaja biasa yang bisa mengejar cita-citanya? Tentunya kalian masih disediakan rumah dan makanan oleh kami. Jadi terserah kalian..." Tanya Leo singkat.
...
Tujuanku belum mati... aku harus membunuhnya... monster yang membunuh Ibu...
"Aku masih ingin ikut!" Seruku semangat.
"Hei! Sakit!" Raphael menutup telinganya.
"Oh, maaf." Hahahaha... maaf, Raf...
"Yah, siapa yang akan melindungi Falisha selain aku? Tidak ada. Jadi aku ingin menjadi prajurit." Raphael menjawab.
"Eh, aku tidak perlu bantuan darimu, ya!" Aku keberatan.
"Ah, masa~" Dia senyum usil, aku ingin menjitak kepalanya...
Leo terlihat berpikir, lantas dia berdiri tegak lagi.
"Baiklah..." Dia tersenyum bangga, menepuk bahuku dan Raphael.
"Sekarang, pulanglah dan beristirahat, terima kasih." Dia memerintah, lalu bergerak kembali ke depan. Aku dan Raphael mengangguk, setuju.
__ADS_1