Harapan Seperti Malaikat

Harapan Seperti Malaikat
Persiapan


__ADS_3

Kami bergegas mencari Leonardo, dia pasti tahu apa yang harus dilakukan. Sudah dicoba telepon berkali-kali, tapi dia tidak membalas.


"Tahan! Dia pasti ada di dekat rumahmu!" Raphael, yang sibuk menggoes sepeda berseru.


"Iya! Tenang saja!" Aku membalas, mengusap darah di kepala, berdiri di bagian belakang sepeda Raphael.


Sudah dua belas menit semenjak kami pergi dari rumah aneh itu. Orang tua tadi dijaga oleh Jennifer sampai kami kembali, karena sepedanya hanya untuk satu orang.


Akhirnya kami sampai, ke jalanan utama. Masih ramai seperti sebelumnya, orang-orang membawa peralatan migrasi yang berisik dan panik menaiki tronton yang dijaga oleh setidaknya lima pasukan.


Tapi di mana Leo?


"Hei, kalian berdua!" Suara lelaki memanggil kami dari belakang.


"Kalian tidak apa-apa?!" Dia mendekat, bertanya khawatir. Terkejut karena melihat seragam-seragam kami yang sudah kotor dan rusak.


"Tunggu, kau Yuda kan? Salah satu kepercayaan Leo?" Tanya Raphael.


"Iya. Tolong jelaskan apa yang terjadi pada kalian." Yuda terlihat gagah, tingginya setara denganku. Bersiap mendengarkan.


"Maaf, tapi kami butuh Leo untuk ini. Tolong beritahu di mana dia. Kumohon." Aku mulai waswas, hari sudah mulai larut. Tidak ada waktu banyak.


"Biasanya, jam segini dia sedang berada di dekat sekolah. Kalian berdua adalah anak-anak yang diasuh olehnya, kan? Aku bisa menjemputnya."


"Tidak perlu. Terima kasih." Raphael membalas, langsung pergi lagi.


Beberapa warga melihat kami bingung, termasuk pasukan. Tapi kami berdua tidak menghiraukan, fokus ke depan.


"Leo Leo Leo... dia terkadang hilang saat dibutuhkan. Lagipula, buat apa dia ke sekolah?" Aku bertanya.


"Klasik Leonardo. Terkadang dia memang aneh." Raphael fokus menatap ke depan, melalui jalanan lebar yang kosong di tengah gelapnya malam.


"Hei, Raf." Aku hendak bertanya sesuatu.


"Tidak Fal, aku tidak mau membelikan boneka Barbie."


"Ish, dengar dulu."


"Apa?"


"Bagaimana caramu menjadi sangat hebat waktu itu? Saat penyerangan di rumah jamur, kamu bergerak dengan sangat cepat dan lincah. Apa rahasiamu?" Aku mengeluarkan rasa penasaranku, sambil menjaga keseimbangan agar tidak jatuh.


Raphael menghembuskan napas kecewa.


"Yah, sebenarnya itu tidak worth it. Aku menghabiskan tujuh tahun karena sebal dan dendam kepada para monster sampai berlatih tanpa henti. Satu hari, aku bisa menghabiskan delapan sampai empat belas jam berolahraga dan melatih teknik mengayunkan pedang, hampir gila. Bahkan Leo harus berlangganan dengan Dokter Liona untuk lukaku agar aku tidak melewati batas." Jawabnya datar, kepalanya sedikit menunduk.


Hening sebentar, aku mulai prihatin.


"Worth it, kok!"


"Dari mananya Fal? Aku hampir kehilangan organ dan bagian tubuhku saking cerobohnya." Suaranya terdengar sebal.


"Tapi tidak, kan? Sungguh hebat kamu bisa bertahan sampai sekarang! Itulah pemberian untukmu. Kalau kamu tidak berlatih keras selama itu, saat penyerangan rumah jamur, kami pasti sudah dibantai." Aku menggoyang-goyangkan bahunya, berkata antusias.

__ADS_1


"Sungguh?"


"Iya, Raf!"


Hening lagi, suara rantai sepeda memenuhi telingaku.


"Baiklah, kalau kau berpikir begitu, aku juga akan berpikir demikian. Lagipula, aku sudah berjanji akan menjagamu sampai akhir." Kepalanya menghadap ke arahku, dia menyeringai halus.


Sreeet... Sepeda kuning berhenti di depan gerbang sekolah. Benar saja, Leo ada di dekat situ.


"Leo!"


"Fal? Raf? Kalian kenapa?! Seragam kalian juga!" Dia berlari mendekat, menatap kami sepenuhnya.


"Kenapa kau berada di sini setiap malam? Apa yang kau lakukan?" Raphael bertanya.


Lengang sejenak, Leo membuang napas.


"Aku... ingin... mencoba... berkencan..." Dia menggaruk kepalanya.


...


"Fal, cubit pipiku sampai lepas. Ini mimpi."


Pfft... aku menahan tawa.


"Heh! Jelaskan dulu! Kalian kenapa?!" Leo bertanya lagi.


"Tunggu, kencan? Kenapa? Siapa? Di mana?"


"Ayolah, jawab aku!" Raphael memaksa.


"Di dekat sini! Tepatnya perempatan di sebelah kiri gerbang sekolah. Banyak restoran bagus yang keren dan aku masih belum bisa menentukan yang mana. Puas?" Dia menjawab, mengusap darah kecil di pipiku.


"Sekarang, serius. Ada apa?" Dia bersedekap, menatap tajam.


"Begini... kami berhasil melawan beberapa monster di tempat aneh itu. Dan mereka terlihat seperti sedang melindungi sesuatu." Aku menjelaskan, turun dari sepeda.


"Melindungi sesuatu?"


"Ya. Bahkan ada Omni."


"Omni?!" Matanya membuka lebar, Leo terkejut.


"Iya, tapi sudah kami kalahkan. Dan ternyata yang mereka lindungi adalah..." Aku terhenti, sedikit takut melanjutkan perkataan.


***


"CEPAT! PERGI DARI SINI!"


"CEPAT!!!"


***

__ADS_1


"F... foto keluargaku. Ayah, Ibu, aku. Semuanya ada. Berlibur di pantai dua belas tahun yang lalu." Aku memperjelas.


Leo menggaruk-garuk dagunya, berpikir.


"Boleh kulihat gambarnya?" Dia membentangkan tangan, kuberikan foto itu padanya. Leo menatap foto itu tiada celah.


"Ini hanya foto biasa, lantas... kenapa mereka menjaganya...?" Leo berbisik pada dirinya sendiri, kepalanya menunduk.


Aku dan Raphael menunggu jawaban darinya, terkadang menatap langit yang menghadirkan sedikit bintang.


"Maaf, tidak ada yang disembunyikan di sini. Jadi ini harus kuberikan kepada Jendral Besar..." Dia memasukkan fotonya ke dalam saku celana seragam. Kami berdua mengagguk pasrah.


"Ayo, antarkan aku menuju Jennifer."


"Tapi Leo... kamu tidak punya sepeda."


"Ha, aku tidak butuh sepeda." Dia meregangkan kakinya, melakukan pemanasan. Aku menaiki sepeda Raphael, bersiap maju.


Srrr... Kami melaju cepat, di belakang, Leo berlari menyeimbangi kecepatan sepeda. Astaga, apa-apaan dia ini?


"Wah, keren." Raphael menghadap belakang sejenak, kemudian fokus lagi ke depan.


Foto itu... apa? Apa? Kenapa mereka menjaganya? Maksudku, apakah mereka... tunduk kepada Ayah? Bagaimana? Aku tidak paham...


Kenapa... kenapa mereka melindunginya? Apakah aku ada hubungannya dengan para monster? Ini semua sangat tidak masuk akal!


***


Sekarang hari berikutnya, pukul delapan pagi.


Setelah menemui Jennifer, kami mengantarkan orang tua itu ke markas. Mereka memanggil Dokter yang spesial untuk markas agar diperiksa, jadi kita masih punya bantuan kalau ada yang terluka, astaga, kukira semua Dokter akan dievakuasi dan pergi, ternyata tidak.


Mereka bilang orang tua itu tidak bisa bangun, dia dalam keadaan koma. Dan syukurlah, kami bertiga tidak dimarahi. Jendral Besar justru memuji kita sekali lagi.


Leonardo menyuruh bersiap, lebih tepatnya beristirahat. Wajahnya sangat cemas melihat kami bertiga yang kacau balau. Oh iya, juga akan disiapkan seragam baru, karena yang kemarin rusak, memakainya akan membuat kami terlihat seperti jembel.


Aku bersantai di sofa sambil menikmati acara televisi pagi hari. Ada sitcom favoritku yang akan mulai sebentar lagi.


Sebentar... orang tua kemarin...


***


"Faaaaaliiishaaaaaa... Liiiiiaaaaaam... Loooogaaaaan!"


***


Falisha, itu namaku. Bagaimana dia tahu? Tidak pernah kuberitahu namaku kepada siapa pun kecuali orang yang benar-benar bisa dipercaya.


Lalu, Liam... itu nama Ayah. Liam Ghazali. Dia tidak menceritakan banyak hal padaku tentangnya. Tapi orang tua itu tahu, mungkin dia mengenalnya? Mungkin, delapan tahun yang lalu dia adalah tetangga?


Terakhir, Logan... Logan Logan Logan... aku benar-benar tidak mengenalnya... siapa dia...? Apa hubungannya dengan keluargaku? Kenapa nama itu disebutkan setelah namaku dan Ayah? Siapa Logan ini?!


Mungkin... aku akan tahu jawabannya, besok adalah hari yang sangat penting. Semoga konflik tiada ujung ini benar-benar berhenti...

__ADS_1


Hari Pembantaian akan datang. Kali ini, kupastikan akan memenggal kepala Monster Bertopi Fedora.


__ADS_2